SERANGKAI KATA……: IBUNDA MAAFKAN ANAKMU


Kumpulan Doa dan Pinta
Tentang Doa, Cinta, Kasih sayang dan Permohonan Maaf kepada Ibunda
——————-
Ibu ………
Maafkan aku!
Bukalah ruang maafmu untukku, anakmu ini!
Untukku yang terkadang berkata kasar padamu
Untukku yang terkadang cemberut padamu
Untukku yang trkadang tak mengindahkan petuahmu, Ibu

bagaimana tidak?………
Diri ini yang engkau besarkan dengan tangan lembut kasih sayangmu
Setiap kali menyakiti hatimu sebagai ganjarannya
Tangan ini pernah lancang telah mengambil sisa uang belanjamu
Mencubit bahkan menamparmu
Dari mulut ini sudah ribuan kata kotor, umpatan yang dihidangkan ke pangkuanmu

Hingga kerap kali engkau meluruhkan air mata dengan hati tersayat perih
Lisan ini tak terhitung kalinya telah mencaci-makimu, menyumpahserapahimu
Sampai-sampai menangis sesenggukan tidak dapat lagi engkau bending
Maafkan aku, Ibu!

Aku tidak pernah mengindahkan wejangan kalam hikmahmu Yang menyeru untuk mengibar kebenaran dan mendobrak kebatilan
Aku menjadi tidak berdaya bilamana hal batil itu menggiurkan akal
Aku menjadi lumpuh manakala uang telah kusaku
Dan aku menjadi bungkam apabila disajikan janji indah menyilaukan mata
Ibu, maafkan aku yang telah memutarbalikkan amanah moralmu!
Kini ……

Dengan kasih sayangmu yang engkau curahkan semenjak masa kecilku
Hingga sekarang masih tetap terasa deras alirannya
Aku bersumpah
Aku berikrar
Aku bertekad untuk kembali menata rapi nasehat-nasehatmu
Sebelum kemudian benar-benar aku menancap tegak kebenaran
Dan membumihanguskan kebatilan
Aku ingin restu darimu, wahai Ibu ……
Sebab yang kumau : “segera mencicipi surga yang berada di bawah telapak kakimu.”

————————————————————————————–

Ibu Maafkan anakmu
Tiga puluh tahun lebih aku belum bisa membalas semua kebaikanmu, semua ketulusanmu. Tiga puluh tahun lebih pula aku masih belum mendapatkan apa yang sekiranya pantas untuk aku hadiahkan kepadamu ibu.

Keikhlasanmu, keridhoanmu begitu tulus kau korbankan hanya untuk membahagiakan anakmu yang tak tahu diri ini. Langkah dan dudukmu aku usik saat aku ada dalam rahimmu. Tidurmu selalu terganggu dengan tangisku saat aku masih bayi. Begitu juga saat aku menginjak remaja. Aku selalu merepotkanmu dengan tindakan-tindakanku yang seenaknya. Tawuran, ribut sama teman, Nonjok anak tetangga. Semua kelakuanku selalu membuatmu semakin tersiksa.

Rasanya aku ini mungkin adalah anak yang paling durhaka diantara orang-orang durhaka lainnya.
Semoga Allah selalu membukakan jalanku. Semoga Allah mengeratkan ketabahanmu. Semoga engkau selalu sabar dan tawakal mempunyai anak seperti aku, wahai Ibu.

Sekali lagi aku mohon, Maafkanlah aku anakmu Ibu.
Aku tahu tanganmu tak sekuat dulu lagi untuk menyambut tangan maafku. Tak sekuat saat engkau membelai kepalaku.
Tak sekuat ketika kau gunakan untuk meninakbobokan aku dalam gendonganmu. Tak sekuat waktu kau mandikan aku, saat kau suapi aku, saat kau peluk aku dan dan disaat kau belai aku dalam peraduan kasih sayangmu.

Ya, tanganmu tak sekokoh dulu lagi, tetapi bukan berarti tanganmu tak harus menepis semua keinginanku untuk menciumnya, dan membasuhnya dengan air mata penyesalanku.
Begitu juga dengan matamu ibu, tak setajam saat engkau masih muda dahulu. Namun bukan berarti matamu memalingkan pandangannya dari wajah anakmu yag durhaka ini.

Dengan penuh pengharapkan, aku rela bersimpuh dibawah kakimu.
Dengan penuh keridhoan aku rela melakukan apa saja asal engkau mau memaafkan segala kesalahanku.
Andai aku punya harta sebesar gunung, rasanya tak sanggup untuk membayar semua pengorbananmu.
Andai lautan itu milikku dan aku berikan kepadamu, rasanya belumlah cukup untuk membalas semua jasamu terhadapku.
Maafkan aku yang lalai ini. Aku selalu menghiraukan pahalamu. Aku selalu mengacuhkan berkatmu. Aku lupa bahwa dibawah telapak kakimu ada surga yang harus aku syukuri.

Maafkanlah aku anakmu, Ibu

————————————————————————————–

Ibu maaafkan Anakmu
Dan pohon kemuning tlah kutanam
Suatu saat kelak dapat jadi peneduh
Meskipun hanya jasad bersemayam di sana
Biarkan aku tafakkur bila rindu kepadamu

Walau tak terucap aku sangat kehilangan
Sebahagian semangatku ada dalam doamu
Warisan yang kau tinggal petuah sederhana
Aku catat dalam jiwa dan coba kujalankan

Meskipun aku tak dapat menungguimu saat terakhir
Namun aku tak kecewa mendengar engkau berangkat
Dengan senyum dan ikhlas aku yakin kau cukup bawa bekal
Dan aku bangga jadi anakmu

Ibu aku berjanji akan aku kirimkan
Doa yang pernah engkau ajarkan kepadaku
Setiap sujud sembahyang engkau hadir terbayang
Tolong bimbinglah aku meskipun kau dari sana

Sesungguhnya aku menangis sangat lama
Namun aku pendam agar engkau berangkat dengan tenang
Sesungguhnyalah aku merasa belum cukup berbakti
Namun aku yakin engkau telah memaafkanku

Air hujan mengguyur sekujur kebumi
Kami yang ditinggalkan tabah dan tawakkal

Ibu aku mohon maaf atas keluputanku
Yang aku sengaja maupun tak kusengaja
Tolong padangi kami dengan sinarnya sorga
Teriring doa selamat jalan buatmu ibu tercinta

——————————————————————————–

Ibu adalah segalanya yang aku punya. Ibu adalah harta yang paling berharga yang pernah aku miliki. Segala kekayaan yang aku punyai hendaknya aku gadaikan demi menyelamatkan dirinya. Namun takdir ku tidak sebaik yang ku kira. Aku dan ibuku akhirnya terpisahkan oleh maut .

Saat aku membukakan mataku untuk pertama kalinya di dunia, aku yakin ia menangis karena senang. Di saat aku belum bisa berbicara dan berkata, dia mewakili semua kebutuhanku. Tatkala aku merasa kepedihan yang mendalam, ia selalu hadir menghapuskan luka. Di kala aku merasa sendirian dan kesepian, dia selalu memberikan ku kehangatan dalam dekapannya. Di saat aku butuh teman bercerita, ia datang dengan membawa sedekap cerita untuk menghiburku.

Aku adalah anak ibuku, aku memang anak ibuku. Aku tidak perduli dengan kata-kata orang lain selama aku berada di sisinya. Aku merasakan semua dunia adalah milikku ketika ia masih ada di sampingku.. Aku tidak tahu jika aku tanpa kasih sayangnya. Karena berkat kasihnya aku bisa hidup dengan senyuman yang lebar, aku dapat menjadi seorang anak yang baik seperti yang ia mahu, dan aku bisa meraih impian ku hingga sejauh ini. Namun semuanya sirna bagaikan angina topan yang memporak-porandakan kehidupanku. Tiba-tiba Tuhan mengambil nyawanya

Dalam sunyi aku duduk memikirkan kesalahan ku yang selalu ku lakukan padanya dulu. Aku dan semua dusta dan kebohongan, aku dan semua dosa yang pernah kuakukan, atas nama ibuku yang aku cinta. Tak perduli betapa jahtanya aku dahulu, ia selalu memberikan bahunya untuk aku peluk. Ibu selalu berkorban untukku, dia selalu memberikan jiwa raganya untukku. Bahkan di saat aku sakit, ia berdoa agar sakit itu dipindahkan padanya. Di saat malam datang, dia bangun dari pembaringannya, mengadu pada Tuhannya, atas segala yang aku derita dan ia derita. Ia meminta dengan penuh harap pada Nya, agar selalu dihimpunkan kesabaran dan ketabahan dalam menjalani kehidupan.

Sering kali hatiku teriris di saat harus melihat ibuku mengorbankan waktu tuanya demi aku dan saudara-saudaraku. Aku seperti anak yang tidak tahu diri. Di akhir hayatnya, aku hanya bisa menjaganya di pembaringan dalam keadaan lumpuh tak berdaya. Aku benar-benar sakit melihat keadaan nya yang tidak seharusnya begitu. Di saat dirinya sakit, harusnya aku berdoa hal yang sama pada Tuhan agar sakit itu ditimpakan saja padaku yang tidak tahu diuntung ini. Agar kematian itu tidak seharusnya terjadi, dan biarlah aku saja yang menanggung semua rasa sakit itu.

Semua pengorabanan yang ia lakukan tidak ada tandingannya. Tak seorangpun di dunia ini yang aku temui mencintai melebihi cinta ibuku padaku. Di saat senang dan sedih, susah senang, suka dan duka, tangis dan tawa di saatku bersamanya menggores dalam di hatiku, menyisakan penyesalan yang teramat dalam. Saat aku dan mereka tidak mampu menolongnya lagi. Kini hanya doa yang bisa aku kumpulkan untuknya, semoga dirinya berbahagia di sisi Tuhannya, semoga pesan surga itu memang nyata untuk dirinya, untuk Ibuku yang aku cintai ssepenuh jiwa dan ragaku.

sumber : Dari beberapa tulisan
di publikasikan di facebook, desember 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s