IBUNDA MADRASAH PERTAMA BAGI ANAKNYA

islam  memberikan perhatian yang besar terhadap tarbiyah anak sejak dini. Karena anak adalah pemimpin masa depan. Sudah menjadi kewajiban orangtua untuk membentuk figur yang tangguh dalam memikul tanggung jawab, menjadi panutan karena kebersihan jiwanya, ketinggian akhlaknya dan kecerdasan dirinya. Sosok sosok seperti inilah yang diharapkan untuk memimpin ummat dimasa yang akan datang.

Lalu, siapakah pemeran utama pada madrasatul ula ini? Dialah sosok ibu yang mengandung generasi generasi harapan itu, kemudian menyapih mereka dengan air susunya, mendidik mereka dan ibu menjadi pemimpin di dalam rumah suaminya. Maka, tak dikeragui lagi bahwa ibu adalah orang yang paling berpengaruh pada pribadi sang anak. Oleh karena itu, untuk mewujudkan generasi harapan ini sangat tergantung dengan sosok yang akan memberikan suguhan tarbiyah tersebut. Apabila setiap ibu telah menjalankan amanahnya dan mampu menjadi teladan yang baik, Insya Allah, ummat rabbani bukan hanya menjadi sekedar mimipi.

Tanggung jawab besar ini menghasilkan limpahan pahala yang besar pula.  Selain itu, hanya anak yang solehlah yang dapat mendoakan orang tuanya kelak ketika telah tiada. Sebagaimana yang disabdakan oleh rasulullah saw dalam hadisnya

اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث, صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له

(An-Nawawi, Shohih Muslim bi Syarhi Imam Nawawi, vol. 1, hal. 25)

” Jika telah meninggal anak Adam, maka terputuslah pahalanya kecuali salah satu dari tiga perkara; shodaqah jariyah, ilmuyang bermanfaat baginya, atau seorang anak soleh yang mendo’akannya

Dalam mendidik anak, tidak hanya usaha saja yang dibutuhkan. Namun, untaian do’a juga akan menentukan. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt. dalam ayatnya: 

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (74)

 

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan : 74 )  

 

Fase Fase dalam Mentarbiyah Anak

1  Masa Kehamilan

 

Tarbiyah terhadap anak hendaknya telah dimulai sejak sang buah hati masih dalam kandungan. Walaupun jenis tarbiyah ini masih bersifat permulaan, namun hal ini juga membantu untuk membantu dalam pembentukan kepribadian anak kelak. Jika kita lihat dari ilmu kedokteran, ketika janin telah berusia 14 minggu, panca indranya telah mulai berkembang hingga mencapai fungsi yang sempurna sampai waktu bayi siap untuk dilahirkan. (lih. Perkembangan janin dari minggu keminggu, nakita, hal. 44). Ketika ilmuwan moderen telah menemukan penelitian terbaru untuk menganjurkan ibu memperdengarkan musik musik klasik untuk merangsang  perkembangan indra dan otak bayi, maka mengapa kita tidak memperdengarkan kalimah toyyibah dan lantunanayat suci alqur’an untuk memperkenalkan calon bayi dengan tuhannya. Hal ini akan lebih memperkokoh  ikatan janji Allah dengan sang bayi ketika di zaman azali sebelum ia lahir kedunia untuk mengemban tugas sebagai khalifah di atas

bumi ini. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an: 

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172)

” Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)” (QS. al-A’raf: 172)

Selain itu, sentuhan lembut sang ibu juga dapat memberikan ketenangan bagi janin. Dan anak akan merasa terlindungi dengan adanya kontak fisik ini.

 

2  fase ketika anak dilahirkan

 

Ketika sang anak telah terlahir kedunia, maka, dianjuran bagi sang ayah untuk memperdengarkan azan di telinga kanan dan iqamat di telinga kirinya. Ini merupakan tarbiyah bagi anak agar kaimat pertama yang ia dengar ketika terlahir kedunia adalah I’lanu bittauhid.( lih. Tarbiyatul aulad, ‘Athiyah Saqar, hal. 149 )

Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw.  dalam hadisnya yang terdapat pada sunan Abi Daud dan Tirmidzi yang berbunyi:

عن ابي رافع عن ابيه قال رأيت رسولله صلى الله عليه و سلم أذن فى أذن الحسن بن على حين ولدته فاطمة بالصلاة

” Dari Rafi’ maula Rasulullah saw berkata: Aku melihat Rasulullah Saw. Mengazankan Hasan bin Ali pada telinganya ketika Fatimh melahirkannya dengan azan shalat” (Sunan Abu Daud, vol 13, hal. 305)

3  fase menyusui

Fase menyusui adalah fase dimana seorang anak mulai meniru prilaku sang ibu. Jadi, tarbiyah yang berlangsung pada fase ini bersifat spontanitas. Karna seiring dengan berjalannya waktu, kedekatan ibu dan anak akan mempengaruhi jiwa anak. Oleh karena itu, seorang ibu harus memiliki kepribadian yang baik, kondisi kejiwaan yangbagus dan kesehatan yang prima. ( lih. Tarbiyatul Aulad, ‘Athiyah Saqar, hal 125 )

Menyusui merupakan kewajiban setiap ibu. Namun, jika seorang ibu  tidak sanggup menunaikan kewajiban ini, maka Allah memerintahkan orangtua bayi untuk menyusukannya pada wanita lain agar hak bayi dapat terpenuhi. Dalam hal ini, orangtua bayi harus memilih wanita yang baik dari segi kesehatan, akhlaknya dan pribadinya, karena hal itu sangat berpengaruh terahadap pertumbuhan dan pribadi sang anak. Sebagaimana yang dilakukan oleh ibunda Rasulullah Saw. Beliau memilih wanita  badui yang baik dari bani Sa’ad untuk menyusui putranya tercinta.

Islam menganjurkan ibu untuk  menyusui selama 2 tahun.  Hal ini telah termaktub di dalam al-Qur’an: 

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…”.

Jika kita lihat lebih jauh, ternyata menyusui masa 2 tahun ini memberikan manfaat  yang besar. Diantaranya adalah:

1.  Terjadinya kontak fisik antara ibu dan anak ketika kebersamaan dan kedekatan ibu dengan anak berlangsung.

2  Menumbuhkan  kontak batin antara ibu dan anak. Oleh karena itu, ketika anak sedang tidak berada dekat ibunya, ia akan merasa kehilangan.

3  Anak akan mampu untuk mengekspresikan keinginannya seperti dengan menangis, atau menggerak gerakan anggota tubuhnya. Sehingga ibu dapat memahami bahasa bayi dan segera memenuhi keinginan sang anak.

4  kedekatan ibu dengan bayi selama 2 tahun ini akan mendatangkan perasaan aman dan damai pada jiwanya. Karena  ia akan merasakan adanya seseorang yang siap melindungi di dalam dekapan yang hangat. ( lih. ‘Uzhomaa’ul Athfal, Jamal ‘Abdurrahman, hal. 196)

Dari sisi akhlak, seoang ibu hendaknya menjaga sikapnya dan mulai mengajarkan adab adab yang baik terhadap anak. Seperti membiasakan mengucapkan Basmalah ketika memberikanASI, membaca Hamdalah ketika telah selesai. Memulai dengan Bismillah ketika memakaikan anak pakaian, mengucap Hamdalah ketika selesai dan adab adab lainnya.

Sedangkan dari sisi psikologi, keikhlasan ibu ketika memberi ASI kepada bayi, akan mempermudah keluarnya ASI. Dan kesehatan jasmani ibupun akan mmpengaruhi kualitas Asi yang akan diberiakan. Selain itu, perasaan tenang dan ikhlas ketika menyusui juga mempengaruhi psikologi  sang bayi.

 

4  Fase Kanak Kanak

Masa kanak kanak adalah fase dimana anak meniru prilaku yang ada disekitarnya. Hal ini juga diisyaratkan oleh imam Al Ghazali. Beliau mengatakan “Anak kecil siap menerima segala ukiran dan cenderung pada setiap yang diucapkan “. Oleh karena itu, jika kita mengajari dan membiasakan anak anak kita dengan kebaikan, maka mereka akan tumbuh di dalam kebaikan itu. Namun sebaliknya jika kita membiasakan mereka tumbuh di dalan kejelekan. ( 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak,  Muhammad Rasyid Dimas, hal. 5). Ini disebabkan oleh potensi besar yang dimilikinya untuk menerima pengaruh negatif maupun positif. Maka, oangtualah yang harus memaksimalkan pengaruh positif tersebut.

Adapun macam macam tarbiyah yang harus kita perkenalkan pada anak sejak dini adalah:

 

Tarbiyah Islamiyah

   

1.  Aqidah Sohihah

 

Hal yang paling pertama dan utama sekali adalah mengajarkan anak  mengenal Tuhannya, dan mengajari mereka mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian selanjutnya mengajari mereka tentang rukun iman dan rukun islam. ( lih. Tuhfatul ‘Arus, Muhammad Sholah Hilmi, hal. 257 )

Pada tahap awal, ibu bisa kreatif dengan mengajarkan rukun iman dan rukun islam dalm bentuk lagu agar  lebih mudah diingat. Dongeng sebelum tidurpun bias difariasikan dengan kisah kisah para nabi, sahabat dan para salafussalih sebagai keteladan akidah mereka.

 

2. Memperkenalkan Ibadah Sejak Dini

 

Rasulullah saw bersabda dalam hadisnya:

مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سني

” Suruhlah anak anakmu shalat ketika telah mencapai umur 7 tahun” (Sunan Abi Daud, vol. 24, hal. 88)

Pengenalan ibadah sejak dini akan membuat mereka terbiasa melakukannya hingga telah dewasa nanti. Walaupun pada awalnya terasa berat dan enggan, namun, sang ibu hendaknya terus memotivasi anak untuk membiasakannya dengan tanpa memaksa. Misalnya, dengan memberikan hadiah apabila sang anak dapat menunaikan puasa sehari penuh, membelikan mushaf yang baru ketika anak semangat belajar alqur’an.

 

3. Tarbiyah  Adab dan Akhlak Karimah

 

#  Belajar Meniru Kepribadian Rasulullah Saw.

Sebaik baik teladan adalah Rasulullah saw..  Keindahan pribadi dan akhlaknya tiada tertandingi. Kita sebagai muslim disuruh untuk meneladani akhlak Rasulullah saw.. Aisyah Ra. Pernah mengisahkan tentang keluhuran akhlak beliau. Sesungguhnya akhlak Rasulullah adalah al  Qur’an. Dan beliau diumpamakan dengan al Qu’an yang berjalan di atas bumi.

# Mengajarkan Adab Islam

Ketika sang ibu mengajarkan adab adab islami ketika anaak masih dalam masa menyusui, maka, ketika masa kanak kanak, anak akan mulai terbiasa melakukannya. Seperti berdoa ketika melakukan sesuatu. Ibu juga harus mengajarkan adab ketika anak anak berhadapan dengan orang yang lebih besar darinya, adab ketika makan, ketika, bertamu dan adab adab lainnya.

Namun, sebagai orang tua yang mendidik, ibu hendaklah melakukan terlebih dahulu apa yang ia ajarkan terhadap anak. Karena, betapaun sang anak berpotensi besar untuk menerima kebaikan dan betapa suci dan lurusnya fitrah anak, namun dia akan tidak dapt merespon prinsip prinsip kebaikan dan dasar dasar pendidikan yang baik tersebut selama ia tidak melihat pendidiknya berakhlak mulia dan menjadi sosok ideal. ( lih. 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak, Muhammad Rasyid Dimas, hal. 20). Mari kita kembali mengingat seruan Allah pada orag orang yang beriman   untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang kita ucapkan. : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)

” Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?  Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash-shaf : 2-3)

 

# Ketika Anak Melakukan Kesalahan

Kesalahan adalah hal yang wajar dilakukan oleh anak anak. Sebab, anak tengah melewati fase fase perkembangan secara bertahap. ( lih. 20 Kesalahan Dalam Mendidik Anak, Muhammad Rasyid Dimas, hal. 13). Namun, tugas seorang ibu, tentu tidak akan membiarkan kesalahan itu terus berlanjut dan menjadi sifat yang melekat pada diri sang anak.  Menyikapinya dengan sabar adalah solusi terbaik. Hal yang harus dihindari oleh ibu ketika menyikapi kesalah anak adalah memarahinya habis habisan dan memberikan hukuman fisik. Karena, menghujani anak anak dengan kata kata dan memukulnya akan berpengaruh terhadap kejiwaan anak. Sehingga anak akan lari dari ibunya, dan cenderung mengulangi kesalahan tersebut.

Adapun  dampak negatif yang diakibatkan oleh hukuman fisik ini akan merusak fisik anak, kondisi kejiwaan , dan akal mereka. Dan tanpa kita sadari, hal ini juga berimbas negatif pada kondisi masyarakat dan negara. Karna, masyarakat dan negara merupakan kumpulan dari komponen terkecil yang bernama keluarga. ( lih. Kaifa Tu’addibu Abna’ana Bighairi Dhorob, Muhammad Nabil Kazhim, hal. 112 )

Namun, dalam menyikapi kesalahan yang dilakukan oleh anak  juga dibutuhkan cara  yang bersifat mendidik. Contonhya, dengan mengatakan terus terang bahwa apa yang ia lakukan adalah salah, dengan ungkapan “anak yang baik atau soleh, tidak melakukan hal ini”. Bila perlu, tunjukan sikap bahwa sang ibu tidak menyukai apa yang dilakukan oleh sang anak, namun tetap diiringi  dengn menunjukan rasa kasih sayang terhadap mereka (lih. Kaifa Tu’addibu Abna’ana Bighairi Dhorob, Muhammad Nabil Kazhim, hal. 96)

 

4  Tarbiyah jiwa dan akal anak anak

Didikan jiwa dan akal anak yang dijalani oleh ibu pada saat sekarang ini merupakan langkah dalam menyiapkan anak yang  berjiwa tangguh dan cerdas baik secara emosi maupun kecerdasan berpikir. Bukankah mereka adalah calon calon pemimpin masa depan? Maka, hal yang mesti diperhatikan oleh sang pemilik madrasatul ula adalah:

 

# Berbicara Terbuka dan Turut Mengajaknya Bermusyawarah

Jalinan komunikasi antara ibu dan anak akan menumbuhkan kedekatan emosi antara keduanya. Sehingga ketika anak menghadapi masalah , ia akan terbuka pada ibu. Hal ini akan mengurangi beban sang anak. Disamping itu ibupun dapat memantau kondisi anak ketika ketika ia tidak berada di sisi sang ibu.

Mengajaknya bermusyawarah dan meminta pendapatnya dengan membuka perbincangan sekitar hal hal yang masih dalam porsi intelektualitas mereka juga turut membantu kedewasaan mereka dalam berpikir. Selain itu, perbincangan ini juga akan menjadikan mereka merasa bahwa mereka adalah orang yang dibutuhkan. Misalnya, bermusyawarah dengan mereka tentang hal hal yang berhubungan dengan keluarga seperti  meminta pendapat mereka tentang pembagian tugas rumah.

Cara berkomunikasi dengan anak  pada tidak hanya melalui kata kata. Kontak fisik juga dapat mewakili ucapan, seperti dengan mencium untuk mengungkapkan rasa sayang, menepuk pundak mereka dengan lembut dan tatapan mata yang meyakinkan sebagai ganti dari kata kata; ” Ayolah anakku. Kamu bisa!”

Sahl Bin Sa’idi meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulkullah saw diberi minuman, lalu beliau meminumnya. Sedangkan di sebelah kanan beliau ada seorang anak laki laki dan di   sebelah kiri ada seorang sahabat yang lebih tua. Rasulullah Saw. pun bertanya pada anak itu; “Apakah kamu mengizinkn aku untuk memberi mereka ( yang tua) minuman ini terlebih dahulu? “. Sianakpun menjawab; “Tidak, demi Allah aku tidak akan memberikan hakku darimu kepada siapapun”

 

# Melatihnya Untuk Bertanggung Jawab

 

Memberikan suatu tugas merupakan latihan bagi anak untuk bertanggung jawab. Namun, ada hal hal yang mesti diperhatikan dalampemberian tugas tersebut. Diantaranya, memberikan tugas sesuai dengan jenis kelmin anak, memberi tugas sesuai dengan usianya, tidak memarahinya jika ia salah dalam menunaikan tugas yang diberikan. Misalnya, anak laki laki ditugaskan  bembantu ayah untuk membersihkan kebun. Sedangkan anak perempuan diberi tugas untuk membantu ibu di dapur.  Dan ibu juga harus menghindari pendelegasian tugas yang di luar kemampuan anak. Jika ia melakukan kesalahan dalam melaksanakannya, maka  hindari    diri dari mencerca dan memarahinya. Pahamkan ia dengan baik akan tugas tersebut, apalagi tugas yang baru pertama kali ia lakukan. Sebaliknya, jika sang anak  berhasil menunaikan dengan baik, maka berikanlah sebuah apresiasi dan pujian dengan tidak berlebihan yang akan menambah kepercayaan dirinya.

 

5  Memotivasi Mereka Untuk Belajar dan Mengembangkan Bakat

 

Jika kita ingin kecerdasan dan kemampuan anak berkembang, maka arahkanlah ia pada kegiatan kegiatan yang dapat melatih kemampuan mereka dalam berpikir dan berinovasi.  ( lih. 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak, hal. 141 ). Diantara kegiatan yang mendukung hal itu adalah:

 

 

 

Memfariasikan Cara Belajar

 

Agar belajar tidak membosankan, maka ibu mesti mampu memfariasikan cara belajar pada anak. Misalnya, belajar huruf dengan menggambar benda yang dimualai dengan huruf tersebut. Atau mengajak mereka belajar sambil bermain.

Mendukung Bakat Positif Mereka#

 

Jika sang anak memilki bakat yang positif, maka, dukunglah ia untuk menyalurkan bakat tersebut dan motivasi untuk mengembangkannya. oleh karna itu, ibu mestilah peka terhadap perkembangan dan bakat yang dimiliki oleh anak. Misalnya, jika anak memiliki kecenderungan untuk menulis, maka belikanlah ia alat tulis yang bagus. Dan rahkan mereka untuk menulis hal hal yang positif.

 

# Berikan Pujian dan Jangan Membandingkan Bandingkan Kemampuan Anak

 

Jangan sungkan untuk memberikan pujian dan hargailah jika anak berhasil dalam belajar walaupun sekecil apapun keberhasilan itu. Hindari kata kata yang meremehkan. Contohnya, jika anak memberi tahu bahwa ia berasil mendapatkan nilai delapan dalam pelajaran matematika, maka janganlah sorang ibu berkata : “hanya dengan mendapat nilai segitu kamu sangat bergembira?!  Sedangkan ibu waktu seusiamu selalu mendapatkan nilai 10 dalam mata pelajaran ini.”

 

4 fase remaja

 

Masa remaja adalah masa dimana anak akan menuju ke fase selanjutnya yaitu dewasa. Seorang pakar psikologi, Lily H. Setiono mengatakan dalam  sebuah artikel yang ditulisnya bahwa masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia  yang mana batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja. Karena usia pibertas yang dahulunya terjadi pada usia 15-18 tahun, kini bisa terjadi pada usia 11 tahun. Anak yang berusia 10 tahunpun mungkin saja mengalami masa pubertas pada masa ini. Namun, bukan berarti ia telah memasuki usia remaja dan telah siap untuk siap menghadapi dunia dewasa.

Dalam usia remaja ini, anak mulai mengalami perubahan baik dari segi biologis maupun psikologis. Adapun perubahan pada dimensi biologis yang sekaligus menjadi tanda memasuki usia baligh ini seperti  datangnya menstruasi bagi anak perempuan, berkembangnya hormon reproduksi yang mana mulai mempersiapkan tubuh remaja untuk mengalami masa reproduksi tersebut. Adapun bagi anak laki laki, masa remaja dimulai dengan perubahan suara, fisik yang berkembang drastis.

Sedangkan perubahan pada dimensi psikologis,  masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak dan mulai memiliki rasa ketertarikan pada lawan jenis. Pada masa ini suasana hati bisa berubah dengan cepat. Disaat ini pula remaja mulai mencari sebuah jawaban dari pertanyaan  ” Siapakah diri saya sebenarnya?”. Pada masa labil inilah peran seorang ibu sangat diperlukan untuk terus megarahkan mereka dan mengingatkan jati diri mereka sebenarnya. Adapun tarbiyah yang dapat dilakukan oleh sang ibu adalah:

 

1. Memberikan Pengertian Terhadap Perubahan Yang Terjadi Pada Diri Mereka

Ketika memasuki masa baligh ini, hendaknya seorang ibu berbicara empat mata dengan anak bahwa pada masa ini mereka telah memasuki fase yang mana taklif mereka sebagai muslim/mah telah diperhitungkan. Karna, kadangkala anak merasa malu untuk bertanya tentang perubahan yang terjadi pada diri mereka. Maka, ibu harus menjelaskan kewajiban kewajiban agama kepada mereka seperti berhijab bagi perempuan, menjelaskan batas batas aurat bagi mereka, menjaga adab adab islami apalagi terhadap lawan jenis dan kewajiban lainnya. Tidak ada salahnya pula jika seorang ibu membagi pengalamannya ketika mengalami usia remaja ini.

 

2. Tetap Terbuka dengan Anak

 

Komunikasi terbuka dengan remaja ini tetaplah dijalin dengan baik. Biasanya anak usia remaja adalah anak yang plin plan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi pada dirinya. Sudah menjadi kewajiban orang tua membantu mereka untuk mengarahkan mereka sehingga mereka tidak jatuh pada hal hal yang tidak diinginkan. brbeda dengan usia kanak kanak, seorang ibu hendaknya menjauhkan sikap cenderung mendikte dan memperlakukan mereka seperti anak anak. Biarkan mereka berpikir untuk mengasah jiwa mereka untuk memasuki kedewasaan tanpa meninggalkan pengarahan tersebut.

Demikianlah fase fase yang dilalui seorang ibu dalam mendidik sang buah hati. Namun, tarbiyah ini tak dapat berlangsung dengan maksimal tanpa dukungan dari sosok yang bernama ayah. Oleh karena itu, diperlukan kekompakan dan komunikasi yang lancar antara ibu dan ayah dalam melewati tahap pendidikan ini.  Sehingga, terwujudlah tujuan dari tarbiyah itu sendiri. Wallahu a’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s