BERSIHKAN HATI

BP; Mountain Stream

Puncak kesuksesan seseorang itu alat ukurnya adalah bisa berjumpanya dengan Allah. Ingatlah, “(yaitu) hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan qolbun saliim (hati yang bersih).” (QS Asy Syu’araa’ [26]: 88-89).

Firman-Nya, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikian jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams [91]: 7-9)

 
Karenanya pembahasan dalam 7B (kiat meraih sukses) yang meliputi beribadah dengan benar, berakhlak baik, belajar tiada henti, bekerja keras dengan cerdas, bersahaja dalam hidup, dan bantu sesama, semuanya ini baru akan diterima oleh Allah sebagai amal bila dilakukan dengan ikhlas, buah dari hati yang selalu bersih. Maka kunci sukses ada pada kegigihan menjaga kebeningan hati agar sekecil apapun amal kita bisa diterima oleh Allah. Allah Yang Maha Mengetahui tidak akan menerima amal kecuali amal yang ikhlas. Amal besar tetap tertolak jika tak ikhlas. Hati bisa kotor baik saat sebelum beramal, sedang beramal atau setelah beramal.

Kotor hati sebelum beramal yaitu niat yang sering salah. Misalnya, kita bersedekah, tapi niatnya ingin disebut dermawan, takut disangka pelit, atau supaya tidak diganggu. Kotor hati ketika sedang beramal yaitu riya (pamer, ingin dilihat). Misalnya, kita ingin dilihat orang saat sedekah ratusan ribu, ingin diketahui orang jika mengeluarkan zakat dalam jumlah besar. Padahal berzakat itu bukan sebuah prestasi karena zakat adalah kewajiban, jika tak menunaikan berarti berdosa.

Kotor hati setelah beramal yaitu pertama, menceritakan amal, misalnya menceritakan jumlah sedekah. Menceritakan kebaikan boleh saja, tapi Allah Mahatahu niat di balik setiap cerita, apakah niatnya mengajak orang lain sedekah atau ingin disebut ahli sedekah. Atau, menceritakan tentang seringnya kita beribadah haji. Kalau niatnya memotivasi orang yang lain, mudah-mudahan menjadi amal kebaikan, tapi kalau sekadar untuk pamer, bisa jadi kita justru lebih buruk dari orang yang belum beribadah haji.

Kedua, takabur yaitu merasa diri bisa berbuat, merasa lebih dengan merendahkan orang lain. Misalnya kita merasa berjasa lantaran menyekolahkan, memberi pekerjaan, atau mengajari seseorang. Padahal hakikatnya Allahlah yang berbuat, kita hanyalah dijadikan jalan pertolongan bagi hamba-hamba-Nya. Ketiga, ujub yaitu merasa diri berbeda dari yang lain, mungkin tidak berbicara/menceritakan, tapi hati kecilnya merasa lebih dari yang lain.

Misalnya, kita rajin membaca Alquran, shaum atau tahajud, tapi ketika melihat ada orang yang jarang membaca Alquran, shaum atau tahajud, hati kecil kita meremehkannya dan kita merasa paling shalih. Padahal hanya Allah Yang Mahatahu siapa yang lebih ikhlas dalam beramal di antara hamba-hamba-Nya. Karenanya kita tak cukup bisa beramal, kita juga harus menjaga penyakit hati di awal, di tengah, maupun akhir amal-amal kita.

Ketika hati kita bersih, orang menghargai kita insya Allah karena kemuliaan pribadi kita, tetapi yang terpenting adalah hati yang bersih akan membuat amal kita diterima-Nya dan Allah berkenan menjamu kita di akhirat kelak. Tiada kesuksesan kecuali orang yang berhasil berjumpa dengan Allah, buah dari qolbun saliim, hati yang selamat, yang bersih dari kebusukan.

Ya Allah, ampuni seluruh dosa-dosa kami, hapuskan sekelam apapun kesalahan kami, hapuskan sekotor apapun aib-aib kami. Ya Allah bersihkan diri kami dari segala kesombongan dan sifat riya kami selama ini. Ampuni jikalau Engkau menyaksikan kami ujub. Juga ampuni segala kedengkian dan kebencian kami terhadap apapun dan siapa pun yang Engkau cintai.

Ya Allah, bersihkan hati kami sebersih-bersihnya, jadikan hati ini hanya puas dengan ridha-Mu. Jadikan hati kami hati yang bening, hati yang selalu nikmat dengan apapun yang terjadi. Ya Allah, jauhkan hati ini dari segala kebusukan hati. Berikan kepada kami kebahagiaan seperti nikmat yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih. Berikan kepada kami kesanggupan rendah hati dan kenikmatan beramal dengan tulus dan ikhlas. Wahai Allah, hanya Engkaulah tumpuan harapan kami, kepada-Mulah kembalinya segala urusan, terimalah amal-amal kami.

 
Tausyiah Al Ustadz Abdullah Gymnastiar

 

RAMADHAN BULAN SEDEKAH

a0e09313a5585f9ef19907874d022858_aRamadhan adalah bulan kebaikan, bulan beramal sholeh, bulan sedekah dan semua amal-amal kebaikan lainya. Bulan dilipat gandakan pahala, termasuk di antaranya pahala sedekah, maka Rasulullah saw bersabda “Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan”. (H.R. Tirmidzi).
Sedekah adalah amalan utama yang pahalanya akan dilipat gandakan Allah Ta’alaa sampai dengan tujuh ratus kali lipat, dan lebih utama serta lebih dilipat gandakan lagi pahalanya apabila sedekah tersebut diberikan pada bulan Ramadhan, karena mulianya bulan tersebut.
Kalau konteksnya sedekah dengan anak yatim, adalah sebagaimana yang dilakukan oleh para salafus salih sebagaimana tergambar diatas, menjadi orang tua asuh bagi mereka dengan memberikan jaminan kehidupan mereka, baik secara fisik, mental dan spiritual. Sedekah untuk memenuhi kebutuhan fisiknya yaitu memberinya makan, sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Ali bin Abi Thalaib ra. Sedekah untuk memenuhi mentalnya yaitu menyayangi mereka sebagaimana menyayangi dan memperlakukan anak kita sendiri. Sedekah untuk memenuhi spiritualnya yaitu membina dan mendidik mereka dengan aqidah, ibadah dan akhlak yang baik.
Memberi makan kepada orang yang sedang lapar adalah perbuatan yang utama, sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Mukmin yang mana saja yang memberi makan kepada mukmin yang lainnya yang sedang lapar maka Allah SWT akan memberinya makanan berupa buah-buah dari surga …” (HR. Tirmidzi / Hasan).
Sedekah akan efektif ketika dikeluarkan pada waktu dan sasaran yang tepat, sedekah yang bisa meraih banyak keutamaan dan pahala, sedekah yang diberikan pada bulan mulia (Ramadhan), sedekah yang dikeluarkan untuk menghilangkan rasa lapar dan haus dari orang-orang mukmin yang shaum, sedekah yang bisa mengenyangkan dan menyenangkan anak-anak yatim.
Tetapi semuanya itu berpulang kepada kita, bagian mana dari sedekah kepada anak yatim tersebut yang bisa kita ambil, apakah untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, atau mentalnya atau spiritualnya

SALAFUSSLAIH MENYATUNI ANAK YATIM

1467395_664227030311537_2070669397_n

Berikut ini digambarakan bagaimana cara -cara para Salaffusalaih menyantuni anak yatim dalam suri teladan kehidupan mereka  :

Mengusap kepala anak yatim memiliki dua makna, yang pertama secara hakiki yaitu makna yang sebenarnya, dan yang kedua secara maknawi, artinya menyatuni, menjamin, memberikan perlindungan dan mem-perlakukannya seperti anak sendiri. Imam Qatadah menyatakan, “Jadilah orang tua yang penyayang bagi anak yatim”. Keadaan Ibnu Umar ra, apabila melihat anak yatim beliau mengusap kepalanya dan memberikan sesuatu kepadanya. Dan Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Abdullah tidak pernah makan suatu makanan kecuali di sekitar meja makanannya ada anak yatim. (Shahih Adabul Mufrad / 136).

Menyayangi mereka seperti anak sendiri, karena itulah kebutuhan mereka yang sesungguhnya, sesorang harus berpikir bagaimana kalau seandainya ia meninggal, bagaimana anak-anak yang ditinggalkannya, anak-anak (yatim) itu adalah anak mereka ?. Tentu ia berkeinginan ada orang yang bisa menggantikan fungsi sebagai orang tua untuk anak-anak yang ditinggalkannya.

Menyayangi atau menyantuni anak yatim bukan berarti harus selalu dielus-elus atau selalu memanjakannya dan memenuhi segala keinginannya, akan tetapi memperlakukannya dengan adil ketika melakukan kesalahan sebagaimana memperlakukan anak sendiri. Ibnu Sirrin pernah ditanya tentang anak yatim, maka beliau berkata “Perlakukanlah dia seperti engkau memperlakukan anakmu, pukulah dia seperti engkau memukul anakmu”. Pukulan yang diperkenankan adalah pukulan yang bersifat mendidik atau memberikan pendidikan, bukan pukulan yang membabi buta.

HIKMAH PUASA RAMADHAN

IMG_1225


Sesungguhnya sudah dapat dipastikan Islam tidak pernah mensyariatkan sesuatu kecuali pasti ada hikmah di belakangnya, baik itu berbentuk suruhan ataupun larangan. Begitu juga halnya dengan puasa Ramadhan yang sedang kita laksanakan sekarang ini, yang berdasarkan firman Allah Swt dan hadis Nabi saw mengandung banyak sekali hikmahnya, di antaranya:

Pertama, Mensucikan jiwa dengan menaati perintah Allah dan meninggalkan laranganNya, serta melatih jiwa untuk kesempurnaan dengan mengendalikan diri dari kejahatan dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak terpuji semata-mata karena mengharapkan keridhaan Allah Swt.
Rasulullah saw bersabda: “Demi jiwaku yang berada dalam genggamanNya sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi disisi Allah daripada wanginya misk (kasturi), ia meninggalkan makan, minum dan nafsu hanya karena Aku, Setiap amalan anak cucu Adam adalah untuknya sendiri, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah untukKu dan Aku akan memberikan ganjaran (pahala)nya.” (HSR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Kedua, memperoleh kebahagian berganda sesuai sabda Nabi saw: “Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan yang menyenangkan, yaitu ketika berbuka puasa, ia bahagia dengan buka puasanya, dan ketika berjumpa dengan Tuhan, ia bahagia karena (pahala) puasanya.” (HSR. Bukahri dan Muslim dari Abu Hurairah)
Ketiga, menguatkan kesabaran. Puasa adalah satu cara yang paling efektif untuk itu, sehingga Rasulullah saw sendiri menamakan bulan Ramadhan dengan bulan kesabaran seperti terukir dalam sabdanya: “Berpuasa pada bulan kesabaran dan tiga hari dari setiap bulan menghilangkan kegundahan di dalam dada.” (HR. Al Bazzar dari Ali dan Ibnu Abbas)
Keempat, menjadi perisai dari api neraka, sesuai sabda Rasulullah: Puasa adalah perisai dari api neraka seperti perisai dalam peperangan”(HR. Ahmad dll dari Usman bin Abul’Ash); Kelima, cara terbaik untuk mengendalikan gejolak hawa nafsu seksualitas, sesuai sabda Rasulullah: “Wahai para pemuda, siapa di antara kamu yang telah memiliki ba’ah (nafkah nikah) maka hendaklah segera menikah, karena nikah dapat menjaga mata dan memelihara nama baik. Dan siapa-siapa yang belum mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah perisai baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)
Keenam, untuk mendapat keampunan dosa, sabda Nabi: Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan perhitungan maka akan diampunkan dosa-dosanya yang terdahulu… dan barang siapa yang menegakkan Ramadhan dengan penuh keimanan dan perhitungan maka akan diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.” (HSR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Ketujuh, menumbuhkan rasa cinta sesama dan sosial yang tinggi, sehingga Nabi menyebutnya sebagai bulan tolong menolong, seperti dalam riwayat Ibnu Khuzaimah: Nabi menyebutkan bulan Ramadhan sebagai bulan tolong menolong (HS dari Salman Alfarisi). Dalam hadis lain Nabi bersabda: “Siapa-siapa yang memberikan makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad, Turmizi dll)
Kedelapan, puasa Ramadhan sarana untuk menyiapkan manusia menjadi orang yang bertakwa dalam arti yang sesungguhnya, sebagaimana dimaksudkan dalam Surah Al-Baqarah: 183 tersebut di atas.
sahabatku yang mulia, dengan mengetahui sebagian amat kecil dari hikmah puasa Ramadhan ini, hendaknya kita akan lebih khusyuk dan tawadhu’ dalam melaksanakan ibadah ini, karena seandainya tidak diwajibkan, kita pun akan mengajukan permohonan doa agar Allah Swt mewajibkannya ke atas kita.

KONSEP MANAJEMEN WAKTU MENURUT ISLAM


Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat berharga. Memilik waktu tidak menjadikan kita kaya, tetapi menggunakannya dengan baik adalah sumber dari semua kekayaan…..

”Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang.
QS Al Lail 1-2
Dan demi masa
Sesungguhnya manusia itu pasti dalam keadaan merugi
kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh dan mereka saling bertaushiyah (saling menasehati) dengan kebenaran dan saling bertaushiyah dengan kesabaran 
QS Al Ashr 1-3

Sesungguhnya Apabila Allah Azza Wa Jalla bersumpah dengan sesuatu dari ciptaan-Nya, maka hal itu mengandung maksud agar kaum muslimin memperhatikan kepada-Nya dan agar hal tersebut mengingatkan mereka akan besarnya manfaat dan impressinya. Oleh karena itu, barang siapa terluput atau terlena dari suatu amal perbuatan pada salah satunya, maka hendaklah ia berusaha menggantikannya pada saat yang lain.

Ketika Allah shubhaana wa ta’ala bersumpah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, maka hal itu menunjukkan urgensi dan keagungan hal tersebut. Dan agar manusia mengalihkan perhatian mereka kepadanya sekaligus mengingatkan akan manfaatnya yang besar.

Sunnah datang untuk lebih menekankan tentang pentingnya waktu serta berharganya zaman. Seluruh manusia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap nikmat waktu yang telah Allah berikan kepadanya. Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ : عَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَعَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْ أَيْ شَيْءٍ أَنْفَقَهُ وَعَنْ عِلْمِهِ كَيْفَ عَمِلَ فِيْهِ

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara; Tentang badannya, untuk apa ia gunakan, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan, dan tentang ilmunya bagaimana ia beramal dengannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syekh Al Albani).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengabarkan bahwasanya waktu adalah salah satu nikmat di antara nikmat-nikmat Allah kepada hamba-hamba-Nya yang harus disyukuri. Jika tidak, maka nikmat tersebut akan diangkat dan pergi meninggal pemiliknya.

Manifestasi dari syukur nikmat adalah dengan memanfaatkannya dalam ketaatan dan amal-amal shaleh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الْفَرَاغُ وَالصِّحَّةُ

“Ada dua nikmat yang kebanyakan orang merugi padanya: waktu luang dan kesehatan.” (HR. Bukhâri).

Waktu luang adalah salah satu nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia. Maka Anda akan melihat mereka menyia-nyiakannya dan tidak mensyukurinya. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

اِغْتَنَمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغُلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Gunakanlah lima perkara sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang ajalmu.” (HR. Hâkim, dishahihkan oleh Al Albâni).Gambar

MENGINGAT TENTANG KEMATIAN

Hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya.

 

Karena Ar-Rahman telah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78)

Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yang shalih atau durhaka, seorang yang turun ke medan perang ataupun duduk diam di rumahnya, seorang yang menginginkan negeri akhirat yang kekal ataupun ingin dunia yang fana, seorang yang bersemangat meraih kebaikan ataupun yang lalai dan malas-malasan. Semuanya akan menemui kematian bila telah sampai ajalnya, karena memang:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
“Seluruh yang ada di atas bumi ini fana (tidak kekal).” (Ar-Rahman: 26)

Mengingat mati akan melembutkan hati dan menghancurkan ketamakan terhadap dunia. Karenanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan hasungan untuk banyak mengingatnya. Beliau bersabda dalam hadits yang disampaikan lewat shahabatnya yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).”(HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258.

HASAD, IRI DAN DENGKI

Wahai Sahabatku
Ketahuilah….
Pertama : Hasad bertentangan dengan nilai dan konsekuensi persaudaraan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَبَاغَضُوْا وَلاَ تَقَاطَعُوا وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

“Janganlah kalian saling hasad, janganlah saling membenci, jangan saling memboikot, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (HR Muslim no 2559)

Padahal diantara kaum mukminin harusnya saling mencintai dan menyayangi. Allah berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath : 29)

Kedua : Hasad merupakan penyakit.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمْ : الْحَسَدُ وْالْبَغْضَاءُ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُوْلُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّيْنَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثْْبِتُ ذَلِكَ لَكُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Telah berjalan kepada kalian penyakit umat-umat terdahulu, hasad dan permusuhan. Dan permusuhan adalah membotaki. Aku tidak mengatakan membotaki rambut, akan tetapi membotaki agama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan apa bisa menimbulkan hal tersebut?, tebarkanlah salam diantara kalian” (HR At-Thirmidzi 2/83 dan Ahmad 1/165,167, dan dihasankan oleh Al-Albani dalama Irwaaul Gholil 3/238)

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda:

سَيُصِيْبُ أُمَّتِي دَاءُ الأُمَمِ ، فَقَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا دَاءُ الأُمَمِ ؟ قَالَ : الأَشْرُ، وَالْبَطْرُ والتَّكَاثُرُ وَالتَّنَاجُشُ فِي الدُّنْيَا وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ حَتَّى يَكُوْنَ الْبَغْيُ

“Umatku akan ditimpa penyakit umat-umat”. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apakah itu penyakit umat-umat (terdahulu)?”. Rasulullah berkata, “Kufur Nikmat, bersikap berlebihan terhadap nikmat Allah (terlalu riang gembira/berfoya-foya), saling berlomba-lomba memperbanyak dunia, saling berbuat najsy, saling memusuhi, dan saling hasad-menghasadi hingga timbulnya sikap melampaui batas (kedzoliman)” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 680)

 

KEWAJIBAN BERTABAYYUN

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.
[al-Hujurât/49:6].

Kehidupan bermasyarakat tidak lekang dari isu, gosip sampai adu domba antar manusia. Keadaan ini diperkeruh oleh adanya sekelompok masyarakat menjadikan gosip dan `aib serta `aurat (kehormatan) orang lain sebagai komoditas perdagangan untuk meraup keuntungan dunia. Bahkan untuk tujuan popularitas ada yang menjual gosip yang menyangkut diri dan keluarganya. 

Perilaku gosip yang telah menjadi penyakit masyarakat ini tidak disadari oleh kebanyakan pecandunya, bahwasanya menyebarluaskan gosip itu ibarat telah saling memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Allah Ta’ala menggambarkan demikian itu ketika melarang kaum beriman saling ghibah (menggunjing), sebagaimana tersebut dalam al-Qur`ân:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Jangan pula kalian memata-matai dan saling menggunjing. Apakah di antara kalian ada yang suka menyantap daging bangkai saudaranya sendiri? Sudah barang tentu kalian jijik padanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allaah Maha menerima taubat dan Maha Penyayang. [al-Hujurât/49:12].

Dari penyakit ini, syahwat akan meluas dan berkembang penyakit lain yang tidak kalah bahayanya, di antaranya kebiasaan berbohong, memutuskan silaturrahim, melakukan hajr (memboikot, mendiamkan), at-tahazzub (kekelompokan), al-walâ` dan al-barâ` (suka dan benci) yang tidak sesuai tempatnya, bahkan sampai bisa sampai pada tahapan saling membunuh. 
Na’ûdzu billâhi min dzâlik.

KISAH KERENDAHAN HATI, USTADZ JEFRI AL BUKHORI DAN GADIS SPG

Orang yang rendah hati adalah hati yang sehat buah dari kemampuan mengendalikan diri untuk tidak sombong, sedangkan orang yang rendah diri adalah orang yang berpenyakit hati, karena dia tidak mensyukuri nikmat yang besar hanya terfokus pada kekurangan yang kecil. Perilaku ini yang ditujukan oleh Ustadz Jefri Al Bukhari dalam kisah nyata kehidupannya.

Bisa jadi Keinginan dihormati adalah normal, keinginan dihargai adalah normal, keinginan dimuliakan juga normal, namun menjadi tidak normal jika kita diperbudak oleh keinginan dihaormati, keinginan dipuji dengan perbuatan ria. Dan lebih buruk lagi keinginan itu membuat kita menjadi sombong, merasa lebih mendustakan kebenaran. Padahal ada jalan untuk menjadi mulia dan jalan inilah yang harus kita tempuh…

Rasulullah saw bersabda :
“Man tawādho’a rafa’allahu, waman takabbarā wdhawa’allahu”
Barang siapa yang rendah diri/ hati, maka Allah akan memuliakannya
Dan barang siapa yang sombong/besar diri, maka Allah akan menghinakannya .

Ahli Hikam berkata:
“Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab segala sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam , maka tidak sempurna hasil buahnya” Pohon yang akarnya menghujam ketanah akan kokoh, ditiup angin, dihempas topan, diterjang badai tetap kokoh.Tetapi pohon yang akarnya tidak menyentuh/menghujam ketanah disiram air akan goyah, dihempas angin rusak, diterjang badai hancur.. apalah artinya.Kalau ingin menjadi pribadi yang kokoh, maka kuncinya tanamlah diri ini di bumi kerendahan hati, bukan rendah diri.. tapi rendah hati.
Hujamkan… makin rendah hati makin dimuliakan, makin tinggi hati makin dihinakan..
Oleh karena itu, jalan menuju kemuliaan, jalan menuju orang yang ditinggikan derajatnya oleh Alloh, kuncinya adalah menjadi orang-orang yang tawadho, orang-orang yang rendah hati..

Kesombongan, ketakaburan adalah jalan paling pintas yang menghinakan diri kita, kerendahan hati itulah jalan yang utama yang membuat kita akan mulia dunia dan insya Allah akhirat kelak.

-Jadi kelebihan yang membuat sombong itu menjadi sebuah kekurangan besar-
kita diberikan kelebihan rejeki kemudian kita menjadi takabur itu juga menjadi kekurangan.

Kita dinaikan kedudukan oleh Allah lantas menjadi petangtang-petengteng maka menjadi kekurangan..
makanya setiap kenaikan sesuatu ilmu, kedudukan, penampilah, jabatan atau ibadah selalu berjuang untuk tawadhu. Karena peluang itu ada maka jika tidaka dilatih jatuh kita menjadi hina.

Tetapi kemulian sikap itu tersebut di tunjukkan dalam kisah pertemuan ustadz  Jefri Al Bukori dengan Agnes sang gadis SPG penjAja Rokok dimalam terakhir kehidupannya.

Agnes, gadis yang berprofesi sebagai tenaga pemasaran (SPG) rokok ikut bersedih atas meninggalnya Ustad Jefri al Buchori alias Uje. Ya, dia adalah salah satu saksi hidup yang bertemu dengan Uje yang berjuluk Ustad Gaul, beberapa jam sebelum mengembuskan napas terakhir.

Kepada wartawan, Agnes mengaku begitu terpukul karena Uje sempat membeli rokok yang dijajakannya pada malam itu, Kamis (25/4/2013) dan minta didoakan. Tapi dia enggan menjawab soal kabar Uje membayar dua bungkus rokok dengan harga satu pack.

Agnes, Sales Promotion Girl (SPG) rokok yang sempat bertemu almarhum Ustad Jeffry Al Buchori mengatakan suka mendengarkan ceramah Uje di televisi. “Memang keluarga kami suka mendengarkan ceramah Uje di televisi. Saya kaget sekali mendengar kabar bahwa orang yang saya suka dengarkan ceramahnya meninggal dunia,” kata Agnes ketika dihubungi melalui telepon, Rabu, 1 Mei 2013.

 

 

Malam itu, Kamis, 25 April 2013, Agnes sempat bertemu Uje di kawasan Kemang Jakarta Selatan, sebelum Uje kecelakaan. Uje masih menunjukkan senyum khasnya, saat Agnes menjajakan rokok. Namun, menurut Agnes, Uje terlihat tidak sehat. “Uje terlihat pucat sekali, biasanya yang suka ngebanyol di TV, ini enggak terlihat seperti itu,” kata Agnes menjelaskan.

 

 

 

Sekitar pukul 23.00 WIB, setelah Uje membeli rokok, Uje minta didoakan selamat dunia dan akhirat.“Ini yang membuat saya sama rekan saya Yeyen kaget malam itu, dia tidak pernah menganggap dirinya suci, dia masih meminta didoakan sama orang lain,” katanya.

 

 

 

Besoknya ketika berangkat kerja, ia diberi kabar kalau Uje meninggal dalam kecelakaan. Agnes sempat tidak percaya karena malam sebelumnya, ia masih bertemu Uje. Uje dikabarkan membeli dua bungkus rokok darinya seharga satu pak rokok.

 

Ingatan itu kemudian mendorong Agnes dan rekannya Yeyen meluangkan waktu untuk mendatangi rumah peristirahatan terakhir Uje di pekuburan umum Karet Bivak, Jakarta Pusat. “Tapi saya baru bisa ke makam setelah empat hari dia meninggal. Karena saya baru sempat,” kata Agnes saat dihubungi, Rabu (1/5/2013) malam.

 

Air matanya pun tak tertahan keluar kala berdiri di pusara. Sambil mendoakan, dia dan Yeyen teringat kebaikan Uje lantaran sudah membeli rokoknya. “Logikanya, orang yang belum pernah ketemu langsung (Uje) datang ramai-ramai ke makamnya. Sementara saya sama Yeyen yang sempat menerima rezeki dari dia, masa nggak berziarah,” ucap Agnes.

 

Dari sana, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju rumah Uje di kawasan Rempoa, Tangerang Selatan, Banten. Sayang, Agnes dan Yeyen hanya berhasil menemui ibunda almarhum, Tatu Mulyana alias Umi Tatu. “Jadi saya belum sempat ketemu ibu Pipik (istri Uje),” katanya.

Uje meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan di Jalan Gedong Raya Hijau, Pondok Indah, Jumat (26/4/2013) dini hari silam saat hendak pulang ke rumahnya. Almarhum sempat dilarikan ke Rumah Sakit Pondok Indah dan RS Fatmawati