KEBENENINGAN SEBUAH HATI

Sungguh beruntung bagi siapapun yang mampu menata qolbunya menjadi bening, jernih, bersih, dan selamat.

Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapapun sekiranya memiliki qolbu yang tertata, terpelihara, dan terawat dengan sebaik-baiknya. Karena selain senantiasa merasakan kelapangan, ketenangan, ketenteraman, kesejukan, dan indahnya hidup di dunia ini, pancaran kebeningan hati pun akan tersemburat pula dari indahnya setiap aktivitas yang dilakukan.

Betapa tidak, orang yang hatinya tertata dengan baik, wajahnya akan jauh lebih jernih. Bagai embun menggelayut di ujung dedaunan di pagi hari yang cerah lalu terpancari sejuknya sinar mentari pagi; jernih, bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Tidak berlebihan jika setiap orang akan merasa nikmat menatap pemilik wajah yang cerah, ceria, penuh sungging senyuman tulus seperti ini.

Begitu pula ketika berkata, kata-katanya akan bersih dari melukai, jauh dari kata-kata yang menyombongkan diri, terlebih lagi ia terpelihara dari kata-kata riya, subhanallah. Setiap butir kata yang keluar dari lisannya yang telah tertata dengan baik ini, akan terasa sarat dengan hikmah, sarat dengan makna, dan sarat akan mamfaat. Tutur katanya bernas dan berharga.

Inilah buah dari gelegak keinginan di lubuk hatinya yang paling dalam untuk senantiasa membahagiakan orang lain. Kesehatan tubuh pun terpancari pula oleh kebeningan hati, buah dari kemampuannya menata qolbu. Detak jantung menjadi terpelihara, tekanan darah terjaga, ketegangan berkurang,dan kondisi diri yang senantiasa diliputi kedamaian.

Tak berlebihan jika tubuh pun menjadi lebih sehat, lebih segar, dan lebih fit. Tentu saja tubuh yang sehat dan segar seperti ini akan jauh lebih memungkinkan untuk berbuat banyak kepada umat. Orang yang bening hati, akal pikirannya pun akan jauh lebih jernih. Baginya tidak ada waktu untuk berpikir jelek sedetik pun jua. Apalagi berpikir untuk menzhalimi orang lain, sama sekali tidak terlintas dibenaknya.

Waktu baginya sangat berharga. Mana mungkin sesuatu yang berharga digunakan untuk hal-hal yang tidak berharga? Sungguh suatu kebodohan yang tidak terkira. Karenanya dalam menjalani setiap detik yang dilaluinya ia pusatkan segala kemampuannya untuk menyelesaikan setiap tugas hidupnya. Tak berlebihan jika orang yang berbening hati seperti ini akan lebih mudah memahami setiap permasalahan, lebih mudah menyerap aneka ilmu pengetahuan, dan lebih cerdas dalam melakukan beragam kreativitas pemikiran. Subhanallah, bening hati ternyata telah membuahkan aneka solusi optimal dari kemampuan akal pikirannya.

Walhasil, orang yang telah tertata hatinya adalah orang yang telah berhasil merintis tapak demi tapak jalan ke arah kebaikan tidak mengherankan ketika ia menjalin hubungan dengan sesama manusia pun menjadi sesuatu yang teramat mengesankan. Hatinya yang bersih membuat terpancar darinya akhlak yang indah mempesona, rendah hati, dan penuh dengan kesantunan.

Siapapun yang berjumpa akan merasa kesan yang mendalam, siapapun yang bertemu akan memperoleh aneka mamfaat kebaikan, bahkan ketika berpisah sekalipun, orang seperti ini menjadi buah kenangan yang tak mudah dilupakan.

Dan, Subhanallah, lebih dari semua itu, kebeningan hatipun ternyata dapat membuat hubungan dengan Allah menjadi luar biasa mamfaatnya. Dengan berbekal keyakinan yang mendalam, mengingat dan menyebut-Nya setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat-Nya, membuat hatinya menjadi tenang dan tenteram. Konsekuensinya, dia pun menjadi lebih akrab dengan Allah, ibadahnya lebih terasa nikmat dan lezat. Begitu pula doa-doanya menjadi luar biasa mustajabnya.

Mustajabnya doa tentu akan menjadi solusi bagi persoalan-persoalan hidup yang dihadapinya. Dan yang paling luar biasa adalah karunia perjumpaan dengan Allah Azza wa Jalla di akhirat kelak, Allahu Akbar. Pendek kata orang yang bersih hati itu, luar biasa nikmatnya, luar biasa bahagianya, dan luar biasa mulianya. Tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak.

Tidak rindukah kita memiliki hati yang bersih? Silahkan bandingkan dengan orang yang berperilaku sebaliknya; berhati busuk, semrawut, dan kusut masai. Wajahnya bermuram durja, kusam, dan senantiasa tampak resah dan gelisah. Kata-katanya bengis, kasar, dan ketus. Hatinya pun senantiasa dikotori buruk sangka, dendam kesumat, licik, tak mau kompromi, mudah tersinggung, tidak senang melihat orang lain bahagia, kikir, dan lain-lain penyakit hati yang terus menerus menumpuk, hingga sulit untuk dihilangkan. Tak berlebihan bila perilakunya pun menjadi hina dan nista, jauh dari perilaku terhormat, lebih dari itu, badannya pun menjadi mudah terserang penyakit.

Penyakit buah dari kebusukan hati, buah dari ketegangan jiwa, dan buah dari letihnya pikiran diterpa aneka rona masalah kehidupan. Selain itu, akal pikirannya pun menjadi sempit dan bahkan lebih banyak berpikir tentang kezhaliman. Oleh karenanya, bagi orang yang busuk hati sama sekali tidak ada waktu untuk bertambah ilmu. Segenap waktunya habis hanya digunakan untuk memuntahkan ketidaksukaannya kepada orang lain.

Tidak mengherankan bila hubungan dengan Allah SWT pun menjadi hancur berantakan, ibadah tidak lagi menjadi nikmat dan bahkan menjadi rusak dan kering. Lebih rugi lagi, ia menjadi jauh dari rahmat Allah. Akibatnya pun jelas, doa menjadi tidak ijabah (terkabul), dan aneka masalah pun segera datang menghampiri, naudzubillaah (kita berlindung kepada Allah).

Ternyata hanya kerugian dan kerugian saja yang didapati orang berhati busuk. Betapa malangnya. Pantaslah Allah SWT dalam hal ini telah mengingatkan kita dalam sebuah Firman-Nya : “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. Asy-Syam [91] : 9 10). Ingatlah saudaraku, hidup hanya satu kali dan siapa tahu tidak lama lagi kita akan mati. Marilah kita bersama-sama bergabung dalam barisan orang-orang yang terus memperbaiki diri, dan mudah-mudahan kita menjadi contoh awal bagaimana menjadikan hidup indah dan prestatif dengan bening hati, Insya Allah.

Iklan

MENGAPAI KETENANGAN HATI

Sahabatku

Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla telah berfirman dalam Al Qur’an Al Kareem :

الذين آمنوا وتطمئن قلوبهم بذكرالله ألا بذكرالله تطمئن القلوب

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Kata (تطمئن) dalam kosa kata bahasa Arab dikenal dengan nama fi’il mudhari’ yaitu kata kerja yang menunjukan masa sekarang dan akan datang atau berkelanjutan. Maka ketenangan yang ditawarkan oleh Allah dalam ayat di atas adalah ketenangan yang bersifat terus-menerus, berkesinambungan, dan tidak pernah putus. Allah menawarakn dua syarat; pertama iman dan kedua zikir kepada Allah.
Dari penjelasan ayat tersebut jelaslah bahwa iman adalah syarat pertama dan utama seseorang bisa memperoleh ketenangan hati. Maka, ketengan tidak ditentukan oleh sebarapa banyak harta seseorang, atau seberapa tinggi kedudukan dan jabatan seseorang dan seterusnya. Akan tetapi, ditentukan seberapa teguh keyakinan dan keimanan seseorang kepada Allah. Bukankah kata iman berasal dari kata amana yang dari kata yang sama muncul kata aman? Bahwa keamanan dan kenyamanan hidup tidak akan pernah terpisahkan dari keimanan.
Oleh karean itu, jangan pernah mengira orang yang tidak beriman kepada Allah akan memperoleh ketenangan hati, sekalipun mereka hidup dengan fasilitas duniawi yang serba mewah; harta yang melimpah, kendaraan yang mewah, rumah yang megah, kamar ber AC dan seterusnya, dipastikan tidak ada ketenangan hati bagi mereka, jika iman tidak ada di hati tersebut.
Syarat kedua adalah zikir, mengingat, menyebut dan menghadirkan kebesaran Allah dalam setiap gerak hati, lidah dan anggota tubuh seseorang. Kita bisa belajar dari para pemuda penghuni goa yang dikenal dengan ash-habul kahfi, yang bisa tidur dengan lelap, nyenyak dan tenang selama 309 tahun, sekalipun tidur di atas batu, dalam lobang yang sempit dan gelap, pengap, tidak ada penerang apalagi AC, bahkan musuh berkeliaran di luar goa yang siap mencincang tubuh mereka jika ditemukan.

Namun, semua itu tidak menghalangi mereka untuk mendapatkan ketangan hati, dalam suasana yang sulit dan tidak menyenangkan. Jawabannya adalah karena mereka adalah para pemuda yang tidur dengan iman dan selalu berzikir kepada Allah. Lihat surat al-Kahfi [18]: 13

… إِنَّهُمْ فِتْيَةٌءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ
Artinya: …”sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka..
Begu juga ayat 10
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Artinya: “(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”

Lalu apa saja bentuk zikir yang disebutkan di dalam al-Qur’an yang akan menjadikan hati manusia tenang? Setidaknya ada tiga hal;
Pertama, Shalat; apakah shalat wajib ataupun sunat dengan ketentuan bahwa shalat itu dikerjakan dengan senpurna, menurut aturannya dan dengan kekhusu’an. Begitulah yang disebutkan dalam surat Thaha [20]: 14
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Artinya: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”
Oleh karena itu, semkian sempurna pelaksanaan shalat seseorang, baik secara kuantitas artinya shalat yang dikerjakan dalam bentuk yang banyak – tidak hanya yang wajib namun juga diikuti yang sunat – maupun secara kualitas artinya shalat dikerjakan dengan cara yang sempurna menurut aturannya, maka akan semakin besar peluang seseorang mendapatkan ketenangan hati. Sebaliknya, semakin tidak sempurna shalat seseorang atau bahkan secara sadar meninggalkan shalat, dipastikan ketengan hati akan semakin jauh dari hatinya. Bukankah nabi Muhammad saw. ketika dihadang kesedihan hati yang mendalam di saat isteri beliau Khadijah dan paman beliau Abu Thalib wafat, Allah menghibur dengan cara memperjalankan beliau yang kemudian dikenal dengan peristiwa Isra’ dan Mi;raj yang tujuannya adalah untuk menjemput perintah shalat.
Kedua, membaca al-Qur’an seperti disebutkan dalam surat al-Anbiya’ [20]: 50
وهذا ذكر مبارك أنزلناه أبأنتم له منكرون
Artinya: “Dan Al Quran ini adalah suatu kitab (zikir/peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?
Oleh karena itu, semakin dekat seseorang dengan al-Qur’an, maka semakin besar peluangnya memperoleh ketenangan hati. Sebaliknya, jika seseorang jauh dari al-Qur’an ketanangan juga akan semakin jauh dari hatinya.
Ketiga, selalu mengingat, menyebut dan menghadirkan Allah dan kebesaran-Nya dalam hati seseorang kapanpun, di manapun dan dalam kondisi apapun. Begitulah yang dikatakan Allah swt dalam surat Ali Imran [3]: 191
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ…
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring…
Itulah diantara zikir yang pasti akan mendatangkan ketenangan hati yang hakiki dan permanen

BERHARAP PERTOLONGAN ALLAH SEMATA

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan nya”. yaitu yang mencukupinya. Ar-Robi’ bin Khutsaim berkata : Dari segala sesuatu yang menyempitkan manusia.

Ibnul Qayyim berkata : Allah adalah yang mencukupi orang yang bertawakal kepadanya dan yang menyandarkan kepada-Nya, yaitu Dia yang memberi ketenangan dari ketakutan orang yang takut, Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong dan barangsiapa yang berlindung kepada-Nya dan meminta pertolongan dari-Nya dan bertawakal kepada-Nya, maka Allah akan melindunginya, menjaganya, dan barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah akan membuatnya nyaman dan tenang dari sesuatu yang ditakuti dan dikhawatirkan, dan Allah akan memberi kepadanya segala macam kebutuhan yang bermanfa’at.

Dan ini adalah ganjaran yang paling besar, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan diri-Nya sendiri sebagai yang memenuhi segala kebutuhan orang yang bertawakal kepada-Nya, dan sungguh Allah telah banyak menyebutkan kebaikan dan keutamaan yang menjadi ganjaran untuk orang-orang yang bertawakal kepada Allah.

Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu; Nabi-nabi, para hiddiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.

Sedangkan ayat yang menyebutkan sikap tawakal adalah firman Allah : “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan nya”.

Ibnu Al-Qayyim berkata : Perhatikanlah ganjaran-ganjaran yang akan diterima oleh orang yang bertawakal yang mana ganjaran itu tak diberikan kepada orang lain selain yang bertawakal kepada-Nya, ini membuktikan bahwa tawakkal adalah jalan terbaik untuk menuju ke tempat di sisinya dan perbuatan yang amat dicintai Allah.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata. “Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Jika seseorang keluar dari rumah, maka ia akan disertakan oleh dua orang malaikat yang selalu menemaninya. Jika orang itu berkata Bismillah , kedua malaikat itu berkata : Allah telah memberimu petunjuk, jika orang itu berkata : Tiada daya dan upaya dan kekuatan kecuali kepada Allah, kedua malaikat itu berkata : Engkau telah dilindungi dan dijaga, dan jika orang itu berkata : Aku bertawakal kepada Allah, kedua malaikat itu berkata : Engkau telah mendapatkan kecukupan”. 1}

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam bab Zuhud yang disanadkan kepada Amru bin ‘Ash yang mengangkat hadits ini kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda : “Sesungguhnya di dalam hati anak Adam terdapat celah-celah, dan barangsiapa yang mengabaikan Allah pada setiap celah di dalam hatinya maka ia akan binasa, dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi celah-celah yang ada dalam hatinya itu”. di dalam Az-Zawaid dikatakan bahwa hadist ini lemah sanadnya, dan di dalam Al-Mizan dikatakan bahwa hadits ini tertolak}

Sebagaimana diriwayatkan pula bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang memutuskan gantungannya selain kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan mencukupi baginya segala kebutuhannya, dan Allah akan mendatangkan rezeki baginya dari yang tak terduga”.

Yang memberi kecukupan hanyalah Allah saja, sebagaimana firman-Nya : “Hai Nabi, cukuplah Allah bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu”. , artinya; cukuplah Allah bagi kamu, dan cukuplah bagimu orang-orang yang beriman mengikutimu , maka kalian semua tak akan membutuhkan seseorang jika kalian bersama Allah, ini adalah pendapat dari Abu Shaleh Ibnu Abbas, dan juga berpendapat Ibnu Zaid, Muqatil . Asy-Sya’bi dan lain-lainnya, dan Ibnu Katsir tak menyebutkan selain pendapat ini . Ada juga yang mengatakan bahwa artinya adalah : cukuplah bagimu Allah, dan cukuplah bagimu orang-orang yang beriman, yaitu pendapat yang diriwayatkan dari Al-Hasan dan diikuti oleh An-Nuhas.

 

DOA ORANG YANG DIDZALIMI

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَمُعَاذاً إِلَى الْيَمَنِ وَقَال لَهُ : “اِتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَاوَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahawa Nabi SAW telah mengutus Mu’adz ke Yaman dan Beliau berkata kepadanya : “Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi, kerana doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) di antara dia dengan Allah“. H.R. Bukhari dan Muslim

 

Ketika Rasulullah SAW mengutus seorang sahabatnya yang bernama Mu’adz bin Jabal ke negeri Yaman untuk berdakwah di sana, Beliau memberikan beberapa pesan penting dalam mengajak manusia kepada kebenaran yang telah ajar olehnya SAW. Dalam hadits ini beliau berpesan kepada Mu’adz bin Jabal agar waspada dan takut akan doa orang yang terzalimi, kerana doa orang yang terzalimi tidak akan tertolak. Demikian pesan Rasulullah SAW : “ … doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) diatara dia dengan Allah”.Oleh kerananya bersikap adil sentiasa harus ada pada diri setiap individu muslim.

Hancurnya Umat Tedahulu Kerana KezalimanBanyak kita dapati dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW hancurnya umat terdahulu disebabkan perilaku zalim yang mereka lakukan.

Fira’un Raja KezalimanApa yang dilakukan oleh Fir’aun, sang raja kezaliman dan bala tenteranya kepada umat Nabi Musa AS jelas adalah penyebab musnahnya mereka dengan cara ditenggelamkan di laut merah. Di antara kezalimanan yang dilakukan Fir’aun dan bala tentaranya tersebut adalah mereka telah membunuhi anak-anak lelaki bani israil dan membiarkan anak-anak perempuan mereka hidup. Dengan perlakuan zalim ini, Nabi Musa AS pun mengajak kaumnya untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT dan bersabar atas kezaliman ini.

Kemudian Nabi Musa AS berdoa kepada Allah SWT atas kehancuran dan kebinasaan Fir’aun dan para pengukutnya :

“رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلأَهُ زِيْنَةً وَأَمْوَالاً فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُواْ حَتَّى يَرَوُاْ الْعَذَابَ الأَلِيمَ

 … Ya Tuhan kami, engkau telah memberi kepada Fir’aun dan para pegawai kaumnya berupa perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami ini semua mengakibatkan mereka menyesatkan manusia (hamba-hamba-Mu), dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta-benda mereka dan kunci matilah hati mereka. Mereka tidak akan beriman dan kembali kepada jalan yang benar sebelum melihat siksaan-Mu yang pedih.” (Q.S. Yunus/10 : 88)

Orang Orang Yang Makbul DoanyaAda ramai orang yang doanya tidak akan tertolak yakni maqbul, diantaranya :

Orang Yang BerpuasaDi antara doa yang akan dikabulkan oleh Allah SWT adalah doa orang yang berpuasa, doanya akan Allah kabulkan hingga dia berbuaka puasa, namun tentunya puasa yang dia lakukan adalah puasa yang dilandasi oleh keikhlasan karena Allah SWT.

Pemimpin Yang AdilKepemimpinan adalah sebuah amanah besar yang dibebankan Allah SWT kepada orang-orang tertentu, bahkan kita semua adalah pemimpin untuk diri kita masing-masing, dan pada hari kiamat kelak Allah SWT akan memimta pertanggungjawapan atas kepemimpinan yang telah kita pikul selama kita menerima amanah tersebut di dunia ini.

Seorang pemimpin mulai dari PM sampai kepada jawatan yang paling rendah dan tentunya siapa pun kita ketika mendapati suatu amanah sebagai seorang pemimipin maka dituntut untuk berlaku adil dalam memimpin para pengikutnya. Oleh kerananya beruntung bagi mereka yang mampu berlaku adil dalam kepemimpinannya, Sehingga Allah SWT akan mengabulkan doa mereka.

Orang Yang DizalimiHadits di atas juga memberi isyarat, siapapun kita, agar selalu berbuat adil dalam segala hal dan tidak melakukan perlakuan zalim, kalau seseorang berlaku zalim kepada orang lain maka nantikanlah akibat buruk dari perbuatannya itu, cepat atau lambat dia akan ‘menikmati’ doa orang yang teraniaya tersebut. Jadi, buatlah benteng pertahanan pada diri kita dengan tidak berbuat zalim terhadap orang lain dan berusaha untuk berlaku adil, kerana memang doa orang yang terzalimi sangat ‘makbul’ terhadap orang yang menzaliminya, sehingga Rasulullah SAW pun memberikan satu warning kepada kita bahwa orang yang terzalimi doanya akan terkabul walaupun sebelumnya ada penyebab doanya tidak terkabul seperti makanan orang tersebut didapat dari jalan yang haram alias tidak halal. Memang ada satu hadits Rasulullah SAW yang mengisyaratkan bahawa doa orang yang pakaian dan makanannya tidak halal, doanya tidak akan terkabul. Namun, misalnya orang seperti dia dizalami oleh seseorang, maka apabila dia berdoa, maka doanya yang dialamatkan kepada pelaku kezaliman tersebut akan terkabul.

Demikian semua itu adalah isyarat akan terkabulnya doa mereka sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut :

“ثَلاَثَةٌ لاَ تُرُدُّ دَعْوَتُهُمْ : اَلصَّائِمُ حِيْنَ يُفْطِرُ، وَاْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ يَرْفَعُهَا اللهُ فَوْقَ الْغَمَامِ، وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ، وَيَقُوْلُ لَهَا الرَّبُّ : وَعِزَّتِيْ وَجَلاَلِيْ َلأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنٍ”.

“Ada tiga orang yang doanya tidak akan tertolak : “Orang yang berpuasa hingga dia berbuka, pemimpin yang adil dan doa orang yang terzalimi, Allah akan angkat doa-doa tersebut di atas awan dan dibukakan untuknyapintu-pintu langit, kemudian Allah berfirman : “Demi keperkasaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku pasti akan tolong kamu walau pun setelah melalui suatu masa“. H.R. Ahmad

Masih banyak lagi doa orang-orang yang apabila dia berdoa Allah SWT akan kabulkan doanya, seperti doa kedua orang tua kepada anaknya, doa orang yang dalam musafir, doa seseorang kepada saudara ketika dia tidak mengetahuinya dan masih banyak lagi tentunya

Semoga kita termasuk orang yang mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT dengan dikabulkan doa dan harapan kita semua. Amin ya Rabbal ‘alamin

PERNIKAHAN DALAM ISLAM

Umat Islam diberikan dua perkara yang apabila umatnya berpegang teguh kepada dua perkara ini niscaya tidak akan dijumpai kesesatan maupun kebingungan dalam menjalani kehidupan ini. Hal inilah yang telah diterangkan oleh nabi kita Muhammad SAW. Dalam setiap bentuk peribadatan maupun muamalah. Tidak ketinggalan perkara pernikahan pun telah diberikan petunjuk baik itu dalam Al Qur’an, Hadits, Kisah-kisah nabi dan sahabat, Fiqih, dll.

Dalam Islam, pernikahan merupakan perkara yang penting. Pada masa sebelum Islam, aturan dalam pernikahan tentu sangat berbeda dan mungkin bahkan lebih buruk ataupun dipandang rendah. Kedatangan Islam membawa perubahan agar manusia pada masa itu lebih baik keadaannya, hukumnya, adabnya, dan membawa berkah. Hubungan antar laki-laki dan perempuan pun diatur untuk menjaga fitrahnya. Hingga pada hubungan pernikahan, keluarga dan bertetangga.

Aturan dalam pernikahan ini telah membawa pengaruh yang besar pada perubahan peradaban sehingga tercipta masyarakat yang madani, sejahtera, adil dan makmur. Begitu pentingnya perkara pernikahan ini sehingga telah diatur dan dicontohkan dalam Al qur’an, hadits, fiqih, kisah-kisah, dll. Karena dari pernikahan ini merupakan awal dari pembinaan akhlak keluarga yang baik hingga akhlak pribadi, lingkungan tetangga, masyarakat dan negara.

Pengertian / Definisi

Perkawinan atau nikah menurut bahasa ialah berkumpul dan bercampur. Menurut istilah ialah Ijab dan Qabul (‘aqad) yang menghalalkan persetubuhan antara lelaki dan perempuan yang diucapkan oleh kata-kata yang menunjukkan nikah, menurut peraturan yang ditentukan oleh Islam.

Perkataan Zawaj digunakan di dalam Al Qur’an bermaksud pasangan. Dalam penggunaannya perkataan ini bermaksud menjadikan manusia itu berpasang-pasangan, menghalalkan perkawinan dan mengharamkan zina. Persoalan pernikahan adalah persoalan yang selalu aktual dan selalu menarik untuk dibicarakan. Hingga perkembangan zaman sekarang inipun pernikahan menjadi sorotan masyarakat. Pernikahan bukanlah persoalan kecil dan sepele. ‘Aqad nikah (perkawinan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci.

Pernikahan adalah Fitrah Kemanusiaan

Agama Islam adalah agama fitrah (suci) dan manusia diciptakan Allah Ta’ala cocok dengan fitrah ini, karena itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyuruh manusia menghadapkan diri ke agama fitrah agar tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan. Sehingga manusia berjalan diatas fitrahnya. Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkan untuk nikah, karena nikah merupakan Gharizah Insaniyah (naluri kemanusiaan).

Anjuran Menikah dalam Islam

Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan sangatlah besar. Diantara kita mungkin telah mengetahui bahwa pernikahan itu disebutkan sebanding dengan separuh agama. Hal ini disebutkan dalam hadits dari Anas r.a. berkata telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”.

Membujang Tidak Disukai dalam Islam

Anas radliyallahu ‘anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras. Dan beliau bersabda:

“Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akan berbangga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari kiamat.”

Kemudian dalam hadits lainnya ketika Rasulullah mengetahui bahwa diantara sahabat ada yang sangat taat dalam beribadah sehingga mereka puasa terus menerus, menjauhi wanita dan tidak menikah. Sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu, sungguh demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”.

Hukum Pernikahan dalam Islam

Pernikahan dalam Islam seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa sangat dianjurkan dan hukumnya adalah mubah. Akan tetapi ada beberapa pengertian yang perlu kita pahami akan hukum seseorang apabila menikah / hendak menikah. Hukum pernikahan yang dijelaskan adalah sbb:

  1. Wajib. Kepada orang yang mempunyai nafsu yang kuat. Sehingga apabila dia tidak menikah bisa menjerumuskannya ke lembah maksiat (zina dan sebagainya) dan dia seorang yang mampu. Mampu ini bermaksud dia mampu membayar mahar dan menafkahi isterinya.
  2. Sunat. Kepada orang yang sudah mampu tetapi dia masih dapat menahan nafsunya.
  3. Mubah. Kepada orang yang tidak ada larangan baginya untuk menikah dan ini merupakan hukum asal pernikahan.
  4. Makruh. Kepada orang yang tidak mampu nafkah batin dan lahir tetapi dia juga tidak memberikan kemudaratan kepada isterinya.
  5. Haram. Kepada orang yang tidak mampu untuk memberi nafkah batin dan lahir, dia juga tidak berkuasa (lemah), tidak punya keinginan menikah, serta dikhawatirkan dapat/akan menganiaya isterinya jika menikah.

Tujuan dari Pernikahan dalam Islam

  1. A.    Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia. Perkawinan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang pernikahan). Bukan dengan cara yang berbeda seperti sekarang ini dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.
  2. B.     Membentengi Ahlak Manusia. Islam memandang pernikahan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efefktif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”.

  1. C.    Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami. Tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan syari’at Islam dalam rumah tangganya. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq (perceraian), jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah:

“Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang dhalim.”.“Kemudian jika si suami menthalaqnya (sesudah thalaq yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dikawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami yang pertama dan istri) untuk kawin kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkannya kepada kaum yang (mau) mengetahui“.(Al Baqarah(2):290-230)

  1. D.    Meningkatkan Ibadah Kepada Allah. Rumah tangga adalah salah satu peribadatan dan amal shalih di samping ibadah dan amal-amal shalih yang lain. Bahkan hubungan / bersetubuh  termasuk ibadah (sedekah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah !. Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya : “Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab : “Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? Jawab para shahabat :”Ya, benar”. Beliau bersabda lagi : “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala !”.

  1. E.     Mencari Keturunan Yang Shalih. Tujuan pernikahan di antaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam. Dan yang terpenting lagi dalam pernikahan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah.Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam yang benar. Allah berfirman :

“Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?”.

Tata Cara Pernikahan Dalam Islam

Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata cara pernikahan berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah, secara singkat adalah:

  1. 1.      Khitbah (Peminangan)

Seorang muslim yang akan menikahi seorang muslimah hendaknya ia meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain, dalam hal ini Islam melarang seorang muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain (Muttafaq ‘alaihi).

  1. 2.      Aqad Nikah

Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi : Suka sama suka dari kedua calon mempelai dan Ijab Qabul.

Syarat Ijab

  • Tidak boleh menggunakan perkataan sindiran
  • Diucapkan oleh wali atau wakilnya
  • Tidak diikatkan dengan tempo waktu
  • Tidak secara taklik (tiada sebutan prasyarat sewaktu ijab dilafazkan)

Contoh bacaan Ijab: Wali/wakil Wali berkata kepada calon suami:”Aku nikahkan/kawinkan engkau dengan Delia binti Munif dengan maskawinnya sebanyak Rp. 300.000 tunai”.
Syarat qabul

  • Ucapan sesuai dengan ucapan ijab
  • Bukan perkataan sindiran
  • Dilafazkan oleh calon suami atau wakilnya (atas sebab-sebab tertentu)
  • Tidak diikatkan dengan tempo waktu seperti mutaah (nikah kontrak)
  • Tidak secara taklik (tiada sebutan prasyarat sewaktu qabul dilafazkan)
  • Menyebut nama calon isteri
  • Tidak diselangi dengan perkataan lain

Contoh sebuatan Qabul: Dilafazkan oleh calon suami:”Aku terima nikah/kawinannya dengan Delia binti Munifdengan maskawinnya sebanyak Rp. 300.000 tunai” ATAU “Aku terima Delia binti Munif sebagai isteriku”.

Mahar

Mahar (atau diistilahkan dengan mas kawin) adalah hak seorang wanita yang harus dibayar oleh laki-laki yang akan menikahinya. Mahar merupakan milik seorang isteri dan tidak boleh seorang pun mengambilnya, baik ayah maupun yang lainnya, kecuali dengan keridhaannya. Allah Berfirman:

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (Ar Nisaa’(4):4)

Jenis mahar

  • Mahar Misil : Mahar yang dinilai berdasarkan mahar saudara perempuan yang telah menikah sebelumnya.
  • Mahar Muthamma : Mahar yang dinilai berdasarkan keadaan, kedudukan, atau ditentukan oleh perempuan atau walinya.

 

Ada  Wali

Yang dikatakan wali adalah orang yang paling dekat dengan si wanita. Dan orang paling berhak untuk menikahkan wanita merdeka adalah ayahnya, lalu kakeknya, dan seterusnya ke atas. Boleh juga anaknya dan cucunya, kemudian saudara seayah seibu, kemudian saudara seayah, kemudian paman.

Ibnu Baththal rahimahullaah berkata, “Mereka (para ulama) ikhtilaf tentang wali. Jumhur ulama di antaranya adalah Imam Malik, ats-Tsauri, al-Laits, Imam asy-Syafi’i, dan selainnya berkata, “Wali dalam pernikahan adalah ‘ashabah (dari pihak bapak), sedangkan paman dari saudara ibu, ayahnya ibu, dan saudara-saudara dari pihak ibu tidak memiliki hak wali.”

Syarat wali

  • Islam, bukan kafir dan murtad
  • Lelaki
  • Baligh
  • Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan
  • Bukan dalam ihram haji atau umrah
  • Tidak Fasik
  • Tidak cacat akal pikiran, terlalu tua dan sebagainya
  • Merdeka
  • Tidak ditahan kuasanya dari membelanjakan hartanya

 

Ada Saksi-saksi

Syarat-syarat saksi

  • Sekurang-kurangnya dua orang
  • Islam
  • Berakal
  • Baligh
  • Lelaki
  • Memahami isi lafaz ijab dan qabul
  • Bisa mendengar, melihat dan berbicara
  • Adil
  • Merdeka

 

  1. 3.      Walimah

Walimatul ‘Urusy hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin dan dalam walimah hendaknya diundang orang-orang miskin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang mengundang orang-orang kaya saja berarti makanan itu sejelek-jelek makanan.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang. Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan walimah, maka ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya” .

Sebab-Sebab Diharamkannya Pernikahan

  • Perempuan yang diharamkan menikah dengan lelaki disebabkan keturunannya (haram selamanya) dan ia dijelaskan dalam Al-Qur’an:

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nisaa’(4):23)

  •  Perempuan yang diharamkan menikah dengan lelaki disebabkan karena sepersusuan.
  • Perempuan merupakan muhrim bagi lelaki karena pernikahannya.
  • Perempuan yang merupakan anak saudara perempuan dari isteri dan keturunannya.

Sekian sedikit penjelasan tentang perkara pernikahan jika kita pelajari dari hukum Islam agama kita. Di akhir akan sebutkan ayat yang sangat tidak asing apabila berkaitan dengan pernikahan. Firman Allah Ta’ala dalam surat Ar Ruum (30):21

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

 

Sumber Referensi:

HARI BAHAGIA JANGAN BERUBAH MENJADI HARI PENYESALAN

 

———————————————-

SEBUAH PERINGATAN BUAT  CALON PENGANTIN DAN YANG SUDAH BERUMAH TANGGA

Muqaddimah

Bernikah adalah sesuatu yang menggembirakan.
Jarang orang tidak bergembira
pada hari pernikahan mereka.
Masakan tidak, gelaran raja sehari
disandang dan dijulang.
Bagi pasangan yang sudah lama bertunang,
detik persetujuan para saksi
semasa majlis pernikahan amatlah melegakan!

Kadang-kadang, keluar air mata kegembiraan
dari pasangan pengantin kerana terlalu gembira
telah menyempurnakan sebahagian agama
dan menuruti sunnah nabi.

Seperti mana yang disabdakan oleh Nabi SAW :

النكاح سنتى فمن رغب عن سنتى فليس منى ,
nikah itu adalah sunnah ku,
jika sesiapa yang menolak sunnah ku,
maka ia bukanlah dari golonganku.

Namun awas, jangan disangka kegembiraan
menuruti sunnah nabi itu membuka jalan
ke syurga semata-mata, kerana ia juga mampu mengheret kita masuk ke dalam jurang neraka
yang dalam lagi menakutkan, jika ia
tidak dilaksanakan seperti yang diperintahkan.

Menangis bertukar gembira

Apabila dua merpati sejoli di ijab kabulkan…
maka bergembiralah kedua-dua keluarga,
dan menangislah sang syaitan.

Menangisnya sang Syaitan adalah
kerana tertutupnya peluang kepadanya
untuk memujuk si lelaki dan si perempuan
melakukan zina.

Tapi, adakah anda menyangka syaitan
yang menangis melihat dua orang
yang bernikah itu akan lari merajuk membawa diri?

Tidak sama sekali, di hadapan sana ternanti
banyak lagi perangkap untuk mereka.
Satu persatu perangkap itu mengena,
dan tangisan syaitan terhenti dan diganti pula
dengan ketawa yang terbahak-bahak!

Sang Syaitan ketawa kerana geli hati
melihat si pasangan yang terlalu gembira
hingga terlupa segala ajaran agama
walaupun kedua-duanya mengaku
sebagai pejuang agama.

Habis ditolak tepi agama yang selama ini
menjadi perjuangan mereka.
Syariat diletak tepi,
adat yang sesat dijulang tinggi.

Sang Syaitan gelak terbahak-bahak
melihat aksi manja si isteri menyuapkan nasi
ke mulut si suami yang hanya layak
menjadi koleksi peribadi mereka berdua
menjadi tontonan semua orang.
Habis ditolak tepi perasaan malu.

Malah dibanggakan pula kenangan itu
dengan meng’upload’ kan pula di dalam facebook,
untuk tatapan seluruh (seantero) dunia.
Kalau boleh, biar Presiden Amerika Barrack Obama
tahu dia berkahwin hari itu dan
makan bersuap dengan bangga.

Sang Syaitan bertambah galak gembira ketawa
melihat si suami dengan ghairah
mencium kepala si isteri tanpa menghiraukan
ratusan mata yang menyaksikan adegan sulit ini.
Malah bangga pula mengulang adegan ini
apabila diminta photographer upahan
dari kedai yang berdekatan.

Diulang tayang tanpa segan,
walaupun si muslimah itu dahulunya terkenal
sebagai seorang yg paling pemalu dalam dunia ini.

Sang Syaitan hampir pecah perut suka
sambil berguling-guling
dengan adegan romantik si suami dan si isteri
yang bergambar di tepi pantai, atas pokok,
di sawah padi, dalam air, atas katil, tepi rumah
dengan pelbagai pose yang difikirkan menarik.

Entah mana silapnya,
suara lantang si suami yang beriya-iya
mahu menegakkan daulah islamiah
dalam liqa dan usrah yang dikendalikannya,
langsung tidak berbunyi bila gambar isterinya
puas di raba oleh kamera orang yg bukan mahram.

Segala sisi bentuk isterinya habis dilapah
oleh si photographer yang kemudiannya menguploadkannya di laman web
untuk ditatap oleh seluruh isi dunia.

Sang Syaitan kembali suka kerana berjaya
memujuk si isteri yang terkenal dengan kepakaran membimbing usrah & tamrin serta kuat berdakwah
untuk bersolek dengan tebal.

Habis hilang prinsip bersolek hanya untuk suami
yg dijajanya kesana kemari di alam kampus dahulu.

Kening dicukur sedikit, gincu dilanyak atas bibir,
eye shadow, blusher, powder, maskara
& segala macam perhiasan bertenggek di mukanya.

Itu belum dicampur dengan minyak wangi
yang menarik perhatian segala makhluk
yang ada di persekitarannya.

Bila ditanya mengapa berbuat demikian,
jawapan acuh tak acuh diberikan..
mak yang suruh.

Itu belum dikira dengan majlis persandingan
serta suasana majlis perkahwinan
yang begitu mewah dan membazir.

Syaitan kembali tersenyum gembira.

Gembira bertukar Menyesal
Kadangkala, apabila sudah menjd kebiasaan kita
melakukan sesuatu perkara,
tiba tiba datang pula satu peringatan memberitahu
bahawa kebiasaan kita itu tidak benar,
menyeleweng dan jauh dari panduan agama…
kita akan cepat melenting, marah dan menyampah.

Apatah lagi sememangya selama ini terkenal
sebagai juru dakwah yang popular.
Berceramah pula di masjid dan surau.

Maka pasti si juru dakwah itu segera mencari
sebanyak mungkin kitab dan dalil untuk
menghalalkan kebiasaan yang dia lakukan itu.

Ahh.. mana boleh pendakwah
seperti aku ditegur, malulah aku.
Maka dicapailah pelbagai kitab
mencari dalil menghalalkan perbuatannya.

Bila tidak bertemu,
dicarikan pula pendapat-pendapat
yang ‘gharib/asing’ walaupun
dari sumber-sumber yang tidak diyakini,
asalkan mampu untuk menjadi hujah
pelepas dari teguran yang diberikan.

Janganlah bersikap demikian ya akhi wa ukhti.
Renungkan seketika majlis perkahwinan itu.
Benarkah itu majlis yang dirahmati Allah
ataupun dibenci oleh Allah?

Jawablah dengan hatimu
berpandukan kepada Nas yang benar lagi sahih.

Sengaja tidak ditaburkan dalil
dari Al-Quran dan As-Sunnah dalam artikel ini
(walaupun dalilnya terlampau banyak)
supaya anda dapat menilai dgn penuh berhati-hati
majlis pernikahan itu dgn hati nuranimu yg suci itu.

Jangan sampai pada suatu hari nanti,
kegembiraan yang dinikmati bertukar
menjadi satu penyesalan yang tidak terperi.

Tatkala seluruh harta,
sahabat handai dan kaum keluarga
tidak lagi mampu menjadi pendinding
dan hujah bagi dirimu…

Yang ada hanyalah iman yang senipis bawang itu.

Mampukah untuk menepis dosa bertimbun
yang tiba kerana kealpaan mengikuti arahanNya
di hari pernikahan tersebut?

Ingatlah kembali firman Allah
dalam Surah Syuaara ayat ke 88 :
iaitu di hari dimana tidak berguna harta
dan anak-anak.

Adakah berani kita berbetah pada hari tersebut
dengan hujah yang rapuh seperti mengatakan
terpaksa mengikut permintaan ibu dan ayah ,
kaum kerabat serta sahabat handai, walaupun
kita tahu permintaan untuk bersolek tebal,
bersanding di hadapan orang ramai,
adegan mencium, bergambar dengan posing-posing yang sulit, itu semua jauh dari panduan Islam?

Namun, jika anda yakin mampu berhujah dan memberikan alasan di hadapan Tuhan Rabbul Jalil,
silakanlah melakukannya…

Penutup

Tugas seorang pendakwah ialah
menyampaikan ilmu yang dipelajarinya
untuk kembali kepada Allah.

Tidak lebih dari itu.
Samada perkara yang disampaikannya mampu mengubah orang yang mendengar dan membaca,
itu bukannya kerja pendakwah.

Itu kerja Allah.
Jangan pula timbul celaan & kata nista selepas ini
kepada orang yg menyampaikan seruan Islam ini,
hanya kerana terkena pada batang hidung sendiri.

Apatah lagi mengherdik dan memerli
dengan kata-kata yang pedih lagi menyakitkan
seperti , “Ko tak menikah lagi, bolehlah sembang.
Tengok ar nanti bila ko kahwin…
Macamana pula gayanya!”
sambil tersenyum sinis bercampur geram.

Dan jangan pula bertindak mendoakan agar
si pendakwah turut terjerumus dalam dosa yg sama supaya bila si pendakwah itu terbuat dosa yg sama, maka bolehlah diejek dan ditempik sekuat mungkin hingga di dengar seluruh penghuni dunia ”
bicara saja, kau pun sama juga
dan berlalu dengan perasaan puas dan gembira…
kerana dendamnya telah berbalas.

Sesungguhnya,
Aku hanya menyampaikan peringatan
dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa
yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam,
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

(Q 72 : 22)

PERSAHABATAN

BERBAHAGIALAH dirimu jika engkau mendapatkan sahabat karena mereka mencintamu bukan karena Hartamu, bukan karena ketampanan atau kecantikanmu, bukan karena ingin memanfaatkanmu semata. Tetapi semua dilakukan atas nama Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.,..Mereka senantiasa mendoakanmu dan menyebut namamu dalam doa yang dipanjatkan penuh keiklasan dari mulut-mulut mereka yang selalu menyebut Asma Allah itu… penuh dengan Rasa Cinta..

Persahabatan itu diikat oleh kasih sayang yang mendalam, iman, dan ketaqwaan. Kasih sayang atau saling mencintai di antara kaum muslimin harus didasarkan atas motivasi karena Allah dan Rasulnya, Persahabatan YANG diikat oleh tali keimanan dan kasih sayang di antara mereka. Iman selalu bersemayam di hati dan bukan hanya terletak di alam pikiran. Iman berbeda dengan sebatas pemahaman. Jika iman berada di hati maka pemahaman dan kesepakatan atau komitmen selalu berada di alam pikiran. Suara hati agaknya memang berbeda dengan suara akal. Suara hati selalu didasari oleh nilai-nilai luhur kasih sayang, sedangkan kesepakatan dan komitmen didasari oleh kepentingan-kepentingan.
Ikatan keseimanan dan kasih sayang, tidak mengenal transaksi, pertimbangan untung atau rugi, dan siapa mendapatkan apa. Berbeda dengan itu adalah hubungan-hubungan rasional dan kesepahaman yang biasanya diikat oleh janji atau MoU, maka berkemungkinan pihak-pihak tertentu, setelah mempertimbangkan untung atau rugi, apalagi ditengarai telah terjadi suasana tidak jujur dan tidak adil, maka kesepakatanm itu akan dibatalkan dan bahkan saling menggugat dan membatalkan kerjasama itu.

Islam sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah, dalam membangu persahabatan didasari oleh kecintaan pada Allah dan rasulnya. Oleh karenanya, ikatan itu lebih konstan, mantap dan istiqomah. Persahabatan dalam Islam dibina sepanjang waktu, baik dalam kegiatan spiritual maupun dalam kegiatan social. Dalam kegiatan spiritual misalnya, setiap sholat selalu bacaannya diakhiri dengan mengucap salam ke kanan dan ke kiri. Ucapan salam itu berisi doa, memohon agar keselamatan dan rakhmat Allah selalu melimpah kepada saudaranya sesama muslim.

Assalamualaykum Warahmatullah wabarakatuh…..