GAUL KALAU TIDAK GALAU

Sepertinya Bahasa GALAU sedang ngetren dikalangan rekan-rekan generasi muda sekarang. Ada yang mendefinisikan galau adalah suatu keadaan ketika suasana hati menginginkan , namun ada yang mengikat, tidak mau lepas. Ditemukan juga istilah galau adalah suatu keadaan dimana kita memikirkan suatu hal secara berlebihan, bingung apa yang harus dilakukan dengan suatu hal ini dengan pikirannya sendiri sehingga menimbulkan efek emosi menjadi labil, pikiran pusing, dan mendadak insomnia.

Tapi kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, galau itu artinya sibuk beramai-ramai, sangat ramai atau kacau tidak karuan (pikirannya). Biasanya kala orang galau itu salah satu tandanya adalah sering mengeluh tentang hidupnya, dan biasanya para galauers (sebutan buat mereka yang lagi galau, masalah pribadi sengaja diumbar ke publik, misalnya aja lewat facebook or twitter, selain itu juga orang galau biasanya kalo ngomong lebih banyak tentang dirinya sendiri..

Hidup buat orang yang galau terasa begitu sempit, seolah dia orang yang paling menderita di seantero jagat raya, mereka yang merasa sedang galau karena diputusin pacar, galau karena mendapatkan nilai E makin bikin hatimu remuk redam, berimbas pada bentuk wajah yang tidak karuan bagai pinang diinjak😀. Yang jelasa, dunia bagi mereka ibarat tempat penyiksaan yang paling seram dan sadis

Sahabat yang sedang galau…

Sesungguhnya kita seharusnya selalu mengingat kembali Firman Allah Azza Wa Jalla Al Khalik pencipta kita dalam Al Quran Al Kareem :

Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

QS Arrahman : 31

Cobalah langkah-langkah yang sesuai dengan kaidah Al Islam sebagaimana jawabana sahabat Rasulullah Ibnu Mas’ud dalam  cerita singkat berikut ini :

Ibnu Mas’ud RA pernah didatangi oleh jamaahnya selepas taklim. “Tempat mana yang harus aku datangi saat aku mendapati keadaanku galau dan terasing?” seru jamaah.

“Datangilah tempat yang Alquran sering dibacakan. Kamu duduk dan simak bacaannya. Niscaya kamu akan dapati ketenangan. Lalu, datangi tempat-tempat yang kamu diajak untuk mengingat dan menyebut Allah dan akan bertambah ilmumu. Terakhir, datangi alas sajadahmu di keheningan malam dan mengadulah kepada Rabb Pengatur hidupmu.”

Cerita sarat hikmah ini boleh jadi menjadi bagian dari cerita hidup kita. Karena satu hal yang pasti, keadaan galau dan terasing menjadi sesuatu yang tidak bisa terpisah dalam perjalanan hidup manusia. Dan, di antara kunci melepas lara dan keterasingan hidup adalah dengan sering mendatangi majelis-majelis ilmu dan zikir.

Rasul pernah mengatakan, betapa beruntungnya orang yang rajin dan istiqamah hadir di majelis-majelis ilmu dan zikir. “Tidaklah satu kaum duduk membaca Alquran lalu mengkajinya dan berzikir kecuali akan menyita perhatian para malaikat, terliputi ketenangan di hatinya, ditenggelamkan dalam lautan rahmat-Nya dan semakin dimasyhurkan namanya di hadapan makhluk Allah.”

Ada banyak hikmah yang didapatkan dengan sering duduk berbaur dalam lautan manusia yang berzikir dan menuntut ilmu.  Inilah yang akan kita dapati dengan menghadiri majelis kebanggaan Allah dan malaikat-Nya itu.

Pertama, ilmu dan pengetahuan kita semakin bertambah. Hal yang tidak bisa dimungkiri adalah sering kali masalah menghimpit kita dan sulit menemukan cara menyikapi dan penyelesaiannya. Boleh jadi lantaran keterbatasan ilmu dan pengetahuan kita. Dengan hadir di majelis ilmu dan zikir, berarti ada upaya pengayaan informasi dan ilmu.

Kedua, iman terjaga dan bertambah kuat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS al-Anfal [8]: 2).

Ketiga, tumbuh kecintaan kepada ulama. Rasul bersabda, “Siapa yang memuliakan ulama, kalian memuliakanku dan siapa yang memuliakanku, Allah muliakan dengan surga-Nya.”

Keempat, cara paling jitu menghancurkan keangkuhan diri. Saat menegakkan kepala ke atas, melihat para ustaz, bukankah artinya kita mau mendengar dan melihat siapa yang di atas kita.

Ketika merintih dalam doa, maknanya supaya keluhan kita didengar. Itu artinya kita kecil, bodoh dan teramat banyak kekurangan. Karenanya, duduk di majelis zikir dan ilmu, pada gilirannya mampu membekap kesombongan kita.

Kelima, berkumpul dengan orang saleh. Insya Allah, mereka yang hadir di majelis zikir atau ilmu adalah para perindu, pemburu kasih sayang, dan rida Allah. Mereka adalah orang-orang yang ingin hidupnya bermakna dan bahagia dunia akhirat. Nabi SAW bersabda, “Saat orang-orang saleh berkumpul dan menyebut Allah, malaikat mengepakkan sayapnya dan menaungi mereka dengan untaian doa: “Ya Allah rahmati mereka dan ampuni mereka.

So, kalau mulai galau, ayo cepat buka kembali Al Qur’an dan bacalah surat Ar-Rahman baca berulang-ulang di ayat Fa- biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban, walau banyak temen yang sedang galau, DON’T Follow lah yaa, tidak manfaat Mulai dari sekarang SAY NO 2 GALAU, jangan peduli ungkapan NGAK GAUL kalau NGAK GALAU tapi  GAUL kalau TIDAK GALAU

bareng untuk memulai hidup yang jauh dari kata galau, semangat

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s