KASIH SAYANG IBUNDA.1

Ini adalah kisah nyata Pengorbanan Seorang Ibu
—————————————————

 

kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, dankepadakulah kembalimu.” (Luqman: 14)

Ibu adalah satu kata yang paling berkesan dalam hidup manusia. “Mama”, “Bunda”, “Enyak”, “Emak”, “Ummi” atau apa pun sebutannya, maksudnya tetap merujuk kepada seorang wanita yang melahirkan Kita puluhan tahun yang lalu. Adalah fitrah jika seorang manusia menghormati dan menghormati orang yang berjasa pada dirinya, apalagi mencintai dan menyayangi ibunya karena ibu telah begitu banyak berkorban, memberi dan memberi kepada anak-anaknya… Karena itu, tulisan ini didedikasikan agar setiap pembaca menghayati pengorbanan ibunya dan dapat bersyukur kepada Allah dan kemudian kepada ibu bapaknya. Karena setiap manusia di muka Bumi pasti terlahir dari seorang ibu. Setiap kita pasti pernah mengalami kehidupan dalam sebuah alam yang terhormat dalam perut seorang perempuan selama lebih kurang 9 bulan 10 hari. Alam kandungan merupakan  tempat persinggahan yang kokoh sebelum lahir ke muka Bumi… Dia bernama “rahim”, nama yang sama dengan salah satu nama Allah yaitu “Ar-Rahim” (Yang Maha Penyayang).

Ibu teramat sangat besar jasanya bagi hidup seseorang. Tidak dapat dibandingkan dengan manusia mana  pun. Sungguh keliru jika orang menganggap ada orang lain yang lebih berjasa bagi dirinya selain Ibunya sendiri. Sebelum orang lain melihat kita lahir sebagai penduduk Dunia, ibulah yang pertama kali merasakan keberadaan kita dalam tubuhnya. Dialah yang mensuplai kita makanan, merawat dan memelihara Anda selama dalam kandungan… Saat itu, dalam tubuh ibumu terdapat dua jiwa yang salahsatunya harus dipersiapkan untuk menjadi seorang manusia…  Dalam alam rahim inilah seluruh perasaan cinta dan kasih ibu dicurahkan  terhadap anaknya, dengan perkenan dan izin Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…

Mengandung seorang bayi bukanlah menggendong barang yang bisa istirahat di saat yang diinginkan. Sang jabang bayi melekat dengan tubuhnya dan menjadi parasit yang menggerogoti kekuatan Sang Ibu. Dari waktu ke waktu bertambah berat dan menyulitkan.. Sungguh jarang ibu mengeluh, meskipun ada sedikit keluhannya namun dia tetap dalam keadaan bangga dan penerimaan yang tulus terhadap keberadaan Anda di dalam tubuhnya…

Bahkan sering didapati Bahwa kisah kasih sayang dalam penderitaan seorang Ibu terus berlanjut bahkan ketika  anaknya telah tumbuh besar dan remaja. Mungkin itu yang di alami seorang Bu Tijah, wanita asal tegal Jawa Tengah berumur 56 tahun yang tinggal di kawasan cilandak jakarta selatan. Janda berputra 5 orang yang hidup harus sering mengurut dada dan bersabar dalam membesarkan buah hatinya yang telah ditinggal sang Ayah selama-lamanya 12 tahun yang lalu.

Hidup dalam rumah kontrakan sempit berukuran 5 x 5 m, Dia harus merasakan perihnya derita kaum papa tak berpunya yang mengadu nasib di kejamnya ibukota. sering terlintas ingin pulang ke kampungnya di Tegal yang penuh kenangan indah dan ceria, tapi mau mendatangi siapa lagi, sudah tidak ada lagi tanah, sawah maupun kerabat dan saudara disana. Kini dia hanya bersandar pada kekuatan ringkih dari tubuh kurus dan rapuhnya untuk hidupi putra dan putri titipan Allah yang dikasihinya itu.

Keadaan yang mengharuskan hidup bersesak-sesakan dengan segala aktivitas kehidupan itu jugalah yang pada akhirnya menimbulkan cobaan dan derita Bu Tijah kini. Anak bungsunya Mega Nur Aini yang ketika ditinggalkan Ayahnya baru berumur 1 tahun harus merasakan sakitnya tuberkolosa mengerogoti tubuh kecilnya, gadis yang kini duduk di kelas 5 SD ini bahkan sehingga menganggu Pendengarannya. Bu Tijah tidak menyadari bahwa bahwa peristiwa dirinya mengalami muntah darah 2 tahun yang lalu dan dia anggap hanya kelelahan akibat beratnya pekerjaan serabutan sebagai tukang cuci di beberapa rumah, telah menularkan TBC berbahaya itu dalam rumah kecilnya.

Untunglah, sekelompok anak muda yang merasakan indahnya perintah Allah untuk berbagi dan menolong sesama dalam wadah Darul Aytam menghulurkan bantunan pengobatan rutin serta menyantuni 2 orang anaknya Mega dan Muji untuk pendidikan formal dan informalnya. Sampai saat inipun Bu Tijah berusaha untuk tersenyum  dan bersyukur atas kehidupannya. Terkadang dengan tubuh ringkihnya itu dia tetap mengendong Mega sang buah hatinya menaiki dan melintasi jembatan penyebrangan didepan Graha El Nusa Jakarta, karena sang putri tak kuat untuk berjalan menaiki tangga-tangga jembatan itu.

Bu Tijah berusaha melupakan semua cacian, hinaan dan ejekan bagi Dia, Mega dan keluarganya dia tetap berjalan dan pasrahkan dirinya kepada Allah Yang Maha Kuasa demi besarkan anak yang dicintainya.

Semoga Mega, Muji dan semua Putra-Putri Bu Tijah senantiasa menjadi anak yang berbakti kepadanya, anak yang Shalih dan Shalihah dalam pandangan Allah Azza Wa Jalla….

Bismillahirrahmanrrahim, Dan Kami wajibkan manusia berbuat kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Surah Al Ankabuut) 

Mari dukung Darul Aytam dan kegiatan sosialnya.salurkan Zakat, Infaq dan Shadaqah Anda ke :

Rekening Bank Mandiri  1570003191518 an Drs.SETIAWAN  S. BACKRIE Q.q Yayasan Darul Aytam,

Rekening BCA : 7650412197 an Drs.SETIAWAN S.BACKRIE Q.q Yayasan Darul Aytam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s