MENUNGGU DALAM ANTRIAN YANG PASTI

semua orang akan mati. siapapun pasti mengetahui hal itu. namun apakah kematian itu menyadarkan segala kekeliruan kita sehingga kita memperbaikinya sebulum mati? Inilah yang masih harus dipertanyakan ulang. karena rata-rata manusia, kecuali yang mengimani kematian, mengimani hari berbangkit dan mengimani hari pembalasan bertindak seolah olah mereka tidak akan mati. kebanyakan dari mereka baru sadar akan datang kematian setelah kematian menjadi hak mereka.

Hampir setiap Hari, setiap Jam setiap saat kita mendengar berita tentang kematian. Berita itu juga kita lihat di televisi dan juga kita baca di koran atau internet. Terkadang kita terkesima, terkaget-kaget, Terkejut takmenyangka bahwa kematian itu bisa datang kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja.

kejadian ini semestinya menjadi pengingat kita semua bahwa terlepas dari soal takdir, kehati-hatian dalam berkendara di jalan adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi. Selain berdoa sebelum bepergian, patuh pada peraturan lalu lintas adalah kewajiban. Juga yang tak boleh diabaikan adalah saling menghormati sesama pengguna jalan. Jangan hanya menuntut orang lain untuk hati-hati, jangan hanya bisa marah dan membentak “memangnya ini jalan nenek moyangmu!” tapi dirinya sendiri juga tidak berhati-hati, terlupa bahwa jalan yang dilewati juga bukan milik kakek moyangnya. Jika kita menuntut orang lain hati-hati dan disiplin berlalu lintas, maka kewajiban yang sama juga mengikat kita.

Saudaraku, setiap yang hidup akan merasakan mati. Hal itu termaktub dengan tegas dan lugas dalam kitab-Nya. Maka, bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambut maut yang kedatangannya tidak diketahui namun pasti itu. Saat seorang saudara kita mendapatkan gilirannya untuk menghadap Sang Khaliq, saat kita melihat tubuhnya membujur kaku, saat ia terbungkus kain putih bersih, saat tubuh tanpa nyawa itu diusung untuk dibawa ketempat peradilan utama atas setiap amalnya, dan saat kita bersama-sama menanamkan jasadnya ke dalam tanah merah serta menimbunkan tanah dan bebatuan diatas tubuhnya, sadarkah kita bahwa giliran kita akan tiba, bahwa waktu kita semakin dekat.

Dibalik musibah selalu ada hikmah. Begitupun kecelakaan di jalan raya yang belakangan ini sering terjadi juga memberi kita sebuah pelajaran, menggugah kesadaran bahwa maut bisa datang kapan saja, di mana saja, dengan cara yang tidak terduga, termasuk kecelakaan di jalan raya.

Sebelum tragedi halte Tugu Tani itu terjadi, siapa yang menyangka jika kedatangan satu keluarga dari desa ke Jakarta dalam rangka liburan justru seperti mengantarkan nyawa. Dan mereka yang usai berolah raga, tak ada yang menduga kalau salah satu dari mereka akan menjadi korban, tertabrak mobil yang nyelonong ke trotoar.

Juga mereka, para penumpang bus maut baik yang di Jawa Timur, Pemalang, Bogor maupun daerah-daerah lainnya tak mengira kepergian mereka dengan berbagai kepentingan akan berakhir di pemakaman. Inilah ketetapan, kepastian yang Allah rahasiakan. Dan disadari atau tidak, kita pun sebenarnya berada dalam antrian.

Entah di urutan keberapa, entah setelah siapa, yang pasti suatu saat nanti akan tiba giliran kita juga.

Jangan karena masih muda, sehat, kaya dan sedang berjaya lalu merasa antrian kita masih jauh. Masih banyak mereka yang sudah tua, atau masih muda tapi sakit-sakitan, antri di depan kita. Jangan pernah beranggapan demikian. Banyak fakta menunjukan, seorang yang sudah lanjut usia, terisak pelan menghadiri pemakaman cucunya yang masih belia. Juga mereka yang beberapa hari sebelumnya masih terbaring di rumah sakit, turut menjadi saksi pemakaman orang yang kemarin membezuknya.

Jangan katakan ini menyeramkan, karena memang kenyataan. Kita dalam antrian. Jangan pula bilang takut, karena rasa takut tak akan membatalkan maut. Siap atau tidak, bila sampai waktunya, maut tetap akan datang menjemput. Usia bukan jaminan, harta, jabatan dan kesehatan bukan andalan. Kesemuanya bukan penentu urutan kita dalam antrian. Tapi selama dalam antrian, semua bisa kita gunakan untuk mengumpulkan perbekalan yang kita butuhkan di kehidupan abadi kelak.

Karena kita tidak tahu di mana sebenarnya posisi kita dalam antrian, maka perbekalan amal kebaikan harus benar-benar dipersiapkan. Jangan salah membawa bekal, jangan pula sampai tertinggal. Apa yang akan kita dapatkan kelak adalah sesuai dengan apa yang kita upayakan sekarang. Mari sama-sama memastikan bahwa selama antri tidak sekalipun kita keluar dari jalur yang ditetapkan. Insya Allah.

marilah kita bersama-sama berusaha dan berdoa semuga kita diberi hidayah dan petunjuk oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala serta kelapangan masa dan kesehatan tubuh badan dan juga fikiran dalam usaha kita untuk mencari keridhaan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala di dunia maupun akhirat.

Apa yang baik dan benar itu datangnya dari Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dan apa yang salah dan khilaf itu adalah dari kelemahan manusia itu sendiri.

wallahualam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s