KEMBALI TENTANG SEDEKAH

Tiada yang lebih menggembirakan apabila dapat membantu golongan kurang bernasib baik. Ingatlah bahwa manusia sudah dijamin rezekinya oleh Allah. Ia tidak hanya dikatakan sebagai Rupiah ataupun  ringgit tetapi pengertiannya sangatlah luas merangkumi kesehatan yang baik, ketenteraman jiwa, keturunan, isteri dan anak yang baik.

Ada yang sibuk dan sering mempermasalahkan serta mempertikaikan masalah rezeki yang dimiliki. Sebagai hamba Allah yang beriman, anggaplah semua itu dugaan serta tantangan untuk menjadikan diri lebih kuat dan kuat untuk terus berusaha.

Teruskan berusaha karena setiap keberhasilan dan kejayaan pasti memerlukan kerja keras tanpa berputus asa melaksanakannya. Bersikap reda dan bertawakal supaya Allah memberkati segala yang kita lakukan. Sesungguhnya Allah Maha Pemberi dan Pemurah atas rezeki untuk hamba-Nya. Semua yang berlaku atas izin-Nya. Ketika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah, maka keburukanlah yang diterima. Jika mereka bertawakal kepada Allah maka Allah pasti mencukupkan keperluannya. Allah berfirman yang artinya

“Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya (memelihara). Sesungguhnya Allah menyampai kan urusan-Nya. Sesungguhnya Allah mengadakan qadar (takdir) bagi setiap sesuatu.” (Surah at-Taalaq ayat 3).

Namun tahukah kita sikap memberi atau bersedekah mempunyai kelebihan dalam urusan pencarian harta. Malah ia membuka pintu rezeki lebih luas kepada mereka yang melakukannya. Amalan bersedekah penyubur kebaikan serta melipat gandakan rezeki sese orang hamba.

Allah berfirman yang artinya

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah, seperti sebutir benih yang tumbuh menjadi tujuh tangkai, pada tiap tangkai ada seratus biji, dan Allah melipat gandakan bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (kurniaan-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Surah Al-Baqarah ayat 261).

Tidakkah kita merasa tertarik dengan janji Allah berikan itu? Tidak dinafikan, semua orang mau hidup senang; mempu nyai rumah yang luas dan selesa, bermobil,(kereta mewah, Bahasa Malaysia), memakai pakaian cantik dan berlibur dan bercuti ke luar negeri .

Namun dalam arti kata yang sebenarnya, kehidupan kita mengalami pasang dan surutnya kehidupan karena ada kalanya kita berada di atas dan begitulah sebaliknya. Tujuan kita hidup bukan untuk memenuhi nafsu tetapi kita perlu melihat kekurangan dan kesengsaraan orang lain.

Jika Allah ‘memberi’ pinjaman kekayaan kepada kita maka gunakan kesempatan itu untuk melihat segala yang berlaku di sekeliling. Sebenarnya masih ada lagi yang memerlukan perhatian dan bantuan.

Justeru jalankan amanah kekayaan yang Allah kurniakan itu bagi membantu golongan memerlukan. Dalam rezeki Allah itu terdapat hak orang lain yang perlu dimanfaatkan. Bersifat individualistik melambangkan seorang itu tidak berhati perut, sukar didekati dan orang ramai tidak menghormatinya. Walaupun memberi dalam kuantitas sedikit tetapi sedikit itulah keberkahannya.

Alangkah baik jika pendekatan mencari rezeki sambil menyumbang diterapkan dalam diri kita. Sabda Rasulullah:

“Tidaklah harta itu berkurang disebabkan oleh sedekah.” (Riwayat Muslim).

Berilah dalam kemampuan kita dulu, karena sumbangan sekecil itu menjadi pembersih harta kita. Sedekah orang yang kurang hartanya lebih besar ganjarannya.

Rasulullah bersabda:

“Sedekah yang paling utama adalah menggembirakan fakir dan dikeluarkan dalam keadaan sedikit harta. (Riwayat Ahmad).

Allah berfirman:

“Orang-orang yang menaf kahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut pemberiannya dan dengan tidak me nyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Surah al-Baqarah ayat 262).

Apabila bersedekah, kita mesti iringi dengan perasaan gembira dan tidak boleh menyesal. Jika tidak mampu menyumbang harta, setidak-tidaknya berusaha menyumbang tenaga dan fikiran bagi mengajak orang sekeliling melakukan kebaikan.

Rasulullah berkata dengan sahabat, “Pada setiap Muslim tuntutan untuk bersedekah”, sahabat berkata: Bagaimana jika tidak mampu? Nabi menjawab: “Berusahalah dengan kedua tanganmu untuk hasilkan perkara bermanfaat dan bersedekahlah.

Sahabat bertanya: Bagaimana jika masih tidak mampu? Nabi menjawab: “Carilah orang yang sangat memerlukan bantuan (dan bantulah sama ada dengan tenaga atau ditunjukkan kepada yang mampu).

Sahabat bertanya: Bagaimana jika masih tidak mampu? Nabi menjawab: “Ajaklah orang lakukan perkara kebaikan dan larang mereka dari kemungkaran.

Sahabat bertanya lagi: Bagaimana jika masih tidak mampu? Nabi menjawab: “Janganlah kamu lakukan perbuatan buruk, ia juga satu sedekah (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Seindah-idah dan sebaiknya, membiasakan diri bersedekah kepada anggota atau ahli keluarga kita yang miskin dan memerlukan terlebih dahulu sebelum melaksanakan nya kepada orang lain.

Rasulullah bersabda : Sedekah kepada orang miskin mendapat satu pahala, namun apabila diberi kepada yang punyai pertalian (kerabat), dua pahala iaitu satu sedekah dan satu lagi adalah merapatkan hubungan.” (Riwayat At-Tirmidzi).

Bersedekah dapat meringankan bebanan orang lain dan menyelamatkan kita daripada api neraka. Rasulullah bersabda:

“Sedekah itu menghapuskan kesalahan seperti air memadamkan api.” (Hadis Riwayat At Tirmidzi).

Justru, beberapa perkara perlu diambil perhatian demi kesempurnaan amalan sedekah antaranya barang yang disedekahkan mestilah baik. Tidak wajar sama sekali barang yang disedekahkan itu kita sendiri tidak tergamak menggunakannya.

Allah melarang bersedekah dengan benda yang tidak baik karena bersedekah adalah ibadah dan tanda mensyukuri nikmat Allah.Kemudian sesuatu yang disedekahkan mesti halal. Sunah jika bersedekah dengan benda atau barang yang disukai dan disayangi tidak masalah apakah banyak atau sedikit. Allah berfirman yang artinya ;

“Kamu tidak sekali-kali akan dapat mencapai hakikat kebajikan dan kebaktian yang sempurna sebelum kamu dermakan sebahagian daripada apa yang kamu sayangi. Dan apa jua yang kamu dermakan maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (Surah Ali-Imran ayat 92).

Jangan sesekali bersedekah kemudian mengungkit, menghina dan menyakiti hati orang yang menerima karena perbuatan itu haram serta merosakkan amalan sedekah. Sedekah yang diberikan secara sembunyi lebih afdal. Perbuatan ini lebih dekat kepada keikhlasan karena menjauhkan diri daripada riya hingga merusakkan amalan.

“Penumpuan perlu diberikan kepada lapan golongan asnaf yang layak menerima zakat. Mereka terdiri daripada golongan fakir, miskin, amil, muallaf, riqab , al-gharimin (orang yang menanggung hutang dan tidak mampu menyelesaikannya), fisabilillah (berjuang di jalan Allah) serta ibnu sabil (musafir yang terputus bekalannya di perantauan).

Setiap kali bersedekah pastikan niat kita ikhlas karena Allah. Jika kita berinfak hanya sekadar untuk mendapat pujian, nama atau pangkat ia tidak memberi makna apapun.

Sedekah membuatkan seorang Muslim mendapat berbagai nikmat dan pengalaman kesan kehebatan sedekah itu dapat dirasakan ketika masih hidupdi dunia.

“Orang yang istiqamah bersedekah atau berinfak hartanya mudah menerima ilmu Allah, terhindar daripada penyakit, jiwa sentiasa tenteram dan menghapuskan sifat bakhil yang bersarang dalam diri.

“Tidak kira siapa kita sama ada kaya atau kurang hartanya mesti berusaha dan bersedia untuk bersedekah. Umpamanya jika kita mempunyai uang Rp.100.000 tidak mengapa jika bersedekah sebanyak Rp.10.000,- karena yang penting keikhlasan itu mendapat nilaian istimewa daripada Allah,” katanya.

Ganjaran kepada mereka yang bersedekah cukup besar kerana apa saja yang mereka infak itu pahala terus diterima secara berkekalan.

“Rasulullah bersabda  “Apabila mati anak Adam maka terputuslah amalannya kecuali tiga, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang soleh yang mendoakannya untuknya.”

Dari hadis tersebut membuka peluang untuk kita mendapatkan bekalan sebelum mata tutup buat selamanya. Jika kita sedekahkan al-Quran atau sejadah untuk kegunaan jemaah di masjid, selagi mana ia digunakan maka pahala tetap sampai kepada kita. Begitu juga apabila memberi makan, minum dan pakaian kepada anak yatim maka sudah tentu ganjarannya cukup besar.

Hikmah Majelis Darul Aytam, Santunan Yatim dan Dhuafa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s