NUBUWAT NABI MUHAMMAD dalam Tradisi Kristiani ***

Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. (Yesaya 42: 1) Dalam ayat ini, jika kita menganggap “orang pilihan-Ku” sebagai kata benda maka pilihan-Ku = pilihan Tuhan = Mushthafa (dalam bahasa Arab), yakni nama nabi kita Muhammad saw. Semua nabi setelah Ya’qub as yang disebutkan dalam Injil diutus untuk bangsa Israel bukan semua bangsa. Ini termasuk Yesus (Isa) (lihat Matius15: 21-26, Matius 10: 5-6 dan banyak lagi). Adapun Isa as tidak cukup lama tinggal di bumi untuk melakukan misinya. Namun Muhammad saw diutus untuk semua bangsa dan membawa pesan dan keputusan kepada bangsa-bangsa. Selanjutnya dalam Yesaya 42: 2 dikatakan: “Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.” Kata “tidak menangis” diartikan sebagai “tidak mengeluh terhadap tugas yang Aku embankan kepadanya”.Sekarang jika Anda membaca Injil Matius 26: 39-42, kita tidak bisa mengatakan bahwa Isa as tidak pernah mengeluh. Artinya, ayat ini tidak cocok diterapkan kepada Isa as. Namun jika Anda membaca sejarah kehidupan Muhammad saw, kita tidak bisa mendapatkan bahkan satu kalimat keluhan yang keluar dari lisan suci Nabi Muhammad saw tentang misi yang dipikulkan oleh Allah Yang Mahakuasa. “Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.” (Yesaya 42: 4). Sejarah menceritakan kepada kita bahwa Yesus (Isa as) tidak sampai merampungkan misinya yang telah berlangsung selama tiga tahun. Pembaca bisa menemukan hal ini di banyak tempat dalam Perjanjian Baru. Ia pun tidak bisa menegakkan hukum di muka bumi, karena pengikutnya sedikit dan mereka punya sedikit iman (ini pun bisa ditemukan di banyak tempat dalam Perjanjian Baru). Dan mereka “meninggalkannya dan kabur”ketika tentara Romawi menahan Yesus. Ia sendiri berkata, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” (Yohanes 18: 36).

Sebaliknya, misi Muham-mad saw berhasil dengan tegaknya sebuah negara dan mengatur dengan hukum yang diberikan oleh Allah. Karena itu, ia menegakkan hukum di muka bumi, di bumi Madinah al-Munawarrah. Dalam frase tersebut disebutkan bahwa Tuhan menyebutkan “hukum-nya” dan ayat 9 menyebutkan “Nubuat-nubuat yang dahulu sekarang sudah menjadi kenyataan”. Ini artinya ia (nabi baru) akan membawa hukum baru. Tapi jika kita baca Injil, kita lihat bahwa Yesus berkata dalam Matius 5:17:“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Jika kita baca lebih jauh, kita paham bahwa Yesus tidak datang dengan hukum baru. Sementara Muhammad saw datang dengan hukum baru.

Kejelasan akan datangnya Muhammad saw lebih terbaca lagi dalam Yesaya 42: 8 yang berbunyi: Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung. Melihat konteks sejarahnya, kita lihat bahwa perkataan Tuhan ditujukan kepada Muhammad saw dan bukan Isa as.

Alasannya, Isa as datang untuk bangsa Israel dan mereka tidak menyembah berhala. Adapun Muhammad saw datang kepada kaum Arab yang menyembah berhala pada masa Jahiliah. Seterusnya, Nabi Muhammad saw menghancurkan berhala. Jika kita membaca Yesaya 42: 17, hal itu akan dipahami lebih jelas. “Baiklah mereka memberi penghormatan kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau.” (Yesaya 42: 12). Ayat ini mengacu kepada lafaz azan sebagai panggilan shalat. Makna azan mengandung puji-pujian kepada TUHAN. Ayat ini secara implisit merujuk kepada kandungan azan Islam yang memuat nama Allah dan Nabi Muhammad saw. Sebagaimana terlihat, azan bergaung di mana-mana menyerukan nama Allah dan Rasul-Nya yang tiada keturunan Ibrahim as dari jalur Ismail as. Nabi Isa as sendiri keturunan Ishak (Rujuk Kejadian 25: 13-16) Jelaslah, ayat ini (ayat 11) tidak sedang membincangkan Isa as melainkan Muhammad saw.

Jika Anda melihat ritual Muslim (khususnya haji), Anda akan melihat kota-kota tersebut (Makkah dan Madinah) menyaringkan suara mereka (azan) dan orang-orang menyeru dan memuji Allah dari puncak gunung, khususnya Bukit Arafah. Tentang azan sendiri, Anda bisa melihat bahwa di setiap negeri Muslim, orang-orang diseru untuk shalat melalui panggilan azan yang mirip nyanyian. Bahkan jauh dari kota, Anda bisa mendengar azan ini. Makna azan itu sendiri adalah: Allah Mahabesar, Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah, Dan seterusnya.

NUBUAT I:

«يُقِيمُ لَكَ الرَّبُّ إِلهُكَ نَبِيًّا مِنْ وَسَطِكَ مِنْ إِخْوَتِكَ مِثْلِي. لَهُ تَسْمَعُونَ. 16حَسَبَ كُلِّ مَا طَلَبْتَ مِنَ الرَّبِّ إِلهِكَ فِي حُورِيبَ يَوْمَ الاجْتِمَاعِ قَائِلاً: لاَ أَعُودُ أَسْمَعُ صَوْتَ الرَّبِّ إِلهِي وَلاَ أَرَى هذِهِ النَّارَ الْعَظِيمَةَ أَيْضًا لِئَلاَّ أَمُوتَ. 17قَالَ لِيَ الرَّبُّ: قَدْ أَحْسَنُوا فِي مَا تَكَلَّمُوا. 18أُقِيمُ لَهُمْ نَبِيًّا مِنْ وَسَطِ إِخْوَتِهِمْ مِثْلَكَ، وَأَجْعَلُ كَلاَمِي فِي فَمِهِ، فَيُكَلِّمُهُمْ بِكُلِّ مَا أُوصِيهِ بِهِ. 19وَيَكُونُ أَنَّ الإِنْسَانَ الَّذِي لاَ يَسْمَعُ لِكَلاَمِي الَّذِي يَتَكَلَّمُ بِهِ بِاسْمِي أَنَا أُطَالِبُهُ. 20وَأَمَّا النَّبِيُّ الَّذِي يُطْغِي، فَيَتَكَلَّمُ بِاسْمِي كَلاَمًا لَمْ أُوصِهِ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ، أَوِ الَّذِي يَتَكَلَّمُ بِاسْمِ آلِهَةٍ أُخْرَى، فَيَمُوتُ ذلِكَ النَّبِيُّ. 21وَإِنْ قُلْتَ فِي قَلْبِكَ: كَيْفَ نَعْرِفُ الْكَلاَمَ الَّذِي لَمْ يَتَكَلَّمْ بِهِ الرَّبُّ؟ 22فَمَا تَكَلَّمَ بِهِ النَّبِيُّ بِاسْمِ الرَّبِّ وَلَمْ يَحْدُثْ وَلَمْ يَصِرْ، فَهُوَ الْكَلاَمُ الَّذِي لَمْ يَتَكَلَّمْ بِهِ الرَّبُّ، بَلْ بِطُغْيَانٍ تَكَلَّمَ بِهِ النَّبِيُّ، فَلاَ تَخَفْ مِنْهُ.

(15) Bahwa seorang Nabi dari tengah-tengah kamu, dari antara segala saudaramu, dan yang seperti aku ini, yaitu akan dijadikan oleh Tuhan Allahmu bagi kamu, maka Dia patutlah kamu dengar.

(16) Setuju dengan segala yang telah kamu pinta kepada Tuhan Allahmu di Horeb, pada masa orang banyak itu ada berhimpun, katamu: Jangan kiranya kami mendengar pula bunyi suara Tuhan Allah kami dan api yang besar ini jangan kiranya kami lihat lagi, supaya jangan kami mati !

(17) Maka pada masa itu berfirmanlah Tuhan kepadaku: Benarlah kata mereka itu:

(18) Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang Nabi dari antara segala saudaranya, yang seperti engkau; dan Aku akan memberi segala firmanku dalam mulutnya dan iapun akan mengatakan kepadanya segala, yang kusuruh akan dia.

(19) Bahwa sesungguhnya barangsiapa yang tiada mau dengar akan segala firmanku, yang akan dikatakan olehnya dengan Namaku, niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang itu.

(20) Tetapi adanya Nabi yang melakukan dirinya dengan sombong dan mengatakan firman dengan Namku, yang tiada kurusuh katakan, atau yang berkata dengan nama dewa-dewa, niscaya orang nabi itu akan mati dibunuh hukumnya.

(21) Maka jikalau kiranya kamu berkata dalam hatimu demikian: Dengan apakah boleh kami ketahui akan perkataan itu bukannya firman Tuhan adanya ?

(22) Bahwa jikalau nabi itu berkata dengan Nama Tuha, lalu barang yang dikatankannya itu tiada jadi atau tiada datang, yaitulah perkataan yang bukan firman Tuhan adanya, maka nabi itupun telah berkata dengan sombongnya, janganlah kamu takut akan dia.

(Ulangan 18:15 – 22)

Keterangan:

Ayat-ayat diatas ini adalah perkataan Nabi Musa yang diucapkannya dihadapan Bani Israil, tersebut dalam kitab Ulangan atau Taurat. Menurut keterangan Nabi Musa itu, Tuhan telah berjanji kepada Bani Israil akan menjadikan seorang Nabi dari antara segala saudaranya yang seperti Musa. Penulis-penulis dari kalangan umat Islam telah menyatakan bahwa Nabi yang dijanjikan Tuhan itu ialah Nabi Muhammad s.a.w. Keterangannya sebagai berikut:

Setelah Nabi Musa menyampaikan janji itu, Bani Israil telah menunggu-nunggu kedatangan Nabi tersebut. Hingga berapa lama mereka menunggu kedatangannya, dapat diketahui dari penjelasan Injil Yahya pasal 1 yang berikut:

(19) Maka inilah kesaksian Yahya itu, tatkala orang Yahudi menyuruhkan beberapa imam dan orang Lewi dari Jerozalem akan bertanya kepadanya demikian: Siapakah engkau ?

(20) Maka mengakulah ia, dan tiada ia bersankal; maka mengakulah ia demikian: “Aku ini bukannya Kristus itu”.

(21) Maka bertanyalah mereka itu kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Engkaukah Elias?” Maka katanya: “Bukan”.

Soal jawab diatas ini terjadi ketika Nabi Yahya datang sebagai utusan Tuhan. Orang-orang Yahudi menyuruh utusannya datang menemui Nabi Yahya hendak bertanyakan, siapakah dia. Dari tanya-jawab itu ternyata bahwa orang-orang Yahudi pada waktu kedatangan Nabi Yahya itu masih menunggu-nunggu kedatangan tiga orang yang telah dijanjikan Tuhan, yaitu: Kristus, Elias dan Nabi itu.

Dalam Injil Yahya pasal 1 tersebut lagi:

(24) Adapun orang yang disuruh itu orang Parisi.

(25) Maka mereka itu menanya dia, serta berkata kepadanya: “Jikalau engkau ini bukan Kristus, dan bukan Elias, dan bukan nabi itu, apakah sebabnya engkau membaptiskan orang?”

Pertanyaan orang Parisi kepada Nabi Yahya diatas ini menunjukkan juga bahwa orang Yahudi dizaman Nabi Yahya masih menunggu kedatangan tiga orang yang tersebut tadi, yaitu: Kristus, Elias dan Nabi itu. Diantara pertanyaan yang dimajukan utusan itu masih disebut: “Engkaukah Nabi itu?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa Nabi “itu”, yakni Nabi yang ditunggu-tunggu orang Yahudi kedatangannya karena telah dinubuatkan Nabi Musa, masih belum datang hingga pada zaman Nabi Yahya, karena mereka masih menanyakan kepadanya. Nabi Yahya hidup semasa dengan Yesus.

Menurut kepercayaan orang Kristen, Kristus itu telah datang yaitu Nabi Isa atau Yesus. Dan menurut Injil, Elias itu telah datang juga, yaitu Nabi Yahya sendiri. Yesus memberi keterangan menurut Injil sebagai berikut: “Dan jikalau kamu menerima itu: ia inilah Elias, yang akan datang itu”. (Matius 11:14)

Dalam Injil Matius tersebut lagi:

(10) Maka murid-muridnyapun bertanya kepadanya sambil berkata: “Apakah sebabnya segala ahli Torat mengatakan, bahwa tak dapat tiada Elias akan datang dahulu?”

(11) Maka jawab Yesus, katanya: memang Elias itu sudah datang, maka tiadalah dikenal orang akan dia, melainkan mereka itu melakukan keatasnya sekehendak hainya. Demikian juga Anak-manusiapun akan dianiayakan orang”.

(13) Maka barulah murid-murid itu mengerti, bahwa ia mengatakan keapdanya tentang hal Yahya Pembaptis.

Dari pada keterangan diatas ini diketahui bahwa menurut Injil dua orang diantara tiga orang yang ditunggu-tunggu mereka kedatangannya itu telah datang, yaitu Kristus dan Elias. Yang masih belum datang, seorang lagi yaitu: “Nabi itu“. Dengan demikian diketahui bahwa Nabi itu masih belum datang hingga pada zaman Nabi Yahya dan Yesus, Dan kedatangannya itu diketahui dari keterangan diatas sesudah zaman Nabi Yahya dan zaman Yesus. Hal ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. karena ia datang sesudah zaman mereka yang tersebut.

Apakah tanda Nabi itu? Dalam keterangan yang telah dikemukakan diatas, disebutkan: “Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka seorang Nabi dari antara segala saudaranya, yang seperti engkau”. Keterangan ini menyatakan bahwa Nabi yang akan dijadikan itu, ialah: “Dari antara segala saudaranya”, yaitu dari antara segala saudara Bani Israil. Dan “yang seperti engkau”, yaitu yang seperti Nabi Musa.

Daripada keterangan itu diketahui bahwa Nabi yang akan dibangkitkan itu adalah dari antara segala saudara Bani Israil, tidak dari Bani Israil. Bani Ismail adalah bersaudara dengan Bani Israil. Dalam kitab Kejadian pasal 16 dan pasal 17 diterangkan bahwa Nabi Ibrahim telah mendapat seorang anak dari Hagar, dinamai ismail. Kemudian Nabi Ibrahim mendapat anak lagi dari Sarah, dinamai Ishak. Seterusnya Ishak mendapat anak dari isterinya Ribkah, dinamai Yakub. (Lihat Kejadian 25:26). Kemudian Tuhan mengganti nama Yakub dengan Israil. (Lihat Kejadian 35:10). Turunan Nabi Ibrahim dari anaknya Ismail disebut Bani Ismail. Dan turunnya dari cucunya Israil *Yakub) disebut Bani Israil. Daripada keterangan ini diketahui bahwa Bani Ismail bersaudara dengan Bani Israil. Dengan demikian nyatalah bahwa tanda ini telah sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w., karena ia adalah turunan dari Bani Ismail yang bersaudara dengan Bani Israil. Dan seterusnya hal ini telah sesuai lagi dengan janji Tuhan yang menyatakan bahwa Ia akan menjadikan Ismail “suatu bangsa yang besar”. (Lihat Kejadian 17:20 dan 21:18).

Tanda yang kedua ialah Nabi itu seperti Nabi Musa. Tanda ini telah sesuai kepada nabi Muhammad s.a.w. karena ia serupa dengan Nabi Musa. Mereka sama-sama ber-ibu dan berbapa. Sama-sama beristeri dan beranak. Sama-sama menjadi Nabi dan Rasul. Sama-sama mempunyai kitab suci, yaitu Taurat dan Al Qurän. Sama-sama wafat tidak terbunuh. Sama-sama dikuburkan dibumi. Dan banyak lagi keserupaannya.

Firman Tuhan dalam Al Qurän:

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu seorang Rasul (Nabi Muhammad) yang menjadi saksi atas kamu,seperti Kami telah mengutus kepada Fir’aun seorang Rasul (Nabi Musa). (Surah Al Muzammil 15).

Keterangan lanjutan:

Dalam ayat 15 tersebut bahwa Nabi itu akan dijadikan Tuhan “dari tengah-tengah kamu”. Yaitu dari tengah-tengah Bani Israil atau bangsa Yahudi. Hal itu sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w., karena negeri Medinah tempat Nabi Muhammad s.a.w. adalah terletak di tengah-tengah kampung-kampung orang Yahudi, yaitu suku Bani Nadlir, suku Bani Quraizhah dan suku Bani Qainuqa’

Dalam ayat 18 tersebut “Aku akan memberi segala firmanku dalam mulutnya”. Keterangan ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Firman itu diberikan kepadanya hanya merupakan bacaan yang dihafalkan pada mulutnya, karena ia tidak tahu membaca. Kemudian barulah orang disuruhnya menulikannya.

Dalam ayat 19 tersebut “segala firmanku, yang akan dikatakan olehnya dengan Namaku”. Keterangan ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Kitab suci Al Qurän sebagai firman Tuhan telah dikatakannya dan dimulainya surah-surahnya sebanyak 113 surah dengan nama Tuhan, yaitu:

Artinya: Dengan nama Allah yang Pengasih yang Penyayang.

Dalam ayat 20 tersebut “Nabi yang melakukan dirinya dengan sombong dan mengatakan firman dengan Namaku, yang tiada kusuruh katakan, atau yang berkata dengan nama dewa-dewa, niscaya orang Nabi itu akan mati dibubuh hukumnya”. Menurut keterangan ini Nabi yang tidak benar akan mati dibunuh hukumnya. Nabi Muhammad s.a.w. tidak mati dibunuh, maka nyatalah bahwa ia seorang Nabi yang benar. Bahkan Al Qurän telah memberikan jaminan bahwa ia tidak akan mati dibunuh manusia. FirmanNya.

Artinya: Dan Allah, memeliharakan engkau dari pada manusia.

(Surah Al Maidah 70)

Dalam sejarah telah dinyatakan bahwa musuh-musuh Islam telah berkali-kali mencoba hendak membunuh Nabi s.a.w., baik pada waktu aman maupun pada waktu perang, tetapi semuanya itu tidak berhasil. Tuhan telah memenuhi janjiNya, Nabi Muhammad s.a.w. diselamatkanNya dari pembunuhan manusia, sesuai dengan janji yang telah tersebut didalam Al Qurän dan kitab Ulangan tadi.

Dalam ayat 22 diterangkan tanda Nabi yang yang dusta “bahwa jikalau nabi itu berkata dengan Nama Tuhan, lalu barang yang dikatakannya itu tiada jadi atau tiada datang, yaitulah perkataan yang bukan firman Tuhan adanya”.

Tanda Nabi dusta ini amat jauh daripada Nabi Muhammad s.a.w. Segala sesuatu yang dikatakannya atas Nama Tuhan, semuanya telah datang dan telah jadi, kecuali yang waktunya belum tiba, seperti terjadinya hari kiamat. Hal-hal yang akan datang yang disabdakan Nabi Muhammad s.a.w. atau yang tersebut didalam Al Qurän yang telah jadi amat banyak. Sebagai contohh akan dikemukakan sebagian diantaranya pada Lampiran II pasal XIII ini.

Penolakan pendapat pihak Kristen

Pihak Kristen menyebut Nabi yang dijanjikan Tuhan dalam kitab Ulangan itu ialah Yesus Kristus. Dr. D. Bakker menulis: “Hal Tuhan Yesus menjadi nabi itu disebutkan dalam kitab Ulangan 18:15 – 18 dan Kisah Rasul-Rasul 3:22”1) Pendapat pihak Kristen ini tidak benar.

Diatas telah diterangkan, Nabi yang akan dijadikan Tuhan itu adalah: “dari antara segala saudara Bani Israil” dan “yang seperti Musa”.

Menurut Injil, Yesus Kristus adalah turunan Bani Israil. Lihat silsilah turunannya dalam Injil Matius pasal 1 dan Injil Lukas pasal 3. Dalam Injil Matius 1:1 tersebut: “Maka inilah silsilah Yesus Kristus, yaitu anak Daud”. Daud adalah Bani Israil, sebab itu yesus Kristus adalah Bani Israil juga. Sedang Nabi yang akan dijadikan Tuhan itu bukan dari Bani Israil, tetapi dari antara segala saudara Bani Israil. Dengan demikian diketahui bahwa Nabi yang akan dijadikan itu bukan Yesus Kristus.

Seterusnya, Nabi yang akan dijadikan Tuhan itu adalah: “yang seperti Musa.” Menurut Alkitab, diantara Bani Israil tidak akan dibangkitkan lagi seorang Nabi yang seperti Musa. Dalam kitab Ulangan tersebut:

“Maka diantara orang Israil tiada berbangkit pula seorang nabi yang seperti Musa, yang dikenal Tuhan muka dengan muka”. (Ulangan 34:10).

Oleh karena Yesus dari Bani Israil, maka nyatalah bahwa Nabi yang akan dijadikan Tuhan itu bukan Yesus.

Seterusnya lagi, berdasarkan kepercayaan orang Kristen Yesus tidak seperti Nabi Musa. Menurut kepercayan orang Kristen Yesus adalah Tuhan, mati tersalib dan terkutuk. (Lihat Galatia 3:13). Sedang Musa tidak demikian. Nabi Musa hanya seorang hamba Allah, tidak mati tersalib dan tidak terkutuk. Nabi Musa adalah berbapa, sedang Yesus sebagai manusia tidak berbapa. Dan banyak perbedaannya yang lain-lain lagi.

Menurut ayat 20 dinyatakan Nabi yang mengatakan firman dengan Nama Tuhan yang tidak disuruhNya katakan akan mati dibunuh hukumnya. Nabi Muhammad s.a.w. tidak mati dibunuh, sedang Yesus menurut kepercayan orang Kristen mati dibunuh. Jika nubuat tersebut digunakan untuk Yesus, maka jadilah Ia Nabi yang tidak benar karena ia telah mati dibunuh.

Dr. Mr. D.C. Mulder menulis: “Perlu diperhatikan disini peraturan tentang nabi dalam ps 18:15 – 22. Ayat-ayat ini sering ditafsirkan oleh penafsir-penafsir Kristen sebagai nubuat tentang Nabi Muhammad. Akan tetapi bagian ini tidak membicarakan seorang nabi yang khusus, melainkan jabatan nabi pada umumnya; diterangkan disini bagaimana seorang nabi benar dapat dibedakan dari pada seorang nabi palsu”.2)

Apabila uraian yang telah dikemukakan diatas diperhatikan, nyatalah bahwa apa yang dikemukakan oleh Dr. Mulder itu tidak benar. Ayat-ayat kitab Ulangan tersebut adalah menubuatkan kedatangan seorang Nabi yang khusus dengan menerangkan sifat-sifat dan tanda-tandanya. Orang Yahudi sendiri telah menunggu-nunggu kedatangannya hingga berabad-abad lamanya sesudah Nabi Musa seperti yang dinyatakan oleh ayat-ayat Injil yang telah dikemukakan diatas. Nubuatan itu tidak diraggukan lagi adalah mengenai kedatangan Nabi Muhammad s.a.w.

Dengan keterangan diatas ini nyatalah bahwa Nabi yang dinubuatkan Nabi Musa dalam kitab Ulangan itu ialah Nabi Muhammad s.a.w., bukan Yesus.

NUBUAT II:

NABI MUSA MENUBUATKAN NAMA TEMPAT KEDATANGAN NABI MUHAMMAD S.A.W

(1) Bermula, maka inilah berkat yang telah diberi oleh Musa, khalil Allah, kepada segala Bani Israil dahulu dari pada matinya:

(2) Maka katanya: Bahwa Tuhan telah datang dari Torsina dan telah terbit bagi mereka itu dari Sierl; kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, lalu datang hampir dari bukit Kedes; maka pada kanannya tiang api bagi mereka itu.

(Ulangan 33: 1 – 2)

Keterangan:

Syech Rahamatullah menerangkan dalam Izhar-ul Haqq 2:137 bahwa yang dimaksudkan dengan “Tuhan telah datang dari Torsina, ialah Tuhan memberikan Taurat kepada Nabi Musa. Dan yang dimaksudkan dengan “telah terbit bagi mereka itu dari Seir”, ialah Tuhan memberi Injil kepada Isa. Dan yang dimaksudkan dengan “kelihatanlah Ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran”, ialah Tuhan menurunkan Al Qurän kepada Nabi Muhammad s.a.w. Jadi Torsina”, Seir” dan Paran” adalah nama tempat-tempat Nabi-nabi tersebut menerima ajaran dari Tuhan.

Gunung Paran ialah sebuah gunung di negeri Mekah. Dalam kitab Kejadian diceritakan tentang hal Hagar dengan anaknya Ismail sebagai berikut:

(19) Maka dicelikkan Allah akan mata Hagar, sehingga terlihatlah ia akan suatu mata air, lalu pergilah ia mengisikan kirbat itu dengan air, diberinya minum akan budak itu.

(20) Maka diserrtai Allah akan budak itu sehingga besarlah ia, lalu iapun duduklah dalam padang belantara dan menjadi seorang pemanah.

(21) Maka duduklah ia dalam padang belantara Paran dan diambil oleh ibunya akan dia seorang perempuan dari tanah Mesir akan isterinya.

(Kejadian 21: 19 – 21)

dalam ayat-ayat yang tersebut diatas ini diceritakan tentang Hagar dengan anaknya, yaitu Nabi Ismail. Dalam ayat 21 diterangkan bahwa Ismail duduk dipadang belantara Paran. Menurut sejarah, Ismail tinggal duduk di negeri Mekah. Mata air yang dilihat Hagar itu ialah “mata air Zamzam” yang hingga kini terus menerus mengeluarkan airnya sebagai sebuah telaga di dekat Bait Allah didalam mesjid Mekah. George Zaidan, seorang pengarah Kristen Katolik di Mesir, menerangkan didalam bukunya “Al Arab gabl-al Islam” (Arab sebelum Islam), bahwa Paran itu adalah padang belantara Paran itu ialah negeri Mekah. Dan gunung Paran itu nama gunung di Mekah.

Seterusnya dalam kitab Habakuk tersebut lagi sebagai berikut:

(3) Bahwa Allah datang dari Teman dan Yang Maha Suci dari pergunungan Paran. Salah ! Maka kemuliannya menudungilah segala langit dan bumipun adalah penuh dengan pujinya. (Habakuk 3:3).

Dalam ayat ini dinyatakan lagi bahwa Yang Maha Suci datang dari pergunungan Paran. Dan bumipun penuh dengan pujinya. Nabi Muhammad s.a.w. telah datang dari pergunungan Paran di tanah Mekah dan umat Islam telah memenuhi seluruh permukaan bumi dengan pujinya, sesuai dengan apa yang telah diterangkan dalam kitab Perjanjian Lama diatas.

NUBUAT III:

YESUS MENUBUATKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD S.A.W. DALAM INJIL YAHYA

Dalam Injil Yahya pasal 14 tersebut:

(15) Jikalau kamu mengasihi Aku turutlah segala hukumku.

(16) Dan Aku akan mintakan kepada Bapa, maka Ia akan mengaruniakan kepadamu Penolong yang lain, supaya ia menyertai kamu selama-lamanya.

(17) Yaitu Roh kebenaran, yang dunia ini tiada dapat menyambut oleh sebab tiada ia nampak Dia, dan tidak kenal Dia; tetapi kamu ini kenal Dia, karena Ia tinggal beserta dengan kamu, dan Ia ada didalam kamu.

(26) Tetapi Penolong itu, yaitu Rohulkudus, yang akan disuruhkan oleh Bapa atas Namaku, ialah akan mengajarkan kepadamu segala perkara itu, dan akan mengingatkan kamu segala sesuatu yang Aku sudah katakan kepadamu.

Dalam Injil Yahya pasal 14 tersebut:

(26) Akan tetapi apabila datang Penolong yang akan Kusuruhkan kepadamu dari Bapa, yaitu Roh kebenaran yang keluar dari pada Bapa itu, ialah akan menyaksikan dari halku.

(27) Dan kampun akan menjadi saksiku, oleh sebab kamu telah ada bersama-sama dengan Aku dari mulanya.

Dalam Injil Yahya Pasal 16 tersebut:

(7) Tetapi Aku ini mengatakan yang benar kepadamu, bahwa berfaedahlah bagi kamu jikalau Aku ini pergi, karena jikalau tiada Aku pergi, tiadalah Penolong itu akan datang kepadamu; tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan menyuruhkan Dia kepadamu.

(8) Apabila Ia datang maka Ialah akan menerangkan kepada isi dunia ini dari hal dosa dan keadilan dan hukuman.

(9) Dari hal dosa, sebab tiada mereka itu percaya akan Daku,

(10) dari hari keadilan, sebab Aku pergi kepada Bapa dan tiada lagi kamu melihat Aku.

(11) dari hal hukuman, sebab penghulu dunia ini sudah dihukumkan.

(12) Banyak lagi perkara yang Aku hendak katakan kepadamu, tetapi sekarang ini tiada dapat kamu menanggung dia.

(13) Akan tetapi apabila Ia sudah datang, yaitu Roh kebenaran, maka Iapun akan membawa kamu kepada segala kebenaran; karena tiada Ia berkata-kata dengan kehendaknya sendiri, malinkan barang yang didengarnya itu juga akan dikatakannya; dan dikhabarkannya kepadamu segala perkara yang akan datang.

(14) Maka Ia akan memuliakan Aku, karena Ia akan mengambil dari pada hak Aku, lalu mengabarkannya kepada kamu.

(15) Segala sesuatu yang hak Bapa itu juga hak Aku, oleh sebab itu Aku berkata, bahwa diambilnya dari pada hak Aku, lalu dikhabarkannya kepadamu.

Keterangan:

Menurut keternagan Injil Yahya yang tersebut diatas ini, Yesus telah menubuatkan kedatangan “Penolong yang lain”. Penulis-penulis Islam telah menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan Penolong yang lain itu ialah Nabi Muhammad s.a.w.1)

Penterjemah-penterjemah Injil dari golongan Kristen telah mengobah-obah terjemahan kata “Penolong” itu. Dalam Alkitab (Bibel) bahasa melayu hurup Laten yang dicetak oleh Nederlandsch Bijbelgenotschap di Amsterdam tahun 1927 dan disiarkan di Indonesia sebelum perang dunia yang lalu, kata “Penolong” itu diterjemahkan dengan “Penghibur”. Dalam “Wasiat yang baharu” bahasa Melayu huruf Arab yang diterbitkan oleh Nederlandsch Bijbelgenotschap tahun 1889 diterjemahkan dnegan “Penghibur” juga. Dalam Injil Yahya bahasa Arab yang ada pada saya kini, perkataan itu diterjemahkan dengan “Al Mu’azzi” (Penghibur). Dalam terjemahan bahasa Arab yang lain disebutnya dengan “Faraqlieh”. Dr. G.C. Niftrik/Ds. B.J. Boland dalam Dogmatika Masakini menyebutnya dengan “Penghibur”2) Dalam Alkitab yang diterbitkan Lembaga Alkitab Indonesia di Jakarta tahun 1958 menyebutnya dengan “Penolong”. Prof. Dr. J.H. Bavinck dalam Sejarah Kerajaan Allah II menerangkan bahwa kata “Penolong itu dalam bahasa Yunani ialah paraklétos”3). Seterusnya katanya: “Orang Islam sering manafsirkan ayat itu pada Muhammad. Mereka itu katakan, bukan paraklétos = (Penolong) yang tertulis disana, tetapi periklutos (= yang termasyur, yang terpuji). Dalam bahasa Arab periklutos dapat disalin dengan Ahmed.”

Seterusnya Dr. J. Verkuyl menulis lagi: “Kata Ahmad dalam bahasa Yunani ialah Periklétos”. 5)

Mengenai nama-nama dalam Alkitab, selalu orang berhadapan dengan kesulitan, karena penulis-penulis Injil acap kali menterjemahkan nama-nama yang seharusnya ditulis dalam bahasa asli dan tidak diterjemahkan. Yesus berbicara dalam bahasa Ibrani, tidak dalam bahaya Yunani. Hal itu dapat dibuktikan dengan beberapa perkataan yang disebut atas nama yesus yang masih tercantum dalam Injil menurut bahasa aslinya. Misalnya Matius 27:46 menyebut perkataan Yesus: Eli, Eli lama Sabchtani”, yaiatu dalam bahasa Ibrani.

Penterjemah-penterjemah Injil menterjemahkan nama-nama yang seharusnya dituliskan menurut aslinya, sehingga menjadikan suatu nama yang benar-benar tidak pernah dikenal dizaman Yesus. Misalnya nama Simon yang disebut Yesus dengan Kepas (Yahya 1:42) yang berarti “karang” atau “batu”. Kemudian nama “Kepas” itu diterjemahkan kedalam bahasa Yunani dengan kata “Peterus” yang barti “batu”. Seterusnya disebut dalam Alkitab dan dalam kalangan kaum Kristen dengan sebutan “Peterus”. Yesus sendiri dan orang-orang dizaman Yesus tidak pernah mengenal seorang yang bernama Peterus sebagai murid Yesus, karena Yesus hanya menyebutnya dengan “Kepas”, tidak dengan “Peterus”.

Demikian pula mengenai Yesus sendiri. Ia tidak pernah menyebut dirinya “Kristus”. Dan orang-orang yang hidup pada zamannya tidak mengenal juga seorang yang disebut Kristus. Kata Kristus itu adalah terjemahan dari perkataan Ibrani Messias (Almasih) yang dalam bahasa Yunani disebut “Kristus:. Maka nama-nama yang asli itu telah ditinggalkan, lalu diganti dengan terjemahannya belaka.

Diantara nama-nama yang telah ditinggalkan itu ialah kata “Penolong” atau “Penghibur”, yang tersebut dalam Injil Yahya pasal 14, 15 dan 16. Menurut pihak Kristen kata “Penolong” itu dalam bahasa Yunani “Paraklétos”. Di samping itu ada pendapat yang menyebut bahwa kata asalnya dalam bahasa Yunani “Periklétos”, yang artinya dalam bahasa Arab “Ahmad”, yaitu satu diantara nama Nabi Muhammad s.a.w. Sedang bunyi kata yang asli dalam bahasa Ibrani yang diucapkan Yesus dan kini diganti dengan sebutan “Paraklétos” atau “Periklétos”, tidak dapat diketahui lagi, karena Injil Yahya yang menuliskan kata nubuatan yang diucapkan Yesus itu tidak menuliskannya kata nubuatan yang diucapkan Yesus itu tidak menuliskannya dalam bahasa Ibrani.6) Adapun kemungkinan terjadi perubahan dalam membacakan bunyi beberapa huruf sehingga “Periklétos” (Ahmad) menjadi “Paraklétos”, tidaklah suatu hal yang mengherankan dalam Alkitab. Barang siapa suka membanding-bandingkan nama-nama yang tercantum dalam Alkitab, ia akan menjumpai sejumlah besar perubahan dalam menyebutkan sesuatu nama. Sebagai misal, dapatlah dilihat pada nama-nama yang tercantum dalam silsilah yesus. (Lihat Lampiran II pasal IX).

Selanjutnya mungkin pula penyelewengan dalam pentermahan telah terjadi. Sebagai misal, kata “almah” dalam bahasa Ibrani yang tesebut dalam kitab Yesaya pasal 7 ayat 14 yang dihubungkan dengan Matius 1:23. Penulis Injil itu telah menterjemahkannya dengan “anak dara’ supaya dapat disesuaikan kepada Maryam ibu Yesus yang disebut melahirkan Yesus sebagai anak dara. Seang arti yang sebenarnya “wanita muda” atau “anak perempuan yang dewasa”, baik ia sudah kawin atau tidak. Maka disini telah terjadi penyelewengan yang dilakukan penulis Injil itu dalam penterjemahan. Keterangan lebih lanjut mengnai penyelewengan ini dapat dibaca dalam Lampiran IV pasal IX.

Selanjutnya, andai kata asal perkataan tersebut dalam bahasa Yunani Paraklétos dan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan “Penolong” atau “Penghibur” atau “seorang yang jadi pembela dalam suatu perkara dihadapan hakim”, seperti yang disebutkan oleh Dr. J. Verkuyl, nubuatan itu sesuai juga kepada Nabi Muhammad s.a.w. Sebab dalam nubuatan tersebut telah diterangkan berbagai sifat yang harus menyertai Penolong atau Penghibur itu. Sifat-sifat itu adalah sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Nabi Muhammad s.a.w. sebagai seorang Nabi yang datang kemudian Yesus, adalah seorang Penolong yang lain yang diutus Tuhan untuk memberikan pertolongan bagi manusia dalam jalan menyelamatkan diri mereka dari berbagai bahaya yang akan menyesatkannya. Agama Islam yang disampaikan Nabi Muhammad s.a.w. adalah mengandung berbagai ajaran yang memberikan pertolongan kepada mereka.

Nabi Muhammad s.a.w. sebagai seorang Nabi yang datang kemudian Yesus, adalah seorang pembera dalam suatu perkara dihadapan hakim. Nabi Muhammad s.a.w. akan menjadi pembela bagi manusia dihari akhirat dalam pengadilan di Mahkamah Ilahi. Pembelaan itu disebut dengan “syafa’at”. Dalam ajaran agama Islam disebutkan satu diantara tugas Nabi Muhammad s.a.w. ialah Pemberi syafa’at dan Pembelaan bagi manusia dihadapan Pengadilan Ilahi dihari akhirat.

Seterusnya sifat-sifat yang tersebut dalam nubuatan itu telah sesuai juga kepada Nabi Muhammad s.a.w. Keterangannya sebagai berikut:

Yesus menyebutkan Penolong yang lain itu, “menyertai kamu selama-lamanya” (14:16). Ini menyatakan bahwa Penolong itu adalah nabi yang terakhir, tidak ada Nabi baru lagi yang akan datang kemudiannya. Dengan demikian jadilah agama dan ajaran yang disampaikannya menjadi petunjuk yang menyertai manusia selama-lamanya, yaitu hingga hari kiamat. Sifat ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w., karena ia adalah nabi yang terakhir. Firman Tuhan:

Artinya: Dan (Muhammad penghabisan Nabi-nabi (Al Ahzab 40).

Oleh kaena yang dimaksudkan dnegan kedatangan Nabi-nabi itu ialah agama dan ajaran yang dibawanya, maka dapatlah dianggap bahwa Nabi Muhammad s.a.w, adalah menyertai manusia selama-lamanya, karena agama dan ajarannya itu menyertai mereka selama-lamanya.

Penolong itu disebutnya: “Roh kebenaran” dan “Roh Kudus” (14:17 dan 26). Dalam pasal IV telah diterangkan bahwa menurut Al Qurän surah Al Baqarah ayat 87 dan 253, Nabni Isa telah diberi Tuhan kekuatan dengan Roh Kudus, artinya Roh Suci. Menurut tafsiran kaum muslimin Roh Kudus itu ialah malaikat Jibrail. Maka penolong itu disebut Roh Kudus artinya ia disertai malaikat Jibaril yang senantiasa menyampaikan wahyu kepadanya. Keterangan ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. karena ia disertai malaikat Jibrail yang senantiasa menyampaikan wahyu kepadanya.

Seterusnya telah diterangkan lagi bahwa sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan Roh Kudus itu ialah “roh yang suci”. Kepada Nabi-nabi telah diberikan Tuhan kekuatan dengan mensucikan “roh-nya”. Sebagian ahli tafsir menyatakan lagi bahwa Roh Kudus itu ialah kitab Injil yang diwahyukan Tuhan kepada Nabi Isa, karena dengan ajaran kitab itu roh manusia dapat disucikan. Penafsiran Roh Kudus seperti yang tersebut adalah seusai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia sebagai Nabi telah dikurniakan Tuhan kepadanya “roh yang suci” dan telah diwahyukan kepadanya kitab Al Qurän yang dapat mensucikan roh dan jiwa manuisa. Jadi Penolong itu disebut Roh Kudus, karena ia mempunyai roh yang suci atau mempunyai kitab yang ajarannya dapat mensucikan roh manusia. Penolong itu disebut lagi Roh kebenaran, karena ia membawa manusia kepada segala kebenaran. Sifat ini seusai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia sebagai Nabi adalah bertugas untuk membawa manusia kepada segala kebenaran itu. Adapun mengenai penafsiran orang Kristen bahwa yang dimaksudkan dengan Roh Kudus dalam Injil itu ilah oknum Tuhan yang ketiga, maka mengenai hal ini akan diberikan penjelasan lebih lanjut lagi.

Yesus menerangkan Penolong itu: “ialah akan menyaksikan dari halku” (15:26). Sifat ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia telah memberikan kesaksian yagn sebenar-benarnya tentang hal Yesus dan telah mengkoreksi berbagai ajaran yang tidak benar yang disebut orang mengenai hal Yesus. Ia telah menyaksikan bahwa Yesus hanya seorang Rasul kepada Bani Israil, bukan Tuhan, bukan anak Tuhan dan tidak mati disalibkan.

Yesus menerangkan bahwa Penolong itu: “Ialah akan menerangkan kepada isi dunia dari hal dosa dan keadilan dan hukuman” (16:8). Ini menunjukkan bahwa Penolong itu akan menjadi utusan Tuhan kepada seluruh bangsa-bangsa di dunia. Dalam ajarannya akan dinyatakan tentang hal dosa, keadilan dan hukuman. Sifat-sifat ini seusai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia telah diutus Tuhan menjadi Nabi dan Rasul kepada seluruh manusia di dunia. Firman tuhan dalam Al Qurän:

Artinya: Dan tidak Kami utus engkau (Muhammad) melainkan kepada manusia semuanya untuk memberi kabar gembira dan peringatan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Surat Saba’ 28).

Sabda Nabi Muhammad s.a.w.:

Artinya: Dan aku diutus kepada manusia semuanya. (Riwayat Al Buchari).

Seterusnya dalam agama yang diajarkannya, Nabi Muhammad s.a.w. telah menerangkan kepada isi dunia dari hal dosa dan keadilan dan hukuman.

Yesus menerangkan: “banyak lagi perkara yang Aku hendak katakan kepadamu, tetapi sekarang ini tidak dapat kamu menanggung dia. Akan tetapi apabila Ia sudah datang, yaitu Roh kebenaran, maka Iapun akan membawa kamu kepada segala kebenaran”. (16:12 – 13).

Keterangan ini menyatakan bahwa ajaran yang akan dibawa Penolong itu lebih banyak daripada yang telah diajarkan Yesus. Ajaran-ajaran itu belum dapat mereka menanggungnya pada zaman Yesus. Keterangan Yesus ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia telah datang membawa ajaran yang amat banyak yang belum pernah diajarkan Yesus sendiri. Ia telah datang membawa manusia kepada segala kebenaran mengenai keimanan, ibadat, hukum muamalat, hukum perkawinan, hukum pidana, hukum-hukum yang berhubung dengan kenegaraan, hal budi pekerti dan lain-lain sebagainya yang belum sanggup manusia menanggungnya pada zaman Yesus.

Seterusnya Yesus menyebut Penolong itu: “tiada ia berkata-kata dengan kehendaknya sendiri, melainkan barang yang didengarnya itu juga akan dikatakannya” (16:13). Keterangan ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia tidak berkata-kata dengan kehendaknya sendiri, melainkan barang yang didengarnya sebagai wahyu dari Tuhan, itulah yang dikatakannya. Firman Tuhan:

Artinya: Ia (Muhammad) tidak berkata-kata dengan kehendak hatinya. Tiada ada yang dikatakannya itu kecuali wahyu yang diwahyukan kepadanya. (Surah An Najmi: 3-4).

Yesus menyebut lagi: “dikhabarkannya kepadamu segala perkara yang akan datang””(16:15). Keterangan ini sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia telah mengabarkan kepada manusia segala perkara yang akan datang. Huzaifah r.a. telah menerangkan sebagai berikut:

Artinya: Ia (Muhammad) telah berdiri pada kami disatu tempat. Tidak ada ditinggalkannya suatu jua yang ada pada tempatnya itu hingga hari kiamat melainkan telah diceritakannya. Mengingat akan dia orang yang masih mengingatnya dan lupa akan dia oleh orang telah lupa. (Riwayat Al Buchari dan Muslim).

Diantara perkara yang akan datang yang dikhabarkan Nabi Muhammad s.a.w. dapat dibaca pada Lampiran II pasal XIII ini.

Dari pada keterangan yang telah diuraikan diatas dapatlah diketahui dengan jelas bahwa nubuatan itu telah sesuai benar-benar kepada Nabi Muhammad s.a.w.

BEBERAPA PENJELASAN

Disamping keterangan yang telah dikemukakan diatas, perlu lagi diberikan beberapa penjelasan mengenai hal-hal yang mungkin menimbulkan kesulitan dalam memahamkan ayat nubuatan tersebut:

Pada pasal 14 ayat 17 dan pasal 15 ayat 26 dijelaskan bahwa Penolong itu ialah Roh kebenaran. Dan pada pasal 14 ayat 26 dijelaskan lagi bahwa Penolong itu ialah Roh Kudus. Menurut pengertian orang Kristen Roh kebenaran atau Roh Kudus itu adalah satu diantara oknum Tuhan yang dianggap sebagai Tuhan. Dengan demikian nyatalah bahwa kedatangan Penolong itu bukan kedatangan seorang Nabi, tetapi kedatangan Roh Kudus yang menjadi oknum Tuhan.

Mengenai hal ini hendaklah diketahui bahwa menurut orang Kristen Roh Kudus itu disebut juga dalam Alkitab dengan Roh Allah. K. Riedel menafsirkan Roh Allah yang tersebut dalam Matius 3:16 dan Markus 1:10 dengan Roh Kudus. Jadi Roh Allah itu ialah Roh Kudus. Menurut Alkitab Roh Allah itu tidak selamanya ditafsirkan orang Kristen dengan oknum Tuhan. Misalnya perkataan “Roh Allah melayang-layang diatas muka air” yang tersebut dalam kitab Kejadian 1:2, oleh sekelompok penafsir, umpamanya G.V. Rad, mengartikan “Roh Allah” seperti angin ribut yang merupakan ssebagian dari kekacauan.7) Demikian juga ayat-ayat yang berikut menyatakan bahwa Roh Allah atau Roh Kudus itu tidak selamanya ditafsirkan orang Kristen dengan oknum Tuhan:

Dalam Yehezkiel 37:14 diterangkan beribu-ribu orang yang mati telah dihidupkan Tuhan lagi dengan nubuat Yehezkiel. Diberinya urat dan daging, kemudian diberinya nyawa. Seterusnya firmanNya: “Karena Aku akan memberikan Rohku didalam kamu, supaya hiduplah pula kamu”. Yang dimaksudkan dengan “Rohku” disini ialah “nyawa”, bukan oktum Tuhan.

Dalam 1 Yahya 4:1-2, – tersebut:

(1) Hai segala kekasihku, janganlah percaya akan sebarang roh, melainkan ujilah segala roh itu, kalau-kalau daripada Allah datangnya; karena banyak nabi palsu sudah keluar keseluruh dunia.

(2) Dengan yang demikian dapatlah kamu mengenai Roh Allah, yaitu tiap-tiap roh, yang mengaku bahwa yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia, itu daripada Allah.

(6) Kita ini dari pada Allah; dan orang mengenal Allah ialah men-dengarkan kita, maka orang bukan dari pada Allah tiadalah ia mendengarkan kita. Dengan yang demikian dapatlah kita mengenal kita. Dengan yang demikian dapatlah kita mengenal roh yang benar dan roh yang sesat itu.

Ds. Th. B.W.G. Gramberg menafsirkan ayat-ayat tersebut, katanya: “Nasihat Yahya ialah supaya jangan jemaat Kristen menganggap setiap wahyu adalah pernyataan dari pada Allah, yang harus dipercayai. Jangan-jangan dalam jemaat Kristen ada orang yang memakai bahasa gaib, janganlah orang-orang Kristen terus bersedia menerima orang itu sebagai seorang utusan dari Tuhan Allah karena si Iblis gampang merusakkan sesuatu percakapan, sehingga dianggap menjadi wahyu. Jadi jemaat Kristen diajar mengajuk dan mengira segala wahyu dan nubuat yang akan terbit dalam kumpulannya”.8)

Dr. Th. B.W.G. Gramberg telah menafsirkan bahwa yang dimaksudkan dengan Roh Allah disini ialah “wahyu” yang disampaikan oleh “seorang utusan dari pada Allah”. Dengan penafsiran ini nyatalah bahwa nubuatan itu telah sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Ia sebagai utusan Tuhan datang membawa wahyu dari pada Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibrail. Wahyu itu adalah “keluar dari pada Allah”, sesuai dengan keterangan yang tersebut dalam nubuatan itu, pasal 15 ayat 26.

Dalam pasal 14:16 disebutkan: “Ia akan mengurniakan kepada kamu Penolong yang lain” dan seterusnya. Menurut ayat ini Penolong itu akan dikurniakan kepada “kamu”. Yaitu kepada murid-murid Yesus. Jadi bukan akan dikurniakan kepada orang-orang yang akan datang kemudian dari pada mereka. Dengan demikian nyatalah bahwa nubuat itu tidak dapat disesuaikan kepada kedatangan Nabi Muhamad s.a.w.

Mengenai hal ini haruslah diketahui bahwa perkataan “kamu” dalam ayat itu tidaklah dimaksudkan khusus kepada mereka yang hidup di zaman Yesus. Perkataan “kamu” yang demikian dapat dijumpai pada tempat-tempat yang lain dalam Injil dan dimaksudkan dengan dia orang-orang yang akan datang kemudian itu. Misalnya keterangan Injil Matius 24:64 yang berikut:

(64) Maka kata Yesus kepadanya: “Seperti kata tuan. Tetapi Aku berkata kepadamu, dari pada sekarang ini kamu anak nampak Anak Manusia duduk di sebelah kanan Kodrat, serta datang diatas awan dari langit”.

Perkataan ini dihadapkan Yesus kepada orang-orang yang ada pada zamannya itu dengan menggunakan kata “kamu”. Mereka yang diajak Yesus berbicara itu semuanya sudah mati. Sudah hampir dua puluh abad lamanya. Sedang mereka tidak melihat Yesus datang diatas awan dari langit. Maka perkataan “kamu” disini dimaksudkan orang-orang yang akan datang pada zaman Yesus datang kelak. Demikian pula perkataan “kamu” pada ayat tadi dimaksudkan orang-orang yang akan datang pada zaman Penolong itu datang kelak. Jadi arti perkataan: “Ia akan mengurniakan kepada kamu”, yaitu kepada manusia atau kepada Bani Israil.

Dalam pasal 14:17 diterangkan: “Dunia tiada dapat menyambut oleh sebab tiada ia nampak Dia, dan tiada kenal Dia; tetapi kamu ini kenal Dia”. Keterangan ini menyatakan bahwa nubuat itu tidak dapat disesuaikan kepada Nabi Muhammad s.a.w. karena orang nampak dan mengenal dia.

Mengenai keterangan ini harus diketahui bahwa yang dimaksudkan dengan katanya “tidak mengenal dia”, yaitu tidak mengenal dia dengan sebenar-benar dan sesempurna-sesempurnanya. Perkataan yang seperti ini banyak dijumpai dalam ucapan Yesus. Dalam Matius 11:27 tersebut:

(27) Segala sesuatu sudah diserahkan kepadaku oleh Bapaku, dan seorangpun tiada mengenal Anak itu, hanyalah Bapa saja, dan seorangpun tiada mengenal Bapa itu, hanya Anak saja, dan lagi orang, yang hendak dinyatakan kepadanya oleh Anak itu.

Dalam Yahya 7:28 tersebut:

(29) ……… Ia menyuruhkan Aku itu ada benar, yaitu yang tiada kamu kenal.

Dalam Yahya 8:19 tersebut:

(19) ….. Kamu tidak kenal Aku, dan Bapakupun tidak. Jikalau kamu kenal Aku, niscaya kamu kenal Bapaku juga.

Dalam Yahya 14:9 tersebut:

(9) Kata Yesys kepadanya: “Hai Pelipus, sekian lamanya Aku bersama-sama dengan kamu, dan tiadalah engkau kenal Aku? Siapa yang sudah nampak Aku, ia sudah nampak Bapa. Bagaiamankah katamu: “Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami?

Dalam ayat-ayat yang diatas ini telah disebutkan berulang-ulang perkataan “kenal”. Yang dimaksudkan dengan kenal disini ialah kenal yang sempurna. Jika artinya ditafsirkan tidak demikian, jadilah semua perkataan yang tersebut pada ayat-ayat tadi tidak benar. Karena orang banyak adalah mengenal Yesus terutama pemimpin-pemimpin Yahudi, imam-imam dan murid-murid Yesus sendiri.

Demikian juga yang dimaksudkan dengan perkataan “tiada ia nampak dia”, yaitu tiada nampak dengan sebenar-benarnya sehingga dapat mengenalinya sungguh-sungguh. Arti yang demikian telah dijelaskan dalam Matius 13:13 – 14 yang berikut:

(13) Oleh sebab itu Aku bertutur kepada mereka itu dengan perumpamaan, karena mereka itu melihat dengan tiada melihat, dan mendegnar dengan tidada mendengar atau mengerti.

(14) Demikian disampaikan bagi mereka itu sabda Nabi Yesaya, bunyinya: “Bahwa dengan pendengar kamu akan mendengar, tetapi sekali-kali kamu tiada akan mengerti. Dan dengan penglihatan kamu akan melihat tetapi sekali-kali tiada kamu nampak.

Dengan penjelasan ini nyatalah bawah nubuatan itu sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w. Dunia tidak mengenal dan nampak dia, adalah artinya tidak mengenal dan nampak dia dengan sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya.

Dalam pasal 14 ayat 17 tersebut: “Ia tinggal bersama dengan kamu, dan Ia akan ada didalam kamu”. Ketearngan ini tidak dapat disesuaikan kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Mengenai keterangan ini hendaklah diketahui bahwa yang dimaksudkan dnegan “ia tinggal bersama dengan kamu”, ialah pada masa yang akan datang, bukan pada ketika itu. Diatas diterangkan bahwa perkataan “kamu” itu dapat dimaksudkan untuk orang-orang yang akan datang, tidak seharusnya untuk orang-orang yang hadir pada ketika Yesus berkata itu saja. Hal ini dibenarkan lagi oleh keterangan “Aku AKAN mintakan kepada Bapa” (14:16) dan “jikalau tiada Aku pergi, tiadalah Penolong itu AKAN datang kepada kamu” (16:7) dan keterangan yang lain-lain yang menyatakan bahwa Penolong itu belum ada lagi ketika itu, tetapi ia akan datang kemudian.

Dalam Kisah Rasul-Rasul 1:4 – 5 tersebut:

(4) Tatkala Yesus berhimpun dengan rasul-rasul, maka dipesankannya kepada mereka itu jangan meninggalkan Yerusalem, melainkan menantikan Perjanjian Bapa “yang kamu dengar dari Padaku itu”.

(5) Karena Yahya membaptiskan orang dengan air, tetapi kamu ini akan dibaptiskan dengan Rohulkudus didalam sedikit hari lagi.

Ayat-ayat diatas ini menyatakan bahwa Yesus memesankan kepada murid-muridnya jangan meninggalkan Yerusalem karena menunggu Perjanjian Bapa yang akan membaptiskan mereka denagn Rohulkudus didalam sedikit hari lagi. Dengan demikian diketahui bahwa Perjanjian Bapa itu akan datang dizaman murid-murid Yesus, tidak akan datang dikemudian itu. Seterusnya diketahui bahwa Perjanjian Bapa itu telah dilaksanakan dengan kedatangan Rohulkudus kepada murid-murid Yesus pada hari Pantekosta, seperti yang diterangkan dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 2. Dengan demikian nyatalah nubuatan itu tidak sesuai kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Keterangan diatas ini tidak benar. Kedatangan Penolongan itu tidak dapat dihubungkan dengan roh yang turun merupakan lidah-lidah api pada hari Pantekosta yang tersebut dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 2 itu. Keterangan mengenai ini akan dibicarakan lebih lanjut lagi.

Dalam hal ini hendaklah diketahui bahwa disini terdapat dua perjanjian yang berbeda, yaitu kedatangan Penolong dan kedatangan Perjanjian Bapa. Kedua-dua perjanjian itu akan dipenuhi. Injil Yahya menjanjikan akan kedatangan Penolong yang lain. Janji ini dipenuhi dengan kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. Kisah Rasul-Rasul pasal 2 menjanjikan kedatangan Perjanjian Bapa yang tersebut juga dalam Lukas 24:49. Perjanjian Bapa itu telah dipenuhi dengan kedatangan roh kepada murid-murid Yesus pada hari Pantekosta.

PENDAPAT PIHAK KRISTEN DAN PENOLAKANNYA

Dalam Izhhar-ul Haqq disebutkan bahwa menurut orang Kristen Penolong itu telah datang pada zaman murid-murid Yesus. Hal kedatangannya itu telah diterangkan dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 2, yaitu setelah Yesus dinaikkan ke langit. Dalam Kisah Rasul-Rasul, tersebut sebagai berikut:

Apabila sampai hari Pentakosta, maka mereka itu sekalianpun berhimpun bersama-sama.

Maka sekonyong-konyong turunlah dari langit suatu bunyi seolah-olah serbu angin yang besar, yang menumpatkan segenap rumah tempat mereka itu duduk.

Maka kelihatanlah keapda mereka itu beberapa lidah seperti api rupanya yang berbelah-belah, dan hinggap diatas tiap-tiap orang itu.

Maka mereka itu sekalianpun penuh dengan Rohulkudus, sehingga mereka itu mulai berkata-kata dengan berbagai-bagai bahasa, sebagaimana yang diilhamkan oleh Roh kepadanya akan bertutur.

PENOLAKANNYA:

Apabila Penolong itu ialah Rohulkudus yang turun memenuhi murid-murid Yesus pada hari Pentakosta, maka ia tidak dapat disesuaikan dengan keterangan nubuatan yang menyebutnya dengan “Penolong yang lain” (14:16). Menurut orang Kristen Rohulkudus itu adalah oknum Tuhan yang satu zatnya dengan Allah Bapa dan Anak Allah. Dengan demikian ternyata bahwa ia bukan Penolong “yang lain”.

Yesus menyebut: “akan mengingatkan kamu segala sesuatu yang Aku katakan kepadamu” (14:26). Apabila yang dimaksudkan dengan Penolong yang lain itu roh yang turun pada hari Pentakosta, maka keterangan ini tidak sesuai kepadanya. Karena tidak ada suatu jua keterangan dalam surat-surat Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa murid-murid Yesus itu telah lupa apa yang diajarkan Yesus kepada mereka lalu roh itu datang mengingatkannya.

Yesus mengatakan: “ia akan menyaksikan akan halku” (15:25). Keterangan ini tidak sesuai kepada roh yang turun pada hari Pentakosta itu, karena ia tidak pernah memberikan kesaksian mengenai Yesus dihadapan seorang jua. Dan murid-murid yang dituruni roh itu tidak pula memerlukan penyaksian mengenai hal Yesus karena mereka lebih dahulu telah mengenalnya sebelum roh itu turun kepada mereka. Seterusnya roh itu tidak pula datang memberi kesaksian kepada orang banyak yanga tidak mengenal Yesus. Adapun Nabi Muhammad s.a.w. maka ia telah memberikan kesaksian yang selengkapnya tentang hal Yesus.

Yesus menerangkan: “jikalau tiada Aku pergi, tiadalah Penolong itu akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan menyuruhkan dia kepadamu” (16:7). Keterangan ini menyatkan bahwa kedatangan Penolong itu dihubungkan dengan kepergian Yesus. Apabila yang dimaksudkan dengan Penolong itu ialah Roh Kudus seperti yang ditafisrkan orang Kristen, maka roh itu telah pernah datang kepada rasul-rasul dihadapan Yesus ketika ia menyuruhkan mereka ke negeri-negeri Israil (Matius 10:20). Dengan demikian ternyata bahwa kedatangan roh itu tidak memerlukan Yesus harus pergi dahulu. Maka nyatalah bahwa Penolong itu bukan roh yang turun pada hari Pentakosta tersebut.

Yesus berkata: “Banyak lagi perkara yang Aku hendak katakan kepadamu, tetapi sekarang ini tiada dapat kamu menanggung dia” (16:12). Keterangan ini menolak bahwa yang dimaskudkan dengan Penolong itu ialah roh yang turun pada hari Pentakosta tersebut, karena roh itu tidak ada menambah suatu jua ajaran yang tidak dapat ditanggung mereka pada zaman Yesus. Bahkan sesudah turun roh itu, telah dihapuskan berbagai-bagai hukum Torat dan dihalalkan berbagai-bagai makanan yang haram.

Dari pada keterangan diatas jelaslah bahwa nubuatan itu tidak dapat disesuaikan kepada roh yang turun pada hari Pentakosta seperti yang diceritakan dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 2 yang telah disalinkan diatas.

Perhatian: Nubuatan mengenai kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. selain dari pada yang tersebut diatas masih banyak lagi dijumpai didalam Injil dan kitab-kitab Perjanjian Lama. Keterangan mengenai itu dapat dibaca dalam Izhhar-ul Haqq 2:131 – 166, Al Jawabus Shahih 3:299 – 322; 4:1 – 22 dan lain-lain.

***

Tulisan ini dalam konteks Tauhid Islam, berdasarkan Konsep dan Rujukan dalam Agama Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s