MANUSIA YANG PALING MULIA

Dialah, Muhammad, Sang Nabi Mulia…..

اللّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، اللهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (

Dialah manusia terbaik terbagus tertampan terindah yang pernah diciptakan oleh Tuhan. Dia adalah hiasan surga yang diturunkan di atas bumi. Dia terlahir sempurna seakan beliau terlahir sesuai dengan kehendak sendiri. Dialah pemilik nasab paling mulia, lahir dari keturunan para nabi-nabi dari rahim wanita-wanita yang paling menjaga diri. Dialah yang paling didamba kehadirannya di dunia. Terbitlah cahaya kebenaran dengan adanya dia.

Dialah pelipur segala lara. Dialah sang penyingkap jalan semua hamba kepada Tuhannya. Tanpa dia, tidak akan ada keridhaan Tuhan atas diri kita, tidak ada ampunan kepada kita selain melalui dia. Dialah yang sang pendidik, guru terbaik, penuntun, penyemangat, pemberi ketenangan kepada dada-dada yang rindu akan cinta ilahi. Dialah yang kasih sayang dan tutur katanya lebih lembut dari pada seorang ibu kepada anaknya. Dialah yang paling halus dalam menyampaikan, dan paling sopan dalam setiap keadaan.

Dialah manusia yang paling hancur hatinya dalam menjalani beban dakwah yang berat. Bayangkan, tugas da’wah yang luar biasa besar dibebankan ke pundak beliau seorang  diri di tengah rusaknya umat. Ia lah yang paling paham bahwa dakwah harus segera di jalankan walau pada awalnya hatinya ragu dan ingin teriak bahwa dirinya juga manusia biasa. Tapi dia kuatkan dirinya, dan terus maju di dalam menyampaikan kebenaran.

Dialah yang berkata kepada gadis kecilnya “nak, tidak ada istirahat setelah hari ini untuk ayahmu’. Tahukah kita, untuk siapa dia berkorban tidak istirahat? Ya, untuk kita umatnya di habiskan segala yang ia punya, harta waktu bahkan harga dirinya sendiri. Baginya, umatnya adalah lebih ia sayang dari ibunya, bapaknya, anaknya, semua keluarganya, bahkan dirinya sendiri.

Dialah yang setiap hari berkeliling dan mengetuk pintu setiap rumah, hanya untuk mengajak kepada keselamatan dan kedekatan kepada Tuhan. Di cuaca panas memanggang dan dingin menusuk, dia telusuri setiap gurun, setiap desa, setiap lorong, setiap jalan dengan kakinya yang mulia ia terus berjalan tanpa merasa malu atau lelah menemui umatnya. Tidak tersirat sedikitpun diwajahnya rasa penat, ia lakukan semua itu dengan senang hati, setiap hari, setiap waktu, karena kecintaannya kepada kita, umatnya. Ia tersenyum mengembang jika ada yang memenuhi ajakannya, dan tetap tersenyum sabar ketika ada yang menolaknya. Sedikitpun tidak ia tampakkan rasa kesalnya di depan orang lain, ia hanya menyerahkan dan mengadukan kepada rabbnya dalam doa dan sujudnya yang panjang di tengah malam.

Dialah yang selalu bangun shalat setiap malam di saat semua orang tertidur. Dialah yang tulus berdoa, terdengar gemuruh tangis yang ditahan dari dalam dadanya, sambil menangis terisak-isak kepada rabb Nya ia memohon dengan sangat, “ya Allah, jika engkau mengazab mereka sesungguhnya mereka adalah umatMu, jika engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau lah yang Maha Bijaksana.”. Dia ulang-ulang ayat itu sampai ia tidak tahu entah berapa lama ia berdiri shalat meminta ampunan kepada kita, hingga kakinya bengkak. Tahukah karena siapa kakinya itu bengkak, ketahuilah ia tidak peduli dengan itu karena itu semua untuk kita umatnya. Dialah yang selalu mendoakan kita setiap helaan nafasnya setiap denyutan nadinya. Malaikat berkata: “sesungguhnya hanya matanya yang tertidur, tetapi tidak hatinya.” Hatinya penuh cinta, selalu ada untuk kita, umatnya.

Dialah yang tanpa sepengetahuan orang lain, setiap hari ia mendatangi seorang yahudi tua di pelosok desa, sedang orang tua yang selalu menfitnahnya di keramaian. Dia datang selalu tepat waktu, dia hibur dan suapi seorang tua yahudi itu walau mulutnya tidak henti menjelekkan namanya yang mulia, dengan sabar ia haluskan dan lembutkan makanan itu dan menyuapkan kepada wanita tua yahudi itu. Tanpa sedikitpun tersinggung, ia terus menyuapi dan tidak menanggapi ocehan oran tua itu. Betapa lembut dan sayangnya ia kepada umat.

Dialah pahlawan sebenarnya, paling peduli dengan kesusahan orang lain. Satu hari ia menemui seorang budak kecil yang sedang menangis ketakutan karena uang tuannya hilang. Ia langsung bergegas pulang sekedar mengambil sebagai ganti uang budak itu. “ya nabi, sungguh aku takut akan tuanku karena keterlambatanku..”. Nabi paham, dan bersedia menemani budak itu hingga ke rumah tuannyanya. Siapa yang tidak bahagia bisa dibela oleh sang nabi?

Dialah yang sengaja menunggu dan mencari umat yang memerlukan bantuannya di pasar, ia tawarkan jasanya mengangkut barang orang-orang di pasar Makkah. Bayangkan, nabi mulia mau kerja kasar menggotong barang-barang orang lain dengan pundaknya yang mulia? Ia lakukan itu dengan senang hati agar ada yang menerima islam. Adakah hari ini kita berdakwah seperti itu?

Dialah yang bergegas menjenguk orang yang meludahi mukanya setiap hari. Tampak gurat khawatir di wajahnya ketika mengetahui orang itu sakit. Segera ia ke rumah orang itu khawatir ia telah meninggal tanpa membawa islam. Syukur orang itu belum meninggal, dan nabi sangat bahagia. Kepada orang itu dia berikan hadiah seraya dengan senyum yang tulus mengembang di wajahnya. Dan orang itu pun tidak dapat menolak betapa indahnya sosok sang nabi, dan ia pun menerima islam.

Dialah yang selalu berkata jujur dan manis ke semua orang. Tidak pernah ia berkata ‘tidak’ untuk sebuah permintaan mengenai kepentingan orag lain. Dialah yang selalu menyahut ‘labbaik’ ketika dipanggil namanya seraya ia arahkan muka dan seluruh badannya kepada orang yang memanggilnya. Labbaikadalah ungkapan sangat halus/siap/bersemangat untuk menyambut seseorang. Dialah yang  tidak pernah menselonjorkan kakinya di depan orang lain bahkan kepada seorang anak kecil, karena begitu menghargai manusia. Sangat pantas Tuhan memujinya “Dan engkau Muhammad benar benar berakhak yang agung..”

Dialah sosok suami yang paling setia, paling adil dan paling peduli. Ia memilih tidur di luar rumah yang dingin daripada mengganggu istrinya tidur di dalam karena pulang larut malam setelah berdakwah. Dialah laki-laki yang sangat menjaga pandangannya kepada wanita yang tidak halal baginya. Dialah pria paling memuliakan wanita, bahkan tidak pernah beliau menyentuh wanita yang bukan mahromnya. Dialah yang paling depan membela hak-hak wanita, menghapus kesenjangan, memberikan hak sepenuhnya kepada wanita. Dialah yang berpesan khusus kepada kita: “bertaqwalah kalian atas hak-hak wanita..”

Dialah yang sering lapar dan tidak makan berhari-hari karena seluruh hartanya telah diberikan kepada umatnya yang menderita dan membutuhkan makan. Dialah pemimpin dunia akhirat yang berhari-hari asap dapur nya tidak mengepul karena tidak ada yang bisa dimasak.Dialah yang paling memuliakan tetangga, selalu berbagi walau hanya sedikit makanan.

Dialah yang sering berbuka puasa hanya dengan air dan roti kering. Tidak pernah dalam hidupnya ia menyaring tepung gandum untuk dimasak menjadi roti yang lembut. Dialah yang tidur dengan hanya beralaskan tikar daun kurma usang, padahal beliau lah yang paling berhak atas dunia ini dan akhirat nanti. Apakah kita tidak malu, di saat kita merasa sudah zuhud dan berdalih dengan keduniaan untuk kepentingan kita?

Dia lah yang paling memikirkan dan merisaukan kita. Ia terus memikirkan kita bahkan hingga ajal hampir menjemputnya. Dengan lirih ia berucap penuh kerisauan dan cinta: “umatku, umatku,umatku…”. Di saat ruhnya akan dicabut, ia bertanya kepada malaikat Israil “Ya Israil, apakah rasa sakit sakaratul maut yang kurasakan ini sama seperti yang dirasakan umatku, begitu sakit ya Israil..!”. “Tidak ya Rasulullah, rasa sakitmu ini telah kuperhalus sampai 70 kali..”. Nabi kaget dan langsung meminta Israil..”kalau begitu, tumpahkan semua rasa sakit sakaratul maut itu kepadaku saja ya Israil..!” Biar aku saja yg merasakan sakit itu, jangan umatku..”. Ya Nabi, betapa cinta dan tulus pengorbanan engkau pada kami. L..

Dialah di akhirat nanti, di saat semua amal sudah ditutup, di saat setiap orang egois dengan urusan masing-masing,  yang tampil seorang diri membela kita di mahkamah Tuhan. Di surga, ia tidak tenang dan terus bertanya kepada para malaikat, “dimana umatku…dimana umatku..dimana umatku..??” Dia kejar dan cari kita di padang mahsyar, dan dia sungkurkan kepalanya serendah-rendahnya kepada Allah agar kita umatnya diselamatkan dan dimasukkan ke syurga. Beliau terus bertasbih, merengek, berdoa sambil menangis berlinangan air mata agar kita terbebas dari siksa akhirat. Lama sekali dia bersujud, hingga Allah mengabulkan semua permintaannya. Allah berfirman: Ya Muhammad, angkat kepalamu. Aku akan kabulkan apa yang kau minta..”.  Tahukah apa yang terucap pertama kali yang keluar dari lisan beliau? Beliau berkata: “umatku ya Allah…” . Kitalah yang terus difikirkan oleh beliau bahkan ketika syurga telah terjamin atas dirinya.

Saat ini, detik ini. Adakah kita sudah cinta kepada beliau? Jikalau pun ada cinta, maka itu tidak lah sebanding dengan cinta nabi yang jauh lebih dulu dan jauh lebih besar. Adakah kita sudah fanatik dengan sunnah beliau? Atau kita masih suka ikut cara hidup selain cara nabi, sibuk mengidolakan seseorang yang tidak pernah sujud kepada Allah bahkan mengikuti cara hidup orabg yang mengingkari risalah Nabi. Apakah kita masih menganggap sunnah adalah sesuatu yang boleh ditinggalkan dan tidak ada merasa mengkhianati beliau?

Adakah sama apa yang beliau lakukan dan perjuangkan dengan apa yang kita lakukan dan usahakan sehari-hari? Kita sibuk mengusakan dunia, sementara nabi pontang panting menyelamatkan akhirat kita. Tidakkah diri kita malu dengan beliau? Bayangkan, jika saat ini Nabi hadir di hadapan kita dan melihat isi rumah kita dan memonitor kegiatan kita. Apakah ada sepatah kata maaf yang bisa terucap dari lisan kita kepada beliau.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin..” [At Taubah:128]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s