BERSIHKAN HATI

BP; Mountain Stream

Puncak kesuksesan seseorang itu alat ukurnya adalah bisa berjumpanya dengan Allah. Ingatlah, “(yaitu) hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan qolbun saliim (hati yang bersih).” (QS Asy Syu’araa’ [26]: 88-89).

Firman-Nya, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikian jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams [91]: 7-9)

 
Karenanya pembahasan dalam 7B (kiat meraih sukses) yang meliputi beribadah dengan benar, berakhlak baik, belajar tiada henti, bekerja keras dengan cerdas, bersahaja dalam hidup, dan bantu sesama, semuanya ini baru akan diterima oleh Allah sebagai amal bila dilakukan dengan ikhlas, buah dari hati yang selalu bersih. Maka kunci sukses ada pada kegigihan menjaga kebeningan hati agar sekecil apapun amal kita bisa diterima oleh Allah. Allah Yang Maha Mengetahui tidak akan menerima amal kecuali amal yang ikhlas. Amal besar tetap tertolak jika tak ikhlas. Hati bisa kotor baik saat sebelum beramal, sedang beramal atau setelah beramal.

Kotor hati sebelum beramal yaitu niat yang sering salah. Misalnya, kita bersedekah, tapi niatnya ingin disebut dermawan, takut disangka pelit, atau supaya tidak diganggu. Kotor hati ketika sedang beramal yaitu riya (pamer, ingin dilihat). Misalnya, kita ingin dilihat orang saat sedekah ratusan ribu, ingin diketahui orang jika mengeluarkan zakat dalam jumlah besar. Padahal berzakat itu bukan sebuah prestasi karena zakat adalah kewajiban, jika tak menunaikan berarti berdosa.

Kotor hati setelah beramal yaitu pertama, menceritakan amal, misalnya menceritakan jumlah sedekah. Menceritakan kebaikan boleh saja, tapi Allah Mahatahu niat di balik setiap cerita, apakah niatnya mengajak orang lain sedekah atau ingin disebut ahli sedekah. Atau, menceritakan tentang seringnya kita beribadah haji. Kalau niatnya memotivasi orang yang lain, mudah-mudahan menjadi amal kebaikan, tapi kalau sekadar untuk pamer, bisa jadi kita justru lebih buruk dari orang yang belum beribadah haji.

Kedua, takabur yaitu merasa diri bisa berbuat, merasa lebih dengan merendahkan orang lain. Misalnya kita merasa berjasa lantaran menyekolahkan, memberi pekerjaan, atau mengajari seseorang. Padahal hakikatnya Allahlah yang berbuat, kita hanyalah dijadikan jalan pertolongan bagi hamba-hamba-Nya. Ketiga, ujub yaitu merasa diri berbeda dari yang lain, mungkin tidak berbicara/menceritakan, tapi hati kecilnya merasa lebih dari yang lain.

Misalnya, kita rajin membaca Alquran, shaum atau tahajud, tapi ketika melihat ada orang yang jarang membaca Alquran, shaum atau tahajud, hati kecil kita meremehkannya dan kita merasa paling shalih. Padahal hanya Allah Yang Mahatahu siapa yang lebih ikhlas dalam beramal di antara hamba-hamba-Nya. Karenanya kita tak cukup bisa beramal, kita juga harus menjaga penyakit hati di awal, di tengah, maupun akhir amal-amal kita.

Ketika hati kita bersih, orang menghargai kita insya Allah karena kemuliaan pribadi kita, tetapi yang terpenting adalah hati yang bersih akan membuat amal kita diterima-Nya dan Allah berkenan menjamu kita di akhirat kelak. Tiada kesuksesan kecuali orang yang berhasil berjumpa dengan Allah, buah dari qolbun saliim, hati yang selamat, yang bersih dari kebusukan.

Ya Allah, ampuni seluruh dosa-dosa kami, hapuskan sekelam apapun kesalahan kami, hapuskan sekotor apapun aib-aib kami. Ya Allah bersihkan diri kami dari segala kesombongan dan sifat riya kami selama ini. Ampuni jikalau Engkau menyaksikan kami ujub. Juga ampuni segala kedengkian dan kebencian kami terhadap apapun dan siapa pun yang Engkau cintai.

Ya Allah, bersihkan hati kami sebersih-bersihnya, jadikan hati ini hanya puas dengan ridha-Mu. Jadikan hati kami hati yang bening, hati yang selalu nikmat dengan apapun yang terjadi. Ya Allah, jauhkan hati ini dari segala kebusukan hati. Berikan kepada kami kebahagiaan seperti nikmat yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih. Berikan kepada kami kesanggupan rendah hati dan kenikmatan beramal dengan tulus dan ikhlas. Wahai Allah, hanya Engkaulah tumpuan harapan kami, kepada-Mulah kembalinya segala urusan, terimalah amal-amal kami.

 
Tausyiah Al Ustadz Abdullah Gymnastiar

 

RAMADHAN BULAN SEDEKAH

a0e09313a5585f9ef19907874d022858_aRamadhan adalah bulan kebaikan, bulan beramal sholeh, bulan sedekah dan semua amal-amal kebaikan lainya. Bulan dilipat gandakan pahala, termasuk di antaranya pahala sedekah, maka Rasulullah saw bersabda “Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan”. (H.R. Tirmidzi).
Sedekah adalah amalan utama yang pahalanya akan dilipat gandakan Allah Ta’alaa sampai dengan tujuh ratus kali lipat, dan lebih utama serta lebih dilipat gandakan lagi pahalanya apabila sedekah tersebut diberikan pada bulan Ramadhan, karena mulianya bulan tersebut.
Kalau konteksnya sedekah dengan anak yatim, adalah sebagaimana yang dilakukan oleh para salafus salih sebagaimana tergambar diatas, menjadi orang tua asuh bagi mereka dengan memberikan jaminan kehidupan mereka, baik secara fisik, mental dan spiritual. Sedekah untuk memenuhi kebutuhan fisiknya yaitu memberinya makan, sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Ali bin Abi Thalaib ra. Sedekah untuk memenuhi mentalnya yaitu menyayangi mereka sebagaimana menyayangi dan memperlakukan anak kita sendiri. Sedekah untuk memenuhi spiritualnya yaitu membina dan mendidik mereka dengan aqidah, ibadah dan akhlak yang baik.
Memberi makan kepada orang yang sedang lapar adalah perbuatan yang utama, sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Mukmin yang mana saja yang memberi makan kepada mukmin yang lainnya yang sedang lapar maka Allah SWT akan memberinya makanan berupa buah-buah dari surga …” (HR. Tirmidzi / Hasan).
Sedekah akan efektif ketika dikeluarkan pada waktu dan sasaran yang tepat, sedekah yang bisa meraih banyak keutamaan dan pahala, sedekah yang diberikan pada bulan mulia (Ramadhan), sedekah yang dikeluarkan untuk menghilangkan rasa lapar dan haus dari orang-orang mukmin yang shaum, sedekah yang bisa mengenyangkan dan menyenangkan anak-anak yatim.
Tetapi semuanya itu berpulang kepada kita, bagian mana dari sedekah kepada anak yatim tersebut yang bisa kita ambil, apakah untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, atau mentalnya atau spiritualnya

SALAFUSSLAIH MENYATUNI ANAK YATIM

1467395_664227030311537_2070669397_n

Berikut ini digambarakan bagaimana cara -cara para Salaffusalaih menyantuni anak yatim dalam suri teladan kehidupan mereka  :

Mengusap kepala anak yatim memiliki dua makna, yang pertama secara hakiki yaitu makna yang sebenarnya, dan yang kedua secara maknawi, artinya menyatuni, menjamin, memberikan perlindungan dan mem-perlakukannya seperti anak sendiri. Imam Qatadah menyatakan, “Jadilah orang tua yang penyayang bagi anak yatim”. Keadaan Ibnu Umar ra, apabila melihat anak yatim beliau mengusap kepalanya dan memberikan sesuatu kepadanya. Dan Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Abdullah tidak pernah makan suatu makanan kecuali di sekitar meja makanannya ada anak yatim. (Shahih Adabul Mufrad / 136).

Menyayangi mereka seperti anak sendiri, karena itulah kebutuhan mereka yang sesungguhnya, sesorang harus berpikir bagaimana kalau seandainya ia meninggal, bagaimana anak-anak yang ditinggalkannya, anak-anak (yatim) itu adalah anak mereka ?. Tentu ia berkeinginan ada orang yang bisa menggantikan fungsi sebagai orang tua untuk anak-anak yang ditinggalkannya.

Menyayangi atau menyantuni anak yatim bukan berarti harus selalu dielus-elus atau selalu memanjakannya dan memenuhi segala keinginannya, akan tetapi memperlakukannya dengan adil ketika melakukan kesalahan sebagaimana memperlakukan anak sendiri. Ibnu Sirrin pernah ditanya tentang anak yatim, maka beliau berkata “Perlakukanlah dia seperti engkau memperlakukan anakmu, pukulah dia seperti engkau memukul anakmu”. Pukulan yang diperkenankan adalah pukulan yang bersifat mendidik atau memberikan pendidikan, bukan pukulan yang membabi buta.

HIKMAH PUASA RAMADHAN

IMG_1225


Sesungguhnya sudah dapat dipastikan Islam tidak pernah mensyariatkan sesuatu kecuali pasti ada hikmah di belakangnya, baik itu berbentuk suruhan ataupun larangan. Begitu juga halnya dengan puasa Ramadhan yang sedang kita laksanakan sekarang ini, yang berdasarkan firman Allah Swt dan hadis Nabi saw mengandung banyak sekali hikmahnya, di antaranya:

Pertama, Mensucikan jiwa dengan menaati perintah Allah dan meninggalkan laranganNya, serta melatih jiwa untuk kesempurnaan dengan mengendalikan diri dari kejahatan dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak terpuji semata-mata karena mengharapkan keridhaan Allah Swt.
Rasulullah saw bersabda: “Demi jiwaku yang berada dalam genggamanNya sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi disisi Allah daripada wanginya misk (kasturi), ia meninggalkan makan, minum dan nafsu hanya karena Aku, Setiap amalan anak cucu Adam adalah untuknya sendiri, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah untukKu dan Aku akan memberikan ganjaran (pahala)nya.” (HSR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Kedua, memperoleh kebahagian berganda sesuai sabda Nabi saw: “Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan yang menyenangkan, yaitu ketika berbuka puasa, ia bahagia dengan buka puasanya, dan ketika berjumpa dengan Tuhan, ia bahagia karena (pahala) puasanya.” (HSR. Bukahri dan Muslim dari Abu Hurairah)
Ketiga, menguatkan kesabaran. Puasa adalah satu cara yang paling efektif untuk itu, sehingga Rasulullah saw sendiri menamakan bulan Ramadhan dengan bulan kesabaran seperti terukir dalam sabdanya: “Berpuasa pada bulan kesabaran dan tiga hari dari setiap bulan menghilangkan kegundahan di dalam dada.” (HR. Al Bazzar dari Ali dan Ibnu Abbas)
Keempat, menjadi perisai dari api neraka, sesuai sabda Rasulullah: Puasa adalah perisai dari api neraka seperti perisai dalam peperangan”(HR. Ahmad dll dari Usman bin Abul’Ash); Kelima, cara terbaik untuk mengendalikan gejolak hawa nafsu seksualitas, sesuai sabda Rasulullah: “Wahai para pemuda, siapa di antara kamu yang telah memiliki ba’ah (nafkah nikah) maka hendaklah segera menikah, karena nikah dapat menjaga mata dan memelihara nama baik. Dan siapa-siapa yang belum mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah perisai baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)
Keenam, untuk mendapat keampunan dosa, sabda Nabi: Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan perhitungan maka akan diampunkan dosa-dosanya yang terdahulu… dan barang siapa yang menegakkan Ramadhan dengan penuh keimanan dan perhitungan maka akan diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.” (HSR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Ketujuh, menumbuhkan rasa cinta sesama dan sosial yang tinggi, sehingga Nabi menyebutnya sebagai bulan tolong menolong, seperti dalam riwayat Ibnu Khuzaimah: Nabi menyebutkan bulan Ramadhan sebagai bulan tolong menolong (HS dari Salman Alfarisi). Dalam hadis lain Nabi bersabda: “Siapa-siapa yang memberikan makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad, Turmizi dll)
Kedelapan, puasa Ramadhan sarana untuk menyiapkan manusia menjadi orang yang bertakwa dalam arti yang sesungguhnya, sebagaimana dimaksudkan dalam Surah Al-Baqarah: 183 tersebut di atas.
sahabatku yang mulia, dengan mengetahui sebagian amat kecil dari hikmah puasa Ramadhan ini, hendaknya kita akan lebih khusyuk dan tawadhu’ dalam melaksanakan ibadah ini, karena seandainya tidak diwajibkan, kita pun akan mengajukan permohonan doa agar Allah Swt mewajibkannya ke atas kita.