BERHASILNYA GERAKAN PEMURTADAN UMMAT ISLAM DI INDONESIA

Sejarah dahulu telah mencatat bahwa kemenangan partai agama (Kristen) pada pemilihan di Belanda tahun 1901 merubah wajah politik di sana. Partai Liberal –yang telah menguasai politik selama 50 tahun– kehilangan kekuasaannya; sedangkan golongan agama semakin kuat dan membawa pemerintahan ke prisnsip Kristen. Pidato tahunan raja pada bulan September 1901 –yang menggambarkan jiwa Kristen –menyatakan mempunyai kewajiban etis dan tanggung jawab moral kepada rakyat  Hindia Belanda (Nusantara), yakni memberikan bantuan lebih banyak kepada penyebaran agama Kristen. Dukungan terhadap kristenisasi Hindia Belanda dipertegas, sejalan dengan politik hutang budi yang dicanangkan.   Snouck Horgronje Contoh Nyata Snouck Hurgrunje bermaksud menukar Islam dengan kebudayaan Eropa, sehingga upaya kepentingan politik dan agama  (Kristen) menjadi gampang.

   “To bring about a cultural  unity string enough to void the difference of religious denomination from its political and social significance.”Menjadikan ikatan kesatuan budaya dapat melenyapkan perbedaan agama dari kepentingan politik dan kemasyarakatan)

 

    Munculnya para orientalis Belanda itu perlu disimak pula latar belakang politik penjajah Belanda yang menguasai Indonesia selama tiga setengah abad. Dr Aqib Suminto menggambarkan strategi penjajah Belanda, di antaranya diungkapkan sebagai berikut:

    Usaha Belanda untuk mengkonsolidasi kekuatannya mendapat perlawanan dari raja-raja Islam, dan di tingkat desa, dari para guru serta ulama Islam. Meskipun Belanda berhasil mengontrol sebagian besar daerah Nusantara yang ditaklukkannya, namun Islam tetap melebarkan sayapnya; bahkan sejak abad ke-19 Islam mendapatkan daya dorong, berkat semakin meningkatnya hubungan dengan Timur Tengah.

Kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda dalam menangani masalah Islam ini, sering disebut dengan istilah Islam Politiek, dimana Prof Snouck Hurgronje dipandang sebagai peletak dasarnya. Sebelum itu kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda terhadap Islam hanya berdasarkan rasa takut dan tidak mau ikut campur, karena Belanda belum banyak menguasai masalah Islam.   Berkat pengalamannya di Timur Tengah dan Aceh, Snouck Hurgronje, sarjana sastra Smith yang mempunyai andil sangat besar dalam penyelesaian perang Aceh ini kemudian berhasil menemukan suatu pola dasar bagi kebijaksanaan menghadapi Islam di Indonesia.

Saat ini di antara gegap gempita aksi politik di Indonesia, usaha-usaha pemurtadan terus gencar dilakukan. Sayangnya umat Islam seakan terlena, dan sebagian menganggap kasus pemurtadan hanya isu belaka. Gerakan kristenisasi yang dilakukan secara massif oleh para misionaris terus menyabar dengan berbagai modus, nekat dan ugal-ugalan. Maraknya aksi pemurtadan adalah alarm penting agar umat Islam meningkatkan kewaspadaan dan memerangi segala bentuk gerakan pemurtadan akidah. 

Sayang memang kondisi umat yang tidak fokus membentengi akidah dan melawan gerakan pemurtadan. Salah satu penyebabnya adalah gerakan deradikalisasi dan isu teroris. Dua isu ini telah memandulkan perjuangan dan dakwah umat Islam. Dalam praktiknya, banyak fakta dan data tentang realita gerakan pemurtadan yang dilakukan oleh umat Kristen, dari cara yang santun sampai cara yang arogan. Untuk memperdalam hal ini, Suciati, Kontributor majalah Sabili di Solo mewawancara Ustadzah Dewi Purnamawati, daiyah yang konsen dengan gerakan anti pemurtadan. Berikut petikannya: Benarkah kristenisasi hanya sekadar isu? Kalau hanya sekadar isu lihat bagaimana pendapat-pendapat para pemuka Kristen yang nayat-nyata menjadikan Indonesia sebagai lahan subur kristenisasi. Dr Berkhof misalnya. Ia mengatakan, “Indonesia adalah daerah pekabaran Injil yang diberkati Tuhan”. Boleh kita simpulkan bahwa Indonesia adalah suatu daerah pekabaran Injil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit firman Tuhan. Jumlah orang Kristen Protestan sudah 13 juta lebih. Jadi tugas zending gereja-gereja muda di benua ini masih amat luas dan berat. Bukan saja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga kaum Muslimin yang besar yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan- pahlawan Injil.

Apalagi bukan saja rakyat jelata, lapisan bawah yang harus ditaklukkan untuk Kristus, tetapi juga dan terutama para pemimpin masyarakat, kaum cendekiawan, golongan atas dan tengah.” Begitu juga dengan Pendeta Yosias Leindert Lengkong, “Al-Qur`an sangat berguna untuk misi pekabaran Injil”. Tujuan utama menyelidiki referensi-referensi al-Qur’an yang menyaksikan tentang Alkitab ialah: agar kita dapat mengenal serta mengerti dan memanfaatkan potensi ayat-ayat al-Qur’an yang berguna bagi kepentingan membagikan berkat Injil kepada kaum Muslim yang kita cintai. Kesaksian al-Qur`an sangat berguna untuk dijadikan jembatan atau sarana misi pekabaran Injil Alkitabiah” (makalah Pendeta Josias Lendert Lengkong pada seminar “Studi Paralelisasi Kristen dan Islam” di hotel Mandarin Jakarta tanggal 15 Agustus 1997). Sebenarnya konsep tentang perlunya Kristenisasi kepada umat Islam masih sangat banyak. Tapi statemen Berkof dan Lengkong cukuplah untuk mewakili konsep kristenisasi di Indonesia. Sejak kapan kristenisasi terjadi di Indonesia? Jika dilihat dari sejarahnya, kristenisasi merupakan satu mata rantai yang panjang. Ia tidak hanya terjadi saat ini saja. Tapi, sudah terjadi sejak lama, tepatnya sejak zaman penjajahan di Nusantara. Gerakan pendangkalan akidah umat ini terus terjadi hingga saat ini. Bahkan gerakannya kian hari kian nyata dan berbahaya. Kabarnya, di Solo kristenisasi juga gencar. Benarkah? Salah satu ciri kristenisasi adalah dilakukan secara massif. Seperti halnya di daerah lainnya, di Solo kristenisasi dengan berbagai variannya juga menyebar secara luas di berbagai level masyarakat. Pola dan kristenisasi cukup variatif disesuaikan dengan obyek sasarannya. Untuk kalangan pedesaan tak terpelajar misalnya, kristenisasi dilakukan dengan pembagian mie instant. Namun untuk kalangan berpendidikan modelnya harta, kedudukan, bahkan wanita.Namun temanya tetap sama, yaitu memanfaatkan kelemahan umat Islam, baik ekonomi hingga akidahnya. Apa sarana kristenisasi saat ini? Secara substansi tidak berubah, hanya sarananya saja yang berubah menyesuaikan kondisi saat ini. Salah satu pola kristenisasi saat ini menyasar anak-anak muda dan pelajar, melalui penididikan agama dan ekonomi.

pengelabuan melalui buku- buku yang menyerupai Islam? Meskipun ada persoalan yang terselubung dan tidak tampak, rendahnya akidah dan ekonomi umat Islam menjadi masalah berat. Saat ini berkembang pemikiran semua agama bagus. Kaum misionaris juga memanfaat hal ini untuk merusak pemikiran umat sehingga mereka ragu dengan kebenaran Islam. Kristen seperti musang berbulu domba menggemboskan dan pengelabuan anak-anak muda.Pola ini merupakan pelacuran akidah atas nama pluralisme. Di kalangan Islam sendiri hal ini terjadi.

Pelacuran akidah memutarbalikkan fakta dalam bentuk pluralisme agama dengan konsteks kerukunan beragama. Apakah ini hanya fenomena elit? Fenomena ini tidak hanya terjadi di tingkat elit saja. Setiap orang Kristen merasa menjadi komponen amanat penggenap agung. Mereka merasa menjadi pekerja- pekerja kristus. Mereka memiliki tugas mulia menyelamatkan domba-domba sesat. Berarti pengelabuan umat terus terjadi Sampai saat ini masih berjalan dan kian hari kian massif. Sayangnya, pemerintah dan hukum tidak mau buka mata.

Mereka mengetahui pemurtadan terjadi, namun dengan alasan menjaga kerukunan mereka mengabaikannya. Itulah sebabnya, hingga kini praktik penyebaran buku-buku pemurtadan untuk mengelabui umat masih beredar. Setiap gereja di Indonesia memiliki misi kristenisasi hanya aturan main satu gereja dengan gereja lain berbeda. Namun, tujuannya tetap sama mendangkalkan akidah umat lainnya, khususnya kaum Muslimin. Apa target kristenisasi? Setiap gerakan tentu memiliki target yang akan dicapai. Di mata mereka, Indonesia adalah lahan subur kristenisasi. Karena itu, umat Islam yang mayoritas di negeri ini menjadi target utama pemurtadan.

Tujuannya adalah untuk pelipatgandaan umat Kristen dan melemahkan posisi kaum Muslimin. Peraturan yang dibuat pemerintah hanya di atas kertas saja? Ya di atas kertas. Karena itu kasus kristenisasi tergantung masyaraat dan pemerintah. Masyarakat kita kebanyakan belum paham dengan adanya kristenisasi. Karena itu, tidak sedikit dari masyarakat merasa diuntungkan dengan berdirinya banyak gereja di sekitar mereka. Karena berdirinya gereja baru di sekitar kampung atau daerah mereka memberi peluang perekonomian baru, seperti parkir, pembagian sembako, tukang kebun dan lainnya. Tapi, mereka tidak menyadari jika akidah mereka terancam. Mereka berkelit Kristenisasi karena ada Islamisasi. Benarkah? Isu islamisasi dilontarkan untuk menyimpangkan fakta sebenarnya yaitu kristenisasi. Sebab mereka melakukan kristenisasi dengan terselubung. Kristenisasi adalah usaha pemaksaan orang lain masuk ke agama mereka. Islamisasi bukan memaksa orang lain pindah agama. Mereka berpandangan selain agama Kristen, semua orang adalah domba sesat.

Itulah sebabnya mereka menjaring sebanyak-banyaknya domba sesat. Menjaring orang lewat pendidikan dan pembabtisan massal. Upaya apa untuk membendungnya? Cara menghadapi kristenisasi adalah dengan menunjukkan kesesatan mereka kepada umat. Sehingga kaum Muslimin mengetahui ajaran Islam dan cara musuh untuk memurtadkannya. Contohnya, tentang Natal. Para ustadz harus menjelaskan kepada umat tentang kesesatan Natal sebagaimana fatwa MUI. Tapi pembinaan kepada umat tidak berjalan sebagaimana mestinya Benar. Tapi kita tidak perlu risau. Usaha harus terus dilakukan untuk membentengi akidah umat agar mereka kuat menghadapi bujuk rayu musuh-musuhnya. Selain itu, kita juga harus terus mengupayakan terbentuknya persatuan dan kesatuan umat Muslim, khususnya di Indonesia.

Perlu tidak mengundang pemimpin mereka (Kristen), untuk meminta pertanggungjawaban? Ya sangat penting. Seluruh ulama perlu mempertegas dan menyampaikan kritikan kepada kalangan gereja. Umat perlu membeberkan cara-cara bohong mereka kepada publik. Cara mereka menyebarkan agama dengan ayat palsu. Padahal Tuhan sendiri tidak pernah menyuruh manusia menjadi Kristen. Inilah keberanian kaum Salibis menjual ayat tersebut padahal ayat tersebut palsu. Mereka juga sering berlepas tangan Berlepas tangan adalah salah satu taktik mereka. Ibarat pepatah, lempar batu sembunyi tangan. Kalau mereka jujur seharusnya mereka berani menghukum anggotanya yang menyebarkan Kristen dengan cara-cara memalukan. Tapi kenyataanya mereka tidak pernah menghukum anggotanya.

Inilah kristenisasi berkedok penipuan dan pengelabuan umat. Sayangnya, pemerintah menutup mata fakta adanya kristenisasi. Pemerintah seharusnya sadar dan mau berubah sebab jika tidak jangan salahkan jika umat bertindak. Tapi umat Islam sendiri terpecah-pecah? Persatuan terus sedang dibangun umat. Umat semestinya sadar bahwa musuh-musuh Islamlah yang membuat mereka terpecah belah. Sutradara perpecahan umat adalah mereka. Umat Islam harus bersatu dan kristenisasi adalah musuh yang harus dihadapi secara bersama-sama seluruh komponen umat. Umat Kristen tak pernah puas Istilah Kristen baru muncul setelah Yesus tidak ada. Jadi ada pengaburan sejarah oleh mereka sendiri. Dibawalah dokumen sejarah Indonesia ke Belanda. Saat ini, jika orang mau tahu sejarah Indonesia harus ke Leiden dulu.

Segala bahasa di Indonesia, ada semua. Subhanallah. Sejarah dikaburkan sehingga legalitasnya tidak ada. Dalam konteks Pancasila sila pertama, Ketuhanan Yang Maha ESA. Esa itu kan satu, tetapi kenapa mereka menyembah Trinitas. Karena itu, negara harus mempertanyakan posisi Kristen di Indonesia agar tidak terjadi pengaburan sejarah. Kenapa ulama kecolongan? Tidak ada kata terlambat. Agar tidak perjadi pemurtadan yang lebih luas, hal ini perlu ditanyakan kepada ulam. Sebab, selama ini masih banyak ulama yang tidak tegas dalam menyampaikan masalah kristenisasi. Padahal surat al-Baqarah ayat 120 ditegaskan dengan jelas hal ini. Bagaimana secara politik? Saat ini mereka berprinsip tidak perlu menjadi orang nomor satu. Cukup menjadi orang kedua. Tapi menentukan segalanya. Mereka hanya menjadi pemikir. Tidak secara formal, tapi mereka yang mengendalikan kita. Bagaimana membangun ukhuwah Islam di era politik? Semua komponen bangsa harus saling bahu membahu satu dengan lainnya. Sebab jika kita bertengkar maka yang bertepuk tangan adalah musuh-musuh Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s