Doa Memohon Ampunan Allah Azza Wa Jalla

Maukah Anda mengetahui do’a memohon ampunan pada Allah atau istighfar yang sudah mencakup segala hal, sudah mencakup segala dosa? Inilah do’a yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam. Yang moga-moga bisa rutin kita amalkan dalam do’a-do’a kita sehari-hari. Karena kita tahu bersama bahwa kita adalah manusia yang tidak luput dari salah baik tatkala bercanda atau serius. Moga dengan do’a ini, Allah mengampuni dan memaafkan kesalahan-kesalah kita yang ada.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam biasa membaca do’a:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى

Allahummagh-firlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii

Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku. Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan.

HR. Bukhari no. 6398 dan Muslim no. 2719

Ya Allah, ampunilah dosaku seluruhnya dosa kecil maupun dosa besar). Ampunilah dosa yang muncul karena kejahilan diriku, karena sikap melampaui batas dalam segala hal. Ya Allah, ampunilah dosaku semuanya yang kuketahui maupun tidak kuketahui, yang diperbuat dalam keadaan serius atau bercanda, dan yang diperbuat di kala keliru (tidak sengaja) dan di kala sengaja. Aku mengakui semua dosa-dosa ini, Ya Allah’.

Sahabat, Dalam tulisannya Al Ustadz Abdullah Tuasikal memberikan Penjelasan tentang Doa ini. Do’a Rasululah in adalah do’a yang mencakup segala macam istighfar atau memohon ampunan pada Allah. Karena do’a ini sifatnya umum mencakup semuanya dan disertai dengan perincian dengan lafazh yang tegas.

Kalimat do’a yang terakhir “wa kullu dzalika ‘indii”, maksudnya adalah pengakuan kepada Allah bahwa kita adalah hamba yang penuh dosa. Kita mengakui semua dosa itu sehingga timbullah rasa hina di hadapan Allah, maka kita pun mohon ampun pada-Nya. Hal ini menunjukkan pada kita bahwa pengakuan seorang hamba terhadap dirinya bahwa ia penuh kekurangan, ini adalah salah satu sebab diterima taubat dan diampuninya dosa.

Renungkanlah 

Ada satu pelajaran dari sini yang perlu diperhatikan. Do’a ini menunjukkan bahwa sudah seharusnya seseorang ketika berdo’a merenungkan maksud do’a yang ia panjatkan karena ini memberikan pengaruh amat besar pada jiwa. Hal ini akan menimbulkan kekhusyu’an, rasa tunduk dan hina di hadapan Ar Rahman. Inilah yang menunjukkan sempurnanya ibadah seseorang dalam beribadah kepada Allah.


GHIBAH OR GOSIP

Gosip itu asyik pada awalnya karena membuat hubungan dengan kawan makin dekat, namun di balik itu berpotensi besar menimbulkan keretakan hubungan persaudaraan….

GOSIP ALIAS GHIBAH
——————————-
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menerangkan kepada kita tentang gosip atau ghibah dalam sabda beliau berikut ini :

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallambersabda,

اتدرون ما الغيبه؟ قالوا: الله ورسوله أعلم .قال:الْغِيبَة ذِكْرك أَخَاك بِمَا يَكْرَه قِيلَ : أَفَرَأَيْت إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُول ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُول فَقَدْ اِغْتَبْته ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَقَدْ بَهَتّه

“Tahukah kalian apa itu ghibah?”

Mereka (para sahabat) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Kemudian beliau shallahu’alaihi wasallam bersabda, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.”

Kemudian ada yang bertanya, “Bagaimana menurutmu jika sesuatu yang aku sebutkan tersebut nyata-nyata apa pada saudaraku?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Jika memang apa yang engkau ceritakan tersebut ada pada dirinya itulah yang namanya ghibah, namun jika tidak berarti engkau telah berdusta atas namanya.” (HR Muslim 2589 Bab: Al-Bir Wash Shilah Wal Adab)

Gosip ( ghibah ) adalah perbuatan yang tercela dan ini sangat dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“………. Janganlah kamu mencari- cari kesalahan orang lain , dan janganlah ada di antara kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik. QS. Al- Hujurat : 12 ).

Gosip itu asyik karena dilakukan berjama’ah dan atas dasar suka sama suka , namun kalau orang yang digosipkan tahu pasti sakit hati dan menjauhi kita…

Lidah kita memang tidak bertulang , semakin banyak kita  berolah raga pada lidah,  semakin rentan kita melakukan Ghibah dan semakin tinggi resiko kita melakukan dusta. Padahal ghibah dipandang sesuatu yang buruk pada Allah SWT, yang diibaratkan kita memakan bangkai saudaranya sendiri

Gosip itu indah dan asyik karena tak ada lagi rahasia di antara kita, semua menjadi sama tak ada lagi kasta, tapi bukankah kita diperintahkan untuk menutup aib saudara kita agar aib kita pun tertutupi?

“ Barangsiapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” ( HR. Muslim )
Jangan berteman dengan orang suka bergosip karena suatu ketika kejelekan kita pun akan digosipkan juga…

Gosip itu asyik pada awalnya tapi celaka pada akhirnya, baik di dunia dan di akhirat.

Para ulama telah sepakat bahwasanya ghibah termasuk dosa besar. Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالكُمْ وَأَعْرَاضكُمْ حَرَام عَلَيْكُم

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah haram atas (sesama) kalian”.( HR Muslim 3179, Syarh Nawai ‘ala Muslim)

MUHAMMAD SANG RASUL MULIA

Dialah Muhammad Shalallahu Alayhi Wassalam manusia yang paling mulia akhlaknya. Beliau sangat dermawan, paling dermawan di antara manusia. Pada bulan Ramadhan, beliau lebih dermawan lagi, lebih kencang memberi dibanding angin yang berhembus.

Jika memilih urusan, beliau pilih yang paling mudah selama tidak melanggar syariat Allah. Beliau sangat menghindar dari dosa. Jika diri beliau dizalimi, beliau sangat sabar. Namun, jika hak Allah yang dilanggar, beliau sangat murka.

Sangat pemalu melebihi gadis pingitan. Jika beliau tidak menyukai sesuatu, langsung terlihat pada raut wajahnya. Beliau tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau suka maka dimakanlah makanan itu. Jika tidak suka, maka beliau tinggalkan tanpa mencelanya.

(Sumber: HR. Al-Bukhari, no. 3549, 35554, 3560, 3562, dan 3563)

Bicaranya sangat fasih dan jelas. Beliau menguasai logat-logat bangsa Arab. Mampu berbicara pada tiap suku bangsa Arab dengan logat masing-masing suku.

Jika dimintai sesuatu, beliau tidak pernah menjawab, “Tidak.”

Beliau sangat pemberani. Berapa banyak para pemberani dan patriot yang jika bertemu beliau, mereka lari. Ali bin Abi Thalib berkata, “Jika kami sedang ketakutan dan dikeppung bahaya, kami berlindung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak satu pun yang jaraknya lebih dekat kepada musuh selain beliau.”

Beliau sangat jujur dan amanah. Sebelum diutus menjadi nabi dan rasul, beliau dijuluki “Al-Amin”. Al-Amin artinya “yang terpercaya”. Bahkan, musuh pun mengakui kejujuran dan amanahnya. Abu Jahal pernah berkata, “Kami tidak mendustakan dirimu, tetapi kami mendustakan ajaranmu.”

Beliau sangat tawadhu` dan jauh dari sifat sombong. Jika beliau datang ke suatu majelis, beliau tidak mau disambut seperti raja. Biasanya, jika seorang raja datang, orang-orang berdiri untuk menyambutnya. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ingin disambut seperti raja. Mari kita lihat, betapa rendah hatinya beliau.

Beliau biasa menjenguk orang sakit, duduk-duduk bersama orang miskin, memenuhi undangan hamba sahaya, dan duduk-duduk bersama sahabatnya.

Beliau sangat suka memenuhi janji, menyambung tali persaudaraan, paling penyayang, dan lembut terhadap orang lain, suka memaafkan, dan lapang dada. Terhadap pembantu, beliau tidak pernah membentak atau menyalahkan pekerjaan pembantunya yang tidak beres. Terhadap orang miskin, beliau cinta dan suka duduk-duduk bersama. Beliau menghadiri (pemakaman, ed) jenazah orang-orang miskin, dan tidak mencela orang miskin karena kemiskinannya.

Beliau senantiasa gembira, lebih banyak diam. Tawa beliau adalah dengan senyuman. Jika bicara tidak terlalu pelan dan tidak terlalu keras suaranya. Bicaranya jelas, bahasanya fasih dan mudah dimengerti.

(Sumber: Ar-Rakhiqul Makhtum, hlm. 489–493)

RUGINYA ORANG YANG IRI DENGKI DAN BERUNTUNGNYA ORANG YANG DI DENGKI

Orang yang hasad ibarat orang yang melempar bumerang kepada musuh. Bumerangnya tidak mengenai sasaran, tetapi bumerang itu kembali kepadanya, sehingga mengenai mata kanannya dan mengeluarkan bola matanya. Lalu dia pun bertambah marah dan kembali melempar kedua kalinya dengan lebih kuat. Akan tetapi, bumerang itu seperti semula, tidak mengenai sasaran dan kembali mengenai mata sebelah kirinya sehingga dia buta. Kemarahannya pun bertambah menyala-nyala, kemudian dia melempar ketiga kalinya dengan sekuat tenaga, akan tetapi bumerang tersebut kembali mengenai kepalanya sampai hancur, sedangkan musuhnya selamat dan mentertawakan dia, karena dia mati atas perbuatannya sendiri. Sedangkan di akhirat nanti, dia akan mendapat adzab dari Allah Azza wa Jalla, jika hasad tersebut melahirkan perkataan dan perbuatan, karena statusnya adalah orang yang telah mendzalimi orang lain ketika di dunia.

Perlu diketahui pula bahwa hasad juga tidak berbahaya bagi orang yang dihasad, baik bagi agamanya maupun dunianya. Dia tidak berdosa dengan hasad orang lain kepadanya. Bahkan, dia mendapatkan pahala jika hasad tersebut keluar berwujud perkataan dan perbuatan, sebab dia termasuk orang yang dizhalimi. Kenikmatan yang ada padanya juga tidak akan musnah karena hasad orang lain kepadanya, sebab kenikmatan tersebut telah ditakdirkan untuknya. 

BAHAYA HASAD (IRI DENGKI(

Hasad ( Iri dengki) merupakan penyakit hati yang berbahaya bagi manusia, karena penyakit ini menyerang hati si penderita dan meracuninya; membuat dia benci terhadap kenikmatan yang telah diperoleh oleh saudaranya, dan merasa senang jika kenikmatan tersebut musnah dari tangan saudaranya.

Pada hakikatnya, penyakit ini mengakibatkan si penderita tidak ridha dengan qadha’ dan qadar Allah Azza wa Jalla, sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah : “Sesungguhnya hakikat hasad adalah bagian dari sikap menentang Allah Azza wa Jalla, karena ia (membuat si penderita) benci kepada nikmat Allah Azza wa Jalla atas hamba-Nya; padahal Allah Azza wa Jalla menginginkan nikmat tersebut untuknya. Hasad juga membuatnya senang dengan hilangnya nikmat tersebut dari saudaranya, padahal Allah k benci jika nikmat itu hilang dari saudaranya. Jadi, hasad itu hakikatnya menentang qadha’ dan qadar Allah Azza wa Jalla.”[1]

Penyakit ini sering dijumpai di antara sesame teman sejabatan, seprofesi, seperjuangan, atau sederajat. Oleh sebab itu, tak jarang dijumpai ada pegawai kantor yang hasad kepada teman sekantornya, tukang bakso hasad kepada tukang bakso lainnya, guru hasad kepada guru, orang ahli ibadah atau Ustadz atau kyai hasad kepada yang sederajat dengannya. Jarang dijumpai hasad tersebut pada orang yang beda kedudukan dan derajatnya, seperti tukang bakso hasad kepada kyai atau tukang becak hasad kepada Ustadz, meskipun tidak menafikan kemungkinan terjadinya.

Penyakit hasad hendaknya dijauhi oleh setiap Muslim, karena madharatnya sangat besar, terutama bagi si penderita baik madharat dari sisi agama maupun dunianya. Tidakkah kita ingat, kenapa Iblis dilaknat oleh Allah Azza wa Jalla?; tidak lain karena sikap hasad dan sombongnya kepada Adam Alaihissallam yang sama-sama makhluk Allah Azza wa Jalla.

Dari sisi lain hasad juga merupakan sifat sebagian besar orang Yahudi dan Nasrani, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ

Ataukah mereka (orang Yahudi) dengki kepada manusia (Muhammad dan orang-orang Mukmin) lantaran karunia yang Allah telah diberikan kepada mereka?..” [an-Nisa’/4:54]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang hasad mereka:

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” [Qs al-Baqarah/2: 109]

Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang Muslim dari sifat hasad.

ORANG YANG BANGKRUT

Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2581 dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda.

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوْاالْمُفْلِسُ فِيْنَا يَا رَسُو لَ اللَّهِ مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ قَالَ رَسُو لَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُفْلِسُ مِنْ أُمَّيِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَتِهِ وًِصِيَامِهِ وِزَكَاتِهِ وَيَأتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَاَكَلاَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَيَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُحِذَ مِنْ خَطَايَاهُم فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut ? Para sahabat pun menjawab, ‘Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda. ‘Beliau menimpali, ‘Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, akan tetapi, ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka”.

COBAAN DAN UJIAN KEHIDUPAN.

Semua kejadian di muka bumi adalah atas kehendak dan kuasa Allah. Tidak satupun kejadian yang terlepas dari kendali-Nya. Daun kering yang tertiup angin, kemudian jatuh entah di mana, adalah atas kuasa dan dalam pantauan-Nya. Angin bertiup, awan berarak-arak, matahari bersinar, semuanya atas perintah dan kemauan-Nya. Semua adalah takdir dan iradahnya.

 Cobaan atau ujian adalah rekayasa Ilahiyah untuk menyeleksi hamba-hamba-Nya. Cobaan diberikan oleh Allah dengan maksud untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Bagi yang lulus akan naik derajat. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak lulus ada dua alternatif pilihan, yaitu tetap ditempat atau justru melorot jatuh ke  derajat yang lebih rendah.
Dengan kata lain, tidak ada satupun manusia di muka bumi ini dibiarkan oleh Allah berlalu tanpa mendapatkan ujian. Apalagi bagi mereka yang telah mengaku sebagai orang yang beriman, maka pengakuan itu perlu pembuktian. Hanya melalui ujian yang datang silih berganti, seseorang dapat membuktikan keimanannya kepada Allah SWT. Dan Allah telah menegaskan dalam firman-Nya :   ”Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, `Kami telah beriman,� sedangkan mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabuut: 2)

Ujian yang diberikan kepada manusia itu beragam, ada yang langsung, ada yang tidak langsung. Ada yang mengenai dirinya, keluarganya, atau harta bendanya. Ada yang terasa berat, tapi ada pula yang ringan-ringan saja. Ada yang berupa kesengsaraan, tapi tidak sedikit yang berupa kenikmatan. Tergantung pada siapa yang akan diuji, dan tentu saja itu semua terserah pada keputusan Allah.

Yang penting bagi kita adalah perasaan  dan sikap kita dalam menjalani ujian Sebaiknya kita selalu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Mempersiapkan mental dan keimanan kita, agar bila suatu waktu ujian datang menghampiri kita, kita telah siap. Karena ujian kenaikan tingkat, biasanya datang tanpa pemberitahuan dan tidak disangka-sangka datangnya. Kalau kita telah siap menerimanya, maka kita akan menjalani ujian itu dengan penuh semangat, tidak ada keluh-kesah, karena kita menyadari bahwa tiada ujian yang ringan, apalagi untuk ujian kenaikan tingkat.

 Seharusnya kita bersemangat dan bergembira manakala menerima ujian dari Allah SWT. Karena hanya melalui ujian itu, tingkatan iman kita bisa meningkat. Semakin banyak ujian yang bisa kita lewati, berarti kesempatan untuk naik tingkat semakin besar.  Itu artinya bahwa Allah mencintai kita, menginginkan agar kita naik tingkat secara cepat. Rasulullah saw  bersabda : “Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmin dan mukminat, baik mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah SWT dalam keadan telah bersih dari dosa (HR Tirmidzi).  .

 Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan, jika Allah rindu kepada hamba yang dicintai-Nya, maka Dia akan memerintahkan kepada malaikat untuk mengirimkan sebuah paket hadiah berupa ujian. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah SWT berfirman :  “Pergilah kepada hamba-Ku, lalu timpakanlah berbagai ujian kepadanya, karena Aku ingin mendengarkan rintihannya.” (HR Thabrani dari Abu Umamah)

 Rintihan hamba Allah yang mencintai dan dicintai Allah itu, tentu saja bukan berupa keluh-kesah, histeria, apalagi berupa umpatan. Rintihannya tidak lain berupa doa, dzikir, wirid, munajat dan taqarrub Ilallah. Rintihan semacam inilah yang selalu dirindukan oleh Allah SWT.

 Cobaan atau ujian, tentu saja bertingkat sesuai dengan kualitas iman seseorang. Semakin tinggi tingkatannya, semakin berat pula ujiannya. Sebaliknya, bagi mereka yang imannya masih rendahan, tentu saja materi yang diujikan juga ringan.  Dalam hal ini Rasulullah saw  pernah menggambarkan tingkatan ujian itu    Sebagai berikut :  ”Tingkat berat – ringannya ujian, disesuaikan dengan kedudukan manusia itu sendiri. Orang yang paling berat menerima ujian adalah para Nabi, kemudian orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka berurutan secara bertingkat. Orang diuji menurut tingkat ketaatan kepada agamanya. Jika ia sangat kukuh kuat dalam agamanya, diuji pula oleh Allah sesuai dengan tingkat ketaatan kepada agamanya. Demikian bala dan ujian itu senantiasa ditimpakan kepada seorang hamba sampai ia dibiarkan berjalan dimuka bumi tanpa dosa apapun.”    (HR. Tirmidzi)

Renungan Untukmu Sahabatku..

Sahabat….

Ketika dirimu merasa letih dan tak berdaya melanjutkan perjalanan kehidupan, sesungguhnya Allah Arrahman telah memperhitungkan dan mencatat kerasnya perjuanganmu sebagai dzarah-dzarah pemberat kebajikan dalam lembaran indah Catatan Amalmu..

Ketika cacian, makian dan fitnah begitu menghujam menusuk hatimu, sesungguhnya Allah Arrahim telah melihat dan mendengarkan jeritan hati dan lantunan doa-doa serta permohonan pertolonganmu..

Ketika Engkau bersimpuh dan bermunajat penuh Harap dalam khusyuknya Shalat dan Doamu, Sesungguhnya Allah Al Mujib dalam kebesaran dan keagungan Arsy-Nya sedang membelai jiwamu, membanggakanmu serta memujimu.

Sesungguhnya Allah menghendaki engkau menjadi hamba-Nya yang senantiasa dia muliakan dihadapan Para Malaikat serta sekalian makhluknya bahwa Dia Maha Benar dan Maha Teliti telah menciptakan-Mu

Ya Allah Maha Benar Engkau Atas segala firman dalam surat cinta-Mu yang tertulis dalam Al Qur’an Kitab cinta-Mu…

Kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan di bumi. Apabila kamu menampakkan atau menyembunyikan apa yang ada pada dirimu, maka Allah akan memperhitungkan kamu lantaran perbuatan itu. Lalu Dia mengampuni orang yang dikehendaki-Nya dan mengazab orang yang dikehendaki-Nya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu’ (QS Al-Baqarah:284)

 

AZS…Muhassabah 29012012

 

TATAPAN AINUN, TATAPAN IBU NEGARA YANG PENUH KESEJUKAN

Hanya dengan menatap, Almarhumah Ainun Habibie dapat memotivasi seseorang. Hal itu dirasakan Isye Latif, teman dekat istri Presiden Ketiga Indonesia itu. Isye masih ingat peristiwa itu terjadi saat Habibie merayakan ulang tahunnya, dan ketika itu masih menjabat sebagai presiden.

Isye sudah mempersiapkan teks yang akan dituturkan saat berdiri sebagai protokol. Tak disangka, teks itu tiba-tiba saja tidak dapat dilihatnya. Sekujur tubuhnya gemetar karena grogi berhadapan dengan tamu-tamu Habibie. Mereka adalah pejabat kedutaan asing dan menteri-menteri di zaman kepresidenan Habibie.

Di saat itu Hasri Ainun Habibie menatap Isye. Dia tidak menuturkan sepatah katapun. “Dia hanya tersenyum menatap saya,” tutur Isye setelah tahlilan di kediaman Habibie Jl Patra XIII, Kompleks Perumahan Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Setelah itu Isye merasakan getaran yang berbeda di dalam dirinya. Rasa groginya hilang seketika.

Teks yang sudah dibuatnya tidak dibaca. Dia berbicara dengan spontan di hadapan ratusan hadirin. “Banyak orang tidak percaya saya bisa berbicara tanpa teks,” tuturnya mengisahkan pengalamannya.

Dimatanya, almarhumah Ainun adalah sosok ibu yang peduli anak-anak. Isye masih ingat saat membuka pesantren kilat di Pondok Pesantren Darun Najah Kebayoran Lama. Protokol Istana sudah mempersiapkan tempat duduk khusus untuk istri Habibie itu. Namun demikian, saat acara berlangsung, Ainun justru memilih duduk bersama anak-anak peserta pesantren kilat.

Hal yang sama juga diungkapkan Ketua Emotional Spiritual Quotion (ESQ), Ary Ginanjar. Baginya, almarhumah Ainun sangat bersifat rahman (pengasih) dan rahim (penyayang). Dia mengatakan, Ainun akan terus tersenyum karena banyak orang mendoakannya.

Sungguh kita merindukan Tatapan penuh dengan kesejukan, kelembutan dan kasih sayang dari seorang Ibu Negara, the 1st Lady. Yang tanpa membedakan derajat, dan dengan penuh keikhlasan menyentuh raga dan jiwa kita….Tatapan kesejukan dari sepasang Bola Mata yang sesuai dengan arti namanya  Mata yang Indah…..

didedikasikan bagi Ibu Hasri Ainun Besari Habibie (lahir di Semarang11 Agustus1937 – meninggal di MünchenJerman22 Mei 2010 pada umur 72 tahun) adalah Istri dariPresiden Indonesia Ketiga BJ. Habibie. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia ketiga dari tahun1998 hingga tahun 1999

AIR MATA CINTA MEMADAMKAN API NERAKA

“Tiada pelupuk mata yang tergenangi dengan air mata melainkan pasti diharamkan jasadnya dari neraka, dan tiada air mata yang mengalir pada pipi melainkan akan dihapuskan daripadanya suatu kotoran dan kehinaan, dan apabila ada seseorang di antara umat yang menangis niscaya mereka akan dirahmati. Tiada suatu amal pun kecuali bernilai seperti kadar dan timbangannya, kecuali tetesan air mata. Sesungguhnya air mata itu dapat memadamkan samudera api neraka.

Air mata itu bukti kasih sayang yang ditanamkan oleh Allah di hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang“ (HR.Bukhari dan Muslim ).

Siti Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah ada umatmu yang nanti masuk surga tanpa hisab? “ Beliau saw menjawab, “Ada, yaitu orang yang mengenang dosanya lalu ia menangis.“ Dalam hadis lain Utusan Allah itu bersabda, “Pengakuan seorang hamba kepada Allah atas dosa-dosa yang dilakukannya lebih disukai Allah dari pada ibadah.“ Hadis senada diriwayatkan oleh Abdullah bin Man’ud, bahwa Nabi akhir zaman ini bersabda, “Linangan air mata seorang mukmin karena takut kepada Allah lebih baik daripada ibadah satu tahun.

Bertafakur tentang kebesaran dan kekuasaan Allah sesaat lebih baik daripada puasa enam puluh hari dan salat enam puluh malam. Bukankah Allah memiliki para malaikat yang menyeru setiap siang dan malam?” Zaid bin Arqam meriwayatkan. Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah! Bagaimana caranya aku menghindar dari neraka?“ Nabi saw menjawab, “Dengan linangan air matamu.

Sesunggguhnya kedua mata yang menangis karena takut pada Allah tidak akan tersentuh api neraka“ (HR.Ibnu Abi Dunya dan Al-Ashbahani). Ketika Rasulullah saw mendengar diantara sahabat menangis lantaran takut kepada Allah, beliau bersabda “Tidaklah masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah, dan tidaklah masuk surga orang yang terus menerus berbuat maksiat kepada Allah.“

Abu Hazim berkata, “Jibril AS turun kepada Nabi saw yang disisinya ada seorang lelaki yang sedang menangis. Jibril bertanya kepada Nabi saw ‘Siapa ini?’ Nabi saw menjawab, ‘Ia adalah si Fulan.‘ Kemudian Jibril as berkata, “Sesungguhnya kami menimbang amal-amal anak Adam semuanya kecuali tangisan. Sesungguhnya Allah memadamkan lautan api neraka jahanam dengan setetes air mata.‘

” Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh imam Tirmizi, Rasul saw bersabda “Tidak ada yang lebih dicintai Allah swt selain dua tetes dan dua bekas kaki : tetesan air mata yang menangis karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang ditumpahkan di jalan Allah. Sedangkan dua bekas kaki adalah bekas ( perjuangan ) di jalan Allah, dan bekas melakukan kewajiban yang diwajibkan Allah.“

Umar bin Khattab ra terkenal sebagai orang yang sangat keras, pemberani, dan ditakuti musuh-musuhnya, tetapi dalam setiap ibadah, hatinya selalu khusyuk dan air matanya mengalir deras. Pada wajah Umar terdapat garis hitam seperti tali karena banyaknya menangis. Bahkan pernah pada suatu malam, ketika berzikir dan membaca sebuah ayat, ia menangis tersedu-sedu sampai tersungkur jatuh. Ia terus berada di rumahnya sehingga orang-orang menyangka ia sedang sakit.

Terkait ini bukankah Allah swt telah berfirman, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk “ (Al Isra’ (17 ) : 109). Shalahuddin al Ayyubi, orang yang membebaskan Masjid al Aqsa dari kaum Muysrikin merupakan hamba Allah yang sangat tekun menunaikan salat tahajjud di sepertiga malam hingga matanya berlinang air mata.

Menurut Imam Al Qurthubi, “Menangis bisa menjadi tanda bagi ketakutan atau kerinduan seorang hamba kepada Rabb-nya. Hamba menangis karena takut Allah, ketika Dia menunjukkan keagungan-Nya. Hamba menangis karena rindu, apabila ia mendengar keindahan sifat Allah.“ Menangis bisa juga digunakan oleh seseorang untuk menutupi kesalahannya. Tangis dengan motivasi seperti ini pernah dilakukan oleh putra Nabi Ya’kub

“Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis“ (Yunus 16). Malik bin Dinar berkata, “Menangis karena menyesali kesalahan mengeringkan kesalahan itu, sebagaimana angin mengeringkan daun basah.“

Subhanallah! Orang-orang yang banyak menangis karena cinta dan takut kepada Allah, niscaya hatinya senantiasa diselimuti aura kekhusyuan, kelembutan dan kasih sayang. Kekuatan hati itulah yang kemudian mewarnai seluruh pikiran dan perbuatannya. Ketika ia salat, maka salatnya akan selalu khusyuk, ketika ia bekerja, maka ia bekerja dengan penuh konsentrasi (khusyuk) dan jujur.