DOA UNTUK AYAH DAN BUNDA

Ya Allah, Ya Malik Al Mulk Dzul Dzjalalai Wal Ikram
hamba ini bermohon kepada-Mu Wahai Dzat Yang Maha Pengasih, sayangilah kedua orang tua kami,ampuni, rahmati dan ridha’ilah mereka dengan keridhaan yang mengantarkan mereka pada semua jenis keridhaan-Mu, yang membawa mereka ke tempat-tempat yang mendatangkan maaf dan ampunan-Mu, serta menjadikan mereka penduduk negeri yang mulia dan aman yaitu Jannah-Mu.

Ya Allah…Ya Rahman hamba bermohon ampunilah mereka dengan pengampunan, Cinta dan Kasih sayang-Mu yang Maha Besar… serta Syafaat agung Rasul-Mu Muhammad yang Mulia yang menghapus dosa-dosa mereka terdahulu dan keburukan yang telah mereka lakukan…

Ya Allah Ya Rahim hamba bermohon rahmatilah mereka dengan rahmat yang mampu menerangi pembaringan mereka di alam kubur… serta menyelamatkan mereka pada saat kebangkitan di hari yang berbangkit kelak.

Ya Allah…hamba bermohon atas setiap ayat suci yang kami baca, shalat kami yang Engkau terima, amal shalih kami yang Engkau ridhai, serta sedekah kami yang Engkau lipat-gandakan pahalanya…Ya Allah…dengan keridhaan dan kemuliaan-Mu berilah mereka bagian yang lebih banyak dari bagian kami, dan pahala yang jauh lebih besar dari pahala kami…”
“Ya Alah…mohon jadikanlah kami penyejuk hati ‘mereka di hari para saksi berdiri sebagai saksi, dan perdengarkanlah kepada mereka sebaik-baik seruan ketika sang penyeru berseru. Pertemukanlah kami dengan mereka dan seluruh kaum muslimin di dalam negeri yang mulia, di tempat curahan rahmat-Mu  bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin… Itulah karunia Allah yang tertinggi, dan Dialah sebaik-baik pemberi karunia…”

Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah Wa Qiina Adzabannar… Waakhidnal jannata ma’al abrar, Ya Azizu Ya Ghaffar Ya Rabbal Alamien. Rabbana taqabball minna innaka anta samiul ‘alim watub alayna innaka antattawaburrahiim. Subbahaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yaashifuun wasalamun alal mursaliin…. Walhamdulillahirrabil alamiin

TANDA-TANDA MATINYA HATI

Hati adalah tempat mangkalnya berbagai perasaan, tumbuh kembang antara kebaikan dan keburukan. Hati juga menjadi sumber ilham dan permasalahan, tempat lahirnya cinta dan kebencian, serta muara bagi keimanan dan kekufuran.

Hati juga sumber kebahagiaan jika sang pemiliknya mampu membersihkan berbagai kotorannya yang berserakan, namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika sang
empunya gemar mengotorinya.

Hati yang kotor hanya akan menyebabkan kapasitas ruangnya menjadi pengap, sumpek, gelap, dan bahkan mati. Jika sudah mati seluruh komponen juga akan turut mati. Dalam makna yang sama, Abu Hurairah RA berkata, “Hati ibarat panglima, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika panglima itu baik maka akan baik pulalah tentaranya. Jika raja itu buruk maka akan buruk pula tentaranya.”

Pada akhirnya kita bisa mengenali dalam keadaan apa hati seseorang itu mati. Di antaranya adalah pertama, taarikush shalah, meninggalkan shalat dengan tanpa uzur atau tidak dengan alasan yang dibenarkan oleh syar’i. (QS Maryam [19]: 59).

Imbas dari seringnya meninggalkan shalat adalah kebiasaan memperturutkan hawa nafsu. Dan, kalau sudah demikian, dia akan menabung banyak kemaksiatan dan dosa. Ibnu Mas’ud menafsirkan kata ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut dengan sebuah aliran sungai di Jahanam (neraka) yang makanannya sangat menjijikkan. Bahkan, tempatnya sangat dalam dan diperuntukkan bagi mereka yang membiarkan dirinya larut dalam kemaksiatan.

Kedua, adz-dzanbu bil farhi, melakukan kemaksiatan dan dosa dengan bangga. Alih-alih merasa berdosa dan menyesal, justru si pemilik hati yang mati, ia teramat menikmati kemaksiatan dan dosanya. (QS al-A’raf [7]: 3).

Ketiga, karhul Qur’an, benci pada Alquran. Seorang Muslim, jelas memiliki pedoman yang menyelamatkan, yaitu Alquran. Tapi, justru ia enggan berpedoman dan mencari selamat dengan kitab yang menjadi mukjizat penuntun sepanjang zaman ini. Bahkan, ia membencinya dan tidak senang terhadap orang atau sekelompok orang yang berkhidmat dan bercita-cita luhur dengan Alquran.

Keempat, hubbul ma’asyi, gemar bermaksiat dan mencintai kemaksiatan. Nafsu yang diperturutkan akan mengantarkan mata hatinya tertutup, sehingga susah mengakses cahaya Ilahi. Sehingga, ia lebih senang maksiat daripada ibadah.

Kelima, asikhru, sibuk hanya mempergunjing dan buruk sangka serta merasa dirinya selalu lebih suci. Keenam, ghodbul ulamai, sangat benci dengan nasihat baik dan fatwa-fatwa ulama. Berikutnya, qolbul hajari, tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, alam kubur, dan akhirat.

Selanjutnya, himmatuhul bathni, gila dunia bahkan tidak peduli halal haram yang penting kaya. Anaaniyyun, masa bodoh terhadap keadaan dan urusan orang lain. Keluarganya menderita, dia tetap saja cuek. Al-intiqoom, pendendam hebat, al-bukhlu, sangat pelit, ghodhbaanun, cepat marah, angkuh, dan pendengki.Na’udzubillah. Semoga kita semua dijaga dari hati yang mati.

 

KETIKA ENGKAU DIKHIANATI

Setiap kita memiliki rahasia-rahasia dalam kehidupan ini yang kita berusaha untuk menyembunyikannya dari orang lain…, baik rahasia-rahasia yang positif yang menyenangkan hati kita, maupun rahasia-rahasia negatif yang berkaitan dengan aib-aib kita. Tidak ada orang lain yang mengetahui rahasia-rahasia tersebut, hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui Yang ghaib dan yang mengetahuinya.

Akan tetapi terkadang hati seseorang terasa sempit dengan rahasianya yang ia simpan…ia ingin sekali menyampaikan rahasia tersebut kepada orang lain yang amanah yang bisa menjaga rahasianya…, lantas kepada siapakah ia meletakkan rahasianya tersebut ??, terlebih lagi jika rahasia tersebut berkaitan dengan aibnya sendiri !!

Bayangkan jika sahabat kita telah menyimpan rahasia kita dengan penuh amanah selama sepuluh tahun…lantas tatkala terjadi pertikaian antara kita dan dia yang membuatnya marah…akhirnya sahabat kitapun membeberkan rahasia aib kita tersebut !!!

Membeberkan rahasia adalah pengkhianatan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الرَّجُلُ إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلَ بِحَدِيْثٍ ثُمَّ الْتَفَتَ عَنْهُ فَهِيَ أَمَانَةٌ

“Jika seseorang mengabarkan kepada orang lain suatu kabar, kemudian ia berpaling dari orang yang dikabari tersebut maka kabar itu adalah amanah (atas orang yang dikabari) (HR At-Tirmidzi (1959) dan Abu Dawud (4868). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Shahiihah (1090).)

Makna berpaling yaitu si penyampai kabar tatkala hendak menyampaikan kabarnya menengok ke kanan dan ke kiri karena kahwatir ada yang mendengar. Sikapnya memandang ke kanan dan ke kiri menunjukkan bahwa dia takut kalau ada orang lain yang ikut mendengar pembicaraannya, dan dia mengkhususkan kabar ini hanya kepada yang akan disampaikan kabar tersebut. Seakan-akan dengan sikapnya itu ia berkata kepada orang yang diajak bicara, “Rahasiakanlah kabar ini!” (Lihat Tuhfatul Ahwadzi (VI/81) dan ‘Aunul Ma’bud (XIII/178)

Hadits ini menjelaskan bahwa seseorang hendaknya menjaga rahasia saudaranya jika dia faham bahwasanya saudaranya tidak ingin ada orang lain yang mengetahuinya, bahkan meskipun ia tidak meminta untuk merahasiakannya. Lantas bagaimana lagi jika ia meminta untuk merahasiakannya ??!!. Hadits ini juga tegas menjelaskan bahwasanya menjaga rahasia adalah amanah dan membongkar rahasia adalah bentuk pengkhianatan.

Akan tetapi…, sungguh menjaga rahasia orang lain lebih sulit daripada menjaga harta orang lain.

Al-Munaawi rahimahullah berkata :

فَلَيْسَ كُلُّ مَنْ كَانَ عَلَى الأَمْوَالِ أَمِيْنًا كَانَ عَلَى الأَسْرَارِ أَمِيْنًا. وَالْعِفَّةُ عَنِ الْأَمْوَالِ أَيْسَرُ مِنَ الْعِفَّةِ عَنِ إِذَاعَةِ الْأَسْرَارِ

“Tidak setiap orang yang amanah menjaga harta juga amanah menjaga rahasia. Menjaga diri dari harta lebih mudah dari pada menjaga diri untuk tidak menyebarkan rahasia” (Faidhul Qodiir 1/493, syarh hadits no 985)

Sungguh benar perkataan Al-Munaawi ini, lebih mudah bagi kita tatkala diberi amanah untuk menjaga harta orang lain dari pada tatkala diberi amanah untuk tidak menceritakan rahasia orang lain.

Ar-Rooghib berkata :

وَإِذَاعَةُ السِّرِّ مِنْ قِلَّةِ الصَّبْرِ وَضِيْقِ الصُّدُوْرِ وَيُوْصَفُ بِهِ ضعفُ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ

“Menyebarkan rahasia muncul dari sedikitnya kesabaran dan sempitnya dada, dan ini merupakan sifat para lelaki yang lemah, para wanita, dan anak-anak” (lihat Faidhul Qodiir 1/493)

Sebaliknya seseroang berkata :

كِتْمَانُ الأَسْرَارِ يَدُلُّ عَلَى جَوَاهِرِ الرِّجَالِ، وَكَمَا أَنَّهُ لاَ خَيْرَ فِي آنِيَةٍ لاَ تُمْسِكُ مَا فِيْهَا فَلاَ خَيْرَ فِي إِنْسَانٍ لاَ يَكْتُمُ سِرًّا

“Menyembunyikan rahasia menunjukkan akan para lelaki yang mulia seperti permata, sebagaimana tidak ada kebaikan pada sebuah bejana yang tidak bisa menampung isinya maka tidak ada kebaikan pula pada seseorang yang tidak bisa menyembunyikan rahasia”

Menjaga rahasia sendiri saja sulit apalagi rahasia orang lain?

Jangankan untuk menjaga rahasia orang lain…, bahkan rahasia sendiri saja kita tidak kuasa untuk menyimpannya dan memendamnya dalam hati kita.

Seseorang penyair berkata:

إِذَا الْمَرْءُ أَفْشَـى سِـرَّهُ بِلِسَـانِهِ       وَلاَمَ عَلَـيْهِ غَـيْرَهُ فَـهُوَ أَحْمَقُ

إِذَا ضَاقَ صَدْرُ الْمَرْءِ عَنْ سِرِّ نَفْسِهِ      فَصَدْرُ الَّذِي يَسْتَوْدِعُ السِّرَّ أَضْيَقُ

“Jika seseorang membeberkan rahasianya sendiri dengan lisannya (kepada orang lain)…

lantas ia mencela orang lain tersebut (karena membeberkan rahasianya) maka orang ini adalah orang bodoh…

Jika hatinya sempit untuk bisa menahan rahasia pribadinya…

maka dada orang lain yang ia simpan rahasianya tentunya lebih sempit lagi…”

Jika kita tidak mampu untuk menyimpan rahasia kita lantas kita sampaikan kepada orang lain maka jangan menyesal jika akhirnya rahasia kita akan menjadi rahasia umum, sebagaimana perkataan seorang penyair ;

كُلُّ عِلْمٍ لَيْسَ فِي الْقِرْطَاسِ ضَاعَ     وَكُلُّ سِرٍّ جَاوَزَ الاِثْنَيْنِ شَاعَ

“Seluruh ilmu yang tidak tercatat di kertas akan lenyap….

Dan seluruh rahasia yang telah melewati dua bibir maka akan tersebar”

Betapa sering kita berkata kepada seseorang, “Tolong jaga rahasia ini, jangan sampai engkau menceritakannya kepada orang lain”. Namun ternyata orang inipun menyebarkannya kepada orang lain dengan perkataan yang sama, “Tolong jaga rahasia ini, jangan sampai engkau menceritakannya kepada orang lain”, dan seterusnya… hingga jadilah rahasia kita menjadi rahasia umum.

Yang lebih menyedihkan…terkadang seseorang menyampaikan suatu rahasia kepada sahabat dekatnya, dan sebelum ia menyampaikan rahasia kepadanya ia mewanti-wantinya untuk tidak bercerita kepada orang lain…lantas sahabatnya itupun berkata, “Demi Allah meskipun ditawarkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, aku tetap tidak akan menceritakannya kepada orang lain”. Ternyata beberapa minggu kemudian…atau sebulan kemudian…atau dua bulan kemudian…atau setahun kemudian…rahasia tersebut telah tersebar…rahasia pribadi telah berubah menjadi rahasia umum… bahkan akhirnya rahasia tersebut sampai langsung ke telinganya sendiri.

Yang lebih menyedihkan lagi jika ternyata rahasia tersebut berkaitan dengan aibnya….jadilah sahabatnya tadi menjadi orang yang paling ia benci..!!!. Bahkan terkadang karena kebenciannya terhadap (bekas) sahabatnya tersebut mengantarkan dia untuk membalas dendam sehingga diapun balik menceritakan rahasia-rahasia bekas sahabatnya dengan membeberkan aib-aibnya !!!

Kepada siapa kita simpan rahasia kita ?

Berikut ini beberapa poin yang mungkin penting untuk diperhatikan tatkala hati kita gelisah dan ingin sekali menumpahkan rahasia kita kepada orang lain.

Pertama : Hendaknya kita bertanya dalam diri kita, sudah perlukah kita membeberkan rahasia kita kepada orang lain??, apakah jika kita membeberkan rahasia kita akan mendatangkan kemaslahatan??!!

Kedua : Sebelum kita menceritakan rahasia kita kepada orang lain, hendaknya kita membayangkan bagaimana jika orang tersebut tidak amanah??, hendaknya kita juga membayangkan bagaimana jika rahasia kita tersebut akhirnya tersebar?? Apakah kita siap menghadapinya??.

Ketiga : Kalau memang kita harus membeberkan rahasia kita maka hendaknya kita menceritakannya kepada orang yang sholeh yang terkenal dengan amanah…terutama seseorang yang berilmu yang kita ingin mendapatkan masukan nasehat-nasehat darinya dalam menghadapi problem kita

Keempat : Jangan sampai kita menceritakan rahasia kita kepada orang yang mencari-cari tahu rahasia kita. Orang yang seperti ini biasanya mudah untuk membeberkan rahasia. Seorang penyair berkata :

لاَ تُذِعْ سِراًّ إِلَى طَالِبِهِ *** مِنْكَ فَالطَّالِبُ لِلسِّرِّ مُذِيْعُ

“Janganlah engkau membeberkan rahasia kepada orang yang mencari-cari rahasia tersebut darimu, karena pencari-cari rahasia akan membeberkannya”

Kelima : Janganlah kita menceritakan rahasia kita kepada banyak orang, karena semakin banyak orang yang kita ceritakan rahasia kita maka akan semakin mudah tersebar rahasia kita.

Yang sering terjadi adalah jika seseorang menghadapi sebuah problem lantas ia selalu ingin curhat kepada orang lain, yang curhat tersebut mengharuskannya untuk membeberkan rahasianya. Akibatnya rahasianya menjadi rahasia umum.

Para pembaca yang budiman…menjaga rahasia adalah suatu amanah, karenanya jika kita diminta untuk menjaga rahasia maka hendaknya kita benar-benar memegang amanah tersebut…, namun jika kita merasa tidak mampu untuk menjaganya maka hendaknya kita tolak permintaan tersebut. Jika memang orang yang meminta tersebut tetap ngotot menceritakan rahasianya kepada kita, maka hendaknya kita mempersyaratkan agar memaafkan kita jika rahasia tersebut tersebar dikemudian hari.

KESETIAAN ZAINAB BINTI MUHAMMAD RASULULLAH

ak lama setelah pernikahan Muhammad bin Abdillah Al-Hasyimi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dengan Khadijah bintu Khuwailid Az-Zuhri radliyallahu `anha, lahirlah anak pertama bagi pasangan berbahagia ini, seorang putri yang kemudian dinamakan Zainab. Tepatnya peristiwa kelahiran itu terjadi pada sepuluh tahun sebelum diangkatnya sang ayah menjadi Rasulullah (yakni utusan Allah). Ia lahir dalam keluarga yang dibangun oleh pasangan suami istri yang menjadi teladan kemuliaan di kalangan Quraisy, sehingga dalam dirinya mengalir darah kemuliaan ayah bundanya. Dia juga menyaksikan akhlaqul karimah keduanya dalam kehidupan rumah tangga dan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga tumbuhlah Zainab menjadi gadis kecil yang menarik parasnya serta menakjubkan akhlaqnya bagi keluarga terdekat dan keluarga jauh kalangan Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, bahkan bagi segenap Quraisy.

 

Diantara orang yang banyak menaruh perhatian kepada si gadis kecil Zainab, adalah seorang remaja bernama Abul Ash Laqith bin Ar-Rabi’ bin Abdis Syams bin Abdi Manaf bin Qushai Al-Qurasyi, yang ibunya bernama Halah bintu Khuwailid Az-Zuhri adik kandung Khadijah. Sedangkan dari pihak ayahnya, Abul Ash bertemu nasab dengan Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam pada Abdi Manaf bin Qushai. Remaja lajang ini kerap bertandang ke rumah bibinya, yaitu Khadijah bintu Khuwailid Az-Zuhri. Dan setiap berkunjung ke rumah sang bibi, iapun menyaksikan betapa perangai si gadis kecil yang menakjubkan. Sehingga suatu hari Abul Ash dengan keluarganya mendatangi rumah Muhammad bin Abdillah Al-Hasyimi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam untuk meminang Zainab bintu Muhammad Al-Hasyimi untuk diperistri oleh Abul Ash Laqith. Abul Ash sendiri adalah seorang remaja yang sangat mulia akhlaqnya di kalangan karib kerabat handai taulan. Maka dengan beberapa keistimewaan Abul Ash seperti ini, pinangannya pun segera diterima dengan senang hati oleh Muhammad bin Abdillah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam.

 

Pesta pernikahan dilaksanakan untuk pasangan muda belia Zainab bintu Muhammad Al-Hasyimi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dengan Abul Ash Laqith bin Ar-Rabi’ dari Bani Abdis Syams. Sehingga berkumpullah dalam pesta pernikahan itu Bani Hasyim, Bani Zuhrah, Bani Abdis Syams serta para tamu undangan lainnya. Zainab adalah putri Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang pertama kali menikah. Dan dalam kesempatan pernikahan tersebut ibunda Zainab, menyerahkan kado pernikahan berupa seperangkat kalung emas permata yang indah untuk menyenangkan putrinya sebagai kenang-kenangan dari ibunda tercinta. Dan berbahagialah pasangan suami istri ini dalam mengarungi kehidupan rumah tangga dengan ikatan cinta asmara.

RIAK-RIAK GELOMBANG KEHIDUPAN RUMA TANGGA

setelah mereguk kebahagiaan rumah tangga, mulailah datang onak dan duri menghadang kebahagiaan itu. Di suatu hari Abul Ash, sang suami tercinta, berangkat menuju negeri Syam untuk berdagang mencari rizki di sana. Zainab tinggal di rumah mendampingi putra putrinya dengan kasih sayang seorang ibu. Di masa kepergian sang suami dengan kafilah dagangnya, datang berita mengejutkan bagi Zainab tentang Ayahandanya yang amat dia cintai itu. Muhammad bin Abdillah Al-Hasyimi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam telah diangkat oleh Allah menjadi utusan-Nya dan diperintah oleh-Nya untuk mengajak sekalian manusia kepada agama Allah, yaitu agama yang mengajarkan tauhidul ibadah (yakni mengesakan Allah dalam segala bentuk peribadatan) dan akhlaqul karimah(yakni perangai yang mulia). Ajaran Tauhidul Ibadah, bagi orang-orang Quraisy adalah ajaran yang sangat aneh dan amat bertentangan dengan kebiasaan mereka yang suka berbuat syirik itu. Banyak pula dari ajaran Islam yang diserukan oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang menyelisihi kebiasaan orang Quraisy dan orang Arab secara keseluruhan bahkan bagi ummat manusia semuanya. Sehingga dengan sebab inilah meledak isyu pergunjingan di kalangan Quraisy dan orang-orang Arab di jazirah Arabiah tentang Nabi Muhammadshallallahu `alaihi wa alihi wasallam dalam tempo sekejap. Zainab pun mencari tahu tentang kebenaran isyu ini langsung dari ayah bundanya. Dan Zainab setelah mendapat penjelasan tentang kebenaran Kerasulan sang ayah, iapun langsung beriman kepada Islam tanpa harus menunggu kedatangan sang suami tercinta. Karena dia lebih cinta kepada kebenaran daripada kecintaannya kepada sang suami. Namun karena kecintaannya kepada suami, dia berharap kiranya sang suami mendapat hidayah dari Allah Ta’ala untuk beriman dengan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam.

 

Ketika Abul Ash datang dari perjalanannya, dalam suasana melepas rindu, Zainab memanfaatkan kesempatan itu untuk mendakwahi sang suami dan meyakinkannya agar mau memeluk agama Allah. Namun Zainab mendapati kenyataan pahit yang tidak pernah diperhitungkannya. Abul Ash amat keberatan untuk memeluk Islam. Alasannya sangat berkaitan dengan urusan harga diri atau gengsi kearaban. Abul Ash kuatir, bila dia memeluk Islam, nanti orang Quraisy akan mengatakan bahwa Abul Ash di bawah pengaruh istrinya dan bisa dikatakan karena takut kepada istri maka dia masuk Islam. Bagi orang Arab, penilaian demikian ini adalah kerendahan dan kehinaan. Namun karena Abul Ash yakin bahwa kebenaran Islam itu tidak bisa ditolak, dia mengizinkan Zainab untuk memeluk Islam, agama Allah yang dibawa oleh ayahandanya. Di samping juga karena memang Abul Ash amat mencintai Zainab, istrinya yang amat mengagumkan akhlaqnya.

 

Dengan tersebarnya Islam di kalangan orang Arab di Makkah dan sekitarnya, mulailah keresahan muncul di kalangan para tokoh Quraisy yang merasa terancam kedudukannya di kalangan bangsa Arab. Dan datanglah penentangan terhadap dakwah Islamiyah itu, terutama dari para pimpinan Quraisy. Celakanya yang paling menentang justru paman beliau sendiri yaitu Abu Lahab bin Abdul Mutthalib Al-Hasyimi. Sehingga karena itu, turunlah satu surat khusus dari Al-Qur’an yang menyatakan kutukan dan celaan Allah Ta’ala terhadap Abu Lahab dan istrinya. Turunnya surat Al-Lahab ini membuat marah Abu Lahab dan keluarganya sehingga semakin garang saja permusuhannya terhadap Rasulullah dan keluarganya shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Dalam pada itu, kedua putra Abu Lahab yang bernama Utbah dan Uthaibah telah menikahi kedua putri Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang bernama Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Maka Abu Lahab pun menyatakan kepada kedua putranya: “Kepalaku haram untuk mengenal kalian berdua bila kalian tidak menceraikan istri-istri kalian itu.” Maka kakak beradik Uthbah dan Uthaibah putra Abu Lahab itu, menceraikan kakak beradik Ruqayyah dan Ummu Kultsum putri Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam, sebelum kedua pasangan ini sempat saling bersentuhan sebagai layaknya suami istri. Bahkan Abu Lahab belum puas menghinakan kedua putri Rasulillah itu. Dia pun berusaha mendekati Abul Ash agar kiranya juga mau menceraikan Zainab untuk menghinakan putri-putri Rasulillah di hadapan Quraisy dan Arab secara keseluruhan.

 

Namun Abul Ash adalah seorang suami yang terpuji perangainya dan tidak mau ikut-ikutan dengan orang lain dalam mengingkari budi baik putri Rasulillah. Dia semakin sayang terhadap Zainab. Hal ini justru semakin menyulitkan Zainab dalam kaitannya dengan Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Karena di satu sisi dia sebagai istri harus tetap bersetia kepada suaminya, di sisi lain dia telah berbeda agama dengan suaminya. Yang masih meringankan posisi Zainab ialah, masih belum turunnya keputusan Allah yang melarang wanita Muslimah menjadi istri bagi pria yang beragama lain. Sehingga Zainab tetap dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam untuk menjalankan kewajiban istri kepada suami dengan sebaik-baiknya. Dan Abul Ash semakin kagum dengan Islam, karena Zainab semakin baik akhlaqnya setelah beragama Islam dan sikap Rasulullah sebagai mertuanya tidak berubah kebaikan budi pekerti beliau terhadap sang menantu, bahkan lebih menakjubkan. Karena itu Abul Ash tidak mau ikut-ikutan dengan keumuman Quraisy dalam memusuhi Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam.

 

HIJRAH KE MADINAH

Setelah sekian belas tahun berlangsung rumah tangga Zainab dengan Abul Ash dengan suka dukanya, pasangan suami istri ini dianugerahi oleh Allah Ta’ala seorang putri yang diberi nama Umamah dan seorang putra yang diberi nama Ali. Permusuhan para tokoh Quraisy terhadap Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dan terhadap dakwah yang dibawa beliau tambah keras. Sehingga semakin banyak Ummat Islam yang dianiaya oleh kalangan musyrikin Quraisy karena masuk Islam. Dan Abul Ash tetap melindungi istrinya dari segala gangguan dan tindak permusuhan mereka. sehingga akhirnya datanglah perintah dari langit agar Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dan segenap kaum Muslimin berhijrah ke Al-Madinah. Karena Allah Ta’ala telah memilih kota Al-Madinah dengan Hikmah-Nya yang Maha Sempurna sebagai markas kekuatan penyebaran Islam di dunia. Dengan keputusan Hijrah Nabi dan kaum Muslimin ke Al-Madinah ini, Zainab semakin terkucil dari kaum Muslimin. Karena dia tidak bisa ikut ayahnya hijrah ke Al-Madinah berhubung statusnya masih sebagai istri Abul Ash yang musyrik. Ini tentunya beban mental yang luar biasa bagi seorang wanita. Namun kesetiaannya kepada suami tidak memungkinkannya untuk berangkat hijrah ke Al-Madinah tanpa izin dari sang suami. Hidup penuh kegersangan dan keterasingan dijalani oleh Zainab dengan kesabaran dan terus berdoa kepada Allah Ta’ala, kiranya Allah Ta’ala menunjuki suaminya tercinta kepada Islam dan setelah itu dapat mengajak sang istri untuk berangkat hijrah ke Al-Madinah.

 

Permusuhan para tokoh musyrikin Quraisy terhadap Islam yang telah bermarkas dakwah di Al-Madinah semakin keras. Mereka semakin gigih memobilisasi suku-suku Arab di jazirah Arabiah untuk memusuhi Islam. Puncaknya adalah meletuslah peristiwa perang Badr antara pasukan Islam yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam, berhadapan dengan pasukan musyrikin Quraisy yang dipimpin oleh Abu Jahl dari Bani Abdi Syams. Maka karena Abul Ash dari Bani Abdi Syams, maka ia pun ikut pasukan musyrikin Quraisy yang dipimpin pamannya. Dalam pertempuran ini, Allah Ta’ala memenangkan pasukan Islam dengan kemenangan yang telak atas pasukan kafir Quraisy. Padahal kekuatan pasukan Islam dari sisi personel, logistik dan persenjataan, hanya sepertiga dari kekuatan musyrikin. Abu Jahal dan banyak tokoh musyrikin Quraisy, terbunuh dalam pertempuran itu. Orang-orang Quraisy mendapat pukulan dahsyat dari pasukan Islam yang dipimpin anak Quraisy yang paling mulia, yaitu Muhammad bin Abdillah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim Al-Qurasyi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Lebih terpukul lagi, ketika beberapa puluh orang-orang kafir Quraisy ditawan di Madinah oleh pasukan Islam. Dan di antara orang-orang yang ditawan itu adalah Abul Ash, sang menantu Rasulillah. Juga ikut ditawan pasukan Islam, Abbas bin Abdul Mutthalib paman Rasulillah.

 

Dari permusyawaratan yang diadakan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dengan para Shahabat beliau, diputuskanlah bahwa pembebasan semua tawanan itu harus dengan tebusan dari keluarga masing-masing. Maka berdatanganlah utusan keluarga-keluarga para tawanan itu dari Makkah ke Madinah untuk menebus anggota keluarganya. Di antara rombongan utusan yang datang dari Makkah itu, terdapat pula utusan dari keluarga Bani Abdis Syams untuk membebaskan Abul Ash. Utusan itu membawa kalung emas milik Zainab putri Rasulullillah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam untuk membayar tebusan bagi pembebasan suaminya. Dan ketika apa yang dibawa Bani Abdus Syams itu dilaporkan kepada Rasulillah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam, beliau tertegun melihat kalung emas itu. Benda ini membangkitkan kenangan manis beliau dengan ibunya Zainab yang telah meninggal, yaitu Khadijah bintu Khuwailid istri Rasulillah yang paling dicintai dan dimuliakan olehnya. Karena kalung itu adalah hadiah perkawinan dari Khadijah untuk putrinya ketika sang buah hati menikah dengan Abul Ash. Tentu Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam amat terharu melihat betapa putrinya yang Mu’minah, telah menunjukkan kesetiaan dan kecintaannya kepada sang suami meskipun masih musyrik. Maka Rasul pun menawarkan kepada para Shahabat beliau tentang pembebasan Abul Ash ini sebagai berikut: “Aku senang kalau kalian melepaskan Abul Ash agar kembali ke Makkah tanpa tebusan. Kembalikan kalung itu kepada keluarga Bani Abdis Syams agar dikembalikan ke putriku. Tetapi bila kalian tetap menuntut tebusan pembebasannya, maka kalung itu menjadi fai’ (yakni harta rampasan dari orang kafir yang telah ditaklukkan) .” Maka para Shahabat pun menyatakan: “Bahkan kami menghendaki untuk membebaskannya tanpa tebusan dan mengembalikan kalung itu kepada pemiliknya wahai Rasulallah.” Dengan jawaban demikian, tentu Beliau amat gembira. Lebih-lebih lagi yang paling gembira adalah Abul Ash dan keluarganya. Dalam suasana kegembiraan itulah Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam meminta kepada Abul Ash untuk mengizinkan Zainab berhijrah dari Makkah ke Al-Madinah. Dan Abul Ash pun berjanji sesampainya di Makkah akan melepaskan Zainab untuk berangkat hijrah ke Al-Madinah.

Sesampainya Abul Ash di Makkah dengan selamat, dia disambut dengan suka cita oleh karib kerabat handai taulan. Orang yang paling bahagia menyambut kedatangan Abul Ash, adalah istri tercinta yang sangat setia kepada Abul Ash. Zainab bintu Rasulillah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam menyambut sang suami dengan muka berseri-seri penuh kehangatan karena kerinduan yang tak tertahankan. Namun sang suami tetap murung meskipun orang-orang di sekitarnya bersuka cita menyambutnya. Tanda kemurungan di wajahnya menimbulkan pertanyaan penuh keheranan dalam diri Zainab khususnya. Ia tak tahan lagi menyimpan keheranan itu, sehingga dalam pertemuan empat mata dengan sang suami, ditanyakanlah kepadanya. Maka sang suamipun dengan berat hati menjelaskan kepada Zainab tentang kegundahannya. “Engkau harus berpisah denganku demi janjiku kepada ayahmu. Engkau harus berangkat menuju Yatsrib (nama kota Al Madinah sebelum Islam) untuk hidup di sana bersama ayahmu.” Mendengar penjelasan sang suami, Zainab tertegun dan tak mampu berucap sepatah katapun. Dia bingung antara kesedihannya harus berpisah dengan suami tercinta dan kegembiraan karena mendapat kesempatan berhijrah untuk bergabung dengan sang ayah yang jauh lebih dia cintai daripada suaminya. Keimanannya terus-menerus memanggil dia untuk berhijrah dari kota Al-Makkah Al-Mukarramah menuju kota Al-Madinah An-Nabawiyah.

 

Zainab tak panjang pikir lagi demi mendengar izin dari sang suami, diapun segera berkemas-kemas untuk membawa kedua putra putrinya berangkat hijrah ke Al-Madinah. Sementara itu Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam mengirim Zaid bin Haritsah dan seorang lagi dari kalangan Anshar untuk mengawal Zainab dan kedua putra putrinya dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah. Ketika persiapan berangkat telah dianggap selesai, saudara kandung sang suami yaitu Kinanah bin Ar-Rabi’ mempersilakan Zainab menaiki ontanya yang telah dipasang pada punggung onta itu tenda yang menandakan bahwa perempuan yang menungganginya akan menempuh perjalanan jauh. Waktu itu Zainab dalam keadaan hamil anak ketiga. Dan Kinanah bin Rabi’ ditugasimengantar Zainab dan kedua putra putrinya untuk keluar dari kota Makkah sampai ketemu dengan Zaid bin Haritsah. Kinanah mengawal dan menuntun onta yang ditumpangi Zainab dan putra putrinya. Ia bersenjatakan busur panah dan anak panahnya dan mengajak keluar Zainab di siang hari yang terik. Kepergian Zainab sempat dilihat oleh beberapa orang dari kalangan musyrikin Quraisy. Sehingga berlarianlah orang untuk mengejar rombongan Zainab. Dan belum sampai Zainab keluar kota, dua orang tokoh pemuda Quraisy yang bernama Habbar bin Al-Aswad bin Al-Mutthalib bin Asad bin Abdul Uzza dan Nafi’ bin Abdi Qais Al-Fihri, berhasil mengejar rombongan itu. Sehingga keduanya langsung mengancam Zainab dengan tombak yang hendak dilamparkan ke arahnya. Kinanah pengawal Zainab segera memasang anak panahnya pada busurnya siap untuk dilucurkan ke arah kedua pemuda Quraisy itu. Sehingga Zainab mengalami ketegangan yang luar biasa dan akibatnya gugurlah janin yang ada di kandungannya. Zainab mengalami pendarahan yang dahsyat dan sangat lemas karenanya. Di saat yang demikian datanglah Abu Sufyan bersama rombongan para tokoh-tokoh Quraisy dan langsung berteriak kepada Kinanah: “Wahai lelaki, tahanlah anak panahmu agar kami dapat berbicara denganmu.” Maka Kinanahpun menurunkan anak panah dari busurnya. Abu Sufyanpun mendekat kepadanya sembari menasehatinya: “Engkau tidak benar dengan tindakanmu ini. Karena engkau keluar dari Makkah dengan wanita ini di hadapan orang-orang dengan terang-terangan. Padahal engkau tahu bagaimana musibah dan malapetaka yang barusan menimpa kita dan pukulan yang dihantamkan kepada kita oleh Muhammad. Sehingga orangpun akan merasa dengan keluarmu terang-terangan seperti ini membawa putri Muhammad untuk diantarkan kepadanya, adalah sebagai bukti kelemahan dan kehinaan kita orang Quraisy di hadapan Muhammad sebagai akibat musibah kekalahan perang yang baru saja menimpa kita. Demi umurku, sungguh kita tidak mempunyai kepentingan apa-apa untuk menahannya dari keinginannya berangkat menemui bapaknya. Dan sama sekali kita tidak berniat untuk membalaskan kemarahan kita kepada bapaknya dengan menyakiti putrinya. Akan tetapi pulanglah kembali kerumahmu di siang hari ini dengan wanita itu. Sehingga bila telah reda suara-suara kemarahan orang terhadap peristiwa ini dan orang Quraisypun merasa puas karena telah berhasil memaksa putri Muhammad untuk kembali ke Makkah. Maka silakan di saat demikian, engkau berangkatkan wanita itu dengan secara tersembunyi dan antarkan dia ke tempat ayahnya.” Mendengar nasehat ini, Kinanahpun segera membawa kembali ke Makkah, Zainab dan kedua putrinya. Dan beberapa hari setelah itu ketika orang terlelap dalam tidurnya, Kinanah membawa Zainab dan kedua putra putrinya keluar dari kota Makkah dan mengantarkannya dengan rahasia untuk menemui Zaid bin Haritsah dan seorang dari Anshar di luar kota Makkah yang telah menantinya sejak beberapa hari sebelumnya di suatu tempat yang bernama Wadi Ya’jaj. Dan dari tempat itu Zainab dan kedua putrinya diantarkan ke Al-Madinah oleh rombongan Zaid bin Haritsah. Sehingga sampailah Zainab ke pangkuan Ayah tercinta dengan membawa berbagai kepiluan yang dirasakannya demi menjalankan kewajiban Hijrah di jalan Allah dan Rasul-Nya.

 

BERKUMPUL KEMBALI DENGAN SUAMI TERCINTA

Kini Zainab telah berkumpul kembali dengan ayah yang sangat dicintainya di kota Al Madinah. Namun harapan di hati Zainab sebagai istri yang setia terhadap suaminya, tetap saja diadukan kepada Allah Ta’ala dalam doa yang terus menerus dipanjatkan kepada-Nya, kiranya sang suami dianugerahi petunjuk oleh-Nya kepada Islam dan kemudian menyusul istri dan mertuanya berhijrah ke Al-Madinah. Zainab tak pernah berputus asa mendoakan Abul Ash untuk itu. Ia terus meratap dan menangis kepada Allah meminta belas kasih-Nya bagi sang suami tercinta. Hari-hari penantian demikian panjang bagi Zainab, dan dia memang wanita Mu’minah yang amat yakin dengan janji pertolongan Allah terhadap hamba-Nya yang terus meminta kepada-Nya. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam menempatkan Zainab dan kedua putrinya di rumah tersendiri agar lebih leluasa membina kedua putra putrinya. Si kecil Ali dan Umamah menjadi pelipur lara bagi ibu yang terus saja merindukan kedatangan kekasihnya.

 

Di suatu hari kaum Muslimin diperintah oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam untuk menghadang kafilah dagang kaum musyrikin Quraisy. Saat itu tertangkaplah satu kafilah dagang yang kebetulan lewat. Kalangan musyrikin Quraisy yang ada dalam kafilah itu berhasil melarikan diri sambil meninggalkan segenap barang dagangannya. Maka kaum Muslimin pun membawa harta rampasan itu ke hadapan Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Dan di keheningan malam yang kelam menjelang terbitnya fajar, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu rumah Zainab. Hati Zainab agak berdebar mendengar ketukan yang sangat dikenalnya itu. Zainab meyakinkan dugaannya, gerangan siapa yang mengetuk itu. Dari balik pintu ada jawaban: “Aku Abul Ash bin Ar-Rabi’ ayahnya Ali dan Umamah.” Zainab amat terkejut mendengar jawaban itu dan tanpa berpikir panjang lagi segera diapun membukakan pintu bagi orang yang dikasihinya itu. Abul Ash dipersilakan masuk dan pintu segera ditutup. Diceritakanlah oleh Abul Ash kepada Zainab bahwa dia datang ke rumah ini dengan sangat tersembunyi dan hati-hati. Karena Abul Ash melarikan diri dari kejaran kaum Muslimin yang menghadang kafilah dagangnya. Abul Ash berusaha meyakinkan Zainab bahwa barang dagangan kafilahnya yang dirampas kaum Muslimin itu adalah titipan orang-orang Quraisy di Makkah dan dia harus mengembalikannya. Karena itu dia memohon dengan sangat kepada Zainab untuk menyatakan perlindungan hukum bagi Abul Ash dan melobi ayahnya untuk mengembalikan barang rampasan itu. Maka dengan besarnya harapan Zainab agar kekakuan hati Abul Ash untuk menolak ajakan masuk Islam kiranya dapat ditaklukkan dengan akhlaq yang mulia, Zainab langsung keluar rumah dalam suasana kaum Muslimin sedang bersiap-siap menunaikan shalat subuh berjamaah dengan Rasulillah di masjid. Di saat demikian itu Zainab berteriak sejadi-jadinya menyatakan perlindungannya bagi Abul Ash. Teriakan itu didengar oleh banyak kaum Muslimin dan juga didengar oleh Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam. Dan setelah beliau memimpin salat shubuh di masjid beliau, langsung saja beliau bertanya kepada segenap jamaah: “Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?” Para jamaah pun menjawab: “Ya, kami mendengar apa yang anda dengar.” Maka Rasulullah pun langsung berdiri dan keluar masjid menuju ke rumah Zainab putrinya. Beliau memperingatkan putrinya untuk jangan terlalu dekat dengan Abul Ash karena dia belum masuk Islam. Dan Zainab meminta kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam untuk memerintahkan kepada kaum Muslimin guna mengembalikan seluruh harta yang dirampas dari kafilah dagangnya Abul Ash.

 

Beliau sangat iba demi melihat permintaan Zainab yang sangat memelas itu. Karena beliau sangat tahu betapa putrinya ini sangat mencintai Abul Ash dan juga beliau mengenal betapa akhlaq Abul Ash yang mulia dan terhormat meskipun dia belum jua mau memeluk Islam. Beliau adalah orang yang selalu mengingat kebaikan orang meskipun orang itu kafir. Ketika Abu Lahab yang notabene adalah paman beliau sendiri memaksa putra-putranya menceraikan putri-putri Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dengan penuh kehinaan, Abul Ash justru sangat memuliakan Zainab dan melindunginya sebagai istri yang amat dicintainya. Ketika Abul Ash dibebaskan dari status tawanan perang Badr tanpa tebusan apapun, dia berjanji kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam untuk mengijinkan Zainab berangkat hijrah ke Al-Madinah dan membantunya untuk meninggalkan kota Makkah. Dan Abul Ash memenuhi janjinya sehingga Zainab akhirnya dapat menjalankan hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya dengan sempurna. Semua kebaikan Abul Ash ini sangat dikenang oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Sehingga beliaupun meluluskan permintaan putri beliau yang amat dicintainya itu. Namun beliau sangat kuat berpegang teguh dengan syari’at Allah, sehingga untuk meluluskan permintaan putrinya itu beliau mengajak musyawarah para Shahabat beliau dengan menyatakan kepada mereka: “Harta kafilah dagang Abul Ash telah kalian rampas dengan sah. Namun bila kalian mau, kalian kembalikan saja seluruh harta itu kepadanya dan ini yang aku senangi. Akan tetapi bila kalian tidak mau mengembalikannya, jadilah harta itu sebagai fai’ yang Allah berikan bagi kalian.” Mendengar omongan beliau ini, kaum Muslimin dengan aklamasi menyatakan pilihannya untuk mengembalikan semua harta itu kepada Abul Ash dengan penuh keikhlasan. Dan Abul Ash menerima pengembalian semua harta itu dengan suka cita.

Abul Ash bergegas membawa harta kafilah dagangnya kembali ke Makkah dan sesampainya di Makkah dia menunaikan segenap harta itu kepada masing-masing pemiliknya dengan sempurna. Dan setelah itu Abul Ash bertanya kepada mereka: “Apakah aku telah menunaikan dengan sempurna seluruh harta milik kalian yang kalian titipkan kepadaku?” Merekapun serentak menjawab: “Bahkan engkau telah menunaikan dengan sempurna seluruh apa yang kami titipkan kepadamu.” Dengan jawaban mereka yang demikian itu Abul Ash amat lega, karena gengsi dan kehormatannya telah diselamatkan oleh Muhammad bin Abdillah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Abul Ash adalah orang yang sangat gigih menjunjung kehormatan dirinya dengan akhlaq yang mulia. Dan hal ini telah diakui oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Karena itu Abul Ash sangat luluh hatinya dengan sikap yang mulia dan terhormat dari Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam serta amat menghargai kehormatan orang meskipun belum masuk Islam. Akhlaq yang mulia inilah yang meluluhkan kekerasan hati Abul Ash untuk kemudian merasakan dan melihat kebenaran Islam. Ia tidak punya pilihan lain, kecuali mengikuti suara hati kecilnya untuk mengingkrarkan dua kalimat Syahadat. Abul Ash menegaskan di hadapan para tokoh-tokoh Quraisy: “Ketahuilah, sesungguhnya aku ingin menyatakan masuk Islam ketika aku masih di Madinah. Tetapi karena aku kuatir kalian menganggap bahwa aku masuk Islam karena ingin memakan harta kalian yang ada padaku, maka aku menundanya sampai aku telah mengembalikan segenap harta kalian dengan sempurna. Dan sekarang ketauhilah oleh kalian, bahwa aku telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah dan aku bersaksi pula bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah yang membawa kebenaran. Aku setelah ini akan hijrah ke Madinah untuk bergabung dengan saudara-saudaraku Kaum Muslimin di sana.” Para tokoh musyrikin Quraisy hanya tertegun lemas mendengar pernyataan Abul Ash dan mereka tak mampu berbuat apa-apa ketika melihat Abul Ash terang-terangan di hadapan mereka berangkat menuju kota Al-Madinah meninggalkan kota Al-Makkah.

 

SUKA CITA MENYAMBUT SUAMI YANG TERCINTA

Berita masuk Islamnya Abul Ash telah sampai ke Al-Madinah, meskipun dia masih di perjalanan. Para kafilah yang mendahului keberangkatan Abul Ash dari Makkah telah menyampaikan berita penting ini kepada para penggembala kambing ketika kafilah itu melewati mereka menuju negeri Syam. Dan para penggembala itu menyampaikannya kepada kaum Muslimin di Al-Madinah. Tentu kaum Muslimn amat gembira dengan berita ini, karena mereka tahu betapa Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam menghormati Abul Ash dan lebih-lebih lagi putri Rasulullah sangat mencintai Abul Ash dan merindukannya untuk datang ke Madinah sebagaiMuhajir di jalan Allah. Berita ini juga telah sampai ke telinga Zainab dan diapun terhenyak dari segala lamunan kerinduannya. Dia dalam harap dan cemas, kiranya Abul Ash segera sampai di Madinah dengan selamat dan sejahtera. Yang berarti impian kerinduannya akan segera terwujud. Hari demi hari dia nantikan, rasanya di saat demikian masa sehari itu berjalan sangat lama. Dia terus memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala untuk Melindungi Abul Ash dari segala mara bahaya dalam perjalanannya dari Makkah ke Madinah. Dia bersyukur kepada Allah yang telah menunjuki Abul Ash untuk masuk Islam dengan penuh kemuliaan. Dan akhirnya Abul Ash sampai dengan selamat di kota Madinah. Kaum Muslimin menyambutnya dengan suka cita dan langsung mengantarkannya ke Masjid untuk menemui Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam. Kaum Muslimin menyaksikan, betapa berseri-serinya wajah Rasulullh shallallahu `alaihi wa alihi wasallam ketika menyambut Abul Ash dalam keadaan telah beriman dan berhijrah. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam langsung menggandeng Abul Ash ke rumah Zainab dan mempertemukannya dengannya sebagai suami istri tanpa memperbaharui akad nikahnya. Allah Ta’ala Maha Tahu, saat kapan yang paling baik untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Karena Dia berbuat selalu dengan Hikmah-Nya yang Maha Sempurna. Baru sekarang Zainab meneguk bahagia setelah kurang lebih empat belas tahun berdoa dan berdoa mengharap kepada Allah Ta’ala untuk menunjuki Abul Ash masuk Islam. Baru sekarang Zainab merasakan bahagia berkumpul dengan suami dalam keadaan seiman. Allah Maha Sempurna Hikmah-Nya, Dia tidak segera mengabulkan doa Zainab sehingga karenanya tampak nyata betapa kuatnya kesabaran hamba-Nya ini dalam menanti pertolongan Allah dan betapa mulianya dia dalam kesetiaan yang dipersembahkan kepada suaminya. Lebih dari itu ditunjukkan pula betapa mulianya akhlaq Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dalam membalas budi baik orang meskipun dari orang yang belum masuk Islam. Bahkan lebih dari itu semua, apa yang Allah taqdirkan dengan kejadian ini semakin menunjukkan betapa Islam itu adalah agama rahmah dan mengajarkan sikap pemaaf dan penyayang dan tidak gampang menghukumi dengan kebengisan dan amat mempertimbangkan keadilan serta hak orang.

 

 

MENINGGAL DUNIA

Sejak dia keguguran di saat menjelang keluar kota Makkah dalam rangka hijrah ke Madinah, Zainab terus menerus mengalami pendarahan pada rahimnya. Dan akhirnya setelah dia puas dalam berumah tangga di kota Madinah dengan suami tercinta dan dua anak yang dihasilkan dari cinta mereka berdua, penyakit Zainab semakin serius sehingga ia mengalami pendarahan yang semakin hebat. Akhirnya pada tahun 8 Hijriah, Allah Ta’ala memanggil Zainab ke alam barzakh. Dia meninggal dunia dengan keridlaan dan cinta suaminya kepadanya. Dia pergi ke alam kubur dengan diiringi doa yang tulus dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam serta cucuran air mata kesedihan. Kaum Muslimin ikut bersedih melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam bersedih. Abul Ash ditinggal pergi dengan seribu satu kenangan suka duka kesetiaan dan cinta selama berumah tangga dengan Zainab. Kedua putra putrinya melepas ibunda dengan kesedihan pula. Dan ini memang taqdir Allah yang tidak bisa ditolak oleh siapapun dari makhluk Allah Ta’ala. Selamat jalan Zainab, teladanmu sebagai Mu’minah, Muhajirah, dan wanita yang sangat setia kepada suaminya terus dikenang oleh segenap kaum Mu’minin. Perjuanganmu sungguh tak sia-sia. Semoga putri-putri Muslimat dan Mu’minat meneladani keimanan, kesabaran, dan kesetiaanmu. Amin.

MUKJIZAT-MUKJIZAT NABI MUHAMMAD SHALALLAHU ALAYHI WASSALAM

Irhasat , Tanda-Tanda Nubuwah

Tradisi Islam banyak menceritakan bahwa pada masa kelahiran dan masa sebelum kenabian, Nabi Muhammad SAW sudah diliputi banyak irhasat (pertanda).[4] Muhammad dilahirkan pada tanggal 22 April570 di kalangan keluarga bangsawan Arab, Bani HasyimIbnu Hisyam, dalam Sirah Nabawiyah menuliskan Muhammad memperoleh namanya dari mimpi ibunya,[5] Aminah binti Wahab ketika mengandungnya. Aminah memperoleh mimpi bahwa ia akan melahirkan “pemimpin umat”. Mimpi itu juga yang menyuruhnya mengucapkan, “Aku meletakkan dirinya dalam lindungan Yang Maha Esa dari segala kejahatan dan pendengki.” Kisah Aminah dan Abdul Muthalib juga menunjukkan bahwa sejak kecil Muhammad adalah anak yang luar biasa.[6]

Berikut ini adalah irhasat yang terjadi pada saat sebelum, sesudah kelahiran dan masa kecil Muhammad:

Sebelum dan sesudah kelahiran

  • Aminah binti Wahab, ibu Muhammad pada saat mengandung Rasulullah Muhammad SAW tidak pernah merasa lelah seperti wanita pada umumnya,
  • Raja Khosrow (Kekaisaran Sassania dari Persia) dan para pendita Majusi bermimpi yang menakutkan.[7]
  • Dinding istana Raja Khosrow tiba-tiba retak dan empat belas menaranya Dewan Kekaisaran ini runtuh,[8]
  • Padamnya api yang disembah penganut Agama Majusi secara tiba-tiba,[8]
  • Terjadinya gempa yang merobohkan tempat ibadah di sekitar Kerajaan Rum,
  • Danau dan sawah mengering.[8]
  • Saat melahirkan Muhammad, Aminah binti Wahab tidak merasa sakit seperti wanita sewajarnya.
  • Keluarnya cahaya dari faraj Aminah yang menerangi istana negeri Syam.[9]
  • Muhammad dilahirkan dalam keadaan sudah berkhitan.[10]
  • Lahir dengan tali pusar sudah terputus.[11]

Balita dan kanak-kanak

  • Halimah binti Abi-Dhua’ib, ibu susuan Muhammad dapat menyusui kembali setelah sebelumnya ia dinyatakan telah kering susunya.[12]Halimah dan suaminya pada awalnya menolak Muhammad karena yatim. Namun, karena alasan ia tidak ingin dicemooh Bani Sa’d, ia menerima Muhammad. Selama dengan Halimah, Muhammad hidup nomaden bersama Bani Sa’d di gurun Arab selama empat tahun.[13]
  • Ternak kambing Halimah menjadi gemuk-gemuk dan susunya pun bertambah,[14]
  • Pada usia 5 bulan ia sudah pandai berjalan, usia 9 bulan ia sudah mampu berbicara dan pada usia 2 tahun ia sudah bisa dilepas bersama anak-anak Halimah yang lain untuk menggembala kambing.
  • Abdul Muthalib, kakek Muhammad menuturkan bahwa berhala yang ada di Ka’bah tiba-tiba terjatuh dalam keadaan bersujud saat kelahiran Muhammad. Ia juga menuturkan bahwa ia mendengar dinding Ka’bah berbicara, “Nabi yang dipilih telah lahir, yang akan menghancurkan orang-orang kafir dan membersihkan dariku dari beberapa patung berhala ini, kemudian memerintahkan untuknya kepada Zat Yang Merajai Seluruh Alam Ini.”[15]
  • Ketika Muhammad berusia empat tahun,[16] ia pernah dibedah perutnya oleh dua orang berbaju putih yang terakhir diketahui sebagaimalaikat. Peristiwa itu terjadi di ketika Muhammad sedang bermain dengan anak-anak Bani Sa’d dari suku Badui. Setelah kejadian itu, Muhammad dikembalikan oleh Halimah kepada Aminah.[17] Sirah Nabawiyyah, memberikan gambaran detai bahwa kedua orang itu, “membelah dadanya, mengambil jantungnya, dan membukanya untuk mengelurkan darah kotor darinya. Lalu mereka mencuci jantung dan dadanya dengan salju.”[18] Peristiwa seperti itu juga terulang 50 tahun kemudian saat Muhammad diIsrakan ke Yerusalem lalu keSidratul Muntaha dari Mekkah.[19]
  • Dikisahkan pula pada masa kecil Muhammad, ia telah dibimbing oleh Allah. Hal itu mulai tampak setelah ibu dan kakeknya meninggal. Dikisahkan bahwa Muhammad pernah diajak untuk menghadiri pesta dalam tradisi Jahiliyah, namun dalam perjalanan ke pesta ia merasa lelah dan tidur di jalan sehingga ia tidak mengikuti pesta tersebut.[20]

Masa Remaja Muhammad

  • Pendeta Bahira menuturkan bahwa ia melihat tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad. Muhammad saat itu berusia 12 tahun sedang beristirahat di wilayah Bushra dari perjalannya untuk berdagang bersama Abu Thalib ke Syiria. Pendeta Bahira menceritakan bahwa kedatangan Muhammad saat itu diiringi dengan gumpalan awan yang menutupinya dari cahaya matahari. Ia juga sempat berdialog dengan Muhammad dan menyaksikan adanya sebuah “stempel kenabian” (tanda kenabian) di kulit punggungnya.[21]
  • Tanah yang dilalui oleh unta Muhammad diperpendek jaraknya oleh Jibril, sebelah sisi kanan dijaga oleh Israfil dan sisi kirinya dijaga olehMikail kemudian mendung menaunginya.[22][23]

Mukjizat Agung

Berikut adalah mukjizat-mikjizat yang diperolehnya ketika Muhammad telah menerima wahyu ketika ia berusia 40 tahun. Abu Sa’ad an-Nisaburi menyebutkan dalam bukunya yang berjudul Kitabu Syarafil Musthafa, bahwa kekhususan Muhammad berjumlah enam puluh. Sebagian ulama menyebutkan bahwa Nabi saw. telah dianugerahi tiga ribu mukjizat dan kekhususan. Sedangkan di dalam Al-Quran itu sendiri terdapat sekitar enam puluh ribu mukjizat. [24].

Fisik Rasulullah

  • Dapat melihat dengan jelas dalam keadaan gelap.[25]
  • Wajah Muhammad memancarkan cahaya dikegelapan pada waktu sahur.[26]
  • Dua Sahabat Muhammad dibimbing oleh dua cahaya, setelah bertemunya.[27]
  • Peluh yang keluar dari tubuh Muhammad memiliki bau harum,[28] jika Muhammad berjabat tangan dengan seseorang maka aroma harum itu akan membekas selama beberapa hari ditangan orang tersebut. [29]
  • Muhammad yang sanggup menghancurkan batu besar dengan tiga kali pukulan, dikala menjelang Perang Khandaq, padahal pada saat itu Muhammad belum makan selama 3 hari.[30]

Do’a-Doa Mustajabahnya

  • Mendo’akan kedua mantan menantunya (Uthbah dan Uthaibah) dimakan binatang buas, setelah mereka berkata kasar kepada Muhammad.[32]
  • Mendoakan untuk menumbuhkan gigi salah seorang sahabatnya bernama Sabiqah yang rontok sewaktu perang.
  • Mendoakan supaya Kerajaan Kisra hancur, kemudian doa tersebut dikabulkan.[34]
  • Mendoakan Ibnu Abbas menjadi orang yang faqih dalam agama Islam.[35]

Kharisma dan kewibawaan Muhammad

  • Tatapan mata yang menggetarkan Ghaurats bin Harits, yaitu seorang musuh yang pernah menghunus pedang kearah leher Muhammad.[37]
  • Jin yang bernama Muhayr bin Habbar membantu dakwah Muhammad, kemudian jin itu diganti namanya oleh Muhammad menjadi Abdullah bin Abhar.

Menghilang, menidurkan dan mengalahkan musuh

  • Menghilang saat akan dilempari batu oleh Ummu Jamil, bibi Muhammad ketika ia duduk di sekitar Ka’bah dengan Abu Bakar.[39]
  • Menghilang saat akan dibunuh Abu Jahal dimana saat itu ia sedang salat.[40]
  • Menidurkan 10 pemuda Mekkah yang berencana membunuhnya dengan taburan pasir. Keluarnya beliau melalui orang-orang yang menunggunya di pintu rumahnya untuk membunuhnya.
  • Melemparkan segenggam tanah ke arah musuh sehingga mereka dapat dikalahkan pada Perang Hunain.

Fenomena Alam

  • Menghentikan gempa yang terjadi di Mekkah[41] dan Madinah,[42] dengan cara menghentakkan kakinya dan memerintahkan bukit supaya tenang.
  • Bumi menelan seorang Quraisy yang hendak membunuh Muhammad dan Abu Bakar pada saat hijrah.

Makanan dan minuman

  • Makanan yang di makan oleh Muhammad mengagungkan Nama Allah.[49]
  • Roti sedikit cukup untuk orang banyak.[51]
  • Sepotong hati kambing cukup untuk 130 orang.[52]
  • Makanan yang dimakan tidak berkurang justru bertambah tiga kali lipat.[53]
  • Menjadikan beras merah sebanyak setengah kwintal yang diberikan kepada orang Badui Arab tetap utuh tidak berkurang selama berhari-hari.[54]
  • Ikan al Anbar menjadi hidangan bagi 300 pasukan Muhammad.[55]
  • Menjadikan minyak samin Ummu Malik tetap utuh tidak berkurang walau telah diberikan kepada Muhammad. [56]
  • Wadah yang selalu penuh dengan air, walau sudah dituangkan hingga habis.[61]
  • Mengeluarkan air dari sumur yang ada di tengah gurun pasir, ketika Khalid bin walid pada saat itu masih menjadi musuhnya.[62]
  • Mengeluarkan mata air baru untuk pamannya Abu Thalib yang sedang kehausan.[63]
  • Semangkuk susu yang bisa dibagi-bagikan kepada beberapa orang-orang Shuffah, Abu Hurayrah dan Muhammad.[64]
  • Susu dan kencing unta bisa menyembuhkan penyakit orang Urainah.[65]

Kesaksian Bayi, hewan, tumbuhan dan benda mati atas Kerasulan Muhammad

  • Seorang bayi berumur satu hari bersaksi atas kerasulan Muhammad.[66]
  • Bayi berumur 2 tahun memberi salam kepada Muhammad.[67]
  • Unta besar yang melindungi Muhammad dari kejahatan Abu Jahal.[75]
  • Seekor burung mengadu kepada Muhammad tentang kehilangan anaknya.[76]
  • Pohon menjadi saksi dan dibuat berbicara kepada Muhammad dan orang dusun (Arab Badui).[82][83]
  • Memerintahkan pohon untuk menjadi penghalang ketika Muhammad hendak buang hajat pada suatu perjalanan.[84]
  • Batang kayu yang kering menjadi hijau kembali ditangannya.
  • Permadani yang besaksi atas kerasulan Muhammad atas permintaan Malik bin as-Sayf.[85]
  • Mimbar menangis setelah mendengar bacaan ayat-ayat Allah.[86]
  • Batu kerikil bertasbih ditelapak tangan Muhammad.[90]
  • Memberinya sebatang kayu yang berubah menjadi pedang kepada Ukasyah bin Mihsan, ketika pedangnya telah patah dalam sebuah pertempuran.
  • Berbicara dengan gilingan tepung Fatimah yang takut dijadikan batu-batu neraka.
  • Memerintahkan gilingan tepung untuk berputar dengan sendirinya.[93]
  • Secara tiba-tiba ada sarang laba-laba, dua ekor burung yang sedang mengeramkan telur dan cabang-cabang pohon yang terkulai menutupi mulut gua di Gunung Thur, sewaktu Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran orang Quraisy.[94]

Menyembuhkan

  • Menyembuhkan betis Ibnu al-Hakam yang terputus pada Perang Badar, kemudian Muhammad meniupnya, lalu sembuh seketika tanpa meresakan sakit sedikit pun.
  • Menyembuhkan mata Qatadah tergantung di pipinya yang terluka pada Perang Uhud, kemudian oleh Muhammad mata tersebut dimasukkan kembali dan menjadi lebih indah dari sebelumnya.
  • Menyembuhkan penyakit mata Ali bin Abi Thalib saat pemilihan pembawa bendera pemimpin dalam Perang Khaibar.[96]
  • Menyembuhkan luka gigitan ular yang diderita Abu Bakar dengan ludahnya saat bersembunyi di Gua Hira[97] (dalam kisah lain dikatakan Gua Tsur)[98] dari pengejaran penduduk Mekah.
  • Menyembuhkan luka bakar ditubuh anak kecil yang bernama Muhammad bin Hathib dengan ludahnya.[99]
  • Menyembuhkan luka bakar Amar bin Yasir yang telah dibakar oleh orang-orang kafir.[100]
  • Menyembuhkan anak yang bisu sejak lahir, sehingga bisa berbicara.[101]
  • Menyembuhkan mata ayah Fudayk yang putih semua dan buta.[102]
  • Air seni Muhammad pernah terminum oleh pembantunya yang bernama Ummu Aiman, sehingga menyembuhkan sakit perut pembantunya.[103]
  • Menyembuhkan tangan wanita yang lumpuh dengan tongkatnya.
  • Menyambung tangan orang Badui yang putus setelah dipotong oleh dirinya sendiri sehabis menampar Muhammad.
  • Menyembuhkan putri raja yg cacat tanpa tangan & kaki.

Menghidupkan orang mati

  • Menghidupkan anak perempuan yang telah mati lama dikuburannya.[107]

Hal ghaib dan ru’yah

  • Mengetahui kejadian yang tidak dilihat olehnya.[109]
  • Mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi, yang akan terjadi.
  • Sanggup melihat dibalik punggungnya seperti melihat dari depan.[110][111]
  • Sanggup melihat dan mendengar apa yang ada dilangit dan bumi.[112]
  • Sanggup mengetahui isi hati sahabat dan lawannya.
  • Mengetahui yang terjadi di dalam kubur.[113]
  • Meramalkan seorang istrinya ada yang akan menunggangi unta merah, dan disekitarnya ada banyak anjing yang menggonggong dan orang tewas. Hal itu terbukti pada Aisyah pada saat Perang Jamal di wilayah Hawwab yang mengalami kejadian yang diramalkan Muhammad.[115]
  • Meramalkan istrinya yang paling rajin bersedekah akan meninggal tidak lama setelahnya dan terbukti dengan meninggalnya Zainab yang dikenal rajin bersedekah tidak lama setelah kematian Muhammad.[116]
  • Meramalkan umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan.[118]
  • Mengetahui nasib cucu-cucunya dikemudian hari, seperti nasib Hasan yang akan bermusuhan dengan Mua’wiyyah bin Abu Sufyanbeserta keturunannya. Nasib Husain yang akan dibantai tentara Yazid, anak lelaki Mua’wiyyah disebuah Padang Karbala.[119]
  • Mengetahui akan adanya Piagam Pemboikotan oleh tokoh-tokoh Quraisy.

Mukjizat-Mukjizat Terbesar Muhammad Rasulullah

Mengalami fisik terluka dan sakit

Dari kesemua mukjizat yang dimilikinya, ia pernah mengalami sakit seperti halnya manusia pada umumnya. Keadaan-keadaan yang dialami fisik Muhammad seperti terluka karena pukulan, sabetan pedang bahkan rasa sakit akibat demam sama seperti apa yang sering dialami oleh fisik manusia biasa.

Dalam sejarah Islam, beberapa kali Muhammad terluka dan mengalami kesakitan akibat peperangan dengan musuhnya, di antaranya ketika terjadinya Perang Uhud, dalam kondisi yang sangat kritis itu, ‘Utbah bin Abi Waqqash melempar Muhammad dengan batu sehingga ia terjatuh, mengakibatkan gigi seri bawah kanan terkena dan juga melukai bibir bawahnya.

Kemudian Abdullah bin Syihab Al Zuhry tiba-tiba mendekati Muhammad dan memukul hingga keningnya terluka, tidak hanya itu saja datang pula Abdullah bin Qami’ah seorang penunggang kuda mengayunkan pedang ke bahu Muhammad dengan pukulan yang keras, pukulan pedang itu tidak sampai menembus dan merusak baju besi yang ia kenakan.

Lalu kembali Abdullah bin Syihab Al Zuhry memukul di bagian tulang pipi Muhammad hingga ada dua keping lingkaran rantai topi besi yang terlepas menembus pipi Muhammad dan akibat pukulan pedang itu ia mengalami kesakitan selama sebulan.

Peristiwa lain yang dialami oleh Muhammad, bahwa ia-pun mengalami sakit demam, bahkan menurut hadits dikisahkan demamnya lebih parah, melebihi demam yang dialami dua orang dewasa. Sebagaimana yang pernah diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud.[120]

Apa yang dialami oleh Muhammad seperti yang dikisahkan di atas, menunjukkan bahwa ia juga mengalami keadaan yang sama seperti manusia pada umumnya, sesuai dengan fitrah sebagai manusia biasa.

  • Catatan kaki
  1. ^ Abu Zahra (1990)
  2. ^ Hadits riwayat Muttafaq ‘alaih dengan lafal Muslim
  3. ^ Umar bin Sawad mengatakan bahwa Imam Syafi’i rahimahullah berkata kepadanya, “Apa yang Allah berikan kepada para nabi maka hal itu pun diberikan kepada Nabi Muhammad saw…”
  4. ^ Perbedaan Mukjizat, Irhasat dan Khawariq di www.Scribd.com
  5. ^ Ibnu Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, 1: 293. Makna dari nama Muhammad adalah “Orang yang sering dipuji” atau “Orang yang layak dipuji.”
  6. ^ Ramadan (2007). hal 34
  7. ^ Bihar Al-Anwar, XV, Bab 3, ms 231-248.
  8. ^ a b c Beberapa irhasat (petanda-petanda) kebangkitan seorang rasul telah berlaku beberapa ketika, sebelum kelahiran Rasulullah, di antaranya runtuhan empat belas anjung dewan Kisra Parsi, terpadamnya api yang disembah penganut agama majusi, robohnya gereja-gereja di sekitar Romawi yang sebelum ini penuh sesak dengan para pengunjung, danau dan sawah mengering. (Kisah ini diriwayatkan oleh al- Baihaqi).
  9. ^ Ibnu Sa’d meriwayatkan bahwa ibu Rasulullah (s.a.w) menceritakan: ” Ketika ku melahirkannya, satu cahaya telah keluar dari farajku, menerangi mahligai-mahligai di negeri Syam”, periwayatannya hampir sama dengan apa yang diriwayatkan oleh al-Irbadh bin Sariah.
  10. ^ Rasulullah SAW bersabda: Di antara kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepadaku adalah, aku dilahirkan dalam keadaan sunah dikhitan, karena itu tidak ada orang yang melihat aurat/kemaluanku. (HR. al- Thabrani, Abu Nuaym, al Khatib dan ibn Asakir) (diriwayatkan dari Ibn Abbas, Ibn Umar, Anas, Abu Hurairah. menurut Diya^ al Maqdisi, hadits ini shahih. Al Hakim selain menilai shahih, juga mengatakan mutawatir. Lihat al Khasa^is al kubra, Jlid.1, hal. 90-91)
  11. ^ Kisah dari Ibnu Adiy dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas, al Dhiya al Maqdisi dari Abbas Ibnu Abdul Muthalib dan Ibnu Asakir dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW lahir dalam keadaan tali pusar sudah putus. (Hadist ini tidak sepopuler dan sekuat hadits yang menceritakan kalau Beliau SAW terlahir dalam keadaan sunah dikhitan)
  12. ^ Kauma (2000), hal 42
  13. ^ Ramadan (2007). hal 35
  14. ^ “Halimah kemudian mengambil Muhammad dan dibawanya pergi bersama2 dgn teman2nya ke pedalaman. Dia bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu, ia merasa mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk2 dan susunya pun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yg ada padanya.” Sejarah Hidup Muhammad, karangan Muhammad Husain Haekal, bab III, Muhammad: Dari Kelahiran sampai Perkawinannya, hal 57.
  15. ^ Kauma (2000), hal 43
  16. ^ Menurut pendapat mayoritas pakar sejarah, saat itu Muhammad berusia empat atau lima tahun. Namun, Ibnu Ishaq berpendapat bahwa usia Muhammad saat itu adalah tiga tahun
  17. ^ Ramadan (2007). hal 42
  18. ^ Ibnu Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, 1: 302.
  19. ^ Ramadan (2007), hal 43
  20. ^ Ramadan (2007). hal 46
  21. ^ Ibnu Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, 1: 319 : Ibnu Hisyam dalam bukunya menuturkan bahwa “Stempel Kenabian” adalah tanda yang terdapat pada setiap nabi yang tertulis dalam kitab Pendeta Bahira
  22. ^ Dalam kitab as-Sab’iyyatun fi Mawadhil Bariyyat. Kejadian ini berlangsung selama perjalanan dariSyiria ke pulang ke Mekkah, ketika Muhammad diperintahkan Maysarahmembawakan suratnya kepadaKhadijah saat perjalanan masih 7 hari dari Mekkah. Namun, Muhammad sudah sampai di rumah Khadijah tidak sampai satu hari. Allah memerintahkan pada malaikat JibrilMikail, dan mendung untuk membantu Muhammad. Jibril diperintahkan untuk melipat tanah yang dilalui unta Muhammad dan menjaga sisi kanannya sedangkan Mikail diperintahkan menjaga di sisi kirinya dan mendung diperintahkan menaungi Muhammad. Kauma (2000), hal 90-91
  23. ^[http://teladan98.tripod.com/teladan168.htmNabi Muhammad Pulang Ke Makkah.
  24. ^ Books.Google.com Benarkah Nabi Muhammad & Umatnya Lebih Istimewa hal 39 By Al-Imam Al Hafidz Ahmad bin Muhammad Al Qasthalani. (Lihat Syahru Mawahibil Laduniyyah, V/206)
  25. ^ Diriwayatkan oleh Ibn Adiy, al Baihaqy dan Ibnu ‘Asakir dari ‘Aisyah RA mengisahkan “bahwa Rasululloh SAW dapat melihat dalam keadaan gelap maupun terang”(lihat Al-Khasa’is al-Kubra Karya al-Suyuti jilid1, hal.104)
  26. ^ Aisyah berkata bahwa: “Ketika aku sedang menjahit baju pada waktu sahur (sebelum subuh) maka jatuhlah jarum dari tanganku, kebetulan lampu pun padam, lalu masuklah Rasulullah SAW. Ketika itu juga aku dapat mengutip jarum itu kerana cahaya wajahnya, lalu aku berkata, “Ya Rasulullah alangkah bercahayanya wajahmu! Seterusnya aku bertanya: “Siapakah yang tidak akan melihatmu pada hari kiamat?” Jawab Rasulullah SAW: “Orang yang bakhil.” Aku bertanya lagi: “Siapakah orang yang bakhil itu?” Jawab baginda: “Orang yang ketika disebut namaku di depannya, dia tidak mengucap shalawat ke atasku.”
  27. ^ Diriwayatkan oleh Anas bin Malik: Ada dua orang sahabat Nabi SAW meninggalkan Nabi SAW. Ditengah malam yang gelap gulita keduanya berjalan dengan ada dua sinar yang menerangi perjalanan keduanya yang ada di depannya. Tatkala keduanya berpisah diperempatan jalan, masing-masing setiap orang ditemani sebuah sinar yang membimbing mereka pulang ke rumah.” (Sahih Bukhari, Juz 1, Buku8, no 454).
  28. ^ Dari Anas bin Malik RA: Nabi biasa memasuki rumah Ummu Sulaim dan tidur di atas kasurnya sedangkan Ummu Sulaim sedang pergi. Anas berkata: “Pada suatu hari Rasulullah SAW datang dan tidur di atas kasur Ummu Sulaim, kemudian Ummu sulaim dipanggil dan dikatakan padanya: Ini adalah Nabi SAW tidur di rumahmu dan di atas kasurmu. Anas berkata : Ummu Sulaim datang dan Nabi sedang berkeringat, lalu keringatnya tersebut dikumpulkan di atas sepotong kulit kemudian Ummu Sulaim membuka talinya dan mulai meyerap keringat tersebut lalu memerasnya ke dalam bejana, maka Nabi kaget dan berkata: Apa yang kamu lakukan Ummu Sulaim? Ummu Sulaim berkata: Wahai Rasulullah kami mengharapkan berkahnya bagi anak-anak kami” Beliau berkata: Engkau benar. (HR Muslim 4/1815)
  29. ^ Dikisahkan oleh Abu Juhaifah.
  30. ^ Diriwayatkan Jabir r.a. (Hadits sahih Bukhari,Volume 5, Book 59, Number 427).
  31. ^ Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, part 1, page 391.
  32. ^ Uthbah dan Uthaibah pergi kerumah Rasulallah dengan membawa kedua putri beliau. Meraka berkata kepada Rasul, “Wahai Muhammad! Aku ceraikan putrimu dan aku menjauhi agamamu dan aku tidak akan mengikutimu selama-lamanya!” Melihat kelakuan mantan menantunya yang tidak sopan itu beliau kemudian berdoa, “Semoga mereka mati dengan cara dimakan binatang buas.”
  33. ^ Diriwayatkan daripada Anas r.a daripada Ummu Sulaim katanya: Wahai Rasulullah! Aku menjadikan Anas sebagai khadammu, tolonglah berdoa untuknya. Rasulullah SAW pun berdoa: Ya Allah, banyakkanlah harta dan anaknya dan berkatilah apa yang diberikan kepadanya. Berkata Anas: “Demi Allah, harta bendaku memang banyak dan anak begitu juga anak dari anakku memang banyak sekali dan sekarang sudah berjumlah lebih dari 100 orang. (Hadits sahih Bukhari, Muslim, kitab kelebihan para sahabat).
  34. ^ Shahih Al-Bukhari dan Muslim.
  35. ^ Shahih Al-Bukhari dan Muslim.
  36. ^ “Aku dan Abu Jahm pernah berkomplot untuk membunuh Rasulallah SAW. Maka aku atur rencana jahat itu bersama Abu Jahm, dan kami sepakati pembunuhan dilaksanakan pada malam hari. Pada suatu malam, berangkatlah kami menuju rumah Rasulallah SAW. Setelah mendengar ketokan kami, pintu segera dibuka oleh beliau sambil membaca surah al-Haqqah. Rasulallah SAW. menatap kami dengan tajam, tiba-tiba Abu Jahm memukul lenganku seraya berkata, ‘Selamatkanlah dirimu dengan segera.’ Akhirnya kami berdua lari terbirit-birit.” (Dikisahkan oleh Umar bin al-Khaththab). Peristiwa yang dialami oleh Umar tersebut termasuk salah satu perkara yang menyebabkan dirinya masuk Islam. 50 mukjizat Rasulullah oleh Fuad Kauma, hal. 13-15.
  37. ^ Hadits riwayat Imam Bukhari.
  38. ^ Kauma (2000), hal 23-25
  39. ^ Ibid, hal 185-187
  40. ^ Ibid, hal 28
  41. ^ Gempa pertama di Mekkah, Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Kuzaimah, ad-Daruquthni, dan lainnya dari Utsman bin Affan bahwa dia berkata, “Apakah kalian tahu Rasulullah pernah berada di atas Gunung Tsabir di Mekkah. Bersama beliau; Abu Bakar, Umar dan saya. Tiba-tiba gunung berguncang hingga bebatuannya berjatuhan. Maka Rasulullah menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Tsabir! Yang ada di atasmu tidak lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang Syahid.” (Hadits riwayat Tirmidzi, Ibnu Kuzaimah, ad-Daruquthni, dan lainnya)
  42. ^ Gempa kedua di Madinah, hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata: “Nabi naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba gunung berguncang. Maka Nabi menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Uhud! Yang ada di atasmu tiada lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid.” Di antara pelajaran besar dalam dua riwayat di atas bahwa ternyata gunung tidak layak berguncang saat ada 4 manusia terbaik ada di atasnya. Nabi harus menghentakkan kaki dan mengeluarkan perintah kepada gunung untuk menghentikan guncangan tersebut. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
  43. ^ Diriwayatkan oleh Anas bin Malik. (Sahih Bukhari, Volumn 002, Bukukan 017, Hadith Nomor;Jumlah 143).
  44. ^ Diriwayatkan oleh Anas: Pernah lama Madinah tidak turun hujan, sehingga terjadilah kekeringan yang bersangatan. Pada suatu hari Jumat ketika Rasulullah SAW sedang berkotbah Jumat, lalu berdirilah seorang Badui dan berkata: “Ya Rasulullah, telah rusak harta benda dan lapar segenap keluarga, doakanlah kepada Allah agar diturunkan hujan atas kita. Berkata Anas: Mendengar permintaan badui tersebut, Rasulullah mengangkat kedua tangannya ke langit (berdoa). Sedang langit ketika itu bersih, tidak ada awan sedikitpun. Tiba-tiba berdatanganlah awan tebal sebesar-besar gunung. Sebelum Rasulullah SAW turun dari mimbarnya, hujan turun dengan selebat-lebatnya, sehingga Rasulullah SAW sendiri kehujanan, air mengalir melalui jenggot Beliau. Hujan tidak berhenti sampai Jumat yang berikutnya, sehingga kota Madinah mengalami banjir besar, rumah-rumah sama terbenam. Maka datang Orang Badui berkata kepada Rasulullah SAW, Ya Rasulullah, sudah tenggelam rumah-rumah, karam segala harta benda. Berdoalah kepada Allah agar hujan diberhentikan di atas kota Madinah ini, agar hujan dialihkan ketempat yang lain yang masih kering. Rasulullah SAW kemudian menengadahkan kedua tangannya ke langit berdoa: Allahuma Hawaaliinaa Wa laa Alainaa (Artinya: Ya Allah turunkanlah hujan ditempat-tempat yang ada disekitar kami, jangan atas kami). Berkata Anas: Diwaktu berdoa itu Rasulullah SAW menunjuk dengan telunjuk beliau kepada awan-awan yang dilangit itu, seakan-akan Beliau mengisyaratkan daerah-daerah mana yang harus didatangi. Baru saja Rasulullah menunjuk begitu berhentilah hujan di atas kota Madinah. (Sahih Bukhari, juz 8 no 115).
  45. ^ Peristiwa tertahannya matahari tenggelam tidak pernah terjadi kecuali satu atau dua kali saja. Sebagaiman dikisah oleh Abdullah ibn Mas^ud, ia Berkata: “Kami bersama Rasulullah SAW dalam satu peperangan, sampai akhirnya merasa kelelahan, hingga nampak wajah yang pucat dan lesu pada pasukan kaum muslimin dan wajah gembira pada kelompok munafik.” Setelah melihat kondisi seperti ini Beliau berkata: “Demi Allah, matahari tidak akan tenggelam sampai kalian ke daerah Ruzaq.” Utsman tahu bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak bohong, Beliau lalu membeli 14 ekor unta sekaligus makanannya. 9 ekor di antaranya diberikan kepada Nabi SAW, wajah kaum muslimin langsung berseri-seri, sebaliknya wajah kaum munafik merunyam. Lalu Rasulullah mengangkat tangannya sampai terlihat putih ketiaknya.Beliau berdoa mendoakan kebaikan untuk Utsman. (Hadits riwayat al Baihaqy) (lihat Mu^jam Kabir karya al Tabarani, hadist no: 7255). Kisah lainnya adalah sebagai berikut Tercegahnya matahari dari terbenam. Waktu beliau melakukan perjalanan pulang dari Isra’, beliau berjumpa dengan rombongan kafilah; dan ini diberitahukan kepada orang-orang musyrik bahwa rombongan kaiilah itu akan tiba pada hari anu. Tetapi ketika hari yang disebutkan beliau itu tiba, rombongan tersebut masih juga belum datang, padahal matahari sudah hampir tenggelam. Maka dengan izin Allah, matahari itu bertahan, hingga akhirnya rombongan kalilah yang disebutkan oleh beliau itu datang. Matahari kembali muncul sesudah tenggelam. Peristiwa ini terjadi berkata doa Nabi s.a.w. untuk Ali bin Abi Thalib r.a. agar Ali dapat menunaikan salat Ashar pada waktunya.
  46. ^ “Telah hampir saat (qiamat) dan telah terbelah bulan.” (Quran, 54:1). Berita tentang terbelahnya bulan pada zaman Nabi SAW banyak diriwayatkan oleh para Shahabat, sehingga hadis tentang terbelahnya bulan adalah hadis Muthawatir. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Masud: “Pada masa hidup Nabi SAW, bulan terbelah dua dan melihat ini Nabi SAW bersabda: “Saksikanlah!” (Sahih Bukhari, juz 4 no 830). Diriwayatkan oleh Anas: “Ketika orang-orang Mekah meminta Rasulullah SAW untuk menunjukkan mukjizat, maka Nabi menunjukkan bulan yang terbelah.” (Sahih Bukhari, juz 4 no 831). Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas: “Bulan terbelah menjadi dua pada masa hidup Nabi SAW.” (Sahih Bukhari, juz 4 no 832). Diriwayatkan oleh Anas bin Malik: “Orang-orang Mekah meminta Nabi SAW untuk menunjukkan sebuah mukjizat. Maka Beliau menunjukkan bulan yang terbelah menjadi dua bagian, sehingga gunung Hira’ itu dapat mereka lihat di antara dua belahannya.”(Sahih Bukhari, juz 5 no 208). Diriwayatkan oleh ‘Abdullah: “Diwaktu kami bersama-sama Rasulullah SAW di Mina, maka terbelah bulan, lalu sebelahnya berlindung dibelakang gunung, maka sabda Rasulullah SAW: “Saksikanlah! ” Saksikanlah!”(Sahih Bukhari, juz 5 no 209). Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas: “Pada masa hidup Nabi SAW bulan terbelah menjadi dua.” (Sahih Bukhari, juz 5 no 210). Diriwayatkan oleh ‘Abdullah: “Bulan terbelah menjadi dua.” (Sahih Bukhari, juz 5 no 211). Lihat juga di:(Sahih Bukhari, juz 6 no 350) (Sahih Bukhari, juz 6 no 387) (Sahih Bukhari, juz 6 no 388) (Sahih Bukhari, juz 6 no 389) (Sahih Bukhari, juz 6 no 390) (Sahih Bukhari, juz 6 no 391)
  47. ^ (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa’l Janna wa’n-Nar juz 039 no 6721) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa’l Janna wa’n-Nar juz 039 no 6724) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa’l Janna wa’n-Nar, juz 039 no 6725) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa’l Janna wa’n-Nar, juz 039 no 6726) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa’l Janna wa’n-Nar juz 039 no 6728) (Sahih Muslim, Kitab Sifat Al-Qiyamah wa’l Janna wa’n-Nar juz 039 no 6729) (Hadits sahih Muslim, juz 039 no 6730). Hadits riwayat Muslim No.5010, 5013, 5015
  48. ^ Wanita Yahudi yang memberi racun di daging kambing bernama Zainab binti Hârits, Dari Ibnu Syihâb, ia mengatakan , “Dahulu Jâbir radhiyallâhu’anhu menceritakan bahwa ada seorang wanita Yahudi dari penduduk Khaibar yang meracuni seekor kambing bakar. Kemudian menghadiahkannya kepada Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam”. Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam pun mengambil paha kambing itu dan memakannya. Beberapa Sahabat pun juga ikut makan bersama Beliau. Tiba-tiba Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallamberkata kepada para Sahabat, “Jangan kalian makan !.” Lalu Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam mengutus seseorang untuk memanggil wanita (yang memberi kambing) itu dan wanita itu pun datang.Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam pun segera bertanya kepadanya, “Apakah kamu telah meracuni kambing ini?” Wanita itu menjawab, “Siapa yang telah memberitahumu?” Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Paha kambing ini yang telah mengabariku.” Wanita itu berkata, “Ya” (aku telah meracuninya). Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bertanya lagi, “Apa yang kamu kehendaki dari perbuatanmu ini?” Wanita itu berkata dalam hati, “Jika dia seorang nabi, makanan pasti itu tidak akan membahayakannya. Dan jika dia bukan seorang nabi, maka kami akan selamat dari gangguannya.” Selanjutnya Rasulullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam memaafkan wanita itu dan tidak menghukumnya. Majalah As-Sunnah Edisi 10/Thn. XIII/Muharram 1431H/Januari 2010M.
  49. ^ Diriwayatkan oleh Abdullah: “Sesungguhnya kami mendengar makanan yang dimakan Rasulullah SAW mengagungkan nama Allah.” (Sahih Bukhari, juz 5 no 779).
  50. ^ Diriwayatkan daripada Jabir bin Abdullah katanya: Semasa parit Khandak digali, aku melihat keadaan Rasulullah SAW dalam keadaan sangat lapar. Maka akupun segera kembali ke rumahku dan bertanya kepada isteriku, apakah engkau mempunyai sesuatu (makanan)? Kerana aku melihat Rasulullah SAW tersangat lapar. Isteriku mengeluarkan sebuah beg yang berisi satu cupak gandum, dan kami mempunyai seekor anak kambing dan beberapa ekor ayam. Aku lalu menyembelihnya, manakala isteriku menumbuk gandum. Kami sama-sama selesai, kemudian aku memotong-motong anak kambing itu dan memasukkannya ke dalam kuali. Apabila aku hendak pergi memberitahu Rasulullah SAW, isteriku berpesan: Jangan engkau memalukanku kepada Rasulullah SAW dan orang-orang yang bersamanya. Aku kemudiannya menghampiri Rasulullah SAW dan berbisik kepada Baginda: Wahai Rasulullah! Kami telah menyembelih anak kambing kami dan isteriku pula menumbuk satu cupak gandum yang ada pada kami. Karena itu, kami menjemput baginda dan beberapa orang bersamamu. Tiba-tiba Rasulullah SAW berseru: Wahai ahli Khandak! Jabir telah membuat makanan untuk kamu. Maka kamu semua dipersilakan ke rumahnya. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepadaku: Jangan engkau turunkan kualimu dan jangan engkau buat roti adonanmu sebelum aku datang. Aku pun datang bersama Rasulullah SAW mendahului orang lain. Aku menemui isteriku. Dia mendapatiku lalu berkata: Ini semua adalah karena kamu, aku berkata bahawa aku telah lakukan semua pesananmu itu. Isteriku mengeluarkan adonan roti tersebut, Rasulullah SAW meludahinya dan mendoakan keberkatannya. Kemudian Baginda menuju ke kuali kami lalu meludahinya dan mendoakan keberkatannya. Setelah itu Baginda bersabda: Sekarang panggillah pembuat roti untuk membantumu dan cedoklah dari kualimu, tapi jangan engkau turunkannya. Ternyata kaum muslimin yang datang adalah sebanyak seribu orang. Aku bersumpah demi Allah, mereka semua dapat memakannya sehingga kenyang dan pulang semuanya. Sementara itu kuali kami masih mendidih seperti sediakala. Demikian juga dengan adonan roti masih tetap seperti asalnya. Sebagaimana kata Ad-Dahhak: Masih tetap seperti asalnya. (Sahih Bukhari, Muslim, kitab Minuman).
  51. ^ Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya: Abu Talhah telah berkata kepada Ummu Sulaim: Aku mendengar suara Rasulullah SAW begitu lemah. Tahulah aku baginda dalam keadaan lapar. Apakah engkau mempunyai sesuatu? Ummu Sulaim menjawab: Ya! Kemudiannya dia menghasilkan beberapa buku roti dari gandum dan setelah itu, mengambil kain tudungnya dan membungkus roti itu dengan separuh kain tudung, lalu disisipkan di bawah bajuku, sedangkan yang separuh lagi diselendangkan kepadaku. Selepas itu pula dia menyuruhku pergi ke tempat Rasulullah SAW. Akupun berangkat membawa roti yang dibungkus kain tudung itu. Aku mendapatkan Rasulullah SAW yang sedang duduk di dalam masjid bersama orang-ramai dan berada di sisi mereka. Rasulullah SAW bertanya: Abu Talhah yang mengutusmu? Aku menjawab: Ya, benar! Rasulullah SAW bertanya lagi: Untuk makanan? Aku menjawab: Ya! Rasulullah SAW bersabda kepada orang-ramai yang bersama baginda: Bangunlah kamu sekalian! Rasulullah SAW lalu berangkat diiringi para sahabat dan aku berjalan di antara mereka untuk segera memberitahu Abu Talhah. Maka Abu Talhah berkata: Wahai Ummu Sulaim! Rasulullah SAW telah datang bersama orang yang ramai, padahal kita tidak mempunyai makanan yang mencukupi untuk mereka. Dia menjawab: Allah dan RasulNya lebih tahu. Lalu Abu Talhah menjemput Rasulullah SAW, dan Rasulullah SAW pun masuk bersamanya. Rasulullah SAW bersabda: Bawakan ke sini apa yang ada di sisimu wahai Ummu Sulaim! Ummu Sulaim terus membawa roti tersebut kepada baginda kemudian memerah bekas lemaknya untuk dijadikan lauk dimakan dengan roti. Kemudian Rasulullah SAW mendoakan makanan itu. Setelah itu baginda bersabda: Izinkan sepuluh orang masuk! Abu Talhah memanggil sepuluh orang Sahabat. Mereka makan sehingga kenyang kemudian keluar. Rasulullah SAW menyambung: Biarkan sepuluh orang lagi masuk. Sepuluh orang berikutnya pun masuk dan makan sehingga kenyang lalu keluar. Rasulullah SAW kemudian bersabda lagi: Suruhlah sepuluh orang lagi masuk. Demikian berlaku terus-menerus sehingga semua orang dapat makan hingga kenyang, padahal jumlah mereka adalah lebih kurang tujuh puluh atau delapan puluh orang. (Sahih Bukhari, Muslim, kitab Minuman).
  52. ^ Diriwayatkan daripada Abdul Rahman bin Abu Bakar bahwa: ketika kami sedang bersama Rasulullah dengan jumlah seratus tiga puluh orang.Nabi SAW bertanya : Apakah ada yang mempunyai makanan? ternyata ada sekitar satu sha^ bersama seorang laki-laki, maka makanan itu dijadikan adonan, lalu datanglah seorang musyrik tinggi dengan rambut berantakkan yang membawa domba-domba yang sedang digiring. Apa domba-domba ini untuk dibeli atau diberi? Orang itu menjawab: untuk dijual, maka Rasulullah SAW membeli seekor domba, kemudian domba itu dimasak dan Rasulullah memerintahkan supaya hati domba itu dipanggang. Abdurrahman berkata: Demi Allah, setiap seratus tiga puluh orang sahabat diberi sepotong dari hati domba itu, jika dia hadir maka diberikannya. Jika tidak hadir maka disimpan bagiannya.Abdurrahman berkata: Daging itu ditempatkan di dua bejana dan kami makan dari keduanya hingga kenyang, dan tersisa daging di dalam dua bejana itu sehingga saya meletakkannya di punggung unta. (Hadits sahih Bukhari, Muslim, kitab Minuman).
  53. ^ Diriwayatkan daripada Abdul Rahman bin Abu Bakar katanya Mereka yang disebut Ashaab As-Suffah adalah orang-orang miskin. Rasulullah SAW pernah bersabda suatu ketika: Siapa mempunyai makanan untuk dua orang, dia hendaklah mengajak orang yang ketiga dan sesiapa mempunyai makanan untuk empat orang, dia hendaklah mengajak orang kelima, keenam atau seperti diriwayatkan dalam Hadis lain. Abu Bakar r.a datang dengan tiga orang. Nabi pula pergi dengan sepuluh orang dan Abu Bakar dengan tiga orang yaitu aku, ibu dan bapaku. Tetapi aku tidak pasti adakah dia berkata: Isteriku dan khadamku berada di antara rumah kami dan rumah Abu Bakar. Abdul Rahman berkata lagi: Abu Bakar makan malam bersama Nabi SAW dan terus berada di sana sehinggalah waktu Isyak. Selesai sembahyang, dia kembali ke tempat Nabi SAW lagi, sehinggalah Rasulullah SAW kelihatan mengantuk. Sesudah lewat malam, barulah dia pulang. Isterinya menyusulinya dengan pertanyaan: Apa yang menghalang dirimu untuk pulang menemui tetamumu? Abu Bakar berkata: Bukankah engkau telah menjamu mereka makan malam? Isterinya menjawab: Mereka tidak mau makan sebelum engkau pulang, padahal anak-anak sudah mempersilakan tetapi mereka tetap enggan. Akupun berundur untuk bersembunyi. Lalu terdengar Abu Bakar memanggil: Hai dungu! Diikuti dengan sumpah-serapah. Kemudian dia berkata kepada para tetamunya: Silakan makan! Barangkali makanan ini sudah tidak enak lagi. Kemudian dia bersumpah: Demi Allah, aku tidak akan makan makanan ini selamanya! Abdul Rahman meneruskan ceritanya: Demi Allah, kami tidak mengambil satupun kecuali sisanya bertambah lebih banyak lagi, sehinggalah apabila kami sudah merasa kenyang, makanan itu menjadi bertambah banyak daripada yang sedia ada. Abu Bakar memandangnya ternyata makanan itu tetap seperti sedia atau bahkan lebih banyak lagi. Dia berkata kepada isterinya: Wahai saudara perempuanku! Bani Firas apakah ini? Isterinya menjawab: Tidak! Demi cahaya mataku, sekarang ini makanan tersebut bertambah tiga kali ganda lebih banyak daripada sediakala. Lalu Abu Bakar makan dan berkata: Sumpahku tadi adalah dari syaitan. Dia makan satu suap, kemudian membawa makanan tersebut kepada Rasulullah SAW dan membiarkannya di sana hingga pagi hari. Pada waktu itu di antara kami (kaum muslimin) dengan suatu kaum akan dilangsungkan satu perjanjian. Apabila tiba waktunya, kamipun menjadikan dua belas orang sebagai ketua saksi, masing-masing mengepalai beberapa orang. Hanya Allah yang tahu berapa orangkah sebenarnya yang diutuskan bersama mereka. Cuma yang pastinya Rasulullah SAW memerintah agar dipanggilkan mereka kesemuanya. Lalu kesemuanya makan dari makanan yang dibawa oleh Abu Bakar atau sebagaimana yang diriwayatkan dalam riwayat yang lain. (Sahih Bukhari, Muslim, Kitab Minuman).
  54. ^ Hadits riwayat Muslim.
  55. ^ Diceritakan oleh Jabir (Sahih Bukhari,Volume 007, Book 067, Hadith Number 402).
  56. ^ Kauma (2000), hal 98-102
  57. ^ Diriwayatkan oleh ‘Abdullah: “Dalam pandangan kami mukjizat adalah anugerah Allah, tetapi dalam pandangan kalian mukjizat adalah peringatan. Suatu ketika kami menyertai Rasulullah SAW dalam sebuah perjalanan dan kami nyaris kehabisan air. Nabi SAW bersabda: “Bawalah kemari air yang tersisa!” orang-orang membawa kantung yang berisi sedikit air. Nabi SAW memasukkan telapak tangannya kedalam kantung itu dan berkata, “Mendekatlah pada air yang diberkahi dan ini berkah dari Allah.” Aku melihat air memancar dari sela-sela jemari tangan Rasulullah SAW.” (Sahih Bukhari, juz 5 no 779).
  58. ^ Diriwayatkan oleh Anas bin Malik: “Semangkuk air dibawa kehadapan Nabi SAW di Al Zawra. Nabi SAW memasukkan kedua telapak tangannya kedalam mangkok itu dan air memancar dari jari-jemarinya. Semua orang berwudhu dengan air itu. Qatadah berkata kepada Anas, “Berapa orang yang hadir pada waktu itu?” Anas menjawab, “Tiga ratus orang atau mendekati tiga ratus orang.” (Sahih Bukhari, juz 4 no 772). Lihat juga: (Sahih Bukhari juz 4 no 777) (Sahih Bukhari juz 1 no 340)
  59. ^ Hadits riwayat Muslim No.4224, (Sahih Muslim, Book 030, no 5656; Sahih Muslim, Book 030, no 5657; Sahih Muslim Book 030, no 5658; Sahih Muslim, Book 030, no 5659)
  60. ^ Mu’adz bin Jabal menceritakan: Membuat Oase dari air jari-jemari Nabi (Sahih Muslim, Book 030, Number 5662).
  61. ^ Imran menceritakan: Wadah air yg penuh air dituangkan sampai habis tetapi tetap penuh kembali membuat sekampung masuk Islam (Sahih Bukhari, Volume 1, Book 7, Number 340).
  62. ^ “HISTORICAL EVENTS OF MAKKAH” Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London) Nabi Muhammad (SAW) menghindar dari Khalid bin Walid menuju tempat yang tidak terdapat air. Beliau menemukan sebuah sumur yang masih ada bekas jejak air di dasarnya. Beliau masukkan sedikit air ke mulut beliau lalu disemburkannya kedalam sumur, lalu beliau minta salah seorang sahabat untuk membidikkan anak panah beliau (SAW) ke dasar sumur. Para sahabat pun kemudian menyaksikan air memancar dari dasar sumur itu sampai setinggi bibir sumur. Maka rombongan Muslimin pun mengisi penuh tempat-tempat air mereka dan mendirikan salat Dzuhur. Khalid bin Walid berkata kepada pasukannya, “Kita telah menyia-siakan kesempatan emas. Seharusnya tadi kita serang mereka selagi mereka sibuk salat. Kita akan serang mereka di waktu mereka mengerjakan salat berikutnya.” Pada waktu itu Allah (SWT) pun mewahyukan petunjuk-Nya kepada Muslimin perihal tata-cara mendirikan salat sewaktu dalam keadaan bahaya semisal perang. Salat semacam ini disebut Salatul-Khauf.
  63. ^ Satu mukjizat dari Rasulullah SAW diawal-awal kenabian adalah ada mata air yang keluar dari bawah kakinya. Seperti dikisahkan dalam kitab al-Khasa^ish, suatu ketika Rasulullah SAW berjalan bersama pamannya Abu Thalib. ketika sampai di daerah Dzi al Majaz, Abu Thalib merasa haus padahal mereka tidak membawa air. Rasulullah SAW yang melihat pamannya kehausan menanyakan hal itu untuk memastikan, Abu Thalib membenarkan bahwa dirinya haus. Rasulullah SAW kemudian mengorek-ngorek tanah yang dipijaknya, tak lama kemudian keluarlah air dari tanah itu dan Beliau SAW mempersilahkan pamannya untuk minum.
  64. ^ Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.: demi Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya, (kadang-kadang) aku tidur di atas tanah dengan perut lapar dan (kadang-kadang) aku ikatkan sebuah batu ke perutku untuk menahan lapar. Suatu hari aku duduk di jalan yang biasa dilalui mereka (Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya). Ketika Abu Bakar lewat aku memintanya membacakan untukku sebuah ayat alquran dan aku memintanya hanya dengan maksud barangkali ia dapat menghilangkan rasa laparku, tetapi ia lewat begitu saja. Kemudian Umar lewat didepanku dan aku memintanya membacakan untukku sebuah ayat dari kitab Allah dan aku memintanya hanya dengan maksud barangkali ia dapat menghilangkan rasa laparku, tetapi ia lewat begitu saja. Akhirnya Abul Qasim (Nabi Muhammad Saw) lewat dan ia tersenyum ketika melihatku karena ia tahu maksudku hanya dengan melihat wajahku. NabiMuhammad Saw bersabda, “Wahai Abu Hirr!” aku menjawab, “Labbaik ya Rasulullah”. Nabi Muhammad Saw bersabda kepadaku, “Ikuti aku”. Nabi Muhammad Saw pergi dan aku berjalan dibelakangnya, mengikutinya. Kemudian Nabi Muhammad Saw masuk kedalam rumahnya dan aku meminta izin masuk kerumahnya dan diizinkan. Nabi Muhammad Saw melihat semangkuk susu dan berkata, “Darimana ini?” mereka berkata, “Itu hadiah dari si fulan untukmu”. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Wahai Abu Hirr!” aku menjawab, “Labbaik ya Rasulullah”. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Panggillah orang-orang shuffah” Orang-orang shuffah adalah tamu-tamu Islam yang tidak memiliki keluarga, uang atau seseorang yang dapat mereka mintai pertolongan dan setiap kali objek sedekah diberikan kepada Nabi Muhammad Saw, Nabi Muhammad Saw akan memberikannya kepada mereka sedangkan Nabi Muhammad Saw sendiri sama sekali tidak menyentuhnya. Dan setiap kali hadiah apapun diberikan kepada Nabi Muhammad Saw, Nabi Muhammad Saw akan memberikannya sebagian untuk mereka dan sebagian untuk diri Nabi Muhammad Saw. Perintah Nabi Muhammad Saw itu membuatku kecewa dan aku berkata kepada diriku sendiri, “Bagaimana mungkin susu semangkuk cukup untuk orang-orang Shuffah?” menurutku susu itu hanya cukup untuk diriku sendiri. Nabi Muhammad Saw menyuruhku memberikan susu itu kepada mereka. Aku akan takjub seandainya masih ada sisa untukku. Tetapi bagaimanapun aku harus taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Maka aku pergi menermui orang-orang Shuffah itu dan memanggil mereka. Mereka pun berdatangan dan meminta izin masuk kedalam rumah. Nabi Muhammad Saw memberi mereka izin. Mereka duduk di dalam rumah itu. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Wahai Abu Hirr!” aku menjawab, “Labbaik ya Rasulullah”. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Bawalah susu ini dan berikan kepada mereka”. Maka aku membawa semangkuk susu itu kepada mereka satu persatu dan setiap mereka mengembalikannya kepadaku setelah meminumnya, mangkuk susu itu tetap penuh. Setelah mereka semua selesai minum dari mangkuk susu itu aku memberikannya kepada Nabi Muhammad Saw yang memegang mangkuk itu seraya tersenyum jenaka dan berkata kepadaku, “Wahai Abu Hirr!” aku menjawab, “Labbaik ya Rasulullah”. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Masih cukup untuk engkau dan aku”, aku berkata, “Engkau berkata benar ya Rasulullah!” Nabi Muhammad Saw bersabda, “Duduklah dan minumlah” aku duduk dan meminumnya. Nabi Muhammad Saw berkali-kali memintaku untuk meminumnya hingga aku berkata, “Tidak, demi Zat yang mengurusmu sebagai pembawa kebenaran, perutku sudah sangat kenyang”. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Berikan kepadaku”. Ketika kuberikan mangkuk itu kepadanya, Nabi Muhammad Saw memuji dan menyebut nama Allah dan meminum sisa susu itu. (Hadits riwayat Sahih Bukhari).
  65. ^ Diriwayatkan daripada Anas bin Malik katanya: Sesungguhnya beberapa orang dari daerah Urainah datang ke Madinah untuk menemui Rasulullah SAW mereka telah mengidap sakit perut yang agak serius. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada mereka: Sekiranya kamu mau, keluarlah dan carilah unta sedekah, maka kamu minumlah susu dan air kencingnya. Lalu mereka meminumnya, dan ternyata mereka menjadi sehat. Kemudian mereka pergi kepada sekumpulan pengembala lalu mereka membunuh pengembala yang tidak berdosa itu dan mereka telah menjadi murtad (keluar dari Islam.) Mereka juga telah melarikan unta milik Rasulullah SAW, kemudian peristiwa itu diceritakan kepada Rasulullah SAW. Lalu baginda memerintahkan kepada para Sahabat agar menangkap mereka. Setelah ditangkap lalu mereka dihadapkan kepada baginda SAW. Maka Rasulullah SAW pun memotong tangan dan kaki serta mencungkil mata mereka. Kemudian baginda membiarkan mereka berada di al-Harrah (sebuah daerah di Madinah yang terkenal penuh dengan batu hitam) sehingga mereka meninggal dunia. (Sahih Bukhari, Muslim, kitab qishas dan diyat).
  66. ^ Prophethood for Teens, Bukti (11c): Mukjizat Rasulullah saw. Seorang bayi berumur satu hari ditanya oleh Nabi Muhammad saw., “Siapakah aku?” dan dia menjawab, “Engkau adalah nabi Allah.” Sejak saat itu, dia dapat berbicara. (Diriwayatkan oleh Khatib)
  67. ^ Prophethood for Teens, Bukti (11c): Mukjizat Rasulullah saw. Seorang penyembah berhala wanita, yang sering mencaci maki Nabi Muhammad saw, bertemu Nabi saw. dengan bayi berumur dua tahun di pundaknya. Bayi tersebut memberi salam kepadanya, mengejutkan ibunya yang penyembah berhala. Ketika ditanya, bayi tersebut menjawab bahwa dia telah diberitahu oleh Tuhan segala alam tentang Nabi Muhammad saw.
  68. ^ Abi said al-Khudri berkisah, ketika seorang penggembala sedang menggembalakan dombanya, tiba-tiba ada seekor serigala yang berusaha memangsa dombanya. sang penggembala itupun segera mencegahnya. Setelah gagal memangsa domba, serigala itu akhirnya duduk dan berkata kepada si penggembala, ”apa kah engkau tidak takut kepada Allah swt? engkau telah menghalangiku untuk mengambil rezekiku. Si penggembala berkata “aneh, ada serigala yang bias berbicara seperti manusia.“ Si serigala berkata ,”Engkau ini yang lebih aneh. Engkau sibuk menggembala domba-dombamu dan meniggalkan seorang nabi yang tidak pernah ada nabi yang lebih agung yang diutus Allah swt melebihi dirinya. Baginya telah dibukakan pintu-pintu sorga dan para penghuni sorga yang mulia menyaksikan perbuatan sahabat-sahabat beliau . padahal antara dirimu dengan Nabi hanya dibatasi oleh lembah ini. Sang penggembala domba ini berkata,” lantas siapa yang akan menjaga domba ini sampai aku kembali?” Serigala itu menjawab,” aku yang akan menjaga nya sampai kau kembali,” Sang penggembala itu kemudian menyerahkan penjagaan dombanya kepada serigala dan ia pun berangkat menuju ke tempat rasulullah saw. setelah sampai, iapun menceritakan kejadian yang dialaminya itu kepada rasulullah. Setelah ia masuk islam dan mendapatkan ilmu dari rasulullah, beliau memberi perintah kepada penggembala itu, ”kembalilah kepada gembalamu, niscaya engkau dapati gembalaanmu masih dalam keadaan lengkap.” Ia pun segera kembali dan mendapati hewan gembalaanya dalam keadaan lengkap tak berkurang seekor apapun. setelah itu ia pun menyembelih seekor dombanya untuk serigala tadi. Kitab Anwarul muhammadiyah oleh Assayyid Alhabib Muhammad Rafiq Bin Luqman Alkaff Gathmyr. Hadits sahih Bukhari Juz 3 no 517.
  69. ^ Mukjizat nabiku Muhammad, hal.29. By Muhammad Ash-Shayyim.
  70. ^ Prophethood for Teens, Bukti (11c): Mukjizat Rasulullah saw. Suatu hari seorang Arab berkata, “Siapa ini?” Rasulullah, jawab mereka. “Demi Latta dan ‘Uzza,” Jawab orang tersebut, “Kau adalah musuh terbesarku, dan agar kaumku tidak menyebutku lamban, kubunuh kau.” “Berimanlah,” kata Nabi saw. Orang Arab tersebut melempar kadal hijau dari lengan bajunya, dan berkata, “Aku tidak akan beriman sampai kadal ini beriman.” Tiba-tiba kadal itu dalam bahasa Arab yang elok berseru, “Wahai hiasan dari semua yang akan dikumpulkan pada hari pembalasan, kau akan memimpin orang-orang yang ikhlas ke surga.” “kepada siapa kamu menyembah?” kata Nabi saw.. Kadal tersebut menjawab, “kepada Tuhan yang menguasai melebihi segala, Yang Maha Tahu, dan telah menjadikan api sebagai alat penghukumnya.” “Siapa aku?” Muhammad saw. melanjutkan. Kadal tersebut menjawab, “Engkau adalah utusan Tuhan semesta alam, dan penutup para nabi. Bahagialah orang yang mengenalmu, dan tiada harapan orang yang mengingkarimu. “Tidak ada bukti yang lebih jelas daripada ini,” Kata orang Arab tersebut, “dan walaupun aku datang ke sini menganggapmu musuh terbesarku, aku sekarang mencintaimu lebih dari hidupku, ayahku, atau ibu. Kemudian dia mengulangi syahadatnya, menjadi Muslim, dan kembali ke Bani Salim, asalnya, kemudian lebih membawa seribu orang lebih untuk memeluk Islam.
  71. ^ Diriwayatkan oleh Abu Na’im di dalam kitab ‘Al-Hilyah’ bahwa seorang lelaki lewat di sisi Nabi SAW. dengan membawa seekor kijang yang ditangkapnya, lalu Allah Taala (Yang berkuasa menjadikan semua benda-benda berkata-kata) telah menjadikan kijang itu berbicara kepada Nabi SAW: “Wahai Pesuruh Allah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa ekor anak yang masih menyusu, dan sekarang aku sudah ditangkap sedangkan mereka sedang kelaparan, oleh itu haraplah perintahkan orang ini melepaskan aku supaya aku dapat menyusukan anak-anakku itu dan sesudah itu aku akan kembali ke mari.” Bersabda Rasulullah SAW. “Bagaimana kalau engkau tidak kembali kesini lagi?” Jawab kijang itu: “Kalau aku tidak kembali ke mari, nanti Allah Ta’ala akan melaknatku sebagaimana Ia melaknat orang yang tidak mengucapkan shalawat bagi engkau apabila disebut nama engkau disisinya. “Lalu Nabi SAW. pun bersabda kepada orang itu: “Lepaskan kijang itu buat sementara waktu dan aku jadi penjaminnya. “Kijang itu pun dilepaskan dan kemudian ia kembali ke situ lagi. Maka turunlah malaikat Jibril dan berkata: “Wahai Muhammad, Allah Ta’ala mengucapkan salam kepada engkau dan Ia (Allah Ta’ala) berfirman: “Demi KemuliaanKu dan KehormatanKu, sesungguhnya Aku lebih kasihkan umat Muhammad dari kijang itu kasihkan anak-anaknya dan Aku akan kembalikan mereka kepada engkau sebagaimana kijang itu kembali kepada engkau.”
  72. ^ Ketika itu kami bersama Nabi besar Muhammad Saw tengah berada dalam sebuah peperangan.Tiba-tiba datang seekor unta mendekati beliau, lalu untu tersebut berbicara, “Ya Rasulullah, sesungguhnya si fulan (pemilik unta tersebut) telah memanfaatkan tenagaku dari semenjak muda hinga usiaku telah tua seperti sekarang ini. Kini ia malah hendak menyembelihku. Aku berlindung kepadamu dari keinginan si fulan yang hendak menyembelihku.” Mendengar pengaduan sang unta, Rasulullah Saw memanggil sang pemilik unta dan hendak membeli unta tersebut dari pemiliknya. Orang itu malah memberikan unta tersebut kepada beliau..Unta itu pun dibebaskan oleh Nabi kami Muhammad Saw.
  73. ^ Juga ketika kami tengah bersama Muhammad Saw, tiba-tiba datang seorang Arab pedalaman sambil menuntun untanya. Arab baduy tersebut meminta perlindungan karena tangannya hendak dipotong, akibat kesaksian palsu beberapa orang yang berkata bohong. Kemudian unta itu berbicara dengan Nabi kami Muhammad Saw, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang ini tidak bersalah. Para saksi inilah yang telah memberikan pengakuan palsu karena mereka telah dipaksa. Sebenarnya pencuriku adalah seorang Yahudi.”
  74. ^ Muhammad berbicara dengan seekor unta pembawa hadiah raja Habib bin Malik untuk membuktikan bahwa hadiah tersebut bukan untuk Abu Jahalmelainkan untuk Muhammad.
  75. ^ Sejarah Hidup Muhammad karya Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury, Robbani Press, Jakarta, 2002, halaman 126. Keesokan harinya Abu Jahal mengambil batu. Kemudian duduk menanti Rasulullah. Rasulullah SAW pun datang dan melakukan salat. Ketika Rasulullah SAW sedang sujud, Abu Jahal mengangkat batu, kemudian menuju kearah beliau. Ketika sudah mendekati beliau, Abu Jahal berbalik ketakutan dengan muka pucat, dan kedua tangannya tidak kuat lagi menahan batu tersebut sehingga ia lemparkan. Abu Jahal kemudian didatangi oleh tokoh-tokoh Qurasih dan mereka bertanya, “Wahai Abul Hakam, apa yang terjadi padamu?” Abu Jahal menjawab, “…setelah aku mendekatinya, tampak kepadaku didekatnya seekor unta jantan. Aku sama sekali belum pernah melihat unta jantan seperti itu, baik kepala, pangkal leher dan taringnya. Dia hampir menerkamku.” Ibnu Ishaq berkata, “Disebutkan kepadaku bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Itu adalah Jibril alahis salam . Seandainya dia mendekat, pasti akan diterkamnya.”
  76. ^ “Bahwa ada seekor burung bersedih karena kehilangan anaknya. Burung itu mengepakkan sayapnya di atas kepala Nabi dan berbicara dengannya. Lalu beliau bersabda, ‘Siapakah di antara kalian yang telah membuat burung ini kehilangan anaknya?’ Seorang lelaki menjawab: ‘Saya.’ Beliau bersabda, “Kembalikanlah anaknya.” (Hadits Ar-Razi) Kami pernah bersama Nabi SAW dalam suatu perjalanan. Beliau keluar dari rombongan untuk suatu keperluan. Lalu kami melihat seekor burung humarah (berwarna merah) bersama dua anaknya. Maka kami mengambil kedua anaknya itu. Burung humarah itu terbang mendekat kebumi pada saat Nabi SAW datang. Beliau bersabda, “Siapakah yang telah membuat burung ini sedih karena kehilangan anaknya? Kembalikanlah anaknya kepadanya.”(Diriwayatkan oleh Abu Dawud). Benarkah Nabi Muhammad & Umatnya Lebih Istimewa, hal 27-28 By Al-Imam Al Hafidz Ahmad bin Muhammad Al Qasthalani.
  77. ^ Diriwayatkan oleh Jabir: Sewaktu Bapakku meninggal, ia masih mempunyai utang yang banyak. Kemudian, aku mendatangi Rasulullah SAW untuk melaporkan kepada Beliau mengenai utang bapakku. Aku berkata kepada Rasulullah: Ya Rasulullah, bapakku telah meninggalkan banyak hutang. Aku sendiri sudah tidak mempunyai apa-apa lagi kecuali yang keluar dari pohon kurma. Akan tetapi pohon kurma itu sudah dua tahun tidak berbuah. Hal ini sengaja aku sampaikan kepada Rasulullah agar orang yang memiliki piutang tersebut tidak berbuat buruk kepadaku. Kemudian Rasulullah mengajakku pergi ke kebun kurma. Sesampainya disana beliau mengitari pohon kurmaku yang dilanjutkan dengan berdoa. Setelah itu beliau duduk seraya berkata kepadaku, “Ambillah buahnya.” Mendengar perintah Rasulullah SAW tersebut, aku langsung memanjat pohon kurma untuk memetik buahnya yang tiba-tiba berbuah. Buah kurma itu kupetik sampai cukup jumlahnya untuk menutupi utang bapakku, bahkan sampai lebih. (Hadits sahih Bukhari Juz 4 no 780).
  78. ^ Ratapan batang pohon kurma kepada Rasulullah SAW. dan tangisannya dengan suara keras yang bisa didengar seluruh orang yang berada di masjid beliau. Itu terjadi setelah Rasulullah SAW. meninggalkannya. Sebelumnya Rasulullah SAW. berkhutbah di atas batang tersebut sebagai mimbar beliau. Ketika beliau telah dibuatkan mimbar, dan tidak naik lagi ke atas batang kurma tersebut, batang tersebut meratap menangis dan rindu kepada Rasulullah SAW. Suara tangisnya seperti tangis unta yang hamil sepuluh bulan. Batang pohon kurma tersebut tidak berhenti menangis hingga Rasulullah SAW. datang padanya, dan meletakkan tangannya yang mulia di atasnya. Ia pun berhenti menangis.
  79. ^ Dikisahkan oleh Jabir bin Abdullah, “Sang nabi sering berdiri dekat sebuah pohon palem kurma. Ketika sebuah tempat duduk disediakan baginya, kami mendengar pohon itu menangis bagaikan unta betina hamil sampai sang nabi jongkok dan memeluk pohon itu. Hadits shahih riwayat Imam Bukhari vo.II no.41.
  80. ^ Dikisahkan oleh Ibnu Umar, “Sang nabi sering berkutbah sambil berdiri dekat batang pohon kurma. Ketika dia dibuatkan tempat duduk, dia lebih memilih duduk. Pohon kurma itu mulai menangis dan sang nabi menghampirinya, mengelusnya dengan tangannya (agar pohon itu berhenti menangis). (Hadits shahih riwayat Imam Bukhari vo.IV no.783).
  81. ^ Nabi saw telah memberi Qatadah bin Nu’man r.a. sebuah tandan kurma, setelah salat Isya berjamaah bersamanya pada malam yang gelap gulita. Beliau bersabda, “Pulanglah dengan membawa tandan ini. Ia akan menyinarimu dari kedua tanganmu sepuluh kali telapak tanganmu. Jika memasuki rumah, kamu akan melihat sesuatu berwarna hitam, maka pukullah dia hingga keluar, karena dia itu adalah setan.” Maka Qatadah pulang dan tandan kurma itu menyinari hingga dia masuk kedalam rumahnya dan menemukan warna hitam lalu dipukulnya hingga keluar. (Hadits riwayat Abu Na’im dari buku berjudul “Benarkah Nabi Muhammad & Umatnya Lebih Istimewa,” hal 17-18, By Al-Imam Al Hafidz Ahmad bin Muhammad Al Qasthalani).
  82. ^ Kisahnya, orang Arab dusun mendekat kepada beliau, kemudian beliau bersabda kepada orang Arab Dusun tersebut, “Hai orang Arab dusun, engkau akan pergi ke mana?” Orang Arab dusun tersebut menjawab, “Pulang ke rumah.” Rasulullah SAW. bersabda, “Apakah engkai ingin kebaikan?” Orang Arab dusun tersebut berkata, “Kebaikan apa?” Rasulullah SAW. bersabda, “Engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Rasul-Nya.” Orang Arab dusun tersebut berkata, “Siapa yang menjadi saksi atas apa yang engkau katakan?” Rasulullah SAW bersabda, “Pohon ini.” Beliau bersabda begitu sambil menunjuk ke arah salah satu pohon di tepi lembah. Kemudian pohon tersebut berjalan hingga berdiri di depan beliau. Beliau meminta pohon tersebut bersaksi hingga tiga kali, dan pohon tersebut pun bersaksi seperti sabda Rasulullah SAW.
  83. ^ Pohon berpindah tempat. Dikisahkan pula oleh Ibnu Abbas. Seorang Arab Badui datang kepada Muhammad dan berkata, “Bagaimana aku bisa tahu bahwa engkau seorang nabi?” Rasul menjawab, “Dengan kesaksian pohon kurma itu bahwa saya adalah Rasul Allah.” Si Arab Badui setuju. Rasul kemudian memanggil pohon kurma itu dan pohon itu bergerak menghampiri Nabi Saw. lalu merunduk dihadapannya. Setelah itu, Rasul menyuruh pohon tersebut untuk kembali lalu ia pun kembali ke tempatnya. Si Arab Badui memeluk Islam saat itu juga dan disitu juga. (Hadits riwayat Tirmidzi).
  84. ^ Dalam perjalan, Beliau ingin membuang hajat. Diceritakan dari Jabir ibn Abdillah RA, ia bercerita: “Pada suatu hari saya berjalan bersama Rasulullah SAW, kami tiba dilembah yang luas, tiba-tiba Rasulullah ingin buang hajat. Saya mengikutinya dengan membawakannya air, Rasulullah SAW melihat ke kanan dan kiri ternyata tidak ada yang dapat dijadikan tirai (penghalang) kecuali dua pohon yang berjauhan di pinggir lembah. Rasulullah SAW kemudian berjalan menuju kearahnya dan memetik batangnya sambil berkata: ‘Ikut aku dengan izin Allah.’ Rasulullah berjalan menuju pohon yang satunya melakukan hal yang sama. Kedua pohon tadi berjalan bersama Rasulullah SAW dan menjadi tirai bagi Rasulullah SAW. Tak lama kemudian saya mendengar suara orang yang datang, ternyata Rasulullah SAW dan saya melihat pohon itu sudah kembali ke tempat asalnya.” (Lihat Sahih Muslim, hadits nomor 5328)
  85. ^ Suatu hari sekelompok orang Yahudi menemui Rasulullah saw., Malik bin as-Sayf, satu dari mereka, berkata “Engkau meyatakan dirimu adalah Utusan Allah, namun aku tidak percaya pada misimu hingga permadani yang aku duduki menyaksikan kenabianmu.” Sedangkan Abu Lababah, seorang Yahudi yang lain dalam kelompok tersebut, menyatakan bahwa ia tidak akan percaya hingga cemeti yang ia pegang di tangannya memberikan kesaksian yang serupa. Seorang Yahudi yang lain Ka’ab bin al-Asyraf menyatakan hal yang serupa dengan rekan-rekannya hingga keledainya menyaksikan kebenaran Nabi. Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah bagi hamba Yang Maha Tinggi, setelah bukti mukjizat misi mereka telah dikaruniakan pada mereka, untuk menganggap diri mereka sendiri menunjukkan bukti seperti yang kamu inginkan. Sebaliknya, mereka harus merendah pada Tuhan dan menaatiNya, dan ridha dengan apa yang ingin Ia Karuniakan pada mereka. Namun bukankah penjelasan tentang aku dan kenabianku yang ada dalam Taurat, Injil dan suhuf Ibrahim cukup untuk meyakinkanmu kebenaran pernyataanku?” “Dan tidakkah kamu menemukan bukti dalam kitab-kitab tersebut bahwa Ali bin Abi Thalib adalah saudaraku, penerusku, khalifah dan ciptaan terbaik setelah aku? Tidakkah cukup bagimu bahwa Allah telah menganugerahkan kepadaku suatu mukjizat yang demikian jelas sepeti Qur’an yang seluruh manusia bersama-sama tidak ada yang mampu membuat (serupa dengan Qur’an)? “Saya tidak berani memohon pada Tuhanku untuk memberikan keinginan-keinginanmu yang tidak masuk akal, namun aku tegaskan bahwa bukti-bukti mukjizat misiku yang Ia telah kehendaki terwujud, adalah cukup memuaskanku dan meyakinkanmu. Jika sekarang Ia berkehendak menganugerahkan apa yang engkau minta, itu adalah dari ketakterhinggaan karuniaNya padaku dan padamu! Jika Ia tidak memenuhi keinginan-keinginanmu, itu adalah karena hal tersebut adalah sia-sia, terutama karena Ia telah membawakan bukti yang lengkap bagi keimanan. Rasulullah saw. belum lama selesai menyelesaikan sabdanya, maka kemudian dengan kekuatan Ilahiah, permadani yang diduduki oleh Malik bin as-Sayf berbicara dan berkata: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Satu Tuhan Yang Maha Indah, yang tidak memiliki sekutu, (namun) Sendiri dalam mencipta dan mengatur segala sesuatu. Kepadanya seluruh maujud bergantung, sedangkan Ia bebas dari ketergantungan terhadap apa pun. Baginya perubahan dan kerusakan adalah mustahil. Ia tak memiliki istri, tak memiliki anak, dan tiada yang menemaniNya dalam kerajaanNya (KekuasaanNya). Dan aku bersaksi bahwa engkau, wahai Muhammad, adalah hambaNya dan utusanNya yang telah Ia utus sebagai petunjuk agama, dan nabi dari keimanan yang benar, dan yang Ia ingin menangkan di atas seluruh agama lain, walaupun orang-orang yang musyrik tidak menyukainya. Dan aku juga bersaksi bahwa ‘Ali bin Abi Thalib adalah saudaramu, penerusmu dan khalifah ummatmu, dan makhluk terbaik setelahmu. Barangsiapa mencintainya mencintaimu, dan musuhnya adalah juga musuhmu. Barangsiapa menaatinya menaatimu, barangsiapa melawannya melawanu, dan barangsiapa menaatimu menaati Allah, dan layak memperoleh kebahagiaan dan keridhaanNya. Barangsiapa tidak menaatimu, tidak menaati Allah dan akan memperoleh siksa neraka yang paling pedih.”Menyaksikan permadani tersebut bersaksi seperti itu, orang-orang Yahudi tersebut tercengang. Namun mereka mengatakan bahwa kejadian tersebut hanyalah sihir yang nyata. Pernyataan tersebut membuat permadani tersebut naik dan membuang orang-orang Yahudi yang duduk di atasnya, dan dengan kekuatan Ilahiah kembali permadani tersebut berbicara dan berkata: “Yang Maha Tinggi mengaruniakan kepadaku bahwa aku adalah sebuah permadani, dan Ia membuatku bersaksi atas KetunggalanNya dan KeagunganNya, dan bersaksi bahwa NabiNya Muhammad adalah Nabi yang paling utama, dan utusan bagi semua makhluk dan dibangkitkan dalam keadilan dan kebenaran bersama hamba-hamba Allah. (Ia membuatku) juga bersaksi atas imamah saudaranya, penerusnya dan wazirnya, dan diciptakan dari cahayanya, temannya, kepercayaannya, dan pengemban amanahnya, pelaksana janji-janji Muhammad, penolong teman-temannya, dan menakluk musuh-musuhnya. “Aku taat pada ia yang Muhammad telah menunjuknya sebagai Imam, dan membenci musuhnya. Oleh karena itu, tidaklah layak orang-orang kafir menginjakku dan duduk di atasku, tidak ada yang layak melakukan itu padaku kecuali mereka yang beriman pada Allah, rasulNya dan penerusnya.” Maka Nabi saw. memerintahkan pada Salman, Abu Dzar, Miqdad, dan Amir duduk di atas permadani tersebut, dan berkata, “Engkau telah beriman pada apa yang elah disaksikan olehnya.” Kemudian Ia Yang Maha Tinggi berturut membuat cemeti di tangan Abu Lababah maupun keledai Ka’ab bin al-Asyraf berbicara dan bersaksi atas KetuggalanNya, kenabian Rasulullah Muhammad saw. dan imamah Imam ‘Ali bin Abi Thalib as.. Namun mereka semua tetap tidak beriman pada kebenaran Rasulullah saw! Setelah orang-orang Yahudi tersebut pergi maka turunlah ayat: “Sesungguhnya orang-orang kafir (ingkar) sama saja bagi mereka kamu peringatkan atau tidak kauperingatkan, mereka tak beriman.” (Al-Baqarah:6)
  86. ^ Diriwayatkan oleh Ibn Umar: Rasulullah SAW naik keatas mimbar dan berkotbah. Sedang Rasulullah SAW berkotbah, Rasulullah SAW mendengar mimbar itu menangis seperti tangisan anak kecil, sehingga seakan-akan mimbar itu mau pecah. Lalu Rasulullah SAW turun dari mimbar dan merangkul mimbar itu sehingga tangisnya berkurang sampai mimbar itu diam sama sekali. Rasulullah SAW berkata, “Mimbar itu menangis mendengar ayat-ayat Allah dibacakan di atasnya.” (Sahih Bukhari juz 4 no 783).
  87. ^ Jabar bin Samra RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku bisa mengenal batu-batu yang biasa mengucapkan salam kepadaku, bahkan ketika aku belum menjadi Rasul. Bahkan sekarangpun aku bisa mengenalinya.” Hadits riwayat Muslim
  88. ^ Ucapan salam dari pohon dan batu. Ali bin Abu Thalib meriwayatkan, “Saya sedang bersama nabi Saw di Mekkah. Setiap gunung dan pohon yang dilewatinya mengucapkan, ‘As-Salaamu ‘alayka yaa Rasulallah’ (Semoga keselamatan selalu menyertaimu, wahai Rasulallah),'” (Hadits Muslim dalam Misykat). 300 Mukjizat Muhammad Saw. oleh Badr A Zimbadani.
  89. ^ Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdul Malik bin Ubaidillah bin Abu Sufyan bin Al-Ala’ bin Jariyah Ats-Tsaqafi berkata kepadaku dan ia mendengar dari beberapa orang berilmu,” Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam -ketika Allah berkehendak memuliakannya dan memberikan kenabian kepadanya- ingin keluar untuk buang hajat, beliau pergi ke tempat yang jauh hingga rumah-rumah tidak terlihat olehnya dan berhenti di syi’ab (jalan di antara dua bukit) Makkah, dan lembah-lembahnya. Setiap kali beliau berjalan melewati batu dan pohon, pasti keduanya berkata, ‘As-Salaamu Alaika ya Rasulullah.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menoleh ke sekitarnya; kanan, kin, dan belakang, namun tidak melihat apa-apa kecuali pohon dan batu. Itulah yang terjadi pada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam jangka waktu tertentu; bermimpi dan mendengar salam hingga Jibril datang kepada beliau dengan membawa kemuliaan dari Allah ketika beliau berada di Gua Hira’ pada bulan Ramadhan.” Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam. Jilid 1 : 196.
  90. ^ Abu Dzar ra. ia berkata, “Saya pernah hadir dalam sebuah pertemuan disisi Nabi saw. Saya melihat beberapa batu kerikil yang dipegang beliau mengucapkan tasbih. Saat itu di antara kami ada Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Mereka semua yang hadir dipertemuan itu mendengar tasbih benda tersebut. Kemudian batu-batu kerikil itu oleh Nabi saw. diserahkan kepada Abu Bakar yang dapat didengar oleh semua orang yang hadir dipertemuan itu. Ketika diberikan lagi kepada beliau kerikil itupun masih tasbih ditangan beliau, kemudian beliau menyerahkan kepada Umar dan batu kerikil itu pun mengucapkan tasbih ditangannya yang bisa didengar oleh semua orang yang hadir dipertemuan. Kemudian Nabi saw. menyerahkan kepada Utsman dan ia pun mengucapkan tasbih ditangannya. Tetapi ketika oleh Nabi batu kerikil itu diserahkan kepada kamu, ia tidak mau bertasbih bersama seorang pun di antara kami. (Diriwayatkan oleh Thabrani dalam buku haditsnya Al-Mu’jamul Ausath nomor 1244 dan oleh Abu Nu’man dalam Dalaa’ilun Nubuwwah I/404.)
  91. ^ Ikrimah bin Abu Jahal ra. Dia berkata, “Jika kamu memang benar seorang Nabi, maka panggilah batu yang ada diseberang itu agar berenang dan tidak tenggelam.” Lalu nabi mengisyaratkan tangannya dan batu itu pun terlepas dari tempatnya dan mengapung di atas air hingga sampai kepada Nabi saw. Begitu menyaksikan itu Ikrimah bersaksia atas kerasulannya, Nabi berkata kepadanya, “Ini cukup bagimu.” Ikrimah berkata, “Batu itu kembali lagi hingga tempatnya semula.”
  92. ^ Diriwayatkan daripada Abdullah bin Mas’ud katanya: Ketika Nabi SAW memasuki Mekah terdapat sebanyak tiga ratus enam puluh buah berhala di persekitaran Kaabah. Lalu Nabi SAW meruntuhkannya dengan menggunakan tongkat yang berada di tangannya seraya bersabda: Bermaksud: Telah datang kebenaran dan musnahlah kebatilan karena sesungguhnya kebatilan itu, adalah sesuatu yang pasti musnah. Bermaksud: Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan bermula dan tidak akan berulang. Ibnu Abu Umar menambah: Peristiwa itu terjadi pada masa pembukaan Kota Mekah. (Sahih Bukhari, kitab Jihad).
  93. ^ Kisah dari Abu Hurayrah.
  94. ^ “Sejarah Hidup Muhammad”, karya Dr. Muhammad Husain Haekal.
  95. ^ Abu Hurairah mengeluh kepada Rasulullah SAW bahwa dia terlalu pelupa. Lalu Rasulullah SAW membentangkan kainnya di atas tanah, lalu memegang-megang kainnya dengan tangan beliau. Abu Hurairah disuruh Rasulullah memeluk kain itu. Sejak itu Abu hurairah tidak pernah lupa-lupa lagi. Dan beliau terkenal paling banyak menghafal hadis. (Hadits sahih Imam Bukhari dan Imam Muslim).
  96. ^ Rasulullah SAW bersabda pada saat peristiwa penaklukkan Khaibar, “Esok hari aku (Nabi SAW) akan memberikan bendera kepada seorang yang akan diberikan kemenangan oleh Allah swt melalui tangannya, sedang ia mencintai Allah dan Rasulnya, dan Allah dan Rasulnya mencintainya”. Maka semua orangpun menghabiskan malam mereka seraya bertanya-tanya di dalam hati, kepada siapa di antara mereka akan diberi bendera itu. Hingga memasuki pagi harinya masing-masing mereka masih mengharapkannya. Kemudian Rasulullah SAW bertanya: “Ke mana Ali?” lalu ada yang mengatakan kepada beliau bahwa Ali sedang sakit kedua matanya. Lantas Rasulullah SAW meniup kedua mata Ali seraya berdoa untuk kesembuhannya. Sehingga sembuhlah kedua mata Ali seakan-akan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Lalu Rasulullah SAW memberikan bendera itu kepadanya. Hadits sahih Bukhari.
  97. ^ Ludah Rasulullah SAW tidaklah sama dengan ludah manusia biasa, ludah beliau harum baunya dan kadang dijadikan sebagai obat penyembuh berbagai penyakit seperti penawar racun sebagaimana yang pernah terjadi pada diri Abu Bakar di goa Hiro, atau penyembuh pada mata Ali Bin Abi Thalib yang hampir buta di Perang Khaibar, atau mata seorang sahabat lainnya pada perang uhud. Wail Ibn Hajar bercerita: ” Rasulullah SAW pernah disodorkan wadah berisi air, Beliau meminumnya, lalu meludah di wadah itu, kemudian air dalam wadah dituangkan ke dalam sumur, tiba-tiba dari sumur merebak bau wangian yang harum. (Hadits riwayat Ahmad)
  98. ^ Dalam riwayat lain, tentang peristiwa yang dialami oleh Abu Bakar RA sewaktu bersama Rasulullah SAW di goa Tsur untuk sembunyi, kaki Abu Bakar digigit binatang yang ada di lubang yang terdapat di dalam goa tersebut. Akan tetapi Abu Bakar tidak bergerak supaya Rasulullah SAW yang sedang tidur dipangkuannya tidak terbangun. Hanya air matanya yang membasahi wajah Rasulullah SAW, dan Beliau terbangun lau bertanya : “Ada apa wahai Abu Bakar?” Dia menjawab : “Kaki saya digigit hewan yang ada dalam lubang. Semoga Ayah dan Ibuku menjadi tebusan bagimu”. lalu Rasulullah meludahi gigitan itu dan sembuhlah kaki Abu Bakar. (lihat : al-Rahiq al-Makhtum, Hal.149)
  99. ^ Muhammad bin Hathib pernah berkata, “Ketika masih kanak-kanak, sebuah periuk tumpah mengenai tubuhku dan seluruh kulit tubuhku terbakar, lalu ayahku membawaku kepada Rasulallah saw, kemudian beliau meludahi kulit yang terbakar seraya berdoa, ‘Jauhkanlah penyakit wahai Tuhan sekalian manusia,’ maka akupun menjadi sehat tidak merasakan apa-apa. (Hadits riwayat Imam Nasa’i). Keterangan: Muhammad bin Hathib bin Harits bin Mu’ammar al-Jamhi al-Kufi, adalah seorang sahabat kecil. Ia lahir di atas perahu sebelum rombongan orang mukmin sampai ke Habasyah. Ia adalah orang paling pertama dalam Islam diberi nama Muhammad. Para ulama berselisih pendapat tentang gelarnya, apakah Abu Qasim atau Abu Ibrahim. Ia telah meriwayatkan hadits dari Nabi saw, Ali dan ibunya Ummu Janil. Meninggal pada tahun 94H atau sebagian berpendapat tahun 86H. Lihat Syarhul Mawabil Laduniyyah, V/192.
  100. ^ Umar bin Maymun, ia berkata, “Orang-orang kafir telah membakar Amar bin Yadir, kemudian Nabi saw melewainya dan mengusapkan tangannya pada kepala Amar lalu bersabda, “Wahai api, jadilah kamu dingin dan jadilah kamu keselamatan bagi Amar, seperti kamu dulu pada Ibrahim.” (Hadits riwayat Ibnu Sa’ad dari Umar bin Maymun)
  101. ^ Dalam kitab al Khasais, dikisahkan suatu ketika Rasulullah SAW didatangi seorang ibu yang menggendong anaknya yang bisu. Si ibu ini menceritakan: Anakku ini belum pernah bicara sejak ia dilahirkan. Rasulullah SAW bertanya: siapakah saya? Anak itu tiba-tiba bisa bicara dan menjawab: Engkau adalah Rasulullah. (Hadits riwayat Al Baihaqi)
  102. ^ Riwayat lain, Fudayk bercerita bahwa ayahnya datang menemui Rasulullah SAW mengeluhkan matanya yang putih, dan tidak bisa melihat. Rasulullah bertanya apa yang menyebabkannya? Beliau menjawab: Aku pernah menginjak telur ular, pecah dan mengenai mataku hingga akhirnya buta. Rasulullah SAW meniup mata Abu Fudayk dan dia bisa melihat kembali. (Hadits riwayat Ibn Abi Syaibah, Ibn Sakan, al Baghawi, dan Abu Nuaim serta at Tabari)
  103. ^ Ummu Aiman RA pernah bercerita: Suatu ketika Rasulullah SAW menginap di rumah. Ketika malam Beliau SAW bangun dan buang air di bejana. Tak lama kemudian saya terbangun dan mencari minum karena kehausan. Saya mendapatkan air di bejana dan saya langsung meminumnya. Esok paginya, Rasulullah SAW berkata kepada saya:”Wahai Ummu Aiman, tolong buangkan air yang ada di bejana”. Saya pun menjawab: “Wahai Rasulullah demi Zat yang telah mengutusmu dengan haq, saya sudah minum air yang ada di dalamnya”. Rasulullah SAW tertawa sampai terlihat giginya lalu bersabda “Sungguh perutmu tidak akan sakit lagi setelah ini.” Semenjak kejadian itu tidak pernah Rasulullah SAW menyuruh sahabatnya minum air kencingnya. (Lihat Nisa^ hawl al Rasul, hal 45-46)
  104. ^ “Bahwa istri Mu’adz bin ‘Afra’ menderita kusta lalu melaporkannya kepada Rasulallah saw, lalu beliau mengusapnya dengan sebuah tongkat maka Allah menghilangkan penyakit kusta itu darinya. (Disebutkan oleh Ar-Razi) Benarkah Nabi Muhammad & Umatnya Lebih Istimewa hal 32, By Al-Imam Al Hafidz Ahmad bin Muhammad Al Qasthalani.
  105. ^ Benarkah Nabi Muhammad & Umatnya Lebih Istimewa, By Al-Imam Al Hafidz Ahmad bin Muhammad Al Qasthalani Sekelompok Sahabat Nabi melewati tenda Ummu Ma’bad di padang pasir, dan berusaha membeli daging dan kurma darinya, tetapi wanita itu sama sekali tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan. Lalu Nabi menunjuk kepada satu-satunya domba yang sedang berbaring di pojok, dan bertanya: “Apakah ia mempunyai susu?” Dia berkata: Ia terlalu lemah.” Nabi bertanya: “Apakah Engkau mengizinkan aku untuk memerah susunya?” Dia berkata: “Engkau yang lebih kusayangi daripada ayah dan ibu, jika aku tahu ia mempunyai susu maka aku pasti telah memerahnya sebelumnya.” Lalu Rasul Allah memanggil domba itu, dan meletakkan tangannya pada kantung susu domba, dan menyerukan nama Allah, serta berdoa untuk wanita itu dan dombanya. Tiba-tiba domba itu menegakkan kakinya ke arahnya, dan susu mulai mengalir. Nabi meminta sebuah wadah untuk susu itu, dan memerah banyak susu ke dalamnya. Lalu dia memberikannya kepada wanita itu agar diminum hingga kenyang, dan dia memberikannya kepada para sahabatnya sampai perut mereka kenyang, dan dia sendiri minum paling akhir. Setelah mereka memuaskan rasa dahaga, Nabi memerah susu sekali lagi sampai wadah itu penuh, dan dia meninggalkannya dan mereka meneruskan perjalanan. Beberapa lama kemudian suami wanita itu, Abu Ma’bad, tiba dengan menuntun beberapa ekor kambing lapar yang rupanya sangat menyedihkan dan yang sumsumnya hampir kering. Ketika dia melihat susu itu, dia terkejut dan bertanya kepadanya: “Dari mana engkau dapatkan susu ini, Ummu Ma’bad? Sebab domba itu telah kering dan tidak ada ternak perah di rumah ini.” Wanita itu berkata: “Benar, tapi seorang pria mulia telah melewati tempat ini dan begini, begitu.” Dia berkata: “Lukiskan penampilannya, Umm Ma’bad!? Wanita itu berkata: “Aku melihat seorang pria yang sangat bersih, dengan wajah cemerlang, dengan sopan santun sempurna. Dia tidak kurus dan tidak botak; lemah lembut dan anggun; matanya hitam legam, dengan bulu mata melengkung, suaranya merdu dan lehernya bersinar, janggutnya tebal, alis matanya melengkung indah. Ketika dia diam, kemuliaan melingkupinya, dan ketika dia berbicara dia tampak berwibawa, dan kecemerlangan cahaya mengelilinginya. Seorang pria yang paling tampak dan bercahaya dari jauh, dan yang paling manis dan lembut hati dari dekat.”
  106. ^ Al-Barzanji mengungkapkan mukjizat ini dalam shalawat al-Barzanji Natsar bab XVI.
  107. ^ Dikisahkan sebuah kisah seorang lelaki yang berkata kepada Nabi saw, “Saya tidak akan beriman kepadamu sehingga kamu mampu menghidupkan putriku untukku.” Dalam kisah itu disebutkan bahwa Nabi mendatangi kuburannya lalu berkata, “Wahai fulanah.” Lalu anak itu berkata, “Aku sambut panggilanmu dan dengan setia menerima perintahmu serta semoga kebahagiaan senantiasa dilimpahkan kepada baginda Rasulallah.” (Dala’ilun Nubuwwah karya Imam Bayhaqi, dari buku berjudul “Benarkah Nabi Muhammad & Umatnya Lebih Istimewa” hal32, By Al-Imam Al Hafidz Ahmad bin Muhammad Al Qasthalani).
  108. ^ “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mukmin, “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.” (Ali ‘Imran 3:123-125)
  109. ^ Rasulullah SAW dapat mengetahui kejadian yang tidak disaksikan ataupun yang tersembunyi atas izin Allah SWT. Jika kejadian ini itu sudah terjadi atau sedang terjadi, disebut ikhbar. jika hal itu baru akan terjadi, dikenal dengan istilah nubu^at. Semua ikhbar dipastikan benar adanya, dan semua nubu^at pasti akan terjadi. Hanya saja waktunya yang tidak dapat dipastikan oleh manusia seperti kita, kapan hal itu akan terjadi. Dalam kitab Nubu^at al Rasulullah SAW karya Muhammad Waliyullah al Nadawi memuat 188 Nubu^at baik yang sudah terjadi sekarang atau belum. di antaranya Peristiwa kedatangan seorang yang bernama Uways. Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya akan datang kepada kalian seorang yang bernama Uways, tinggal di yaman, tidak ada yang tinggal bersamanya kecuali ibunya.(dalam riwayat lain, dia sangat berbakti kepada orang tuanya, dan berpenyakit belang, dia berdoa kepada Allah SWT dan Allah menyembuhkan penyakit dari badannya kecuali ada sisa sebesar kepingan Dinar atau Dirham. Barangsiapa di antara kalian yang bertemu dengan dia, mintalah dia untuk memohonkan ampunan atas kalian. (Hadits riwayat Muslim)
  110. ^ Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Suatu hari Rasulullah saw. salat mengimami kami. Usai salat beliau bersabda: Hai Fulan! Mengapa kamu tidak membuat salatmu bagus? Tidakkah orang yang salat merenungkan bagaimana salatnya? Sesungguhnya ia salat untuk dirinya sendiri. Demi Allah, sungguh aku dapat melihat belakangku, sebagaimana aku melihat didepanku. (Hadits riwayat Muslim)
  111. ^ Anas Bin Malik RA berkata : Suatu hari Rasulullah SAW salat bersama kami, seusai salat Beliau menghadapkan wajahnya kepada kami, dan bersabda :” Wahai Manusia, aku berada di depan kalian, janganlah mendahuluiku dalam ruku dan jangan pula dalam sujud. Sesungguhnya aku melihat kalian baik yang berada di depan maupun kalian yang dibelakang. Selain itu, ketika Beliau tidur mata terpejam namun hati tetap terjaga.
  112. ^ Dari Abu Dzar menceritakan, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat, dan aku mendengar apa yang tidak kalian dengar, getaran dan goncangan langit dan sungguh langit ada goncangannya, dan tidak ada ruang lebih dariempat jari kecuali ada malaikat yang sujud kepada Allah SWT. Demi Allah jikalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis, dan kalian juga akan sedikit bermesraan dengan wanita (lawan jenis) di atas ranjang, dan kalian pasti akan keluar ke jalan-jalan untuk bersujud kepada Allah. Dan aku berharap kalaulah aku hanya sebuah pohon yang terpotong. (Hadits riwayat al Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Nuaym) (al Tirmidzi berkata hadits ini hasan gharib)/(lihat al Khasa^is karya al Suyuti hal. 113)
  113. ^ Rasulullah adalah dapat mengetahui kondisi penghuni kubur tertentu. Beliau dapat mengetahui penghuni kubur dalam keadaan disiksa atau sedang istirahat bak di kebun surga. Beliau juga dapat menceritakan masa lalu orang tersebut dengan ganjaran atau balasan yang diberikan. Hadits riwayat Ibnu Abbas ra. ia berkata: Rasulullah saw. pernah melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda: Ingat, sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa, namun bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena ia dulu senang mengadu domba, sedang yang lainnya disiksa karena tidak membersihkan dirinya dari air kencingnya. Kemudian beliau meminta pelepah daun kurma dan dipotongnya menjadi dua. Setelah itu beliau menancapkan salah satunya pada sebuah kuburan, dan yang satunya lagi pada kuburan yang lain seraya bersabda: Semoga pelepah itu dapat meringankan siksanya, selama belum kering.(Hadits riwayat Bukhari, Muslim)
  114. ^ Hadits riwayat Bukhari
  115. ^ Hadits diriwayatkan oleh Abu Nu’aimdari Ibnu Abbas.
  116. ^ Hadits riwayat Bukhari dan Muslimdari Aisyah.
  117. ^ Hadits diriwayatkan oleh Abu Nu’aimdari Ibnu Abbas.
  118. ^ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…Ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Hadits riwayat At-Tirmidzi.
  119. ^ “Saya sedang memangku Imam Husain as. Ketika Nabi saw. datang dan memandangnya sambil menitikkan air mata. Saya bertanya kepada beliau mengapa menangis. Rasul saw. mengungkapkan bahwa Jibril telah memberitahunya bahwa para pengikutnya akan membunuh cucunya, Husain ra.” (Baihaqi meriwayat dari Ummu al-Fadhl).
  120. ^ Hadits riwayat Abdullah bin Mas`ud ra. ia berkata: Aku menemui Rasulullah saw. ketika beliau dalam keadaan kurang sehat. Aku mengusap beliau dengan tanganku. Aku katakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya engkau benar-benar terjangkit demam yang sangat parah.” Rasulullah saw. bersabda: “Apa yang aku rasakan sekarang ini adalah sama seperti yang dialami oleh dua orang di antara kamu.” Aku berkata: “Kalau begitu engkau memperoleh dua pahala kali lipat.” Rasulullah saw. bersabda: “Benar.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Setiap muslim yang ditimpa musibah sakit dan lainnya, maka Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya, seperti daun yang rontok dari pohonnya.” (Hadits riwayat Muslim)

[sunting]Referensi

KARTINI, HUBUNGANNYA ERATNYA DENGAN ISLAM

Menurut Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara, seorang pakar Sejarah dari Universitas Pajajaran dalam bukunya “Api Sejarah” (2009), dari surat-suratnya yang dikenal dengan “Habis Gelap Timbullah Terang” dikisahkan bagaimana kekaguman Kartini kepada Al Qur’an. Kartini pernah menulis tentang kekagumannya terhadapan Kitab Suci muslim ini sebagaimana tertera pada suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 15 Agustus 1902. “Alangkah bebal dan bodohnya kami, kami tidak melihat, tidak tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan disamping kami”.
Ahmad Mansyur kemudian menyatakan bahwa Kartini menilai Al Qur’an sebagai gunung kekayaan yang telah lama ada disampingnya. Akibat pendidikan Barat, Al Qur’an menjadi terlupakan, namun setelah Tafsir Al Qur’an dibacanya, Kartini melihat Al Qur’an sebagai gunung agung hakikat kehidupan. Kartini tidak hanya ingin memahami dirinya sendiri, namun juga mempelopori kecerdasan terhadap anak bangsa. Sikap perjuangan Kartini agar kesetaraan pendidikan terhadap anak bangsa yang bukan dari Jawa, menurut Profesor Ahmad Mansyur, sangat dipengaruhi oleh ajaran Al Qur’an. Lingkungan kehidupan kabupaten Jepara merupakan medan persemaian tumbuh kembangnya ajaran Islam di kalangan Boepati yang berpikiran semaju sejalan dengan kaum muda.
Dalam memandang Islam pun, menurut kacamata Prof. Mansyur Kartini termasuk yg cukup memliki nilai fundamentalistik. Melalui surat-suratnya, Kartini memberikan gambaran akan gagalnya agama Protestan sebagai agama penjajah Belanda. Demikian pula Katolik yang dikembangkan agama penjajah Portugis, sebelum penjajah Protestan Belanda datang. Kepada E.C Abendanon Kartini mengingatkan bahwa Zending Protestan jangan bekerja dengan mengibarkan panji-panji agama. Jangan mengajak orang Islam memeluk agama Nasrani. Hal ini akan membuat zending memandang penduduk Islam sebagai musuhnya.
Dampaknya semua agama akan menjauhi zending. Kartini menolak ajakan Ny. Van Kol untuk berpindah agama menjadi Kristen. Agama Kristen dalam pandangan Kartini adalah agama penjajah. Hal itu dinilai akan merendahkan derajatnya. Pada tanggal 21 Juli 1902, secara halus Kartini mengatakan kepada Ny, Van Kol, “Yakinlah Nyonya, kami akan tetap memeluk agama kami yang sekarang ini”. Kartini kemudian mengingatkan Ny. Van Kol, tentang tekad mulianya yang akan tetap erjuang untuk menyadarkan Barat agar dapat bertoleransi terhadap agama Islam, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang agama kami Islam patut disukai”.
Pada surat itu juga Kartini menulis kepada Ny. Van Kol, ”Tiada Tuhan kecuali Allah! Kata kami umat Islam, dan bersama-sama kami semua yang beriman, kaum monotheis; Allah itu Tuhan, Pencipta Alam Semesta.” Itulah kira-kira paparan Prof. Ahmad Mansyur dan beberapa data lainnya dalam melihat Kartini sebagai pejuang Islam. Bahkan, dalam buku Prof Mansyur, bahasan mengenai Kartini masuk dalam sub bab berjudul ‘Peran Ulama dalam Gerakan Kebangkitan Kesadaran Nasional (1900-1242 M). Artinya Prof Mansyur bisa dikatakan mengakategorikan Kartini sebagai orang yang alim dalam Islam.
Sekalipun fakta-fakta kekaguman Kartini akan Islam dan nilai dalam Al Qur’an menjadi tidak terelakkan, fakta lain tentang pengaruh theosofi dalam pemikirannya juga menjadi catatan tersendiri yang mesti diungkap. Banyak Surat Kartini yang kontradiksi atau tidak sejalan terhadap pembelaannya kepada agama Islam. Menariknya ucapan kartini itu disampaikan pada tanggal yang sama pula di saat kekagumannya mengalir kepada Islam. Pada tanggal 15 Agustus 1902, Kartini mengirim Surat kepada Nyonya Abendanon yang bisa dikatakan memandang Islam sebagai agama ritual belaka ”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan, adalah bunyi tanpa makna.” Selanjutnya pandangan teosofis Kartini juga terlihat pada surat yang dikirim ke Nyonya Abendanon tertanggal 14 Desember 1902, berarti empat bulan setelah ia menyatakan kekaguman akan Islam. “Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.” (Surat kepada Ny Abendanon, 14 Desember 1902).
Juga suratnya kepada Ny. Andriani, tanggal 24 bulan September 1902 dan 5 Juli 1903
”Betapapun jalan-jalan yang kita lalui berbeda, tetapi kesemuanya menuju kepada satu tujuan yang sama, yaitu Kebaikan. Kita juga mengabdi kepada Kebaikan, yang tuan sebut Tuhan, dan kami sendiri menyebutnya Allah.” (Surat kepada Dr N Adriani, 24 September 1902). ”Tidak peduli agama apa yang dipeluk orang dan bangsa apa mereka itu. Jiwa mulia akan tetap mulia juga dan orang budiman akan budiman juga. Hamba Allah tetap dalam tiap-tiap agama, dalam tengah-tengah segala bangsa” (Surat kepada Dr N Adriani, 5 Juli 1903).
S
 b

KARTINI, MUJAHIDAH PEJUANG ISLAM YANG SESUNGGUHNYA

Sahabatku

Sesungguhnya dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;

 

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.

Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Namun, Kartini tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat. Adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, yang menuliskan kisah ini.

Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.

Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis;Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.

Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.

DONASI UNTUK MEGA

لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُةُ.

Sahabat Catatan Cinta Abi dan Sahabat Darul Aytam yang saya cintai karena Allah Yang Maha Penyanyang. Dalam Notes ini saya bermohon agar dengan ikhlasannya untuk membacakan dan mengirimkan doa serta Surah Al fatihah untuk adik kita Mega, anak Yatim Darul Aytam yang kembali kambuh TBC dan komplikasinya.

Saat ini Adik Mega sedang dirawat di RS Fatmawati, .Jakarta Selatan. Semoga Allah angkat segala sakitnya dan berikan kesehatan seperti sediakala..Syafakallah syifaan ajilan..ALFATIHAH..

Bagi sahabat yang ingin membantu pengobatannya dapat menyalurkan Zakat, Infaq dan sedekahnya ke rekening-Rekening : 1260004993787 an Ibu Chuswatun Hasanah qq Yayasan Darul Aytam, Rekening BCA : 7650412197an Drs.SETIAWAN S.BACKRIE (Abi Zakky Setiawan )Q.q Yayasan Darul Aytam

PARA PENGHUNI SURGA


Siapakah Para penghuni Surga? Allah menginformasikan nya kepada kita. Sebagian di antara mereka digambarkan dalam ayat ayat berikut ini.

QS. Al Ahqaf (46) :15
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa, dan umumya sampai empat puluh tahun ia berdoa : Ya, Tuhanku tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhoi, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

QS. Al Ahqaf (46) : 16
“Mereka itulah orang-orang yang diterima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan, dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni penghuni Surga, sebagai janji yang benar yang telah Kami janjikan kepada mereka”

Mengikuti ayat tersebut, kita memperoleh kesimpulan tentang siapakah orang yang bakal masuk Surga.
1. Orang yang berbuat baik kepada ibu bapaknya
2. Orang yang pandai bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diterimanya.
3. Orang yang beramal saleh dengan mengharap ridho Allah.
4. Orang yang bertaubat atas segala kesalahan yang pernah dia lakukan.
5. Orang yang berserah diri hanya kepada Allah saja.

ldealnya, kita bisa mengerjakan kelima hal tersebut dalam kehidupan kita. Maka Insya Allah kita akan menjadi salah satu dari penduduk Surga. Itulah janji Allah. Orang yang demikian, kata Allah, akan diterima amalannya dan dimaafkan segala kesalahannya. Bagaimanakah penjelasannya? Marilah kita bahas lebih jauh.

1. Berbuat Baik kepada Ibu Bapak.

Kenapa orang yang berbuat baik kepada ibu bapaknya menjadi calon penghuni Surga? Sebab, orang tua adalah wakil Allah di muka Bumi, berkaitan dengan penciptaan manusia. Kalau tidak ada orang tua kita, maka kita pun tidak akan pernah ada di muka Bumi ini.

Karena itu, kita bisa merasakan betapa besar dan sentralnya peranan orang tua dalam kehidupan kita. lbu kitalah yang bersusah payah mengandung, memelihara dan mendidik sampai kita dewasa. Dan bapak kita berusaha mati-matian untuk menafkahi keluarga. Mempertahankan hidup kita sampai dewasa. Sampai bisa dilepas untuk bisa hidup mandiri. Maka, kata Allah di dalam ayat tersebut, anak yang bisa membalas budi kepada orang tuanya dan mendoakan mereka termasuk perhatian kepada anak cucunya akan memperoleh penghargaan yang tinggi dari Allah.

Orang yang seperti ini, telah ‘membantu’ Allah untuk menciptakan generasi-generasi yang berkualitas di muka Bumi bagi masa depannya. Maka, ia berhak memperoleh kebahagiaan Surga.

2. Orang Yang Pandai Bersyukur.

Orang yang pandai bersyukur menunjukkan bahwa ia adalah orang yang bijak. Sedangkan orang yang bijak menunjukkan bahwa dia orang yang memiliki pemahaman yang mendalam. Dan, orang yang memiliki pemahaman yang mendalam menunjukkan bahwa ia telah makan asam garam kehidupan.

Dalam konteks agama, ia bukan hanya orang yang bisa berteori di dalam beragama, melainkan telah menjalani agama ini dengan sepenuh hatinya. la telah ‘bertemu’ Allah dalam setiap aktivitas kehidupannya.

Bagaimana seseorang bisa bersyukur, kalau ia tidak pernah ‘bertemu Allah’. Kepada siapakah ia bersyukur jika ia tidak paham bahwa Allah lah Tuhan semesta alam. Bahwa Allah lah yang telah memberinya kenikmatan itu. Baik berupa kesehatan, harta, kedudukan, ilmu pengetahuan, dan berbagai macam kenikmatan lainnya.

Orang yang bisa bersyukur adalah orang yang telah melewati masa-masa kritis dalam keimanannya, dalam ketakwaannya. la telah ditempa kehidupan yang memberikan kesimpulan bahwa hidup ini temyata milik Allah. Bukan miliknya. Karena itu, ia mensyukuri segala nikmat yang diperolehnya, sebab ia tahu persis bahwa semua itu semata-mata pemberianNya … ! Maka, orang yang demikian ini sangat pantas tinggal di Surga.

3. Beramal Saleh, Mengharap Ridha Allah.

Kenapa pulakah orang yang beramal saleh pantas masuk Surga? Orang yang beramal saleh adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya ingin bermanfaat sebesar-besarnya. Baik buat dirinya sendiri, buat keluarganya, buat sahabat-sahabatnya, buat masyarakatnya, buat bangsa dan akhirnya buat syiar agamanya.

Orang yang bisa beramal saleh adalah orang yang paham tentang misi kehidupan dan misi beragamanya. ia telah menemukan pemahaman yang menyeluruh (holistik) atas kehidupannya. Dan, setelah paham semua itu, ia lantas melakukan amalan yang bermanfaat sepanjang hidupnya. Di mana pun dia berada.

Maka, orang yang demikian adalah orang-orang yang telah melewati tahapan iman dan takwa. Sebab Iman adalah Keyakinan. Dan Takwa adalah kemampuan mengendalikan diri saat melakukan amalan. Kedua duanya telah dijalankannya secara praktis saat ia melakukan amalan yang saleh.

Maka, pantaslah seorang yang banyak amalan salehnya akan memasuki Surga. Karena sebenarnya, itu adalah gambaran praktis dari seorang yang telah tinggi keimanan dan takwanya. Apalagi amalan salehnya itu bukan karena pamer atau pamrih, melainkan karena ingin mencari ridha Allah.

4. Orang yang Bertaubat.
Siapakah orang yang tidak pernah berbuat salah? Siapa pulakah manusia yang tidak pernah berdosa? Tidak ada, kecuali hamba hambaNya yang dijaga agar tetap makshum oleh Allah, sebagaimana Rasulullah saw.

Karena itu, Allah telah menetapkan Dirinya sebagai Dzat Yang Maha Pengampun dan Penerima Taubat. Jika Allah menghukum manusia karena kesalahannya, maka manusia seluruh muka Bumi ini tidak ada yang tersisa satu pun dari azabNya. Tetapi Allah Maha Pengampun dan Maha Pemaaf.

Maka, sebenarnya, orang-orang yang bisa masuk Surga itu lebih dikarenakan sifat Pengampun dan PemaafNya saja. Jika tidak, maka sungguh tidak ada yang pantas masuk ke dalam Surga Allah itu, disebabkan oleh begitu banyak dosa yang telah diperbuatnya.

Karena itu, Allah mengatakan di dalam ayat tersebut bahwa orang-orang yang pantas masuk Surga itu adalah orang-orang yang selalu bertaubat kepadaNya.

Bertaubat adalah memohon ampunan dan belas kasih permaafan dari Allah atas segala dosa dan kesalahan yang telah di perbuatnya. Dan dia berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada Allah untuk tidak mengulangi kesalahan itu lagi.

Kalau kita sepenuh hati memohon ampunanNya dan bertaubat, Insya Allah Dia akan memaafkan dosa-dosa kita, sebesar apa pun dosa yang telah kita lakukan. Tidak ada dosa di alam semesta ini yang besamya melebihi besamya Kasih Sayang Allah. Demikian pula, tidak ada dosa di dunia ini yang besarnya mengalahkan sifat Pengampun dan Pemaafnya Allah.

Maka, datanglah kepadaNya dengan berendah diri dan penuh penyesalan, Insya Allah Dia akan mengampuni dosa-dosa yang pernah kita lakukan, seluruhnya. Dan Ia akan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hambaNya di dalam Surga.

5. Berserah Diri Hanya kepada Allah Saja.
Puncak dari seluruh perjalanan keagamaan kita ini sebenarnya adalah berserah diri kepada Allah. Seluruh tahapan-tahapan kualitas yang pernah kita jalani dalam beragama, muaranya adalah berserah diri kepada Allah saja. Hal ini dikemukan Allah di dalam berbagai ayatNya.

QS. An Nisaa : 125
Dan siapakah yang lebih baik agamanya di antara kalian, selain orang orang yang berserah diri hanya kepada Allah, dan dia selalu berbuat kebajikan

Berserah diri adalah tingkatan tertinggi di dalam beragama Islam. Sehingga secara retorika, Allah bertanya kepada kita : siapakah yang lebih baik agamanya di antara manusia, kecuali orang-orang yang berserah diri kepada Allah? Jawaban atas pertanyaan itu telah diberikan sendiri olehNya, bahwa yang terbaik adalah berserah diri

Di ayatNya yang lain, secara tegas Allah menempatkan ‘berserah diri’ itu di atas keimanan dan ketakwaan.

QS. Ali Imran (3) : 102
“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan berserah diri (Islam).”

Keimanan adalah langkah awal, dimana seseorang ‘dianjurkan’ untuk memperoleh keyakinan bahwa apa yang akan dia jalani di dalam beragama ini adalah benar dan bermanfaat.

Setelah ia peroleh keyakinan itu, maka ia mesti menjalankan dalam kehidupan yang sesungguhnya. Sebab beragama ini memang bukan sekadar pengetahuan dan keyakinan saja, melainkan untuk dijalani. Diamalkan. Itulah Takwa : sebuah upaya terus-menerus untuk tetap istidomah di dalam menjalani agama. Ini tidak mudah. Karena itu Allah mengatakan di ayat tersebut bertakwalah kalian dengan ‘sebenar benarnya’. Dengan upaya yang sangat keras dan sungguh-sungguh.

Dan puncaknya, adalah berserah diri kepada Allah semata. Orang yang sudah makan asam garam kehidupan dalam proses peribadatan yang sangat panjang.

Ketika seseorang sudah mencapai tingkatan ‘berserah diri kepada Allah’, maka bisa dikatakan dia sudah menemukan hakikat kehidupan. Bahwa segala yang ada ini tenyata bukan miliknya.

Harta yang dia punyai pun sebenarnya bukan miliknya. Karena ternyata, dia tidak pernah bisa menolak kehadiran maupun lenyapnya harta itu ketika sudah waktunya.

Demikian pula istri atau suami, dan keluarga yang dicintainya. Semuanya juga bukan miliknya. Karena suatu ketika, mereka satu per satu akan meninggalkannya.

Kekuasaan, juga tidak pernah ada yang kekal abadi. Kekuasaan yang dia peroleh hari ini, suatu ketika harus dilepasnya pula. Dia dibatasi oleh umur dan kondisi di sekelilingnya.

Bahkan dirinya dan hidupnya. Ternyata, juga bukan miliknya. Dia tidak pernah bisa menghindari sakit, lelah, sedih, gembira dan berbagai masalah yang menghampiri kehidupannya. Bahkan akhirnya, dia tidak pernah bisa melawan proses ketuaan. Suatu ketika dia harus merelakan kehidupannya, meninggalkan dunia yang fana, untuk kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan.

Maka, ujung dari seluruh perjalanan kehidupannya itu, ia menyimpulkan untuk berserah, diri kepada Allah saja. la mengakui, bahwa dirinya bukan apa-apa. Allah lah yang memiliki dan berkuasa atas segala-galanya di alam semesta.

la letakkan seluruh rasa possessive nya, rasa kepemilikannya terhadap dunia. Dia menata hatinya untuk kembali kepada Allah. Berserah diri sepenuh-penuhnya, sebagaimana yang selalu ia ikrarkan dalam setiap shalatnya : “sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku kuserahkan hanya untuk Allah semata . . . ”

Kalau sudah demikian adanya, maka sesungguhnya ia telah memperoleh Surga dunia. Dan setelah hari kiamat nanti, Allah akan memasukkan orang itu ke dalam Surga yang sesungguhnya. Bukan hanya ‘wilayah Surga’ yang penuh dengan taman-taman indah, mata air mata air yang jernih, buah-buahan yang sedap rasanya, serta berbagai kenikmatan kebendaan. Karena sejak di dunia ia telah terlanjur memperoleh kesimpulan bahwa semua kenikmatan benda itu adalah ‘semu belaka’!

‘Kenikmatan Yang Sejati’ telah dia peroleh lewat dzikir-dzikirnya yang panjang kepada Allah. Telah dia rasakan saat-saat shalat malam dalam keheningan semesta. Dan telah dia ‘genggam’ dalam seluruh tarikan nafas maupun denyut jantungnya yang selalu membisikkan kalimat-kalimat tauhid : Allah … Allah … Allah

 —

MEMBACA KASIH SAYANG ALLAH

Dan Dia (Allah) Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim lagi sangat mengingkari (kufur nikmat)“. (Ibrahim: 34)

Membaca merupakan perintah pertama Allah dalam Al-Qur’an yang ditujukan langsung kepada manusia pilihan-Nya, Rasulullah saw. melalui wahyu pertama ‘Iqra’ (bacalah) dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan’ (Al-Alaq: 1). Membaca di sini harus difahami dalam arti yang luas karena memang objek membaca dalam wahyu pertama tersebut tidak dibatasi dan tidak ditentukan; Bacalah! Berarti beragam yang layak dan harus dibaca. Salah satu objek terbesar yang harus dibaca adalah kasih sayang Allah swt. yang terhampar di seluruh jagat raya ini tanpa terkecuali. Semuanya adalah bukti dan tanda kasih sayang Allah swt. untuk seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Untuk itu, ayat di atas hadir untuk mengingatkan manusia akan kasih sayang Allah swt. yang memberikan segala yang dibutuhkan, sekaligus merupakan perintah untuk senantiasa membaca karunia tersebut agar tidak termasuk orang yang zalim, apalagi kufur nikmat seperti yang disebutkan di kalimat terakhir ayat tersebut di atas ‘Sesungguhnya manusia itu sangat zhalim lagi sangat ingkar nikmat.’

Tentu, ayat ini tidak berdiri sendiri seperti juga seluruh ayat-ayat Al-Quran. Setiap ayat memiliki keterkaitan dan korelasi dengan ayat sebelum atau sesudahnya yang menunjukkan wahdatul Qur’an kesatuan dan kesepaduan ayat-ayat Al-Qur’an, termasuk ayat di atas ini harus dibaca dengan mengkorelasikannya dengan dua ayat sebelumnya yang menggambarkan sekian banyak dari nikmat Allah swt. yang harus dibaca dengan penuh kesadaran:

“Allahlah Yang telah menciptakan langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit, Kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia pula telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Ibrahim: 32-33)

Ayat yang senada dengan ayat di atas dalam bentuk tantangan Allah kepada seluruh makhluk-Nya sekaligus perintahNya untuk membaca hamparan karunia nikmat-Nya yang tiada terhingga adalah surah An-Nahl: 18

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dalam penutup ayat ini Allah swt. hadir dengan dua sifat yang merupakan puncak dari kasih sayang-Nya, yaitu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.

Ibnu Katsir mengungkapkan penafsirannya dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim bahwa selain dari perintah Allah untuk membaca nikmat Allah, pada masa yang sama merupakan sebuah pernyataan akan ketidak berdayaan hamba Allah swt. dalam menghitung nikmat-Nya, apalagi menjalankan kesyukuran karenanya, seperti yang dinyatakan oleh Thalq bin Habib:

“Sesungguhnya hak Allah sangat berat untuk dipenuhi oleh hamba-Nya. Demikian juga nikmat Allah begitu banyak untuk disyukuri oleh hamba-Nya. Karenanya mereka harus bertaubat siang dan malam.”

Membaca kasih sayang Allah merupakan langkah awal mensyukuri nikmat-Nya. Untuk membuktikan bahwa seseorang telah melakukan syukur nikmat, paling tidak terdapat empat langkah yang harus dipenuhinya: pertama, Mengekpresikan kegembiraan dengan kehadiran nikmat tersebut. Kedua, Mengapresiasikan rasa syukur atas nikmat tersebut dengan ungkapan lisan dalam bentuk pujian. Ketiga, membangun komitmen dengan memelihara dan memanfaatkan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Sang Pemberi nikmat. Keempat, Mengembangkan dan memberdayakannya agar melahirkan kenikmatan yang lebih besar di masa yang akan datang sesuai dengan janji Allah swt. dalam firman-Nya:

“Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu.” (Ibrahim: 7) Di sini kesyukuran justru diuji apakah dapat membuahkan kenikmatan yang lain atau malah sebaliknya, menghalangi hadirnya nikmat Allah swt. dalam bentuk yang lainnya.

Ternyata memang mega proyek Iblis terhadap manusia adalah bagaimana menjauhkannya dari kasih sayang Allah swt. sehingga mereka senantiasa hanya membaca ujian dan cobaan yang menimpanya agar mereka tidak termasuk kedalam golongan yang mensyukuri nikmat-Nya. Padahal secara jujur, kasih sayang Allah swt. dalam bentuk anugerah nikmat-Nya pasti jauh lebih besar daripada ujian maupun sanksi-Nya. Di sini, kelemahan manusia membaca nikmat merupakan keberhasilan proyek iblis menyesatkan manusia. Allah menceritakan tentang proyek

Iblis dalam firman-Nya:

“Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.“ (Al-A’raf: 16-17)

Dalam konteks ini, sungguh usaha dan kerja Iblis tidak main-main. Ia akan memperdaya manusia dari seluruh segmentasi dan celah kehidupannya tanpa terkecuali. Dalam bahasa Prof. Mutawalli Sya’rawi, “Syaitan akan datang kepada manusia dari titik lemahnya (ya’tisy Syaithan min nuqthah dha’f lil insan).” Jika manusia kuat dari aspek harta, maka ia akan datang melalui pintu wanita. Jika ia kuat pada pintu wanita, ia akan datang dari pintu jabatan dan begitu seterusnya tanpa henti. Sehingga akhirnya hanya segelintir manusia yang akan selamat dari bujuk rayu syetan dan menjadi pribadi yang bersyukur. Allah swt. pernah berpesan kepada Nabi Daud dan keluarga-Nya agar mewaspadai hal tersebut dalam firman-Nya: “Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (bersyukur).“ (Saba’: 13)

Memang hanya sedikit sekali yang cerdas dan bijak membaca kasih sayang Allah swt. Selebihnya adalah manusia yang suka berkeluh kesah, mengeluh dan tidak bersyukur atas karunia nikmat yang ada. Bahkan kerap menyalahkan orang lain, su’uzhan dan berprasangka buruk kepada Allah. Padahal kebaikan dan pahala sikap syukur itu akan kembali kepada dirinya sendiri, bukan kepada orang lain. Karenanya ujian kesyukuran itu akan terus menyertai manusia sampai Allah benar-benar tahu siapa yang bersyukur diantara hamba-Nya dan siapa di antara mereka yang kufur. ‘Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan yang sedikit.‘ Allahu a’lam