SABAR dan SYUKUR

Setiap insan yang hidup di muka bumi ini pasti pernah mengalami suka dan duka. tidak ada  insan yg diberi duka sepanjang hidup karena ada kala kemanisan hidup menghampirinya. Demikian pula sebalik tidak ada insan yang terus merasa suka karena mesti suatu ketika duka menyapanya. Bila demikian tidaklah salah pepatah yang mengatakan “Kehidupan ini ibarat roda yg berputar” terkadang di atas terkadang di bawah. Terkadang bangun dan sukses terkadang jatuh dan bangkrut kadang kalah kadang menang kadang susah kadang bahagia kadang suka dan kadang duka Begitulah kehidupan di dunia ini kesengsaraan dapat berganti bahagia namun kebahagian tidaklah kekal.

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِيْنَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Ketahuilah sesungguh kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan perhiasan dan bermegah-megah di antara kalian serta berbangga-bangga dalam banyak harta dan anak seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani kemudian tanaman itu menjadi kering dan kalian lihat warna kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras/pedih dan ada pula ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Kehidupan dunia itu tidak lain kecuali hanya kesenangan yang menipu.”
Suka duka pun suatu kemestian yang dialami sepasang suami istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga karena kesempitan atau kelapangan kesulitan atau kemudahan datang silih berganti. Ketika diperoleh apa yang didamba mereka bersuka. Tatkala luput apa yg diinginkan atau hilang apa yg dicintai mereka berduka.
Sebagai seorang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengimani takdir-Nya sudah semesti suka dan duka itu dihadapi dengan syukur dan sabar. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan dua sifat ini di dlm firman-Nya:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّاٍر شَكُوْرٍ

“Sesungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi tiap orang yg banyak bersabar lagi bersyukur.”
Qatadah rahimahullahu menafsirkan ayat di atas dgn mengatakan “Dia adalah hamba yang
hamba yang bila diberi bersyukur dan bila diuji bersabar…

Rasulullah Muhammad  Shalallahu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan bahwa mukmin yang sabar atas musibah/duka yg menimpa dan bersyukur atas ni’mat/suka yang diterima akan mendapatkan kebaikan. Kabar gembira ini tersampaikan kepada kita lewat sahabat beliau yg mulia Shuhaib Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu. Shuhaib berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ لَهُ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh perkara adalah kebaikan baginya. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika mendapatkan kelapangan ia bersyukur maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kemudaratan/kesusahan ia bersabar maka yg demikian itu baik baginya.”
Ketika menjelaskan hadits di atas Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menyatakan bahwa tiap manusia tidak lepas dari ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan takdir-Nya. Bisa jadi ia dalam kelapangan dan bisa jadi dalam kesempitan. Dalam hal ini manusia terbagi dua: mukmin dan selain mukmin.

Seorang mukmin senantiasa dalam kebaikan pada tiap keadaan yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala takdirkan baginya. Bila ditimpa kesusahan ia bersabar dan menanti datang kelapangan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta mengharapkan pahala maka ia pun meraih pahala orang2 yg bersabar. Bila mendapatkan kelapangan berupa ni’mat agama seperti ilmu dan amal shalih ataupun ni’mat dunia berupa harta anak dan istri ia bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn taat kepada-Nya krn yg nama bersyukur tidak sebatas mengucapkan “Aku bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Adapun selain mukmin mendapat kesempitan ataupun kelapangan sama saja bagi krn ia selalu berada dlm kejelekan. Bila ditimpa kesempitan/kesusahan ia berkeluh kesah mencaci maki dan mencela Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila mendapat kelapangan ia tidak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Dzat yg telah memberikan ni’mat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s